tahun yang lalu.
Singkatnya, ayahnya telah bersekutu dengan golongan pemberontak dengan janji bahwa kalau kelak gerakan itu berhasil, pemerintah Kerajaan Beng dapat digulingkan dan Kerajaan Goan bangun kembali, ayahnya akan diberi pangkat raja muda yang berkuasa di daerah timur.
Dan ayahnya akan pergi bersama Maniyoko ke kota raja menghadap Yang Mulia dan menerima tugas.
Menurut keterangan Coa Kun yang didesak ayahnya, mungkin sekali ayahnya mendapat tugas untuk bekerja sama dengan mereka, merampas kedudukan bengcu atau pimpinan kangouw yang akan diadakan di puncak Thai-san tahun depan, sebulan sesudah tahun baru, dan membantu orang yang ditunjuk oleh Yang Mulia agar menjadi bengcu.
Pendeknya, ayahnya harus membantu anak buah Yang Mulia untuk mencegah agar kedudukan bengcu jangan terjatuh ke tangan orang yang setia kepada Kerajaan Beng.
Kalau kedudukan itu terjatuh ke tangan orang-orang Mongol, tentu mereka akan dapat mengerahkan seluruh dunia kang-ouw untuk membantu gerakan orang Mongol menggulingkan Kerajaan Beng dan mendirikan kembali Kerajaan Goan!
Percakapan dilanjutkan ketika hidangan dikeluarkan.
Sambil makan minum mereka bercakap-cakap, dan Ouwyang Kim hanya mendengarkan saja dengan sikap acuh, pada hal diam-diam ia memperhatikan dan mencatat semua pembicaraan.
Setelah selesai makan minum sampai kenyang, Coa Kun dan tiga orang temannya pamit dan mereka meninggalkan rumah keluarga Ouwyang membawa hadiah yang diberikan secara royal oleh Ouwyang Cin untuk menghormati utusan Yang Mulia dari kota raja itu.
Baru setelah para tamu pergi, Ouwyang Kim menceritakan semuanya kepada ibunya.
Wanita itu merasa khawatir sekali dan bersama puterinya, ia lalu menasehati suaminya agar tidak melibatkan diri dalam pemberontakan.
"Langkahmu sudah terlalu jauh," demikian antara lain isteri yang gelisah itu memberi nasihat, "mengapa tidak dipikir secara mendalam?
Menempatkan diri sebagai sekutu pemberontak sungguh amat berbahaya, menyeret seluruh keluargamu dalam bahaya.
Di dunia kang-ouw engkau boleh saja mengandalkan kepandaian untuk menjagoi akan tetapi apa dayamu menghadapi balatentara kerajaan?
Sebagai pemberontak, engkau akan berhadapan langsung dengan pemerintah dan kalau tertangkap, hukumannya hanya satu yaitu mati berikut seluruh keluarga." Ouwyang Kim juga membujuk ayahnya.
"Mengapa ayah percaya kepada seorang semacam Coa Kun itu?
Ayah melihat sendiri, omongannya saja besar, julukannya besar akan tetapi buktinya, dia tidak ada gunanya.
Kalau utusannya seperti itu, tentu yang mengutusnya juga tidak banyak artinya." "Ha..ha..ha, kalian tidak mengerti.
Gerakan ini bukan sekedar pemberontak biasa.
Yang memimpin gerakan ini adalah Para pangeran Kerajaan Goan yang berhasil mengungsi ke utara.
Kini mereka datang ke selatan dan menyusun kekuatan untuk membangun kembali Kerajaan Goan.
Tentang siapa yang berkuasa, apa perduliku?
Akan tetapi, mereka mengirim hadiah yang amat berharga, dan selain itu, mereka menjanjikan bahwa kelak kalau gerakan berhasil, aku akan diberi kedudukan raja muda yang berkuasa di daerah timur.
Kalian dengar?
Raja muda!
Kalian akan menjadi isteri dan puteri raja muda!
A Kim, engkau akan menjadi seorang puteri sejati, bangsawan tinggi.
