Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 132

Memuat...

Dengan halus Sian Eng melepaskan pundaknya dari rangkulan. Biarpun di hutan itu sunyi tidak ada orang lain, namun ia tidak mau pemuda yang dicintanya itu bersikap terlalu mesra kepada dirinya. Mereka belum berjodoh, belum pula bertunangan"

Akan tetapi ia mengajak pemuda itu duduk mengaso dan berceritalah ia tentang usaha mereka mencari Lin Lin sehingga mereka berdua terpisah dari Suling Emas dan kena tangkap Hek-giam-lo.

"Kau agaknya sudah tahu bahwa kakakku yang hilang, Kam Bu Song, adalah Suling Emas. Kenapa dahulu-dahulu tidak lekas beri tahu padaku?"

Tegur Sian Eng. Suma Boan tersenyum dan memegang tangan gadis itu.

"Aku belum yakin, hanya baru menduga. Kakakmu itu saling mencinta dengan adikku, akan tetapi perjodohan mereka gagal karena ayah tidak setuju. Tidak apa, sekarang ada gantinya engkau. Ayah pasti setuju mempunyai mantu seperti kau."

Sambil berkata demikian Suma Boan mencoba untuk merangkul lagi.

"Ihhh, jangan begitu.."

Sian Eng melepaskan diri.

"Soal perjodohan, bagaimana aku dapat memberi keputusan? Ada kakak-kakakku, dan terutama sekali ada bibi guruku di Cin-ling-san."

"Aku akan pergi ke sana, akan kulamar kau dari tangan bibimu. Eng-moi, sekarang aku ada urusan penting sekali. Maukah kau membantuku?"

"Lihat-lihat urusannya"

"Begini, adikku yang manis. Kita melihat sendiri betapa Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang semenjak belasan tahun lenyap tak tentu rimbanya, kiranya muncul pada ulang tahun Beng-kauw dan tewas pula di situ. Akan tetapi ia telah memperlihatkan ilmu yang amat luar biasa. Agaknya ia mempunyai tempat persembunyian di Nan-cao. Ketahuilah, sewaktu hidupnya, di waktu muda dahulu, Tok-siauw-kui telah mencuri banyak sekali kitab-kitab rahasia ilmu kesaktian yang jarang bandingnya di dunia ini. Sekarang ia telah mati, akan tetapi aku percaya bahwa kitab-kitab itu masih ada, ia sembunyikan di tempat di mana ia tadinya sembunyi sebelum ia muncul dan tewas di tangan ayahnya sendiri. Hiiihhh, mengerikan sekali. Pat-jiu Sin-ong dan Tok-siauw-kui, ayah dan anak itu benar-benar bukan manusia, melainkan iblis-iblis yang luar biasa."

Sian Eng mengerutkan keningnya, lalu menggunakan tangan kanannya menutup bibir pemuda itu.

"Hushhh, jangan kau bicara begitu, Suma-koko. Betapapun juga, dia adalah kakek dan ibu kandung dari kakakku Kam Bu Song."

Suma Boan mencekal tangan itu dan menciumi jari-jari yang mungil sampai Sian Eng menariknya kembali.

"Gila"

Cela gadis itu dengan muka menjadi merah.

"Kau ceritakan semua itu kepadaku, dengan maksud apakah?"

"Begini, kekasihku. Aku ingin sekali mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui itu dan kuharap kau suka membantuku.."

"Ihhh"

Sian Eng mengkirik karena merasa seram.

"Kau sudah begini lihai, kau menjadi murid It-gan Kai-ong yang sakti, masa masih mau mencari kitab pusaka lagi, untuk apa?"

"Ah, siapa bilang aku lihai? Hanya kau yang mencintaku, Eng-moi. Akan tetapi, apakah kau tidak suka melihat aku menjadi lebih lihai lagi? Begitu lihai, sehingga kalau kelak kau menjadi isteriku, aku mampu melindungimu daripada segala macam bahaya, dan kelak kalau kita mempunyai anak, aku mampu menurunkan kepandaian kepada anak kita sehingga dia menjadi seorang pendekar nomor satu di dunia?"

