"Apa.. apa kau bilang..?"
Kemudian, pandang mata Suma Boan seakan-akan menceritakan semuanya, membuat Sian Eng gemetar seluruh tubuhnya.
"Kau.. kau telah melakukan.."
Suma Boan melangkah maju dan memeluknya mesra.
"Isteriku, kau isteriku yang tercinta. Sian Eng, kita telah menjadi suami isteri dan.. aduhhh.."
Suma Boan terlempar ke sudut kamar karena dengan tenaga yang dahsyat sekali Sian Eng telah mendorongnya. Sian Eng kini bangkit berdiri, matanya merah menyala-nyala, pipinya seperti terbakar rasanya.
"Keparat biadab. Kau.. kau berani.."
Suma Boan terkejut bukan main, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, ia tidak terluka. Ia melangkah maju lagi dan membujuk dengan suara manis.
"Eng-moi-moi, kau kenapa? Bukankah kau mencintaku? Bukankah kau tahu bahwa aku pun mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku, dan bahwa kita toh akan menjadi suami isteri juga kelak? Aku.. saking bahagia hatiku semalam melihat besarnya cinta kasihmu sehingga kau rela melakukan tugas berbahaya, kemudian melihatmu aku tak tahan lagi. Ah, Sian Eng, apa sebabnya kau menjadi marah-marah?"
"Keparat busuk"
Sian Eng memaki dan bagaikan seekor singa betina ia menerjang maju. Suma Boan tentu saja tidak mau membiarkan dirinya diserang, cepat ia mengelak, malah kemarahannya kini bangkit.
Memang sesungguhnya di hati putera pangeran ini tidak ada cinta kasih murni terhadap Sian Eng, yang ada hanya cinta berdasarkan nafsu binatang belaka yang dibangkitkan oleh kecantikan gadis itu. Perlakuannya terhadap Sian Eng memang ia sengaja, merupakan siasatnya karena ia menafsir bahwa Sian Eng telah mewarisi ilmu yang hebat dan jika sudah menjadi "isterinya"
Tentu Sian Eng akan membuka rahasia ilmu itu kepadanya. Tentu saja di samping ini, juga kelemahan batinnya terhadap kecantikan Sian Eng merupakan sebab yang kuat pula sehingga di malam itu ia melakukan perbuatan biadab seperti binatang. Kini dalam marahnya, Suma Boan balas menyerang. Memang ilmunya lebih tinggi daripada kepandaian Sian Eng, maka sekali ia mengeluarkan jurus yang sulit, tangannya berhasil memukul pundak Sian Eng, membuat gadis itu terjungkal.
"Kau hendak berlagak, ya? Mulai sekarang kau harus mentaati segala perintahku, kalau tidak, kau akan kusiksa sampai mampus. Perempuan tak tahu diri, diperlakukan baik-baik kau tidak mau terima"
Sambil berkata demikian, dalam kebesaran hatinya sudah berhasil merobohkan Sian Eng, Suma Boan melangkah maju.
Sian Eng rebah miring dan menoleh. Matanya terbelalak. Peristiwa ini hampir membuatnya menjadi gila. Rasa menyesal, kecewa, marah, malu, dan sakit hati memenuhi kepalanya, membuat kepalanya berdenyut-denyut, membuat tubuhnya sebentar panas sebentar dingin. Tak disangkanya sama sekali bahwa orang yang dicintanya, yang dipujanya, yang diharapkan menjadi suaminya kelak, memperlakukan dia seperti ini. Tiba-tiba kemarahannya memuncak, ia mengerahkan tenaga Ban-kin-pek-ko-chiu dan ketika Suma Boan sudah melangkah dekat, ia siap-siap. Benar saja, Suma Boan yang bermaksud hendak "menundukkan"
Sien Eng mengangkat kakinya menendang. Pada saat itu Sian Eng menyambar kaki itu dan ia melompat berdiri. Suma Boan tidak bisa berkutik, tubuhnya jungkir-balik dan Sian Eng mengayun-ayun tubuh itu, diputar-putarnya di atas kepala.
"Kuhancurkan kepalamu, Kukeluarkan jantungmu. Binatang kau, jahanam keparat"
Sian Eng memaki-maki sambil menangis dan air matanya bercucuran.
Suma Boan takut setengah mampus. Ia berusaha untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri, namun kakinya yang dicengkeram tangan Sian Eng itu serasa hancur dan ia tidak mampu meronta. Ia mulai merintih-rintih dan dari dalam saku bajunya meluncur keluar dua buah kitab kuno. Melihat ini Sian Eng mendadak tertawa-tawa.
"Hi-hi-hi-hik, Untuk dua kitab ini kau tega merusak diri dan hatiku. Kau tega menghancurkan harapan hidupku, membuyarkan cita-citaku, membanting remuk kasih sayangku. Hanya untuk dua buah kitab kuno, hi-hi-hik"
Makin takutlah Suma Boan.
"Sian Eng.. Moi-moi.. Kau ampunkanlah diriku.. Eng-moi, ingatlah.. aku cinta kepadamu, sungguh mati, biar aku bersumpah.."
Akan tetapi kata-katanya tenggelam dalam suara ketawa Sian Eng. Pada saat itu, terdengar suara wanita nyaring di luar bilik perahu. Suara Liu Hwee yang menantang,