Yang Mulia itu?
Apakah Kaisar atau Raja?" Bu-tek Kiam-mo Coa Kun mengerutkan alisnya, khawatir melihat gadis cantik yang bebas itu.
Sungguh berbahaya membuka sebuah rahasia kepada seorang gadis seperti ini, pikirnya.
Akan tetapi agaknya Ouwyang Cin mengerti akan kekhawatiran tamunya, maka dia tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha, saudara Coa Kun, harap jangan khawatir.
Anakku Ouwyang Kim ini selain dapat dipercaya, juga ia bukan seorang gadis lemah.
Dan aku tidak biasa menyimpan rahasia terhadap puteriku sendiri.
A Kim, yang disebut Yang Mulia itu adalah wakil Kaisar Kerajaan Goan.......".
"Bukankah Kerajaan Goan itu Kerajaan Mongol ayah?
Dan bukankah sekarang sudah tidak ada lagi Kerajaan Mongol itu?" "Ha..ha..ha, kaulihat saudara Coa Kun, betapa cerdiknya puteriku ini.
Jangan pandang ringan anakku ini!
Benar, A Kim, akan tetapi kau keliru kalau mengira bahwa Kerajaan Goan sudah tidak ada.
Kerajaan itu masih ada, hanya untuk sementara ini menyingkir karena dikalahkan pemberontak duapuluh tahun yang lalu.
Sekarang sedang menyusun kekuatan dan menawarkan kerja sama dengan ayahmu." "Aih, ayah main-main saja.
Aku tidak percaya!" kata Ouwyang Kim cemberut.
"Ha..ha, kaubaca sendiri suratnya!" Ayahnya melemparkan surat itu dan Ouwyang Kim menyambutnya, lalu membacanya, cepat sekali, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.
Ia sudah hafal akan isinya dan bahkan ia mengingat-ingat dan mencatat bentuk tulisan yang indah itu.
"Sekarang aku baru percaya, ayah." "Dan bagaimana pendapatmu?" tanya ayahnya.
Coa Kun menatap tajam wajah gadis itu karena dia ingin sekali mendengar pendapatnya.
Bagaimanapun juga dia lebih percaya kepada Maniyoko dari pada gadis ini.
Ouwyang Kim memandang kepada Coa Kun dan tiga orang temannya, lalu menoleh kepada ayahnya dan tersenyum.
"Aku tidak mempunyai pendapat, ayah.
Urusan itu sama sekali tidak menarik hatiku, yang lebih menarik adalah tamu kita ini." Ia memandang kepada Coa Kun sambil tersenyum.
"Ehh?
Apa maksudmu, A Kim?
Apanya yang menarik pada diri saudara Coa Kun ini?" Ayahnya bertanya heran, mengira bahwa puterinya tertarik kepada tamu pria yang usianya sudah limapuluhan tahun lebih itu.
"Yang menarik hatiku adalah pedang di punggungnya dan nama julukannya, ayah.
Paman Coa Kun engkau dijuluki orang Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding)!
Tanpa Tanding atau tak terkalahkan, bukan main!
Aku jadi ingin sekali minta pelajaran dalam ilmu pedang darimu, paman, karena aku yakin bahwa dari seorang jago pedang yang tak pernah terkalahkan, aku akan mendapatkan banyak petunjuk " "Sumoi.........," Maniyoko terkejut mendengar ini.
"Aih, nona harap jangan main-main dengan pedang......" Bu-tek Kiam-mo berkata sambil tersenyum lebar, ada rasa bangga mendapat pujian seorang gadis cantik, akan tetapi juga perasaan tidak enak karena yang menantangnya mengadu ilmu pedang adalah puteri tuan rumah.
Akan tetapi, Tung-hai-liong Ouwyang Cin tertawa bergelak, hatinya senang sekali.
"Apa yang dikatakan puteriku memang benar.
Kami sudah lama mendengar nama besar Cap-sha Bu-tek-kwi, dan kebetulan yang datang berkunjung adalah seorang di antara mereka yang ahli pedang.