Dan tentang Yang Mulia itu, aku sendiri tentu tidak akan sudi menghambakan diri kepada orang yang tidak mampu.
Aku akan melihat orang macam apa adanya dia." Percuma saja ibu dan anak itu membujuk.
Nafsu daya rendah memang teramat kuat dan setiap orang manusia selalu gagal menundukkannya.
Kebutuhan kita hidup dalam dunia amatlah terbatas.
Untuk mempertahankan kehidupan ini, cukuplah dengan sandang pangan dan papan sekadarnya.
Akan tetapi keinginan atau pengaruh nafsu tidak mengenal batas, tidak pernah merasa cukup atau puas.
Nafsu adalah angkara murka, pementingan diri sendiri yang tanpa batas.
Segala daya upaya dalam kehidupan diarahkan demi menyenangkan si aku, atau nafsu.
Namun, nafsu tak pernah puas, kesenangan yang diperoleh segera terganti kebosanan dan dengan liar mencari kesenangan lain yang belum diperolehnya.
Hati akal pikiran sudah pula digelimangi nafsu sehingga hati dan pikiran selalu membela kepentingan nafsu dengan mengajukan berbagai dalih dan alasan untuk membenarkan tindakan yang didorong nafsu.
Pengaruh nafsu selalu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, dan tujuan itu tiada lain pasti sesuatu yang dianggap menyenangkan si aku.
Nafsu bagaikan api berkobar, makin diberi umpan semakin besar nyalanya dan semakin tamak ingin melahap segala yang ada.
Nafsu yang timbul dari daya rendah disertakan manusia sejak lahir bukan merupakan kutukan.
Sebaliknya malah, nafsu merupakan anugerah dari Tuhan Maha Pengasih yang amat mengasihi manusia sebagai ciptaanNya.
Nafsu mutlak perlu bagi kita dalam kehidupan di dunia ini.
Tanpa adanya nafsu kita tidak akan hidup seperti sekarang ini, bahkan mungkin saja manusia tidak akan dapat berkembang biak seperti sekarang.
Nafsu yang bekerja sama dengan hati akal pikiran membuat manusia dapat membuat segala benda yang dibutuhkan dalam hidup ini, dapat membuat kehidupan menjadi menyenangkan.
Nafsu yang berada di panca indra yang membuat kita dapat merasakan segala kenikmatan hidup.
Yang dinamakan kemajuan di bidang apa saja adalah hasil dorongan nafsu pada hati akal pikiran manusia.
Mata kita dapat menikmati penglihatan indah, hidung kita dapat menikmati penciuman harum, telinga kita dapat menikmati pendengaran merdu, dan selanjutnya.
Tanpa adanya nafsu yang menimbulkan gairah, sukar membayangkan bagaimana kehidupan ini.
Kosong, hampa dan tidak menarik.
Kasih sayang Tuhan terbukti dengan diikutsertakan nafsu kepada kita.
Seperti api, kalau kecil dan terkendali, nafsu amatlah bermanfaat bagi kehidupan.
Sebaliknya, kalau membesar dan tidak terkendali, segalanya akan terbakar habis!
Jadi masalahnya, nafsu harus terkendali lalu bagaimana kita dapat mengendalikannya?
Pertanyaan ini selalu diajukan manusia sejak sejarah tercatat, dan sampai kinipun manusia masih selalu berusaha dengan segala macam cara untuk menguasai atau mengendalikan, nafsunya sendiri.
Melalui tuntunan agama, melalui keprihatinan, pertapaan, penyiksaan diri dan segala macam cara lagi ditempuh manusia demi untuk dapat menguasai dan mengendalikan nafsu.
Namun betapa pahitnya kenyataan itu, ialah bahwa jarang sekali ada manusia yang berhasil dalam usahanya itu.
Ada yang sudah bertapa di tempat sunyi sampai bertahun-tahun, tetap saja tidak mampu mengendalikan nafsunya.
Ketika berada di puncak gunung yang sunyi, nampaknya seolah dia berhasil menidurkan nafsunya.
