"Hemmm, baru saja kupesan supaya kau tidak menggunakan ilmu peninggalan.."
"Kan mereka bukan orang Beng-kauw? Takut apa menggunakan ilmu peninggalan Pat-jiu Sin-ong? Malah kalau aku dapat mengalahkan mereka dengan ilmu ini, bukankah berarti aku mengangkat nama Beng-kauw dan terutama nama pencipta ilmu ini? Roh Pat-jiu Sin-ong tentu akan tertawa melihat betapa ilmunya di tangan seorang gadis seperti aku dapat mengalahkan iblis-iblis jahat"
Suling Emas merasa kalah berdebat.
"Tak baik jadinya kalau ikut denganku, Lin Lin. Tidak bisa, kita harus berpisah. Atau.. kau boleh menanti di Nan-cao, mari kuantar sampai di Nan-cao. Kau tinggal dulu di sana, menanti sampai aku dapat menemukan Sian Eng, baru kau dan encimu pulang bersama."
"Tidak, Sekali lagi ti."
Tiba-tiba tangan Suling Emas bergerak dan tahu-tahu mulut Lin Lin sudah didekapnya dengan telapak tangannya. Lin Lin memandang dengan mata terbelalak kaget dan heran, akan tetapi baru ia mengerti ketika Suling Emas menaruh telunjuknya di depan mulut dan memberi isyarat agar gadis itu tidak mengeluarkan suara. Kini baru Lin Lin melihat bahwa jauh dari depan tampak bayangan manusia berkelebat cepat sekali dan sebentar saja sudah lewat. Sukar dilihat siapa orang itu, hanya jelas tampak pakaiannya, pakaian wanita, juga bentuk tubuhnya ramping. Akan tetapi mukanya tidak tampak karena ketika lari menghadapkan muka ke sebelah sana. Yang mengagumkan adalah kecepatan larinya, seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak tanah.
"Seperti Enci Sian Eng.."
Bisik Lin Lin terheran-heran. Memang bentuk tubuh wanita itu seperti Sian Eng, akan tetapi pakaiannya bukan pakaian seorang ahli silat yang serba ringkas melainkan pakaian seorang wanita dusun atau petani yang sederhana. Juga wanita itu rambutnya panjang terurai, sungguhpun tidak sepanjang rambut Siang-mou Sin-ni, namun terurai sampai ke lutut belakang.
"Bukan, mari kita ikuti dia, mencurigakan sekali.."
Kata Suling Emas yang sudah melompat dan mengejar. Lin Lin terpaksa mengejar juga. Dengan sekuat tenaga Lin Lin mengerahkan gin-kang dan berusaha lari mengimbangi kecepatan Suling Emas. Akan tetapi kali ini ia tertinggal, karena Suling Emas betul-betul berlari cepat kini. Baru ia tahu bahwa kepandaiannya dalam berlari cepat masih kalah sedikitnya dua tingkat oleh pendekar yang dikasihinya itu. Sesungguhnya tidak demikian. Hanya karena belum matang dalam latihan ilmunya yang baru, maka Lin Lin masih kalah jauh. Namun sudah banyak maju kalau dibandingkan dengan sebelum ia mendapatkan ilmu itu. Tiba-tiba Suling Emas berhenti ketika melihat Lin Lin tertinggal jauh. Ketika gadis itu sudah datang dekat, ia berkata.
"Hebat ilmu lari cepat orang itu. Lin-moi, kau pegang tanganku"
Tak usah menanti diperintah dua kali, Lin Lin menyambar tangan kiri Suling Emas. Kalau boleh ia tak ingin melepas tangan itu untuk selamanya. Akan tetapi tak sempat ia bermimpi muluk karena segera tubuhnya tersentak keras ke depan dan di lain saat ia terpaksa harus mengerahkan gin-kangnya lagi karena Suling Emas sudah membawanya lari seperti terbang cepatnya. Namun, bayangan wanita di depan itu tetap tak dapat tersusul. Hal ini saja membuktikan betapa ilmu lari cepat wanita di depan itu betul-betul sudah mencapai tingkat yang luar biasa. Lin Lin merasa kagum sekali dan ia pun ingin segera melihat siapa sebenarnya wanita itu. Wanita di depan itu lari menuju ke timur. Setelah tiba di daerah pegunungan yang tandus dan sunyi, mulailah ia mengurangi kecepatannya dan akhirnya ia hanya berjalan kaki. Suling Emas mengajak Lin Lin terus mengikutinya dari belakang.
"Kenapa tidak susul dia? Aku ingin sekali melihat mukanya, ingin melihat siapa dia,"
Bisik Lin Lin.
"Sssttt, apa perlunya? Aku merasa curiga. Ilmu larinya bukan main, tentu dia seorang sakti. Aku ingin tahu dia hendak ke mana dan hendak berbuat apa. Serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi lupa lagi.."
Kata Suling Emas. Akan tetapi wanita itu benar-benar kuat sekali. Tak pernah ia berhenti berjalan sampai senja berganti malam. Lin Lin sudah merasa lelah sekali.
"Aku.. aku tidak kuat lagi berjalan.."
Ia mengeluh.
"Kakiku serasa hendak copot sambungan tulangnya. Mau apa sih mengikuti orang gila? Suling Emas, aku mogok, tidak kuat lagi.."
