"Aku harus menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te Liok-koai,"
Pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari. Hari telah menjelang senja ketika ia makin mendekati puncak di mana pertandingan antara Thian-te Liok-koai akan diadakan. Makin tinggi orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara. Suling Emas juga sudah mulai merasa dingin, apalagi menjelang senja itu, puncak Thai-san diliputi kabut yang cukup tebal.
Ketika ia memasuki sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan banyak pohon tumbang, malah ia lalu terpaksa berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang pohon yang beterbangan ke arahnya. Suling Emas cepat menyelinap sambil meloncat ke sana-sini, kemudian tahulah ia bahwa yang "main-main"
Dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong. Agaknya mereka berdua juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa dan semua batang pohon dan batu-batu besar yang mereka permainkan itu kini menimpa ke arah Suling Emas. Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Biarpun ada "hujan"
Pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyelinap dan mengelak ke sana-sini. Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya saja tak pernah tergores cabang pohon yang menimpanya bertubi-tubi.
"Dua iblis liar, beginikah cara kalian menandingiku?"
Suling Emas membentak dan sudah siap untuk balas menyerang. Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau mengejar mereka. Ia melanjutkan perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan hawa udara makin dingin.
Puncak tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya. Ia sudah mulai putus asa untuk bisa mendapatkan dua orang kakek aneh itu, karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari mereka. Ia harus pergi ke puncak untuk menemui dan menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu kandungnya yang dulu ditantang oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia melihat pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari sumbernya. Dua orang kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata, tanpa diduga-duga kini berada di depannya. Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai, tenggelam sampai sebatas lehernya. Bukan main. Hawa udara begitu dinginnya menyusup tulang, dan air sungai itu pun dinginnya melebihi salju, akan tetapi kakek ini duduk bersila merendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah sedang samadhi dengan tenangnya. Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau bersamadhi karena mulutnya mengomel panjang pendek,
"Wah, panasnya, tak enak, sialan benar"
Hawa udara begitu dingin, berendam di air gunung lagi, masih mengeluh kepanasan.
Adapun kakek merah tidak kalah anehnya. Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di atas tanah, dikelilingi api unggun yang menyala besar. Jarak antara tubuh kakek itu dengan api yang mengelilinginya kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya yang sudah merah itu menjadi makin merah. Di depannya terdapat sebuah periuk terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih. Dapat dibayangkan betapa panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah menggigil kedinginan dan kedua tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air panas itu ke mukanya.
"Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu.. dingin.."
Alangkah sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas. Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini memang sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk memamerkan kepandaian mereka. Memang harus diakui bahwa demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sin-kang mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal akan rasa panas maupun dingin. Perbuatan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesaktian, yang tenaga sin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi sungguh suatu cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau kepandaian seperti ini dibuat pamer, apalagi terhadap dia. Karena merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian kepadanya maka terpaksa Suling Emas harus melayani mereka. Ia mendekati kakek putih yang berendam di dalam air sebatas leher itu.
"Ah, Locianpwe, memang kau benar, hawanya amat panas, membuat orang ingin mandi terus. Akan tetapi aku tidak ada kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku"
Setelah berkata demikian, Suling Emas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya dari dalam air sampai lama sekali. Biarpun perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang setingkat kalau dibandingkan dengan kakek putih yang biarpun tubuhnya terendam air, akan tetapi hanya sebatas leher, kepalanya tidak.
Dan merendamkan kepala ke dalam air sedingin itu, apalagi sampai lama sekali, tentu lebih sukar daripada merendam tubuh saja. Ketika mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya. Ia maklum bahwa pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan terancam bahaya luka di dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelombang itu. Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air yang tingginya hanya sebatas pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu memandang dengan mata marah. Akan tetapi Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan segera menghapus muka dan kepalanya yang basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api unggun dan main-main air mendidih.
"Kau kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api unggun"
Sambil berkata demikian, Suling Emas menghampiri api dan memasukkan kedua tangannya ke dalam api yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu bernyala menjilat leher dan mukanya"
"Bocah sombong. Berani kau memamerkan kepandaian kepada kami?"
Kakek putih membentak marah dari dalam sungai.
"Huah-hah-hah, orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang kami?"
"Ji-wi Locianpwe, aku hanya mengimbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud pamer. Aku bukan penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian ganggu dengan cara keji melukai banyak orang."
"Huah-hah-hah, ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan mereka?"
Kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun.
"Kalian dua orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan pembunuhan keji hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya orang-orang itu dan apa pula kesalahan Yok-ong yang selalu menolong orang tanpa pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw ini yang tidak menaruh sayang dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah mempermainkannya."
"Heh, bocah lancang. Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?"
Bentak si kakek putih.
"Ha-hah, apa peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?"
Kata pula kakek merah.
"Kau siapa, bocah lancang?"
"Orang mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas"
"Suling Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh tahun, masih bocah. Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu mengenal kami. Akan tetapi kalau kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong (Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara). Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus"
Si kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan.. bagaikan bintang-bintang beterbangan, lidah-lidah api itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas. Suling Emas kaget sekali. Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi hanyalah demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah kepadanya.
Akan tetapi serangan yang dilakukannya kali ini, benar-benar hebat luar biasa, merupakan "pukulan berapi"
Yang luar biasa, mengandung sifat panas melebihi api sendiri. Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas menggunakan kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari. Api menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang didorong oleh tenaga pukulan jarak jauh, begitu terkena dikebut, menyeleweng arahnya dan karena kakek itu terus melakukan pukulan sedangkan Suling Emas terus mengibas sambil mengelak tampaklah pemandangan yang indah. Api-api itu beterbangan, merah menyala dan padam apabila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi.
"Serahkan dia padaku"
Seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang sinar-sinar putih berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa dingin yang menembus kulit menyelinap ke tulang-tulang.
Kagetlah ia dan maklum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti. Inti tenaga Im yang dimiliki kakek itu sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air sungai dikepal menjadi salju atau es dan dilontarkan merupakan peluru-peluru yang mengandung hawa pukulan dingin mematikan. Seperti juga serangan api tadi, kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan tenaga, maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan es itu. Sebentar saja Suling Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan api dari kanan, sulingnya menangkis hujan peluru es dari kiri. Adapun kedua orang kakek itu agaknya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau menggunakan cara lain untuk menyerang. Berkali-kali terdengar mereka berseru kaget dan kagum.
"Aneh, dia dapat bertahan"
Disusul seruan-seruan tak percaya.
"Masa semua tidak mengenai sasaran?"
Agaknya karena penasaran inilah mereka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan Suling Emas terus-menerus menangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan diri tanpa mampu balas menyerang. Namun gin-kangnya memang sudah hebat dan gerakan kaki tangannya sudah sempurna, maka biarpun dihujani api dan es dari kanan kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri. Sementara itu, senja sudah mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya. Bulan bundar dan penuh, kebetulan tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka keadaan menjadi terang benderang.
"Suling Emas.., Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?"