Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 149

Memuat...

Bukan tidak berani terhadap Kim-sim Yok-ong sendiri yang tak pernah dilihat orang bermain silat, akan tetapi tidak berani karena sekali dia mengganggu Kim-sim Yok-ong, tentu ia akan berhadapan dengan seluruh tokoh di dunia kang-ouw, baik tokoh kanan maupun kiri, tokoh putih maupun hitam, para pendekar maupun penjahat. Agaknya Kim-sim Yok-ong sudah menjadi "milik"

Semua orang yang akan membelanya mati-matian. Akan tetapi, tidaklah sering raja obat ini dikunjungi orang yang hendak berobat. Pertama, karena tempat tinggalnya sering kali berpindah-pindah dan selalu ia memilih lereng-lereng gunung yang tinggi dan yang mempunyai tetumbuhan yang mengandung obat. Ke dua, kepandaiannya yang istimewa adalah khusus untuk mengobati orang-orang terluka oleh pukulan-pukulan, oleh senjata-senjata rahasia atau oleh racun-racun.

Dalam hal inilah ia memang memiliki kepandaian istimewa. Adapun kepandaiannya mengobati orang-orang sakit biasa, tidaklah istimewa, sama dengan tabib-tabib yang banyak terdapat di kota-kota. Oleh karena itu pula maka hanya para anggauta dunia kang-ouw saja yang selalu mencari dan minta tolong kepada Kim-sim Yok-ong. Dan justeru ini pula yang membuat namanya terkenal di antara para tokoh kang-ouw. Bahkan tak boleh disangkal lagi, enam iblis Thian-te Liok-kai yang kini tinggal lima orang saja itu, sengaja memilih puncak Thai-san sebagai tempat mengadu ilmu karena pada waktu itu Kim-sim Yok-ong berada di gunung itulah. Hal ini penting sekali karena mereka maklum bahwa pertandingan adu ilmu di antara mereka tentu sedikitnya akan mengakibatkan luka-luka yang parah dan mengerikan, dan hanya Kim-sim Yok-ong saja yang akan mampu mengobati.

Pada pagi hari itu, selagi Kim-sim Yok-ong mengatur akar-akar obat di atas genteng depan rumah untuk dijemur, datanglah Suling Emas yang memondong tubuh Tan Lian. Sudah dua hari dua malam gadis itu berada dalam keadaan pingsan maka Suling Emas tidak pernah berhenti, berlari cepat siang malam sehingga ketika ia tiba di situ, keadaan pendekar ini lesu dan lemah, tubuhnya lelah sekali, tangannya kaku-kaku dan kakinya gemetar.

"Ayaaaaa.."

Kiranya Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) yang datang. Ah, lagi-lagi kau melupakan kesehatan sendiri, sedikitnya dua hari dua malam tak pernah berhenti berlari untuk menolong seseorang. Kim-siauw-eng, orang seperti engkau ini amat diperlukan dunia, dan berbahagialah engkau karena hidupmu telah kauisi dengan kemanfaatan bagi dunia. Bawalah dia masuk, sebentar aku menyusul"

Suling Emas mengangguk.

"Terima kasih, Locianpwe."

Lalu ia melangkah memasuki pondok dan merebahkan tubuh Tan Lian di atas sebuah pembaringan di sudut ruangan. Sedikit gelisah juga hati Suling Emas menyaksikan keadaan Tan Lian yang sudah pucat sekali mukanya, tubuhnya dingin dan kaku seakan-akan sudah mati. Hanya napasnya yang lemah saja yang membuktikan bahwa gadis itu masih hidup. Diam-diam Suling Emas berdoa semoga gadis itu tidak mati oleh pukulan maut Lin Lin, karena kalau hal ini terjadi, ia akan merasa berdosa dan makin menyesal mengingat bahwa semua ini adalah akibat daripada perbuatan ibu kandungnya yang lalu.

Tak lama kemudian Raja Obat itu memasuki pondok dengan langkah perlahan dan tenang sekali. Suling Emas sudah mengenal watak Raja Obat ini, maka ia pun diam saja dan menanti sampai orang tua itu melakukan pemeriksaan. Kim-sim Yok-ong menghampiri sebuah tempayan air di sudut luar, mencuci kedua tangannya, kemudian menyusutnya dengan kain bersih. Barulah ia menghampiri Tan Lian tanpa menoleh ke arah Suling Emas yang masih berdiri di dekat pembaringan. Tabib sakti itu membungkuk, memandangi Tan Lian dengan kening berkerut, mengulur tangan kiri menekan nadi tangan gadis itu dan tangan kanannya meraba-raba pundak dan leher.

"Uhhhhh.."

Katanya, agak tercengang.

"Aku mendengar berita bahwa Pat-jiu Sin-ong sudah meninggal dunia. Bagaimana nona ini bisa terkena pukulannya beberapa hari yang lalu?"

Suling Emas tidak merasa heran mendengar ini, sungguhpun ia menjadi makin kagum saja. Tidak ada akibat pukulan yang bagaimana hebat pun di dunia ini yang tidak dikenal oleh Kim-sim Yok-ong.

"Bukan, Locianpwe. Pat-jiu Sin-ong memang sudah meninggal dunia dan tidak melakukan pukulan terhadap nona ini."

Kakek itu memandang dan tahulah ia bahwa Suling Emas tidak ingin bicara tentang pemukul nona ini. Ia menarik napas panjang dan berkata,

"Siapapun juga pemukulnya, sudah pasti bukan Beng-kauwcu Liu Mo, juga bukan Kauw Bian Cinjin. Kalau bukan Pat-jiu Sin-ong, entah siapa yang mampu melakukan pukulan ini. Hemmm, siapapun juga, dia menggunakan pukulan Beng-kauw dan aneh sekali bahwa kau yang membawanya ke sini untuk kuobati."

Ucapan ini tidak langsung, namun diam-diam Suling Emas mengerti bahwa kakek itu sudah tahu segalanya, sudah mendengar bahwa dia adalah putera Tok-siauw-kui dan cucu Pat-jiu Sin-ong. Alangkah cepatnya berita tersiar, tidak heran bahwa tokoh-tokoh kang-ouw mencari dan hendak mengeroyoknya. Apalagi kalau diingat bahwa banyak tokoh kang-ouw mengunjungi kakek ini untuk minta obat.

"Kau keluarlah dulu, Kim-siauw-eng, biar kucoba untuk mengobati nona ini."

Suling Emas lalu mengangguk, melangkah keluar dan duduk di atas sebuah batu hitam yang terdapat di depan pondok itu. Memang di depan pondok terdapat sekumpulan batu-batu besar yang beraneka warna. Inilah sebuah di antara kesukaan Kim-sim Yok-ong, yaitu mengumpulkan batu-batu yang licin halus dan aneh-aneh macam serta warnanya. Lebih dua jam Suling Emas menanti, belum juga ada berita dari dalam. Ia melamun dan bermacam pikiran menggodanya, terutama sekali pikiran tentang diri Lin Lin. Ia merasa amat sayang dan kasihan kepada gadis remaja itu, malah hampir ia jatuh cinta.

Berulang kali Suling Emas menarik napas panjang, bukan sekali-kali menyesali nasibnya, melainkan menyesal mengapa setelah ibunya menjadi sebab kegegeran dunia, kini di amenjadi sebab pula kegegeran hati gadis-gadis cantik. Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti suara katak di musim hujan. Suling Emas cepat mengangkat muka dan kaget serta herannya bukan main ketika ia melihat dua orang kakek sudah berdiri dalam jarak lima meter di depannya, masing-masing kakek itu memegang leher baju seorang penduduk gunung. Yang membuat Suling Emas kaget dan heran adalah betapa kedua orang kakek itu dapat datang tanpa ia ketahui sama sekali, tahu-tahu sudah berada di situ. Terlalu dalamkah ia tadi tenggelam dalam lamunannya sehingga ia tidak mendengar kedatangan mereka, ataukah mungkin mereka itu luar biasa saktinya?

Akan tetapi sepanjang ingatannya, hanya Bu Kek Siansu saja yang pandai datang dan pergi tanpa ia ketahui. Ia memandang penuh perhatian. Seorang di antara dua kakek itu rambut dan jenggotnya panjang berwarna putih seperti perak, bahkan alis matanya juga putih, jubahnya panjang dan putih pula. Pendeknya, tidak ada warna lain terdapat pada diri kakek ini, malah kulitnya kalau diperhatikan juga luar biasa putihnya, seakan-akan tidak ada darah di bawah kulit itu. Diam-diam Suling Emas kaget. Orang ini membayangkan tenaga sin-kang yang mujijat, akan tetapi bagaimana seorang dengan kepandaian sehebat ini belum pernah ia jumpai dan tidak ia kenal sama sekali? Kemudian perhatiannya teralih kepada orang ke dua.

Dia ini juga seorang kakek tua, rambutnya awut-awutan, kumis dan jenggotnya tebal panjang. Akan tetapi berbeda dengan kakek pertama yang rambutnya serba putih, kakek ini rambut dan jenggotnya kemerah-merahan, juga pakaiannya serba merah, sepatu rumputnya merah, kulit badannya juga kemerahan seakan-akan setiap hari dibakar matahari. Yang membuat Suling Emas diam-diam terkesiap hatinya adalah ketika ia melihat mata kedua orang kakek itu. Kakek pertama matanya putih hampir tidak kelihatan bagian hitamnya, akan tetapi kakek ke dua matanya merah dan hampir tidak tampak bagian putihnya. Benar-benar dua orang kakek yang luar biasa sekali. Jangankan bertemu mereka, mendengar tentang mereka pun belum pernah. Kedua orang kakek itu masih tertawa-tawa, dan kedua orang penduduk gunung yang dicengkeram leher bajunya itu kelihatan ketakutan sekali.

