Halo!

Darah Pendekar Chapter 46

Memuat...

"Hem, bagus, ya ? Dahulu engkau merayu dan mengatakan bahwa di dunia ini akulah wanita paling cantik! Dan sekarang, di depan hidungku engkau memuji kecantikan lain orang! Bagus, ya ? Engkau menantangku, ya ?"

"Uhh, tidak, tidak ! Jangan salah sangka, isteriku

yang manis. Sampai sekarangpun, engkaulah wanita paling cantik di dunia. Gadis ini memang cantik, akan tetapi engkaulah yang paling cantik. Heh-heh!"

"Betulkah itu, kakanda ?" Si isteri merayu manja.

"Heh-heh, siapa bohong padamu?" jawab ka-kek itu dan merekapun lalu bercanda, bergelut di dalam gerobak, saling berciuman, saling cubit dan saling cakar sampai gerobak itu bergoyang - goyang dan berguncang keras! Melihat semua ini, Pek Lian memejamkan matanya akan tetapi tidak mampu menutup telinganya yang terpaksa mendengar semua cumbu rayu mereka yang kasar itu.

Setelah permainan cinta mereka itu mereda, si isteri berkata, "Awas engkau, ya ? Sekali lagi engkau berani menyentuhnya, akan kurobek kulit yang kausentuh dan akan kupatahkan tanganmu yang menyentuh!"

Tentu saja Pek Lian bergidik ngeri, akan tetapi hatinya merasa lega juga. Kakek itu sangat takut kepada bininya yang besar cemburu itu dan hal ini telah menolongnya karena ia melihat pandang mata penuh nafsu dari kakek itu kepadanya. Akan tetapi suami isteri itu sungguh menyeramkan dan againya keduanya memang tidak normal otaknya. Mereka itu kadang - kadang bermain cinta di depannya saja, dan kadang - kadang bercekcok sampai berkelahi mati-matian.

Pek Lian merasa tersiksa bukan main. Ia tidak tahu hendak dibawa ke mana dan mau diapakan oleh suami isteri itu. Belum setengah hari ia berada di dalam gerobak tubuhnya sudah terasa gatal-gatal, kulitnya timbul bintik-bintik merah seperti digigiti nyamuk. Ia tahu bahwa hal itu disebabkan oleh hawa beracun yang memenuhi gerobak itu.

Untung bahwa ia telah memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat sehingga ia dapat melawan hawa beracun ini. Yang amat menyiksanya hanyalah to-, tokan yang membuat kaki tangannya seperti lum-puh itu.

Pek Lian memulihkan tenaganya. Totokan itu telah mulai kehilangan kekuatannya dan jalan da^, rahnya pulih kembali. Ia diam saia, pura - pura masih lumpuh. Sampai lama ia membiarkan darahnya berjalan lancar sampai akhirnya ia merasa betapa tubuhnya telah segar dan sehat kembali.

Pek Lian menanti sampai malam tiba. Gerobak itu dihentikan oleh dua orang penawannya di tepi jalan dan seperti biasa, suami isteri itu meninggalkan gerobak untuk mencari bahan makan malam. Indah kesempatan terbaik, pikir Pek Lian dan setelah melihat mereka pergi, iapun cepat meloncat turun. Senia telah tiba dan cuaca mulai remang-remang. Akan tetapi, tiba - tiba dara ini meloncat kembali memasuki gerobak ketika ia mendengar suara kakek nenek itu tertawa - tawa dari jauh. 'Aduh, dingin sekali airnya !" Terdengar

kakek itu berseru dan tahulah Pek Lian bahwa mereka itu sedang mandi. Agaknya terdanat sumber air, anak sungai atau telaga di dekat tempat itu. Iapun mengintai dari balik tirai gerobak, melihat apakah keadaannya cukup aman baginya untuk melarikan diri. Ia harus berhati-hati sekali karena kakek dan nenek itu lihai luar biasa dan kalau sampai larinya ketahuan sebelum ia pergi jauh se kali, besar bahayanya ia akan tertawan kembali.

Tiba - tiba ada angin menyambar yang membuat pintu gerobak itu bergerak dan hampir saja Pek Lian menjerit saking kagetnya ketika mendadak ada tubuh meloncat masuk dan tahu - tahu kakek kurus itu telah berdiri di pintu gerobak dalam keadaan telanjang bulat sama sekali!

