Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 36

Memuat...

a di sini, Lili.

Aku Sin Wan......" "Sin Wan......?" Wajah itu berubah menjadi berseri, pandang mata yang tadinya berharap-harap cemas itu bersinar-sinar dan dengan tangan kanan yang agak menggigil Lili membuka daun jendela yang lebar itu.

Sesosok bayangan berkelebat masuk melalui jendela ke dalam kamar dan Sin Wan menutupkan kembali daun jendela itu.

"Sin Wan.......!

Akhirnya kita jumpa juga.......

aih, betapa rinduku kepadamu......" Lili berseru perlahan dan iapun merangkul leher pemuda itu dengan lengan kanannya karena lengan kirinya akan membuat pundaknya nyeri sekali kalau ia gerakkan.

Sin Wan terkejut.

Tak disangkanya dia akan disambut begini mesra dan penuh sukacita, juga penuh keharuan oleh gadis liar ini.

Akan tetapi dia teringat akan pertemuannya dahulu dengan Lili.

Gadis ini pernah dengan terus terang mengaku cinta kepadanya, akan tetapi juga benci.

Bahkan ketika Kui Siang meninggalkannya, Lili muncul dan mengajaknya untuk hidup bersamanya.

Kini, melihat sikapnya, tahulah dia bahwa gadis liar ini tak pernah melupakannya dan masih mencintanya.

Sejenak Sin Wan membiarkan Lili melepas kerinduan dengan merangkul dan menyandarkan muka ke dadanya.

Kemudian, perlahan-lahan dia melepaskan rangkulan gadis itu dan berkata, "Lili, aku datang untuk bicara denganmu." Lili melepaskan diri dan kini ia menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata bercahaya dan kedua pipi kemerahan.

Wajahnya berubah menjadi segar dan berseri walaupun pundaknya masih terasa nyeri.

Sin Wan kini baru melihat bahwa pundak kiri gadis itu tidak tertutup baju dan ada luka kehitaman di situ.

"Ah, engkau terluka?

Luka beracun pula itu, Lili.

Mari kubantu engkau mengobatinya." Lili tersenyum dan senyumnya masih semanis dulu.

"Aku tahu engkau memang baik sekali kepadaku, Sin Wan.

Tak pernah kulupakan betapa engkau dahulu juga menolongku dan mengobati luka keracunan di punggung dan pundakku." Sin Wan memeriksa luka itu.

Memang hanya luka kecil saja, bekas tusukan paku.

Akan tetapi racun yang dibawa paku itu kini jauh lebih hebat dan berbahaya.

"Aku membawa bekal obat penawar racun, Sin Wan.

Biar kuambil dari buntalan itu." "Nanti dulu Lili.

Kulihat racun dalarn lukamu ini amat berbahaya.

Semua sisa racun harus dikeluarkan dulu, baru diberi obat agar engkau tidak terancam bahaya yang mungkin timbul kelak karena pengaruh sisa racun," kata Sin Wan.

"Engkau duduklah bersila di atas pembaringan itu." Bagaikan seorang anak yang amat penurut, dengan senyum penuh kegembiraan, Lili duduk di atas pembaringan dan bersila.

Sin Wan juga duduk bersila di belakangnya dan pemuda ini lalu menempelkan tangan kirinya di punggung bawah pundak kiri gadis itu, mengerahkan tenaga sakti dan menyalurkannya melalui lengan kirinya.

Dari mendiang Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih), seorang di antara Tiga Dewa gurunya, Sin Wan mewarisi ilmu pengobatan dan di dalam ilmu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa) terdapat penggunaan sinkang yang menyedot amat kuatnya.

Kini dia mengerahkan tenaga itu untuk mendorong keluar hawa beracun yang masih tersisa di sekitar pundak kiri.

Lili merasakan getaran hawa yang kuat dan hangat itu memasuki pundak lewat telapak tangan Sin Wan.

Ia tersenyum, memejamkan kedua matanya dan merasa suatu kebahagiaan yang amat ia rindukan menyelinap ke dalam hatinya.

