Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 148

Memuat...

"Tan-siocia harap kau jangan berduka tentang kekalahan. Ilmu kepandaian tak dapat diukur sampai di mana puncaknya, dan siapa yang mengejar kepandaian untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, ia akan gagal karena pasti akan menemui yang lebih tinggi lagi. Andaikata ibuku masih hidup, agaknya kau pun takkan mampu menandinginya, karena biarpun kau telah menggembleng dirimu belasan tahun lamanya, ibuku pun terus memperdalam ilmunya selama puluhan tahun"

"Lebih baik kalau aku tewas dalam usahaku membalas ibumu, daripada seperti sekarang ini.."

Ia terisak.

".. tidak saja aku tak mampu mengalahkanmu, juga kau.. kau tidak membunuhku, malah menolongku. Aku tidak kuat menanggung penghinaan ini, lebih baik kau bunuh aku"

"Nona, di antara kita tidak ada permusuhan pribadi, mengapa aku harus membunuhmu? Tidak, aku, tidak akan berpemandangan begitu picik. Dan kuharap kau pun dapat sadar akan hal ini, bahwa di antara kita tidak ada urusan pribadi yang membuat kita saling benci dan saling bermusuhan."

"Akan tetapi.., aku sudah bersumpah.. untuk membunuh isterimu.."

"Jangan khawatir, aku tidak beristeri,"

Kata Suling Emas, tersenyum.

"Tapi wanita yang memukulku itu? Ah, dia tentu tunanganmu"

Suling Emas kembali menggelengkan kepalanya, tapi kini keningnya berkerut.

"Tapi, jelas dia mencintamu"

Suling Emas kaget bukan main mendengar pernyataan ini. Bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa Lin Lin mencintanya?

"Hemmm, mengapa kau berkata demikian?"

Katanya, suaranya tenang saja, padahal jantungnya berdebar keras.

"Dia cemburu kepadaku.. eh, kumaksudkan.."

Tan Lian menjadi gugup sekali karena tanpa ia sengaja atau sadari, ia sendiri sudah membuka rahasia hatinya.

"Tak mungkin, Nona. Dia adalah adik tiriku"

Tan Lian tercengang dan entah mengapa, tiba-tiba wajahnya berseri gembira. Akan tetapi hanya sebentar, karena ia lalu menghela napas dan berkata dengan lirih dan berat,

"Aku sudah bersumpah memusuhimu, tak perlu kau berlaku baik kepadaku, tiada gunanya. Lebih baik aku mati saja, tak perlu kau carikan orang pandai untuk berobat."

"Hemmm, mengapa kau begini putus harapan, Nona? Kau masih muda, kau berhak hidup.."

"Muda, katamu? Seorang wanita sudah berusia.. seperti aku, kau bilang masih muda? Aku adalah perawan tua. Tiada harapan lagi. Untuk apa hidup hanya menjadi bahan ejekan? Sebatangkara, tiada keluarga, tugas pun terbengkalai tak terpenuhi, apa artinya hidup? Aku sudah tua"

Kembali air matanya mengalir turun.

"Kau masih muda, Nona Tan. Muda dan cantik jelita lagi gagah perkasa. Kurasa, dia yang merasa dirinya pandai dan tampan, satria-satria di dunia kang-ouw, akan berebutan untuk mendapatkan perhatianmu, dan akan merasa bahagia sekali kalau menjadi pilihanmu."

Sepasang pipi gadis itu tiba-tiba menjadi merah, matanya memandang lebar-lebar ke arah Suling Emas seakan-akan hendak menyelidiki apakah ucapan itu keluar dari hati yang jujur. Melihat sepasang mata Suling Emas memandang sungguh-sungguh dan membayangkan kejujuran, Tan Lian menjadi begitu girang sehingga ia tergagap.

"Be.. betulkah..?"

Suling Emas lega hatinya. Ia mengangguk meyakinkan, lalu membungkuk dan memondong tubuh Tan Lian lagi sambil berkata,

"Mari kita lanjutkan perjalanan agar kita segera sampai di Thai-san. Tak baik bagi kesehatanmu terlalu banyak bicara seperti ini."

Di dalam pondongan pemuda itu, Tan Lian termenung-menung. Dia masih belum beristeri, usianya sudah lanjut pula, tentu lebih tua beberapa tahun daripada dia sendiri. Permusuhan antara orang tua tentu saja akan hapus kalau mereka menjadi suami isteri. Dia begitu baik, begini gagah perkasa, dan bukankah dia tadi memuji-muji bahwa aku cantik jelita dan gagah? Bukankah pujian yang keluar dari mulut seorang laki-laki, pujian yang bukan hanya kosong, yang keluar dari hati sejujurnya, menjadi bayangan daripada cinta kasih? Makin muluk-muluk lamunan Tan Lian sehingga akhirnya ia tertidur nyenyak di dalam pondongan Suling Emas.

Di lereng Thai-san yang agak tersembunyi, di bagian yang paling sunyi karena hanya penuh dengan hutan-hutan belukar, terdapat sebuah pondok sederhana dan bersih, mempunyai banyak jendela sehingga di dalam pondok itu hawanya sejuk segar. Inilah tempat tinggal Kim-sim Yok-ong, seorang kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua akan tetapi wajahnya tetap segar berseri dan kemerahan seperti wajah seorang pemuda remaja, sepasang matanya bersinar-sinar dan bentuknya indah seperti mata wanita cantik. Jari-jari tangannya halus dan runcing seperti tangan seorang terpelajar, gerak-geriknya halus, tutur sapanya ramah dan sopan, pakaiannya sederhana dan dari kain murah, akan tetapi bersih sekali, sebersih kuku-kukunya dan rambutnya.

Inilah dia Kim-sim Yok-ong yang namanya terkenal di seluruh jagat, yaitu nama sebutannya, bukan nama aselinya karena nama aselinya tidak ada yang tahu. Ia dijuluki Kim-sim (Hati Emas) karena kakek ini menolong kepada siapa saja yang perlu ditolong, tidak pilih kasih, tidak pandang bulu, tanpa pamrih, tanpa syarat seolah-olah hatinya terbuat daripada emas yang amat berharga penuh dengan cinta kasih akan sesamanya. Di samping ini ia disebut Yok-ong (Raja Obat) karena ilmu pengobatan yang ia miliki benar-benar luar biasa sekali sehingga banyak orang bilang bahwa tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak bisa diobati dan disembuhkan oleh Kim-sim Yok-ong. Karena kebaikan hatinya yang tidak pandang bulu dan tidak pilih kasih inilah agaknya maka semua orang di dunia ini, termasuk mereka yang memiliki watak kasar dan buruk, semua segan-segan dan tidak berani mengganggunya.

Post a Comment