masuk semua ke dalam daging pundak, dan panjang paku itu sepanjang jari kelingkingnya.
Paku beracun!
Hal ini dapat dilihatnya dengan seketika, melihat betapa sekitar luka itu nampak tanda hitam kebiruan.
Cepat dia menotok beberapa bagian dari pundak itu setelah merobek bajunya, menghentikan jaian darah agar racun paku itu tidak menyebar luas, lalu dicabutnya paku itu.
Karena dia tidak membawa obat, maka dipanggulnya tubuh gadis yang masih pingsan itu dan dibawanya lari cepat kembali ke kota raja.
Tentu saja para penjaga terkejut melihat panglima itu memanggul seorang gadis yang pingsan dan mereka cepat memberi pertolongan, menyediakan kereta sehingga Bhok-ciangkun, dapat membawa Lili pulang tanpa menarik banyak perhatian.
Kedatangan Bhok-ciangkun disambut dengan girang oleh Ci Han dan Ci Hwa, akan tetapi mereka juga terheran-heran melihat ayahnya memondong tubuh seorang gadis yang bukan lain adalah Lili, gadis yang hendak membunuhnya!
"Ayah, kenapa ayah membawa siluman ini ke sini?" tanya Ci Hwa.
"Apa yang terjadi, ayah," tanya Ci Han.
Sin Wan yang juga berada di situ, tidak bertanya karena dia sudah mengetahui segalanya.
Dia sudah berjanji kepada Ci Hwa untuk melindungi Bhok-ciangkun agar tidak sampai celaka ditangan Lili.
Oleh karena itu, sebelum Bhok-ciangkun berangkat, dia telah mendahului naik mendaki bukit Bambu Naga dan mengambil jalan memutar sambil bersembunyi, kemudian dia menyembunyikan diri di balik semak belukar di puncak.
Karena itu, dia melihat pertemuan antara Bhok Cun Ki dan Lili, bahkan mendengarkan semua percakapan di antara mereka.
Maka tahulah dia urusan pribadi apa yang ada antara Bhok Cun Ki dan Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Diam-diam dia merasa terharu dan kasihan kepada mereka berdua.
Cinta antara pria dan wanita merupakan perpaduan dari sorga dan neraka.
Kalau berkembang dan berhasil baik membuat keduanya merasa seperti di sorga, sebaliknya kegagalan cinta membuat orang merana seperti tersiksa di neraka!
Kemudian, tanpa berani memperlihatkan diri Sin Wan melihat mereka berdua bertanding.
Dia hanya siap untuk melindungi Bhok-ciangkun, kalau sampai panglima itu terancam bahaya dan diam-diam diapun mengambil keputusan untuk mencegah seandainya Lili yang kalah dan terancam maut.
Kemudian, selagi Bhok-ciangkun mempergunakan siasat seperti yang dimaksudkannya ketika dia dan panglima itu bertanding pedang, yaitu dengan cara berlompatan mengambil seekor burung menghadapi ular, dan ketika panglima itu sudah dapat mendesak lawan, dia melihat senjata rahasia yang meluncur ke arah Bhok-ciangkun itu.
Akan tetapi dari tempat dia bersembunyi, tidak mungkin menolong panglima itu karena senjata rahasia itu meluncur dari arah yang berlawanan dari tempat dia bersembunyi!
Dan dia melihat betapa Bhok-ciangkun berhasil menangkis senjata kecil itu dengan pedang, dan senjata rahasia itu bahkan melukai Lili!
Dengan cepat, melalui jalan memutar, Sin Wan lari ke tempat dari mana senjata itu datang.
Akan tetapi karena dia harus mengambil jalan memutar, dia terlambat dan tidak dapat menemukan penyerang gelap itu.
Ketika dia melihat Bhok-ciangkun menolong Lili dan memondong gadis yang pingsan itu, menuju ke kota raja, dia mendahului dan kepada Ci Hwa dan Ci Han dia hanya menceritakan bahwa Bhok-ciangkun dalam keadaan selamat dan dapat mengalahkan Lili.
"Cepat, ambilkan peti obat!" kata Bhok-ciangkun kepada kedua orang anaknya sambil memondong tubuh Lili yang masih pingsan ke dalam kamar.
Sin Wan tidak ikut masuk, melainkan masuk ke dalam kamarnya sendiri dan termenung.
Dia ikut terharu dengan peristiwa itu dan tidak ingin mencampuri.
Betapapun juga, dia semakin kagum kepada Bhok Cun Ki.
Sungguh seorang pendekar yang bijaksana, pikirnya.
Gadis itu jelas datang, untuk membunuhnya dan kini gadis itu pingsan karena senjata rahasia orang lain.
Namun, Bhok Cun Ki bahkan menolongnya dan membawanya pulang untuk mengobatinya!
Jarang terdapat orang bijaksana dan budiman seperti panglima itu.
Bhok Cun Ki sibuk mengobati Lili .
Dua orang anaknya hanya menonton dengan alis berkerut.
Mereka merasa penasaran sekali.
Gadis liar itu telah menghina mereka, mengalahkan mereka, bahkan mengancam hendak membunuh ayah mereka.
Akan tetapi kini ayah mereka malah membawa gadis yang terluka itu pulang untuk diobati!
Bhok Cun Ki mencuci bersih luka itu, kemudian mengurut bagian pundak dan memaksa darah menghitam keluar dari luka di pundak.