Sejak dahulu ia kagum kepada pemuda ini, sejak masih kanak-kanak.

Ketika mereka masih kanak-kanakpun mereka pernah bertemu dan berkelahi.

Sucinya, Cu Sui In yang ketika itu masih menjadi gurunya, sedang bertanding melawan Sam-sian, dan ia bertanding melawan Sin Wan.

Akan tetapi, ia kalah dan Sin Wan menangkapnya, menelungkupkannya di atas pangkuan Sin Wan dan anak laki-laki itu menghukumnya dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali!

Teringat akan semua itu, timbul kemesraan yang mendalam di hati Lili.

Teringat pula ia ketika mereka sudah dewasa dan bertemu kembali, Sin Wan juga menolongnya seperti ini, bahkan pemuda itu menggunakan mulutnya untuk menghisap luka-luka di punggungnya dan pundaknya untuk mengeluarkan racun, dan betapa setengah hari, lamanya ia tertidur dalam rangkulan Sin Wan, bersandar pada dadanya.

Betapa mesranya!

Kemudian, ia ingat betapa ia pernah membalas hukuman tamparan pada pinggulnya itu dengan penuh kemarahan, karena menang kekalahannya di waktu ia masih kecil itu tak pernah dapat ia lupakan.

Ia menangkap Sin Wan, menyiksanya, mengikatnya di hutan sehingga nyaris pemuda itu diterkam harimau.

Akan tetapi ia mencintanya!

Ia mencinta Sin Wan maka ia tidak membiarkan pemuda itu mati diterkam harimau.

Ia menyelamatkannya dan membebaskannya.

Dan kini, pemuda yang pernah disiksanya dan hampir dibunuhnya itu kembali menolongnya, mengobati dan mengusir racun keluar dari lukanya.

Sebetulnya, ia sendiri dapat menyembuhkan luka itu.

Akan tetapi ia membiarkan Sin Wan yang mengobatinya dan ia merasa betapa kemesraan menyusup di hatinya.

Tak lama kemudian luka di pundak itu mengeluarkan cairan menghitam.

Sin Wan terus mendorong dengan getaran hawa saktinya sampai semua cairan menghitam habis keluar.

Setelah yang keluar darah merah, barulah dia menghentikan pengerahan sinkangnya dan dia menaruh obat bubuk putih milik Lili, ditaburkannya pada luka itu.

Obat bubuk putih itu manjur bukan main karena seketika luka kecil itu tertutup dan kering.

Tidak perlu dibalut lagi.

"Sekarang bahaya sudah lewat," kata Sin Wan sambil meloncat turun dari atas pembaringan.

Lili juga turun dan ia mengeluarkan sehelai baju baru, menyelinap masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar besar itu.

Tak lama kemudian, Sin Wan melihat gadis itu keluar, bukan hanya telah mengenakan pakaian bersih, bahkan jelas bahwa ia menggunakan kesempatan itu untuk membereskan gelung rambutnya dan menambah bedak pada wajahnya yang cantik!

Lili tersenyum kepadanya.

"Duduklah, Sin Wan dan sekarang mari kita bicara.

Bagaimana engkau tahu aku berada di sini dan apa yang akan kaubicarakan dengan aku?" "Lili, aku melihat engkau bertanding dengan Bhok-ciangkun di puncak bukit Bambu Naga tadi." "Ehhh?" Lili terkejut dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.

"Dan engkau melihat siapa yang telah menyerang dengan paku beracun tu?" Sin Wan menggeleng kepala.

"Sudah kucoba untuk mengejar, akan tetapi tidak berhasil.

Aku tidak tahu siapa yang melakukan kecurangan itu." "Siapa lagi kalau bukan kawan Bhok Cun Ki sendiri yang hendak berlaku curang?" "Jangan engkau menuduh seperti itu, Lili.

Aku mengenal siapa Bhok Cun Ki itu dan dia adalah seorang gagah yang tidak akan sudi berbuat curang." "Huh, kau tidak tahu.

Dia seorang yang palsu, perayu dan.....

sudahlah, untuk apa kita bicara tentang dia?