Sian Eng adalah seorang gadis gunung yang sederhana pikirannya. Ucapan manis dan muluk-muluk ini sudah membuat semangatnya terbang melayang dengan nikmat sekali. Akan tetapi ia memandang Suma Boan dengan bingung.

"Bagaimana kau bisa menemukan tempatnya? Andaikata bisa.. hiiihh, mengerikan sekali"

Gadis ini teringat akan cerita kakaknya, Bu Sin dan ia merasa takut.

"Apa yang mengerikan? Kau akan kuajak ke Nan-cao dan di sana, mengingat bahwa kau adalah adik tiri Suling Emas, tentu kau akan leluasa bergerak di antara orang-orang Beng-kauw. Nah, kau menjadi semacam penyelidik dan aku akan bersembunyi di luar kota raja. Setelah kau mendapat keterangan, kausampaikan kepadaku dan kita mencari kitab-kitab itu bersama. Bukankah ini bagus? He, kau mau bilang apa?"

"Aku.. aku sudah tahu tempat sembunyi Tok-siauw-kui.."

"Apa..?"

Saking kaget, bernafsu dan girang, Suma Boan menarik tangan Sian Eng sehingga gadis ini tersentak berdiri dan merasa lengannya sakit.

"Auuuhhhhh.."

Keluhnya. Suma Boan sadar dan cepat ia merangkul, mencium, Siang Eng meronta, melepaskan diri dan bersungut-sungut.

"Jangan sekali-kali kau berani lagi berbuat seperti ini sebelum kita menjadi suami isteri. Kalau kau berani ulangi, aku akan membencimu"

Matanya berapi-api dan sikapnya menantang. Suma Boan adalah searang pemuda yang bangor, yang sudah banyak pengalamannya, maka tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kaki gadis itu.

"Maaf Eng-moi, maafkan aku yang tak kuasa mengendalikan diri saking besarnya cintaku. Mari kita duduk dan ceritakanlah tentang tempat sembunyi Tok-siauw-kui.."

Melihat pemuda bangsawan yang dikasihinya itu berlutut memeluk kakinya dan memohon dengan suara yang minta dikasihani, luluhlah hati gadis Sian Eng yang masih hijau. Cinta itu buta kata orang. Bukan cinta yang buta, melainkan orang yang sedang dimabuk cinta seperti buta. Buta dalam arti kata lengah kehilangan kewaspadaan, pertimbangannya menjadi miring, karena orang yang jatuh cinta selalu melihat kebaikan memancar keluar dari orang yang dicinta, tiada tampak cacad celanya sehingga ada perumpamaan kasar yang berbunyi bahwa tahi pun, kalau tahi kekasih, harum baunya. Demikian pula Sian Eng yang sudah tercengkeram asmara, segala gerak-gerik pemuda bangsawan ini seialu menarik, selalu menimbulkan kasihan. Melihat Suma Boan berlutut di depannya, ia lalu menyentuh pundak pemuda itu dan berkata halus.

"Sudahlah, Koko. Aku tidak marah lagi, asal kau jangan sekasar tadi."

Girang hati Suma Boan. Gadis ini merupakan korban yang mudah dan lunak baginya. Ia lalu menarik tangan Sian Eng dan diajak duduk di bawah pohon besar, diminta menceritakan tentang tempat sembunyi Tok-siauw-kui.

"Aku sendiri belum melihat tempat itu, hanya mendengar dari kakakku Bu Sin."

Ia lalu menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Bu Sin ketika bersama Liu Hwee melarikan diri dari tahanan It-gan Kai-ong melalui lorong rahasia dan bertemu dengan Tok-siauw-kui.

"Bagus"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment