diracuni dendam yang dikandung sucimu.
Bhok Cun Ki sama sekali bukan orang jahat dan hal itu sudah terbukti jelas ketika dia bertanding denganmu.
Kalau dia jahat, tentu engkau akan dianggap musuhnya yang berbahaya karena engkau hendak membunuhnya.
Akan tetapi, seperti yang telah kulihat, dalam pertandingan itu dia selalu mengalah, bahkan ketika engkau terluka oleh senjata rahasia gelap itu, dia membawamu pulang dan berusaha mengobatinya.
Kalau dia jahat, tentu dia mendapatkan kesempatan baik untuk membunuhmu, bukan malah menolongmu.
Bukti itu saja sudah menyatakan bahwa Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar." Lili tersenyum mengejek, hatinya merasa tidak senang melihat sikap dan mendengar ucapan Sin Wan yang memuji-muji musuh besarnya.
"Boleh jadi Bhok Cun Ki seorang pendekar, akan tetapi dalam pandanganku, dia adalah seorang yang telah melakukan perbuatan jahat sekali terhadap suci.
Sudah sepatutnya kalau suci menaruh dendam, dan karena suci sudah mewakilkan kepadaku, maka aku harus berusaha membunuhnya!" "Tapi dia bukan lawanmu, Lili.
Dia masih terlalu lihai bagimu dan engkau akan kalah." "Aku tidak takut!
Aku akan mengadu nyawa dengannya.
Dia atau aku yang harus mati dalam pertandingan kami nanti!" kata Lili dengan suara yang tegas dan nekat.
Sin Wan mengerutkan alisnya.
Sedikit banyak dia sudah mengenal watak gadis yang liar dan ganas ini.
Lili bukan sekedar menggertak, akan tetapi semua ucapannya itu akan dilakukannya.
Diam diam dia merasa khawatir sekali.
Dia tidak menghendaki Bhok Cun Ki terbunuh oleh gadis liar ini, akan tetapi dia juga tidak ingin melihat Lili tewas.
"Lili kenapa engkau begini keras kepala dan bodoh?
Tanpa memperdalam silatmu, bagaimana engkau akan mampu menandinginya?
Engkau sudah kalah dan kalau hanya nekat maju lagi dan kalah lagi, bukankah hal itu amat memalukan?
Sungguh tidak tahu malu kalau setelah berulang-ulang dikalahkan, masih nekat maju lagi dan dikalahkan lagi." Akal Sin Wan memanaskan hati gadis itu berhasil.
Sepasang pipi itu menjadi kemerahan dan sinar mata itu mencorong marah.
"Kalau aku melawannya lagi, aku tidak akan berhenti sebelum dia atau aku yang menggeletak mati menjadi mayat.
Dia atau aku yang harus mati!" "Hemm, itu namanya konyol!
Kalau kita sudah tahu tidak akan menang dan akan mati akan tetapi kita nekat, itu berarti suatu kebodohan dan kematian itu adalah kematian yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali.
Lili, ingatlah, kalau engkau mati dalam pertandingan itu, lalu apa artinya?
Engkau mati konyol dan tetap saja dendam sucimu tidak terbalas.
Kematianmu itu hanya akan menambah kedukaan sucimu saja, juga kekecewaan bahwa engkau yang dipercaya ternyata tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik." Mendengar ucapan ini, Lili termenung, menundukkan mukanya dan alisnya berkerut, tanda bahwa ia berpikir.
Lalu ia mengangkat mukanya memandang kepada Sin Wan.
"Sin Wan, kalau bukan engkau yang bicara tadi, tentu aku sudah membunuh pembicaranya.
Akan tetapi, kupikir engkau benar juga dan aku kini menjadi bingung.
Kalau menurut pendapatmu, lalu apa yang harus kulakukan?" Agak lega rasa hati Sin Wan melihat perubahan sikap gadis itu.
"Lili, urusan antara Bhok Cun Ki dan sucimu itu adalah urusan yang amat pribadi, maka sebaiknya kalau sucimu sendiri yang maju membuat perhitungan dengan Bhok Cun Ki.
Kalau demikian keadaannya, maka orang luar, siapapun dia, tidak berhak mencampuri.
Pula, sucimu tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi darimu, maka kiranya ialah yang akan mampu menandingi Bhok Cun Ki.
Andaikata engkau yang tetap diutus olehnya yang mewakilinya, sebelum engkau menantang Bhok Cun Ki, sebaiknya kalau engkau memperdalam lebih dahulu ilmu kepandaianmu agar jangan mati konyol begitu saja.
Nah, bukankah usulku ini sehat dan dapat diterima?
Dalam hal pertandingan mengadu ilmu dan mungkin mengadu nyawa, kita tidak boleh terdorong oleh hati panas.
Hati boleh panas, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar engkau dapat memikirkan siasat yang baik." Lili mengangguk-angguk.
"Agaknya engkau benar, Sin Wan.
Biarpun aku tidak takut mati, akan tetapi tentu saja tidak benar kalau aku nekat dan kematianku tidak ada artinya.
Baiklah, ucapanmu menyadarkan aku akan kebodohanku, dan tidak akan menantang Bhok Cun Ki sebelum aku memperdalam ilmu-ilmuku.
Aku menuruti permintaanmu, Sin Wan.
Akan tetapi sebaliknya, engkaupun harus menuruti permintaanku." "Permintaan apakah itu?" "Pertama, engkau jangan mencampiri urusan antara suci dan Bhok Cun Ki, jangan melindungi Bhok Cun Ki........" "Tentu saja aku tidak akan mencampuri.
Sudah kukatakan, urusan itu amat pribadi dan Bhok-ciangkun sendiripun tidak mau dicampuri orang lain.
Engkau melihat sendiri, ketika dia memenuhi tantanganmu, tidak ada seorangpun bersama dia.
Aku sendiri hanya mengintai dengan sembunyi dan diluar tahunya." "Bagus, dan sekarang permintaan ke dua.
Kalau memang benar engkau tidak berpihak kepada Bhok Cun Ki, marilah engkau menemani aku bertualang di dunia persilatan, dan engkau membimbingku agar aku dapat memperdalam ilmu silatku.
Sin Wan, sejak dulu aku cinta padamu dan hidupku akan berbahagia sepenuhnya kalau engkau mau mendampingi aku selamanya." Sin Wan terkejut.
Gadis ini sungguh terbuka dan jujur bukan main.
Kiranya sukar mencari seorang gadis yang begini berterus terang mengatakan isi hatinya.
Ucapan itu tentu saja membuat dia merasa kikuk dan mukanya menjadi kemerahan.
"Aih, Lili, kenapa engkau bicara kembali soal itu?
Sudah kukatakan bahwa aku masih mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan, dan aku sama sekali belum memikirkan perjodohan "Sin Wan, bukankah itu hanya alasan saja?
Kalau memang engkau tidak suka kepadaku, katakan terus terang agar aku tidak selalu mengharapkanmu!" "Aku kagum dan suka kepadamu, Lili.
Akan tetapi, untuk berjodoh, diperlukan perasaan yang lebih mendalam, lebih dari pada hanya kagum dan suka.
Dan aku belum memikirkan hal itu, aku masih terikat oleh kewajiban.
Bukankah engkau sendiripun masih terikat oleh tugas-tugasmu?" "Aku siap untuk meninggalkan suhu dan suci kalau engkau mau hidup bersamaku, Sin Wan." Sin Wan menggeleng kepalanya.
"Lili, kelahiran, perjodohan dan kematian berada ditangan Tuhan.
Kalau kita memaksakannya maka hal itu akan tidak baik akibatnya.
Kalau memang kita berjodoh, kelak tentu Tuhan akan mempertemukan kita.
Gadis itu kini bangkit berdiri, matanya bersinar-sinar marah.
"Bagus, kiranya engkau hanya bermain mulut saja!
Kalau memang tidak mau, katakan saja tidak mau!
Aku tahu, engkau berpihak kepada Bhok Cun Ki, dan siapa tahu, engkau mungkin sudah jatuh cinta kepada puterinya yang cantik itu.
Hemm, tentu saja engkau akan terjamin kalau menjadi mantu seorang panglima!" "Lili, aku tidak........." "Cukup!
Engkau memualkan perutku.
Pergi!
Pergi dari sini dan jangan memperlihatkan mukamu lagi!" Gadis itu menunjuk ke jendela, mengusirnya.
Sin Wan menghela napas, tidak merasa terhina oleh pengusiran itu karena dia sudah mengenal watak Lili yang keras dan aneh.
Diapun tanpa banyak cakap lagi lalu mengdampiri jendela, membuka daun jendela dan melompat keluar dengan gerakan ringan tanpa menimbulkan suara.
Lili berdiri termenung memandang jendela yang kosong, dan tanpa disadarinya, dua titik air mata keluar dari pelupuk matanya, jatuh ke atas sepasang pipinya.
Di lembah muara Sungai Kuning yang memuntahkan airnya ke teluk Pohai, terdapat beberapa bukit kecil.
Di atas puncak sebuah di antara bukit itu terdapat sebuah rumah gedung yang besar.
Inilah tempat tinggal seorang datuk persilatan yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai datuk yang berkuasa di wilayah timur.
Datuk ini dijuluki Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) bernama Ouwyang Cin.
Datuk ini berusia enampuluh enam tahun, tubuhnya gendut bulat, kepalanya botak dan melihat tubuhnya orang tidak akan menyangka bahwa dia seorang ahli silat yang amat lihai.
Tung-hai-liong Ouwyang Cin sebetulnya peranakan Jepang.
Ayahnya seorang Cina Han, dan ibunya seorang Jepang aseli.
Akan tetapi, sejak kecil dia dididik oleh ayahnya sehingga dia tidak lagi kelihatan sebagai peranakan, melainkan sebagai seorang Han aseli, baik namanya, cara hidupnya dan kebudayaannya.
Hanya ilmu silatnya saja yang campur dengan ilmu silat dari Jepang, yang dia pelajari dari para pamannya, yaitu jagoan-jagoan samurai dari Jepang.
Ketika masih muda, Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah seorang petualang yang dengan perahu layarnya malang melintang di lautan timur.
Namanya terkenal sebagai bajak laut yang amat ditakuti, bahkan dia terkenal sampai ke Jepang karena seringkali dia membajak di perairan kepulauan Jepang.
Bahkan isterinyapun puteri seorang jagoan samurai yang takluk kepadanya, sehingga Ouwyang Cin mengenal banyak jagoan Samurai Jepang.
Dia menikah dengan gadis Jepang yang berwatak lembut itu, yang telah melahirkan seorang anak perempuan.
Biarpun Tung-hai-liong Ouwyang Cin seorang bajak laut yang hidup dalam kekerasan, namun ternyata dia amat mencinta isterinya.
Ketika puterinya berusia sepuluh tahun dan dia sendiri berusia limapuluh lima tahun, dia melepaskan perahunya dan tinggal di bukit lembah muara Huang-ho, tidak lagi berlayar menjadi bajak laut, akan tetapi mulai dikenal sebagai datuk wilayah timur.
Semua bajak laut yang malang melintang di teluk Pohai dan lautan timur, tunduk kepadanya dan menganggap dia sebagai datuk para bajak laut.
Puteri Ouwyang Cin bernama Ouwyang Kim, dan kini telah berusia duapuluh tahun.
Gadis ini selain cantik jelita dan mungil, wajahnya bulat dan kulitnya halus putih kemerahan.
Sikapnya lembut dan ramah sehingga ia nampak lemah.
Akan tetapi sesungguhnya, dibalik kelembutannya itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat dan gadis ini lihai bukan main karena sejak kecil menerima gemblengan ayahnya.
Bahkan tingkat kepandaian gadis ini lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian suhengnya yang bernama Maniyoko, pemuda Jepang yang masih keponakan mendiang ibunya dan juga menjadi murid ayahnya.
Demikianlah keadaan keluarg