Tentu engkau datang mengunjungiku untuk bicara tentang diri kita, bukan?

Apakah engkau sudah bersedia untuk bertualang berdua denganku, Sin Wan?

Aku selalu merindukanmu, dan hidup akan terasa bahagia sekali kalau engkau dapat selalu mendampingiku." Sin Wan menarik napas panjang.

Dia merasa iba kepada Lili.

Seorang gadis yang sebetulnya memiliki dasar watak yang baik dan gagah.

Sayang karena lingkungan, maka ia menjadi seorang gadis kang-ouw yang ganas dan seperti liar tak terkendali.

Diapun tahu bahwa di lubuk hatinya, dia merasa sayang dan kagum kepada gadis ini.

Oleh karena itulah maka dia mencari Lili, untuk menyadarkannya, agar gadis itu tidak melanjutkan niatnya memusuhi dan mengadu nyawa dengan Bhok Cun Ki.

"Lili, aku suka dan kagum kepadamu.

Aku tahu engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan baik hati.

Akan tetapi, aku masih terikat oleh banyak tugas penting sehingga belum sempat mengunjungimu.

Malam ini aku sengaja mencarimu justru untuk bicara tentang Bhok-ciangkun." Lili mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang indah itu mengerling tajam, cuping hidungnya agak kembang kempis menunjukkan bahwa hatinya terasa tegang.

"Hemm, apa lagi yang dapat dibicarakan tentang laki-laki itu?" katanya dengan suara ketus.

"Lili, aku mengharapkan sungguh-sungguh agar engkau menghentikan permusuhanmu dengan dia.

Hentikanlah memusuhinya karena dia bukanlah laki-laki seperti yang kausangka.

Dia seorang pendekar dan panglima yang bijaksana dan baik budi.

Engkau keliru sekali kalau memusuhinya, apa lagi berniat hendak membunuhnya." Makin dalam kerutan di antara alis mata gadis itu.

"Sin Wan, apamu sih Bhok Cun Ki itu maka engkau hendak melindunginya sedemikian rupa?" "Bukan apa-apa, hanya kenalan saja." "Kalau begitu, engkau belum mengenal betul siapa dia!

Terus terang saja, aku hendak membunuhnya untuk melaksanakan perintah dari suciku, untuk membalaskan dendam sakit hati suci.

Engkau tidak tahu apa yang telah dilakukannya terhadap suci.

Dia telah menghancurkan kebahagiaan hidup suciku, tahu?" "Aku tahu, aku sudah mendengarnya dan aku dapat mengerti dan menduga apa yang telah terjadi.

Akan tetapi dia bukan seorang laki-laki yang sengaja hendak merusak kehidupan sucimu.

Aku tahu bahwa mereka tadinya saling mencinta dan sudah terjanji akan hidup bersama sebagai suami isteri.

Akan tetapi, kemudian Bhok Cun Ki mendengar bahwa kekasihnya itu adalah seorang tokoh sesat, maka sebagai seorang pendekar dia merasa tidak berjodoh dan tidak mungkin menjadi suami isteri dengan sucimu.

Jadi, dia memisahkan diri bukan karena bosan atau tidak mencinta lagi.

Aku yakin dia masih mencinta sucimu dan hanya karena keadaan memaksanya, dia meninggalkannya." "Hemm, memang enak saja engkau berpendapat seperti itu, Sin Wan.

Engkau tidak merasakan penderitaan yang dialami suciku selama bertahun-tahun, bahkan engkau tidak melihatnya dia menderita.

Akan tetapi, sejak aku masih kecil, aku sudah hidup didekat suci yang dahulu menjadi guruku, setiap hari aku melihat keadaannya, kedukaannya, penderitaan batinnya.

Ia bahkan tidak mau lagi berdekatan dengan pria, apa lagi menikah.

Padahal ia seorang wanita yang cantik, pandai dan memiliki segalanya.

Sudah sepatutnya kalau ia mendendam kepada Bhok Cun Ki dan mengutus aku untuk membunuh laki-laki yang jahat itu!" "Lili, engkau hanya

Post a Comment