Puteriku memang suka sekali mempelajari ilmu pedang, oleh karena itu, harap saudara Coa Kun tidak terlalu pelit untuk memburu sekedar petunjuk untuk puteriku, agar menambah pengetahuannya yang dangkal dan pengalamannya yang sempit." Ucapan merendah ini bukan timbul karena kerendahan hati, melainkan karena diam-diam kakek datuk inipun memandang rendah tamunya dan dia yakin puterinya akan mampu menandingi Bu-tek Kiam-mo karena dia tahu akan kelihaian puterinya.
Mendengar ucapan itu, Bu-tek Kiam-mo merasa seolah-olah kepalanya menjadi membengkak besar dan hatinya yang memang sombong itu menjadi senang bukan main.
Inilah kesempatan untuk pamer, memamerkan kepandaiannya tanpa memberi kesan pamer kepada pihak tuan rumah.
"Tapi pedang adalah benda mati, aku khawatir kalau kesalahan tangan dan melukai nona." Kembali dalam ucapan ini terkandung kesombongan, seolah-olah dia sudah yakin akan mengalahkan nona itu dan takut kalau sampai melukainya.
"Ha..ha, dalam pertandingan pedang, biasalah kalau ada yang terluka.
Akan tetapi kami yakin bahwa saudara Coa Kun akan bermurah hati dan tidak sampai melukai A Kim terlampau parah," kata pula Ouwyang Cin.
Mendengar semua ucapan itu, senanglah hati Ouwyang Kim.
la memang sengaja mencari akal menantang tamu ayahnya itu untuk membikin malu kepadanya dan untuk melampiaskan hatinya yang mendongkol melihat ayahnya terbujuk dalam persekutuan pemberontak dengan orang-orang Mongol.
Melihat ayahnya sudah menyetujui, gadis itu sudah mencabut pedangnya dan ia pergi ke tengah ruangan yang luas itu.
"Kurasa ruangan ini cukup luas untuk bermain pedang.
Suheng, tolong angkut kursi dan meja itu ke tepi agar tempatnya lebih luas." Ouwyang Cin memberi isyarat agar Maniyoko melaksanakan permintaan sumoinya itu dan dia sendiri memandang kepada Coa Kun dan tiga orang temannya dengan tertawa.
"Marilah, saudara Coa Kun harap jangan sungkan.
Sambil menanti selesainya hidangan, mari engkau memberi petunjuk kepada A Kim" Melihat tempat itu sudah diperluas dengan disingkirkannya meja kursi ke tepi, dan melihat gadis itu sudah siap dengan pedang di tangan, Coa Kun tersenyum dan mengangguk ke arah tuan rumah.
"Kalau memang dikehendaki, baiklah.
Mari kita main-main sebentar, nona." Berkata demikian, tangan kanannya bergerak ke atas kepala dan tiba-tiba saja dia sudah mencabut pedangnya.
Gerakannya memang cepat dan pedang itu mengeluarkan sinar ketika dia menggerakkannya dan dia sudah meloncat ke depan Ouwyang Kim, memasang kuda-kuda yang gagah sekali.
Melihat lawan sudah siap, Ouwyang Kim lalu berseru, "Bu-tek Kiam-mo, bersiaplah dan lihat seranganku!" Iapun menggerakkan pedangnya, mulai menyerang dan begitu menyerang, ia menggunakan jurus dari Jit-ong-kiamsut yang amat hebat.
Bukan main kagetnya hati Coa Kun melihat sinar terang dari pedang gadis itu menyambar ke arah dadanya.
Pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga merupakan gulungan sinar terang yang meluncur ke dadanya.
Sebagai seorang ahli pedang, dia mengenal jurus pedang yang amat berbahaya, maka diapun cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya membentuk perisai untuk melindungi dirinya.
"Trang..trang..trang.........!!" berulang kali kedua pedang itu bertemu di udara dan nampak bunga api berpijar menyilaukan mata.
Kembali Coa Kun terkejut setengah mati karena setiap kali pedangnya bertemu pedang lawan, lengannya terasa hampir lumpuh karena terserang getaran yang amat kuat.
