Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 152

Memuat...

Tan Lian menjatuhkan diri lagi berlutut di depan kakek itu.

"Ohhh, Locianpwe saya merasa seakan-akan bertemu dengan ayah saya. Locianpwe, tolonglah saya. Saya sudah bersumpah hendak membunuh isteri dan anak-anak Suling Emas, akan tetapi.. dia tidak punya isteri dan.. dan memang betul saya jatuh cinta kepadanpa. Locianpwe, sudilah Locianpwe menolong saya, mewakili orang tua saya yang sudah tiada, harap suka usahakan perjodohan saya dengan Suling Emas. Kalau hal ini tidak terjadi, saya merasa sia-sia hidup di dunia, dendam ayah tak terbalas, hasrat hati hendak memunahkan dendam dengan ikatan jodoh tak tercapai.."

Kakek itu termenung sejenak.

"Suling Emas termasuk seorang di antara tokoh-tokoh aneh di dunia ini. Aku khawatir kalau-kalau maksud hatimu akan gagal, Nak. Mengapa tidak kau batalkan saja dan hidup mencapai kebahagiaan penuh damai daripada kesunyian seperti aku? Aku tanggung bahwa kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan duniawi."

"Cobalah dulu, Locianpwe. Belum tentu dia tidak setuju, agaknya.. agaknya dia pun bukan tak suka kepada saya.."

Akhirnya kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas.

"Baiklah.. baiklah, akan tetapi jangan kau lalu membunuh diri kalau dia menolak. Berjanjilah dulu, tanpa janjimu aku takkan mau menerima permintaanmu."

"Saya berjanji takkan membunuh diri kalau.. dia menolak."

"Dan akan suka menjadi muridku,"

Sambung kakek itu.

".. dan akan suka menjadi murid Locianpwe.."

"Bagus"

Kakek itu tampak girang.

"Nah, kau beristirahatlah, kita menanti sampai dia kembali."

Akan tetapi pada saat itu, di luar pondok terdengar langkah kaki orang. Tergopoh-gopoh Tan Lian berlari keluar, hatinya sudah tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Suling Emas. Ia harus cepat melihat dengan mata sendiri bahwa pendekar itu kembali dalam keadaan selamat. Ketika ia melangkah keluar dari pintu pondok, tiba-tiba ia tercengang dan berdiri seperti patung, memandang laki-laki muda yang berdiri di pekarangan rumah itu dengan mata terbelalak. Pemuda itu, yang berpakaian sederhana seperti seorang pelajar, kelihatan lelah sekali, berwajah tampan dan keningnya lebar, juga memandang kepadanya, mata yang sayu kelelahan itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri.

"Lian-moi.."

Akhirnya ia berseru dan tersaruk-saruk ia melangkah maju.

"Kau..? Kenapa kau datang ke sini?"

"Kenapa? Lian-moi, tentu saja hendak mencarimu, menyusulmu"

Lian-moi, hampir gila aku mencarimu, mengikuti jejakmu. Lian-moi, mengapa kau di sini dan dengan siapakah kau.."

Orang muda yang bukan lain adalah Thio San itu tiba-tiba berhenti karena melihat munculnya seorang kakek yang bersikap tenang dan bermata tajam muncul di pintu, di belakang tunangannya.

"Thio San, Sudah berapa kali kujelaskan kepadamu bahwa di antara kita sudah tidak ada ikatan dan tidak ada urusan apa-apa lagi. Kenapa kau begini tak tahu malu dan masih berani menyusulku dan mengikutiku selalu? Pergilah"

"Tapi.."

"Pergilah, sebelum aku habis sabar dan terpaksa bertindak kasar"

"Tapi, Lian-moi, kita bertunangan.."

"Hemmm, kalau tidak ingat akan hubungan itu, sudah dulu-dulu aku mengenyahkanmu dengan kekerasan. Thio San, sejak dua belas tahun yang lalu, di depan engkau dan orang tuamu, bukankah aku sudah menyatakan pembatalan ikatan itu? Bukankah sudah kujelaskan secara terang-terangan apa yang menjadi sebabnya? Thio San, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah, cukup, kau pergilah"

Karena hampir tidak kuat menahan air matanya, Tan Lian lalu membalikkan tubuhnya dan lari memasuki pondok. Pemuda itu berdiri dengan muka pucat, sinar matanya menjadi makin sayu, wajahnya makin muram, tubuhnya bergoyang-goyang seperti sebatang pohon terlanda angin, agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak roboh.

Post a Comment