Akan tetapi begitu ia turun gunung, nafsunya bergejolak, bahkan menjadi semakin liar, lebih kuat dari pada sebelum dia bertapa.
Mengapa demikian?
Semua usaha hati akal pikiran untuk mengendalikan nafsu, sebagian besar gagal karena hati akal pikiran juga sudah digelimangi nafsu.
Jadi, menggunakan hati akal pikiran untuk menguasai nafsu!
Tidak aneh kalau gagal!
Pengetahuan dan pengertian hati akal pikiran saja tidak mungkin dapat mengalahkan nafsu.
Semua orang yang melakukan perbuatan tidak baik tentu tahu dan mengerti bahwa perbuatannya itu tidak baik, namun tetap saja mereka melakukannya dan mengulanginya.
Kadang sesal datang setelah berbuat, namun begitu nafsu datang mendorong, tidak ada kekuatan dalam diri untuk menahannya, bahkan akal pikiran dan hatipun tidak berdaya, bahkan menjadi pembela dari perbuatan yang terdorong nafsu.
Kita dihadapkan pada jalan buntu.
Kita tidak dapat hidup tanpa nafsu, akan tetapi kitapun terseret ke dalam dosa oleh nafsu, dan kita tidak berdaya untuk mengendalikan lalu bagaimana?
Hanya ada satu pemecahannya, yaitu mengembalikannya kepada Sang Maha Pencipta.
Tuhan yang menciptakan nafsu, maka hanya Tuhan yang akan dapat mengembalikan nafsu kepada kedudukan dan tugasnya yang semula, yaitu menjadi peserta dan pelayan bagi manusia hidup di dunia, bukan sebagai majikan.
Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mampu mengembalikan api nafsu itu menjadi api kecil yang terkendali sehingga amat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, hanya dengan penyerahan yang tulus ikhlas, penuh kesabaran dan ketawakalan, kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka segalanya akan kembali teratur, sesuai dengan kehendak Tuhan, terjadi karena, kuasa Tuhan.
Tidak ada cara atau jalan lain!
Hati akal pikiran yang merupakan alat seperti juga anggauta tubuh lainnya, kita pergunakan untuk keperluan lahiriah, bekerja dan sebagainya.
Adapun urusan rohaniah kita menyerah kepada kekuasaan Tuhan.
Sia-sia saja Ouwyang Kim dan ibunya membujuk dan manasihati Ouwyang Cin yang telah menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga akhirnya ibu dan anak itu mengundurkan diri.
Bahkan ketika Ouwyang Cin dan Maniyoko berangkat menuju ke kota raja, Ouwyang Kim tidak diperkenankan ikut.
"Engkau di rumah saja, A Kim.
Engkau mewakili ayah menerima kunjungan para sahabat dan menerima sumbangan mereka dan mencatatnya, dan temani ibumu.
Pekerjaan mewakili ayah inipun penting dan jangan diabaikan." Demikian pesannya kepada Ouwyang Kim.
Gadis itu tidak dapat membantah walaupun ia sebetulnya ingin sekali pergi untuk melindungi ayahnya karena ia seperti juga ibunya, khawatir kalau-kalau langkah yang diambil Ouwyang Cin itu akan menjerumuskan kepada bencana bagi diri sendiri.
SETELAH Ouwyang Cin pergi, isterinya yang lembut hati itu menangis.
Sudah terlalu banyak air mata ditumpahkan wanita ini sejak ia menjadi isteri datuk itu.
Ia sendiri adalah puteri seorang pendekar samurai yang baik hati, yang menentang kejahatan dan kini ia menjadi isteri seorang datuk sesat!
Maka, pukulan paling hebat kini dirasakan ketika suaminya menjadi sekutu komplotan pemberontak.
Melihat ibunya menangis, A Kim merangkulnya.
"Ibu, harap ibu jangan khawatir.
Aku akan pergi ke kota raja dan aku akan menentang semua usaha pemberontakan itu.
Dengan demikian, maka aku akan dapat menebus dosa dan noda yang dilakukan ayah.
Syukur kalau aku dapat menyadarkan ayah