Dan Ouwyang Kim tidak menghentikan serangannya, melainkan menyerang dan mendesak terus dengan ilmu pedang Raja Matahari yang gerakannya asing dan aneh bagi Coa Kun.
Hal ini tidak mengherankan karena memang ilmu pedang itu dirangkai oleh Tung-hai-liong dari berbagai ilmu pedang bercampur dengan ilmu samurai Jepang!
Coa Kun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melindungi dirinya.
Gadis itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya terus menyerangnya secara bertubi-tubi dan karena memang setiap serangan itu amat berbahaya, Coa Kun hanya mampu mengelak dan menangkis, tanpa mampu membalas sejuruspun!
Begitu bergebrak, dia terus diserang dan makin lama serangan gadis itu semakin berat dan berbahaya.
Dia tahu bahwa kalau gadis itu menghendaki, sebelum tigapuluh jurus saja tentu dia dapat dirobohkan dengan dada tertembus pedang atau leher putus!
Si Setan Pedang Tanpa Tanding itu sudah mandi keringat dan wajahnya pucat.
Betapa akan malunya kalau sampai dia terluka.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis puteri datuk itu sedemikian lihainya walaupun dia tahu bahwa ayah gadis ini memang seorang datuk yang sakti.
Jangankan baru dia seorang, biar dia dibantu tiga orang temannya itupun belum tentu dia akan mampu mengalahkan Ouwyang Kim.
Lebih baik malu sedikit dari pada malu banyak.
"Cukup, nona, saya mengaku kalah!" serunya dan diapun melompat jauh ke belakang.
Biarpun dia malu, akan tetapi setidaknya dia selamat dari menderita luka.
Wajahnya pucat dan dia masih mandi keringat.
Ouwyang Kim tersenyum.
Gadis ini nampak biasa saja, tidak berkeringat, dan tidak nampak lelah.
Sudah tercapai apa yang ia kehendaki, yaitu membikin malu tamu ini untuk memperlihatkan ketidak senangan hatinya bahwa ayahnya dilibatkan dalam persekutuan pemberontak.
la menyimpan pedangnya dan mengangguk kepada Coa Kun.
"Terima kasih atas petunjuk Bu-tek Kiam-mo!" Tentu saja ucapan itu dimaksudkan untuk mengejek.
Dengan mengesampingkan rasa malunya, Coa Kun memperlihatkan giginya yang kuning.
"Heh..heh di depan locianpwe Tung-hai-liong dan puterinya, saya tidak berani menggunakan julukan itu.
Kiamsut dari siocia amat tangguh dan hebat, belum pernah saya menemui ilmu pedang sehebat itu!" Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada tuan rumah dan puterinya, lalu berkata lagi, "Sungguh pilihan Yang Mulia amat tepat.
Dengan bantuan locianpwe dan nona, tentu kedudukan kita akan menjadi jauh lebih kuat." "Ahh, saudara Coa Kun.
Yang Mulia hanya mengajak aku, dan aku hanya akan berkunjung bersama muridku, Maniyoko ini.
Anakku akan tinggal di rumah menemani ibunya dan menggantikan aku menerima kunjungan para sahabat kami," kata Ouwyang Cin yang tidak ingin puterinya ikut pula dalam pekerjaan besar itu.
Pula, di rumah perlu ada wakilnya untuk menerima sumbangan sebagai semacam upeti dari para pimpinan gerombolan sesat di perairan ataupun di pantai.
Maniyoko mengatur kembali meja kursi dan kini mereka duduk lagi bercakap-cakap dan sekali ini ditemani oleh Ouwyang Kim.
Gadis pendiam ini tidak ikut bicara, melainkan sebagai pendengar yang mencatat semua percakapan itu di hatinya.
Tahulah ia bahwa ayahnya memang telah menerima uluran tangan dari Yang Mulia, yaitu tokoh yang mewakili Kerajaan Goan atau kerajaan orang-orang Mongol yang mengadakan gerakan rahasia di kota raja dan yang berniat untuk membangun kembali kerajaan Goan yang sudah jatuh duapuluh