Terdengar teriakan yang bergema, datangnya dari arah puncak. Suling Emas sibuk sekali. Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat meninggalkan mereka. Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang berada di puncak. Kalau mereka tahu bahwa ada dua orang kakek asing yang amat sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk memukul roboh padanya. Maka ia pun diam saja.
"Huah-hah-hah, agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita beri kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun tangan, takkan terlambat."
"Baiklah, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh jaman sekarang"
Seketika hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas memandang, kedua orang kakek itu sudah lenyap dari tempat itu. Ia menarik napas panjang, menyusut peluhnya dan berkata seorang diri,
"Berbahaya.., Mereka benar lihai. Apa maksud kedatangan mereka di dunia ramai? Nama mereka tidak dikenal di dunia kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun menyembunyikan diri, mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu Kim-sim Yok-ong?"
Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin melihat gerakan ilmu silat mereka untuk mencoba-coba menerka, dari golongan manakah kakek merah dan kakek putih itu. Tingkat tenaga inti dari Im dan Yang sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai persilatan besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun.
"Suling Emas, Apakah kau tidak berani muncul?"
Kembali terdengar seruan suara parau yang menggunakan khi-kang. Suling Emas mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khi-kangnya, berseru keras.
"Aku Kim-siauw-eng datang"
Tubuhnya berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu. Bulan purnama bersinar terang, dan Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini sehingga ia hafal akan jalannya, maka di bawah penerangan bulan purnama, sebentar saja ia sudah sampai di puncak. Ternyata mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi rumput hijau. Lengkap hadir para anggauta Thian-te Liok-koai yang kini hanya tinggal lima orang itu. It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong. Mereka sudah tidak sabar lagi menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul.
"Anggauta Thian-te Liok-koai selalu berlumba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan mengadu kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan, anggauta macam apa ini"
Toat-beng Koai-jin mendengus dan marah-marah.
"Memang dia tidak patut menjadi anggauta Thian-te Liok-koai, Cuhhh"
It-gan Kai-ong meludah dengan sikap menghina sekali.
"Sudah menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggauta-anggautanya terdiri daripada orang-orang gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah. Akan tetapi dia ini tidak gagah berani, melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong orang-orang"
Mendengar ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan. Diam-diam Suling Emas mengeluh di dalam hatinya. Memang, baik dan jahat, gagah dan pengecut, semua hanya sebutan manusia, dan karenanya baik atau pun bucuk, gagah ataupun pengecut, sepenuhnya tergantung daripada orang yang mengatakannya, yaitu berdasarkan pandangannya. Iblis-iblis berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi mereka tidak sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka, pandangan mereka itu pun benar pula.
Dari jaman dahulu sampai kini banyak terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup dan kotor sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari. Perbuatan ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan, mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurangajaran, semua perbuatan ini mereka anggap sebagai perbuatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti bahwa mereka ini gagah berani dan mereka bahkan menjadi bangga karena perbuatan-perbuatan itu. Sebaliknya, orang-orang yang menghindari perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya, mengulurkan tangan menolong sesamanya, dianggap sebagai tanda dari watak penakut dan pengecut.
"Hi-hi-hik"
Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia mendekati Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata.