Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 135

Memuat...

Teriaknya girang sambil mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar keluar. Pandang matanya agak berkunang dan kabur, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa yang berdiri di luar alang-alang itu adalah seorang gadis muda. Siapa lagi kalau bukan Sian Eng?

"Kekasihku.."

"Tutup mulutmu yang kotor"

Tiba-tiba bayangan itu membentak dan sebuah tamparan keras menyambar muka Suma Boan. Biarpun kepalanya pening, namun Suma Boan belum kehilangan kelihaiannya. Ia cepat mengelak dan bahkan berusaha mencengkeram lengan tangan gadis itu yang juga dapat menghindarkan diri.

"Moi-moi.. kau hendak mengkhianatiku? Serahkan kitab-kitab itu, di mana kau sembunyikan?"

Bentak Suma Boan sambil menubruk lagi hendak memeluk gadis itu.

Dengan teriakan tertahan, gadis itu mengelak dan menerjang Suma Boan dengan obor di tangannya. Kiranya cahaya terang yang kelihatan dari dalam gua oleh Suma Boan tadi adalah sebuah obor yang dipegang oleh gadis itu, dan ternyata bahwa keadaan waktu itu telah mulai gelap"

Suma Boan menjadi marah sekali dan cepat ia menggerakkan tangan melakukan pukulan jarak jauh dan.. padamlah obor itu. Keadaan sudah menjelang malam, namun masih belum gelap benar, cuaca remang-remang. Tampak bayangan lain berkelebat datang,

"Ada apakah, Hwee-ji (Anak Hwee)?"

Terdengar bayangan yang datang ini bertanya.

"Susiok (Paman Guru), dia ini Suma Boan si jahat itu. Dia baru keluar dari gua rahasia, Mari tangkap. Dia kelihatan seperti gila"

Jawab Liu Hwee, gadis itu. Sementara itu, ketika Suma Boan mendengar percakapan pendek ini, sadarlah ia bahwa ia telah keliru sangka.

Gadis itu sama sekali bukanlah Sian Eng seperti yang dikiranya, melainkan Liu Hwee, puteri ketua Beng-kauw, dan yang baru datang adalah Kauw Bian Cinjin, orang ke dua dari Beng-kauw. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu lari tunggang langgang secepat kedua kakinya bergerak. Liu Hwee juga melompat mengejar dan terjadilah kejar-mengejar di malam buta. Kauw Bian Cinjin juga ikut mengejar, akan tetapi hanya sebentar ia kembali lagi. Ia pikir bahwa seorang lawan macam Suma Boan, cukup ditandingi oleh Liu Hwee. Ia khawatir kalau-kalau kedatangan Suma Boan itu hanya pancingan belaka agar ia ikut pula mengejar, sedangkan siapa tahu kalau-kalau guru pemuda itu, It-gan Kai-ong yang akan datang beraksi. Karena itu, Kauw Bian Cinjin tidak melanjutkan pengejarannya, melainkan melakukan perondaan di sekitar tanah kuburan Beng-kauw yang berada di atas lorong-lorong rahasia.

Demikian, seperti kita ketahui di bagian depan cerita ini, Kauw Bian Cinjin bertemu dengan Suling Emas dan Lin Lin yang berada di depan kuburan mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Kemudian Kauw Bian Cinjin minta bantuan Suling Emas untuk mencari-cari Liu Hwee yang belum juga tampak kembali. Suling Emas mengejar ke timur sedangkan Kauw Bian Cinjin mengejar ke utara. Suling Emas dan Lin Lin mengejar ke timur dengan cepat. Tanpa disadari sendiri oleh gadis itu, kini ia dapat mengimbangi kecepatan Suling Emas, kemajuan yang luar biasa semenjak ia mempelajari ilmu peninggalan Pat-jiu Sin-ong, terutama sekali petunjuk-petunjuk cara bersamadhi dan mengatur napas. Gadis ini tidak menyadari hal itu, akan tetapi Suling Emas dapat menduganya karena dahulu tidaklah sehebat ini gerakan Lin Lin. Diam-diam pendekar ini menjadi amat khawatir. Ilmu ciptaan Pat-jiu Sin-ong ini hebat sekali.

Baru satu jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat) yang pernah dipergunakan Lin Lin ketika ia mencobanya itu saja sudah luar biasa sekali saktinya, kalau sudah terlatih matang, agaknya gadis ini akan menjadi salah satu orang sakti di dunia persilatan. Ia hanya khawatir kalau-kalau kepandaian sakti itu pada diri seorang gadis seperti Lin Lin akan menimbulkan keributan kelak. Ia tahu bahwa sesungguhnya kepandaian sebagian anugerah Thian (Tuhan) setelah jatuh pada diri manusia, menimbulkan dua macam hal bertentangan, yaitu baik dan buruk, tergantung daripada si manusia itu sendiri. Dan manusia macam Lin Lin adalah manusia yang amat aneh, sukar sekali dimengerti. Sampai sepekan mereka mengejar, belum juga mereka mendapatkan jejak Suma Boan maupun Liu Hwee. Pada hari ke tujuh mereka sudah tiba di tapal batas wilayah Kerajaan Wu-yue dan berhentilah Suling Emas.

"Tiada guna,"

Katanya ketika mereka mengaso pada tengah hari yang panas itu di bawah pohon dalam hutan.

"Tidak ada jejak mereka ke sini, agaknya bukan ke timur mereka menuju. Pula Kauw Bian Cinjin sudah melakukan pengejaran, tentu akan dapat menyusul dan menyelamatkan puteri Beng-kauw. Andaikata tidak dapat menyusulnya, Suma Boan akan bisa berbuat apakah? Kepandaiannya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kesombongannya."

"Apakah kepandaian Liu Hwee itu hebat?"

Lin Lin bertanya sambil memandang wajah tampan di sebelah kanannya. Kembali rasa cemburu menggerogoti hatinya karena ia menyaksikan sendiri betapa akrab hubungan antara Suling Emas dan Liu Hwee.

"Puteri tunggal ketua Beng-kauw tentu saja mempunyai kepandaian tinggi. Selain berilmu tinggi, juga pandangannya luas dan ia selalu hati-hati dan waspada."

Suling Emas memuji-muji sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Seketika bibir Lin Lin cemberut.

"Sekali waktu aku ingin menandinginya, coba-coba siapa yang lebih lihai antara dia dan aku"

Suling Emas yang tadinya duduk seperti melamun menjadi kaget, dan cepat menoleh memandang wajah gadis itu yang masih cemberut. Mulut dan mata gadis itu jelas membayangkan apa yang sedang bergejolak di dalam dada Lin Lin. Suling Emas tidak jadi menjawab, hatinya berdebar dan ia menarik napas panjang. Melihat wajah yang begitu mirip dengan wajah kekasihnya, Suma Ceng, hampir saja pertahanan hatinya bobol. Bagaimana ia tidak dapat mencintai gadis yang wajahnya begini mirip Suma Ceng, yang wataknya begini aneh dan lincah jenaka, yang sudah pasti sekali akan mendatangkan cahaya bahagia di ruang dadanya yang gelap muram?

Bagaimana takkan terobati luka-luka di hatinya, luka yang diakibatkan kegagalan cinta kasih, apabila ia menerime uluran hati gadis ini? Namun tidak. Tak mungkin ia menerima cinta kasih Lin Lin. Ia tahu betul bahwa gadis ini mencintanya, semenjak.. semenjak peristiwa di dalam gelap di malam hari dalam kamar perpustakaan istana dulu. Semenjak ia memeluk dan mencium gadis itu tanpa disengaja karena mengira Lin Lin adalah Suma Ceng kekasihnya. Akan tetapi betapa mungkin ia menerima uluran cinta kasih itu betapapun inginnya? Gadis ini adalah adik angkatnya. Hal pertama ini sungguhpun bukan merupakan penghalang besar, namun sudah merupakan penghalang. Ke dua, gadis ini masih amat muda kalau dibandingkan dengan dia. Usia Lin Lin baru delapan belas tahun, sedangkan dia sudah berusia tiga puluh tahun. Tidak, ia harus tahu diri.

"He, mengapa kau diam saja? Bagaimana pendapatmu?"

Tiba-tiba Lin Lin menepuk lengan Suling Emas yang menjadi kaget dan sadar daripada lamunannya.

"Apa? Pendapat apa?"

Tanyanya, tersenyum.