Badannya yang kurus itu masih basah kuyup, air masih menetes-netes dari seluruh tubuhnya. Pek Lian menutupi mulut dengan tangan menahan jeritnya dan cepat membuang muka agar tidak usah melihat tubuh telanjang itu walaupun cuaca mulai remang - remang dan ia tidak dapat melihat jelas.

"Heh - heh - heh, engkau sudah dapat bangun, manis ? Bagus, mari temani aku bersenang - senang sebentar !" Dan kakek itu lalu menubruk dan meraih tubuh Pek Lian.

"Tidak ! Jangan... !" teriaknya dan ia memapaki tubuh itu dengan pukulan tangannya.

"Plakk !" Pergelangan tangannya ditangkap dan sebelum tangan ke dua bergerak, juga pergelangan tangan ke dua ini ditangkap oleh kakek itu yang terkekeh dan ada air liur menetes dari mulutnya ketika dia mencoba untuk mencium muka nona itu. Pek Lian. meronta-ronta sekuat tenaga, melawan mati - matian dan tiba - tiba kakinya yang tertindih, tanpa disengaja, menendang sebuah benda di dalam gerobak itu.

"Prakk!" Guci kecil itu pecah dan dari dalam guci itu keluarlah berpuluh - puluh kelabang me- rah. Bau amis memenuhi ruangan gerobak itu dan Pek Lian menggigil ketakutan melihat kelabang- kelabang besar merah itu merayap cepat dan ad. yang merayap ke pakaiannya, bahkan memasuki lubang celana dan bajunya. Ia berteriak - teriak dan mencoba untuk mengusir binatang - binatang itu.

"Heh - heh - heh, ha - ha - ha !" Kakek itu mera-sa girang bukan main dan agaknya dia seperti seorang anak kecil yang menemukan permainan baru. Sejenak dia lupa akan rangsangan nafsu berahinya dan dia merasa gembira sekali melihat gadis itu tersiksa seperti itu. Sambil berjongkok di dekat Pek Lian, dia terkekeh - kekeh melihat gadis itu meng-geliat-geliat kengerian dikeroyok puluhan ekor ke-labang itu ! Dan Pek Lian sekali ini baru dapat mengalami apa artinya rasa takut dan jijik. Dari takutnya ia sampai jatuh pingsan ! Melihat gadis ini pingsan, kakek itu seperti kehilangan kegembi-raannya dan teringat lagi akan nafsu berahinya maka diapun mulai meraba - raba hendak menang-galkan pakaian gadis itu. Akan tetapi, baru dua buah kancing baju dibukanya, tiba - tiba dia menarik kembali tangannya mendengar isterinya berteriak-teriak dari kejauhan.

"Bangsat penipu pembohong ! Laki - laki pena-kut dan pengecut! Di mana kau ? Akan kurobek mulutmu yang membohongiku. Di mana ada buaya di sungai itu ? Sampai kehabisan napas aku menye-lam dan mencari - cari tanpa hasil. Kau pembo-hong ! Di mana kau ? Jangan lari

!"

Mendengar teriakan isterinya ini, kakek itu men-jadi ketakutan dan cepat diapun meloncat keluar dari dalam gerobak dan melarikan diri dalam kea-daan masih telanjang bulat, meninggalkan Pek Lian yang masih rebah pingsan di dalam gerobak.

Nenek itu meloncat masuk ke dalam gerobak. Matanya terbelalak melihat binatang - binatang itu terlepas dan berkeliaran di situ. "Wah, celaka, sia-pa berani melepaskan peliharaan kesayanganku, hah ?" Cepat ia mengambil sebuah botol kecil dan menuangkan isinya yang berupa cairan ke dalam mangkok. Bau yang amis busuk memenuhi tempat itu dan sungguh mengherankan sekali, semua kela-bang itu cepat - cepat merayap datang dan mema-suki mangkok itu. Nenek itu menangkapi dengan jari - jari tangan yang cekatan sekali dan tak lama kemudian semua kelabang sudah disimpannya kem-bali ke dalam sebuah guci kosong.

Post a Comment