"Hah, biruang busuk, benar inikah rumah Kim-sim Yok-ong?"

Tiba-tiba si kakek putih bertanya kepada orang yang dicengkeramnya. Orang itu mengangguk-angguk, dengan tubuh gemetar dan biarpun mulutnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.

"Huah-hah-hah, si tabib memelihara anjing untuk menjaga pondok agaknya"

Kata si kakek merah sambil menudingkan telunjuk ke arah Suling Emas.

"Biar kuusir dulu anjing itu, menyebalkan benar"

Setelah berkata demikian, kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya seperti orang mendorong ke arah Suling Emas yang masih duduk di atas batu hitam. Terdengar suara bercuitan menyambar ke arah Suling Emas. Pendekar ini kaget dan kagum juga menyaksikan pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat, akan tetapi ia tidak menjadi gentar. Dengan tenang Suling Emas yang biasa menghormat kaum tua, sengaja tidak mau menangkis, melainkan ia dalam keadaan masih bersila tubuhnya, melayang ke atas mengelak pukulan dan seperti seekor burung, tubuhnya yang masih duduk bersila itu hinggap pada batu lain di sebelah kiri. Pukulan jarak jauh itu tidak mengenai dirinya, akan tetapi terdengar suara keras dan.. batu hitam tempat duduk Suling Emas tadi pecah-pecah dan di antara muncratnya batu itu tampak cahaya berapi yang panas luar biasa.

"Anjing penjaga yang baik.."

Seru kakek putih dan dengan mulut menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang putih berkilauan, kakek ini pun menggerakkan tangan kanannya mendorong ke arah Suling Emas.

Pendekar ini masih belum hilang kagetnya menyaksikan akibat pukulan jarak jauh si kakek merah yang benar-benar dahsyat itu, pukulan yang mengandung tenaga raksasa penuh hawa panas membakar yang sekali mengenai tubuh manusia akan membuat tubuh itu tidak hanya remuk akan tetapi juga terbakar. Kini melihat datangnya pukulan jarak jauh yang sama sekali tidak bersuara namun membuat rumput-rumput di atas tanah yang dilalui seketika menjadi layu, ia cepat-cepat menggerakkan tubuhnya melompat tinggi dan kemudian turun berdiri dengan keadaan siap siaga. Ia melihat betapa batu yang didudukinya bergoyang-goyang sedikit, akan tetapi tidak pecah seperti tadi, malah tampaknya tidak apa-apa. Tadinya ia mengira bahwa kepandaian kakek putih itu kalah jauh oleh kakek merah, akan tetapi tiba-tiba si kakek merah berseru.

"Wah-wah, agaknya kau berusaha keras mengalahkan aku. Huah-hah-hah"

Suling Emas kaget dan melihat lagi. Matanya terbelalak kelika ia melihat batu besar yang disangkanya tidak apa-apa itu, kini mulai bergerak-gerak tak lama kemudian runtuh dan kiranya sudah hancur menjadi debu. Diam-diam ia kaget sekali. Dua orang kakek ini benar-benar merupakan orang-orang yang paling sakti yang pernah ia jumpai atau dengar, kecuali tentu saja Bu Kek Siansu, akan tetapi kakek itu memang boleh disejajarkan dengan manusia biasa. Cepat ia menjura penuh penghormatan sambil berkata.

"Mohon maaf sebesarnya bahwa karena teecu tidak mengenal siapa adanya Ji-wi Locianpwe, maka terlambat untuk mengadakan penyambutan. Teecu juga hanya seorang tamu dari tuan rumah Kim-sim Yok-ong yang kini sedang sibuk mengobati orang sakit. Harap Ji-wi sudi menunggu, biarlah teecu menyingkir kalau kehadiran teecu tidak menyenangkan hati Ji-wi."

Biarpun maklum bahwa dua orang kakek itu sakti luar biasa, akan tetapi tentu saja Suling Emas tidak merasa takut. Ucapannya yang sopan dan mengalah bukanlah bayangan daripada rasa takut, melainkan bayangan daripada sikapnya yang menghormat orang asing yang lebih tua, dan juga karena ia sedang menghadapi tugas penting mewakili ibunya menghadapi anggauta-anggauta Thian-te Liok-koai, maka dia tidak mau mencari perkara lain yang akan mengacaukan tugasnya.

"Huah-hah-hah, orang muda ini boleh juga. Heh, orang muda, kami datang karena mendengar nama besar Kim-sim Yok-ong yang menjulang tinggi sampai ke langit. Akan tetapi kami tidak percaya kalau tidak membuktikan sendiri sampai di mana kepandaiannya. Kata orang, tabib sombong ini dapat menghidupkan lagi orang mati terkena racun"

Diam-diam Suling Emas mendongkol. Dua orang kakek ini boleh jadi sakti, akan tetapi sikap mereka berandalan.

Post a Comment