"Aku bilang tadi, ingin kumenandingi Liu Hwee untuk menguji kepandaiannya"

"Hemmm, ada-ada saja kau ini. Tidak ada alasan sedikit pun juga bagimu untuk mencari perkara dengan puteri Beng-kauwcu (ketua Beng-kauw)."

"Siapa bilang tidak ada?"

Sepasang mata yang jeli dan indah itu bersinar-sinar.

"Banyak sekali alasannya"

"Hemmm, apakah kesalahannya? Apa alasannya?"

Suling Emas membantah, mengerutkan kening.

"Banyak, terutama sekali karena aku tidak mau kalah olehnya"

Suling Emas melongo. Dia seorang jagoan yang sudah banyak makan asam garam dunia kang-ouw, sudah banyak mengenal watak-watak orang aneh seperti iblis-iblis Thian-te Liok-koai. Akan tetapi sesungguhnya belum banyak pengalamannya dengan wanita, karena semenjak hatinya terluka oleh Suma Ceng yang dipaksa bercerai daripadanya dan menikah dengan orang lain, seakan-akan merupakan pantangan bagi Suling Emas untuk mendekati wanita. Karena itu, ia sama sekali tidak mengenal watak-watak wanita dan tidak dapat menyelami lubuk hati Lin Lin. Akan tetapi melihat pandang mata yang begitu menantang dari gadis ini, pandang mata yang mengandung sinar kemesraan seperti kalau sepasang mata Suma Ceng memandangnya, Suling Emas segera menundukkan muka.

"Sudahlah,"

Katanya kemudian setelah menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berdebar tidak karuan.

"Mari kita bicarakan urusan lain yang lebih penting. Lin-moi, kurasa di sini kita harus berpisah. Kulihat kau tidak rela menjadi murid Pat-jiu Sin-ong, hal ini pun tak dapat kupaksa. Akan tetapi pesanku, kau tidak boleh mempergunakan jurus-jurus ilmu yang kau dapatkan dari dalam tongkat Beng-kauw, karena kalau hal itu diketahui tokoh-tokoh Beng-kauw, kau pasti akan dimusuhi, dianggap sebagai pencuri ilmu peninggalan pendiri Beng-kauw."

Akan tetapi Lin Lin sama sekali tidak memperhatikan atau pedulikan kalimat terakhir. Matanya terbelalak dan wajahnya berubah, karena kata-kata "berpisah"

Itulah yang menggores hatinya.

"Berpisah?"

Ia tergagap.

"Kenapa..?"

Suling Emas tersenyum duka. Kembali sikap gadis yang sewajarnya ini jelas menunjukkan bahwa Lin Lin tidak ingin berpisah dari padanya. Sama dengan Suma Ceng. Hanya bedanya, kalau Suma Ceng bersikap lemah dan menerima keadaan, sebaliknya gadis ini bersikap keras, agaknya takkan mau berpisah kalau tidak ia sendiri yang menghendaki.

"Tentu saja kita harus berpisah, karena jalan kita memang tidak sama. Kau kembalilah ke Cin-ling-san menyusul kakakmu Bu Sin. Biarkan aku sendiri mencari Sian Eng. Setelah dapat bertemu, tentu dia pun akan kusuruh menyusul ke Cin-ling-san."

"Aku ikut, Aku juga hendak mencari Enci Sian Eng sampai dapat. Kita mencari bersama, bukankah lebih baik? Aku tidak akan menyusahkanmu, biar.. biarlah aku mencari makan minumku sendiri"

Mau tak mau Suling Emas tertawa. Benar-benar gadis ini kadang-kadang mempunyai pendapat dan jalan pikiran seperti kanak-kanak.

"Bukan begitu, Lin Lin. Banyak sekali urusan besar harus kuhadapi. Bahkan pertandingan puncak antara Thian-te Liok-koai di Thai-san sudah dekat waktunya, aku pun harus hadir di sana. Selain itu, kau melihat sendiri bahwa banyak orang kang-ouw memusuhi aku. Setiap langkahku terancam bahaya.."

"Aku tidak takut. Kalau mereka mengganggumu, aku akan hajar mereka. Apa kau kira aku ini seorang manusia yang tiada gunanya? Aku akan membantumu, juga di Thai-san"

"Wah, kau mau menandingi iblis-iblis seperti Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong?"

"Aku tidak takut terhadap mereka. Aku akan memperdalam ilmu yang baru kudapatkan."

Post a Comment