Lin Lin tiba-tiba menjatuhkan dirl duduk di atas tanah.
"Mari kupondong"
Suling Emas yang betul-betul tertarik oleh wanita di depan itu yang luar biasa ilmu lari cepatnya, tanpa ragu-ragu membungkuk dan memondong tubuh Lin Lin. Gadis ini segera merangkul lehernya dan merebahkan kepala di atas pundaknya dengan hati penuh bahagia dan manja. Suling Emas hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan mengikuti wanita itu. Ia benar-benar merasa kasihan kepada Lin Lin, gadis aneh yang kadang-kadang menyebut "kanda"
Ada kalanya menyebut "Suling Emas"
Begitu saja kepadanya. Gadis yang bukan sedarah deging dengannya, lain ayah ibu, gadis berdarah bangsawan, puteri bangsa Khitan yang gagah perkasa.
Malam itu bulan muncul sepenuhnya. Bulan purnama. Lin Lin agaknya sudah lupa akan wanita yang mereka ikuti. Seluruh perasaannya tenggelam ke dalam laut bahagia dan mesra. Dengan bulan purnama di angkasa, suasana menjadi romantis sekali. Tidak salah kiranya orang tua yang mengatakan bahwa sinar bulan purnama mendorong dan merangsang hati muda ke arah kemesraan dan memperkuat pengaruh asmara. Lin Lin masih merangkul leher Suling Emas, kepalanya rebah miring di atas pundak pendekar itu dan matanya ketap-ketip menatap wajah yang mencuri hatinya itu penuh cinta kasih. Sudah lebih tiga jam Suling Emas memondongnya. Sudah banyak berkurang kelelahan Lin Lin, namun gadis itu tidak sadar akan hal ini. Dirasanya baru sebentar ia dipondong.
"Koko.."
Bisiknya di dekat telinga Suling Emas.
"Hemmm..?"
Suling Emas menjawab acuh tak acuh karena perhatiannya tertuju ke depan. Wanita itu mendaki sebuah bukit kecil di mana terdapat tanah kuburan yang penuh dengan gundukan-gundukan tanah dan batu nisan.
".. ingin sekali aku selamanya berada di dalam pondonganmu.."
"Huh, kau bukan bayi. Sudah terlalu lama kau kupondong. Turun"
Suling Emas menurunkan Lin Lin dan baiknya sinar bulan berwarna kemerahan sehingga menyembunyikan muka pendekar ini yang menjadi merah sekali.
"Koko.."
"Hushhhhh.. lihat itu.."
Suling Emas menuding ke depan. Teringatlah Lin Lin akan wanita yang tadi sudah ia lupakan sama sekali. Di dalam pondongan Suling Emas di malam penuh sinar bulan tadi, ia sudah lupa segala, yang teringat hanya dia dan Suling Emas, dunia ini hanya ada mereka berdua, ada urusan cinta kasih mereka, yang lain-lain tidak ada lagi. Sekarang ia teringat dan cepat memandang. Kagetlah hati Lin Lin ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah berada di daerah kuburan, bahkan Suling Emas dan dia sudah mengintai dari balik sebuah batu nisan, di bawah sebatang pohon kecil. Wanita itu dengan lenggang yang menunjukkan bahwa dia seorang yang masih muda dan berperawakan bagus sekali, berjalan menghampiri sebuah makam, lalu menjatuhkan diri berlutut memeluk batu nisan sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah.., Ayah yang baik.. ampunilah anakmu.."
Ratap tangis wanita itu. Sejenak Lin Lin tercengang, kemudian tak terasa lagi air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya.
Teringatlah ia akan dirinya sendiri yang sudah yatim piatu, tiada ayah bunda lagi, bahkan dibandingkan dengan wanita di sana itu, dia lebih sengsara. Setidaknya wanita itu dapat menangisi kuburan ayahnya, sedangkan dia, di mana kuburan ayah bundanya saja tidak tahu. Timbul rasa simpati dan kasihan kepada wanita yang berlutut dan tersedu-sedu itu, merasa senasib dan ingin ia mendekati dan menghiburnya. Perasaan ini menggerakkan kakinya dan Lin Lin sudah bangkit berdiri hendak melangkah maju. Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas memegang lengannya dan menahannya. Pendekar ini memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut. Lin Lin sadar bahwa mereka sedang mengintai, maka ia membatalkan niatnya dan menghapus air mata dari pipi, lalu mengintai dan mendengarkan.
"Ayah.. ampunkan aku, Ayah. Anakmu telah gagal membalaskan dendam untukmu.. dia terlalu sakti, bukan lawanku. Banyak tokoh kang-ouw bersamaku mengeroyoknya, tanpa hasil. Ayah.. tak mungkin aku dapat membalaskan sakit hatimu, tak mungkin aku dapat mengalahkan dia, pula.. ampunkan aku, Ayah.. anakmu ini.. yang hina dina.. tidak akan tega membunuhnya. Mungkin dapat aku memperdalam ilmu untuk mengalahkannya, akan tetapi.. aku.. aku cinta padanya. Aku mencinta Suling Emas putera musuh besarmu.."
Kembali gadis itu tersedu menangis, kemudian tiba-tiba bangkit berdiri mengembangkan kedua lengannya berdongak memandang bulan purnama dan bersumpah.