Halo!

Darah Pendekar Chapter 43

Memuat...

"Tapi kalau pemerintahnya yang lalim dan jahat ?"

"Tidak ada pemerintah yang lalim. Yang jahat itu. hanya seorang dua orang pembesar saja. Bukan semua pejabat itu jahat. Buktinya, bukankah Menteri Ho juga seorang pejabat yang amat baik ?"

"Juteru karena baik itu maka ayah menjadi celaka !" kata Pek Lian penuh penasaran. "Ayahmu itulah pendekar dan pahlawan sejati, nona ! Tanpa kekerasan, namun dia berani

menentang kejahatan. Kalau kita melihat ada pembesar jahat, jangan lalu menganggap pemerintahnya yang jahat, melainkan pembesar itulah yang merupakan perorangan. Dan kewajiban kita adalah mengingatkan, agar pemerintah bertindak terhadap pembesar yang korup dan jahat itu."

"Akan tetapi, kalau yang lalim kaisarnya dan orang- orang yang duduk di tingkat teratas, seperti kepala thaikam Chao Kao si penjilat dan Perdana Menteri Li Su rajanya segala pembesar korup dan sewenang-wenang, lebih tepat kalau kita memberontak dan menggulingkan pemerintah bejat ini !" Tiong Li berkata lagi.

Kembali kakek itu menggeleng-geleng kepala. "Melalui perang saudara ?" "Kalau perlu!"

"Mengorbankan ratusan ribu nyawa rakyat yang tak berdosa ? Perang selalu diikuti oleh kejahatan- kejahatan seperti perampokan, perkosaan, pembakaran, balas dendam pribadi, kekacauan karena tidak adanya hukum dan penjaga keamanan ! Setelah pemerintah dapat digulingkan misalnya dan orang - orang yang memimpin pemberontakan itu duduk di atas kursi empuk dan kemuliaan, lalu mereka ini, para pimpinan pemberontak ini, yang tadinya dengan segala propaganda membujuk para pendekar dengan berbagai slogan indah muluk kosong, menjadi berbalik wataknya dan menjadi tukang korup pula, lalu apa yang hendak kalian lakukan ? Memberontak dan menggulingkan peme-rintahan baru itu pula ? Menimbulkan perang sau-dara yang baru pula ? Membakar pemerintah dan negara yang menjadi rumah bangsa lagi ? Celaka-lah kalau begitu ! Apakah kalian mampu menja-min bahwa di dalam pemerintahan baru tidak akan timbul tikus - tikusnya ?"

Dua orang muda itu saling pandang, ragu - ra-gu, lalu mengerutkan alisnya merenung bingung, tak mampu menjawab ! Penggambaran kakek itu terlalu mengerikan, namun bukan merupakan hal yang tidak mungkin terjadi! Bahkan sejarah sudah mencatat berulang kali terjadinya peristiwa seperti itu! Pemerintah yang dipimpin pembesar-pembesar yang dianggap lalim, ditumbangkan oleh sekelompok orang yang pada waktu itu memang berjiwa pahlawan, mengerahkan rakyat untuk mem-. bantu perjuangan mereka menumbangkan kekuasaan lalim. Kemudian, mereka menang dan menjadi penguasa. Akan tetapi, setelah menjadi pembesar- pembesar mereka seperti lupa akan suara hati nurani perjuangan, lelap dalam kesenangan, mabok kemuliaan dan berobah menjadi orang - orang yang tidak kalah lalim dan korupnya dibandingkan de ngan pembesar - pembesar terdahulu yang mereka tumbangkan. Muncul pula pahlawan - pahlawan yang mempergunakan kekuatan rakyat menumbangkan pemerintah baru itu, dan demikianlah, susul - menyusul terjadi pemberontakan - pemberontakan dan perang saudara. Rakyat terus - menerus menjadi korban. Kalau ada perjuangan, rakyatlah yang dijadikan perisai dan tombak, kalau perjuangan berhasil, hanya sekelompok manusia sajalah yang menikmati hasil kemenangan itu dan melu-pakan rakyat sampai ada kelompok pejuang atau pahlawan lain yang muncul, yang kembali memper-gunakan rakyat sebagai mata tombak dan perisai-Betapa menyedihkan keadaan di seluruh dunia ini ! "Anak - anak yang baik," kata pula kakek itu melihat mereka termenung. "Sebuah pemerintahan terdiri dari ratusan, dan ribuan pejabat. Tak mung-kin mengharapkan bahwa seluruh pejabat itu be-kerja dengan jujur dan baik. Tentu ada saja yang salah jalan, sesat dan curang. Adalah kewajiban semua orang yang mencintai tanah air dan bangsanya untuk mengamati hal ini dan memprotes kebu-rukan - keburukan seorang pejabat, menuntut agar pejabat itu diganti dengan orang yang lebih jujur. Bukan lalu memberontak dengan kekerasan. Kekerasan ini mencerminkan adanya keinginan untuk mengejar sesuatu dan biasanya, pengejar - pengejar kesenangan akan mabok kesenangan. Kemenangan dalam kekerasan membuat orang mabok akan kemenangan itu dan menjadi lupa diri dan buta, sebaliknya kekalahan dalam kekerasan menimbulkan sakit hati dan dendam."

Dua orang itu saling pandang dan menundukkan muka. Mereka tidak dapat membantah lagi. Keterangan kakek itu mengejutkan hati mereka, membuat mereka seolah - olah dipaksa membuka mata melihat kenyataan yang amat kotor dan pahit. Membuat mereka merasa ngeri. Mereka sendiri adalah orang - orang muda yang berhati bersih dan jujur. Sedikitpun mereka tidak memiliki keinginan untuk menang dan berpesta dalam kemenangan itu. Mereka hanya melihat ketidakadilan, menjadi penasaran dan hendak membela mereka yang tertindas. Keterangan- keterangan yang baru saja diucapkan oleh kakek itu membuat Pek Lian dan Tiong Li diam-diam membayangkan keadaan guru masing - masing. Pemimpin rakyat Liu Pang guru Pek Lian yang terkenal dengan sebutan Liu-toako, pendekar dan pahlawan sejati itu, apakah benar dia memiliki keinginan kotor untuk kesenangan diri pribadi yang tersembunyi di balik cita - cita perjuangan demi rakyat itu ? Dan Tiong Li juga meragukan apakah gurunya, pendekar dan pejuang Chu Siang Yu, juga memiliki keinginan demi kesenangan pribadi seperti yang digambarkan oleh kakek ini, atau setidaknya kelak kalau menang akan berobah menjadi penindas dan pengejar kemuliaan sendiri saja ? Dia tidak mampu membayangkan dan merasa ngeri.

"Locianpwe, semua keterangan locianpwe terlalu mengerikan dan terlalu mendalam bagi saya. Sekarang, bagaimana baiknya ? Saya mohon nasihat locianpwe," katanya.

"Aku tetap hendak melihat keadaan ayahku dan

selanjutnya... entahlah. Kata - kata locianpwe sudah memadamkan sebagian besar api dendamku..." kata Pek Lian meragu.

Kakek Kam tersenyum. "Anak-anak muda berdarah panas dan bersemangat, memang sudah sepa tutnya demikian, asal saja darah panas dan sema-ngat itu disertai kebijaksanaan dan jangan sampai dipergunakan orang - orang demi keuntungan mereka sendiri. Kwee Tiong Li, engkau adalah seorang pemuda yang hebat! Semuda ini sudah memi-liki ilmu silat tinggi dan tenaga sinkang yang amat kuat, juga memiliki batin yang bersih penuh de-ngan semangat kegagahan.

Kalau engkau memiliki sedikit ginkang yang baik, kiranya kelak engkau akan menjadi seorang pendekar pilihan. Maukah engkau ikut denganku untuk belajar ginkang dari-ku ? Dan engkau, nona ? Engkaupun memiliki ba-kat yang amat baik, aku ingin mewariskan bebera-pa ilmuku kepada kalian berdua."

"Teima kasih, locianpwe. Saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan hati locianpwe, karena saya harus pergi melihat keadaan ayah, kemudian kembali ke Puncak Awan Biru," kata Pek Lian.

Akan tetapi Tiong Li menerima penawaran ka-kek itu dengan girang. Pendekar muda ini maklum betapa dengan kepandaiannya yang sekarang, dia tidak dapat berbuat banyak terhadap para kaum sesat yang amat lihai itu, maka kalau kakek sakti ini mau mendidiknya, tentu saja dia merasa gem-bira sekali.

"Kita tidak boleh terlalu lama berada di sini,"" kata kakek Kam. "Biarpun jejak kaki kuda sudah kuhapus, akan tetapi mereka tentu akan terus mencari dan tentu akan sampai di sini pula." "Kalau begitu, biarlah saya akan pergi lebih dulu," kata Pek Lian. Ia bangkit berdiri lalu memberi hormat kepada kakek itu. "Kam - locianpwe, sekali lagi saya menghaturkan terima kasih atas semua budi kebaikan locianpwe kepada saya. Kwee - toako, terima kasih dan selamat tinggal."

Kakek itu hanya mengangguk - angguk dan Tiong Li cepat membalas penghormatan gadis itu. Hatinya merasa terharu sekali. Karena bertemu dengan dia dan kemudian membelanya, maka gadis itu kehilangan kedua orang gurunya.

"Nona, akulah yang harus berterima kasih. Mudah- mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu kembali"

Pek Lian mengangguk, tak kuasa menjawab karena ia khawatir kalau - kalau suaranya akan terdengar parau pada saat hatinya amat berduka itu. Ia lalu menghampiri kuda rampasannya, lalu meloncat ke atas punggung sela kudanya. Ia menoleh dan mengangguk, akan tetapi sebelum ia membe-dal kudanya, tiba - tiba Tiong Li meloncat mendekat sambil berseru, "Tahan dulu. nona!"

Pek Lian menahan kendali kudanya dan menoleh. Matanya basah, akan tetapi kini ia dapat menguasai hatinya karena merasa heran. "Ada apa kah, Kwee -toako ?" tanyanya.

Tiong Li tidak menjawab, melainkan cepat dia membuang semua tanda-tanda pada kendali dan pelana kuda itu sehingga yang tertinggal hanya sela kasar dan kulit kendali sederhana tanpa hiasan. Kemudian dia mencari sebatang ranting pohon penuh daun dan mengikatkan ranting ini dengan pelana kuda sehingga ranting itu akan ter-seret kalau kudanya lari. Setelah selesai melakukan semua itu yang diikuti oleh pandang mata kehe-ranan Pek Lian, dia berkata, "Dengan begini, orang tidak akan mengenal kuda tentara kerajaan dan ranting itu akan menghapus jeiak kudamu, nona Ho."

Barulah Pek Lian mengerti dan merasa gembi-ra. "Terima kasih, toako. Engkau baik sekali.

Sam-pai jumpa ! Selamat tinggal, Kam - locianpwe !" Dan Pek Lian lalu menjalankan kudanya. Kuda itu berlari cepat, menyeret ranting yang mengha-pus jejak Liki kuda, mengeluarkan debu yang me-ngepul tinggi.

Post a Comment