Setelah itu, ditempelkannya obat penghisap racun berupa koyok (obat tempel) putih yang tebal, dan dibalutnya pundak itu.
Semua ini dia kerjakan sendiri karena kedua orang anaknya segan untuk membantu.
Lili mengeluh dan membuka kedua matanya.
Sejenak ia seperti nanar dan bingung, akan tetapi ia bangkit duduk dan menggigit bibir ketika terasa nyeri pada pundaknya.
Ia memandang ke arah pundak kirinya, alisnya berkerut melihat betapa baju di pundaknya robek dan nampak kulit pundaknya telanjang, kini sudah terbalut kain putih.
Ia menoleh dan melihat Bhok Cun Ki duduk di depannya, juga dua orang anak panglima itu berada di kamar.
Melihat ia duduk di atas pembaringan di sebuah kamar, Lili segera teringat.
Ia terkena serangan senjata rahasia di pundaknya dan ia roboh di puncak bukit itu, kenapa ia tahu-tahu berada di kamar ini?
Melihat obat berserakan di atas meja, iapun tahu bahwa tentu ia telah diobati oleh Bhok Cun Ki!
"Engkau.....
manusia curang!
Pengecut!
Engkau menyerangku dengan senjata rahasia!
Dan engkau membawaku ke sini!
Sungguh engkau telah menghinaku!!" "Tenanglah, nona Lili.
Bukan aku yang menyerangmu dengan senjata rahasia.
Lihatlah, benda ini yang mengenai pundakmu!" Dia mengeluarkan paku hitam dari dalam saku bajunya, menyerahkannya kepada Lili.
Gadis itu menerimanya, menyimpan dalam lipatan bajunya.
"Akan kuketahui kelak siapa pemilik paku ini.
Tentu komplotanmu yang sengaja menyerangku secara curang." "Nona Lili, engkau terlalu memandahg rendah kepadaku!" kata Bhok Cun Ki dengan alis berkerut.
"Engkau tahu benar bahwa dalam pertandingan tadi, aku tidak berada di pihak yang kalah atau terdesak.
Paku itu ditujukan kepadaku, menyerangku dan aku yang sedang berada di atas, menangkisnya dengan pedang.
Paku itu melesak dan mengenai pundakmu." "Bhok Cun Ki, kalau begitu, kenapa engkau membawaku ke sini?
Jangan kaukira perbuatanmu ini akan membuat aku berhutang budi kepadamu.
Aku tetap akan menantangmu mengadu nyawa lagi setelah sembuh lukaku!" Lili berkeras, "Nona, jangan pergi dulu, lukamu belum sembuh.
Atau, kalau engkau berkeras hendak pergi, bawalah obat ini untuk menggantikan koyok yang menyedot racun dari lukamu itu," kata Bhok-ciangkun melihat gadis itu hendak melangkah pergi.
"Dan jangan lupa, ini pedangmu!" Dia menyodorkan pedang dan buntalan obat.
Lili cemberut, tangan kanannya menyambar pedang ular putih dan diselipkan di pinggang, kemudian direnggutnya balutan pundaknya dengan kasar sehingga balutan itu terlepas dan obat koyok itupun jatuh dari pundaknya.
"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu.
Aku tidak minta kau obati!" katanya sambil menahan rasa nyeri karena luka itu berdarah lagi setelah koyok dan balutannya ia renggut lepas dan ia buang.
"Kelak aku akan mencarimu lagi untuk melanjutkan pertandingan sampai seorang di antara kita menjadi mayat!" Setelah berkata demikian, Lili membalikkan tubuhnya dan sambil menahan rasa nyeri, iapun melarikan diri meninggalkan gedung keluarga Bhok.
Bhok-ciangkun tidak mengejar, dan dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dengan wajah yang muram sekali.
Isterinya masuk dari ruangan belakang dan segera menghampiri suaminya.
"Apakah yang terjadi?
Aku mendengar dari para pelayan bahwa engkau pulang memondong seorang gadis yang terluka dan pingsan." Bhok Cun Ki menggeleng kepala.
Tidak ada apa-apa.
Ia seorang gadis yang terkena paku beracun dan tadi aku menolongnya." "Gadis itu sombong sekali ibu," kata Ci Hwa.
"Ia ditolong malah marah-marah dan pergi." "Siapa sih ia?" tanya Nyonya Bhok Cun Ki yang berwajah cantik dan berwatak lembut itu.
Ci Hwa dan Ci Han memandang kepada ayah mereka, dan Bhok Cun Ki, berkata, "Kami tidak mengenalnya.
Sudahlah, jangan dipikirkan lagi gadis itu." Dengan isyarat pandang matanya, Bhok Cun Ki menyuruh kedua orang anaknya pergi.
Dua orang muda itupun keluar dari kamar meninggalkan ayah ibu mereka.
Ci Hwa mencari Sin Wan di kamarnya, akan tetapi pemuda itu tidak berada di sana, juga tidak berada di mana-mana dalam gedung itu.
Untung bagi Lili bahwa malam itu cuaca amat gelapnya dan udara yang mendung membuat orang segan keluar rumah.
Jalan-jalan sunyi sehingga Lili yang bajunya robek di bagian pundak, hanya ditutupi dengan saputangan lebar dan tangan kanan, tidak menarik perhatian banyak orang.
Juga ketika ia memasuki rumah penginapan besar melalui pintu samping, para penjaga tidak begitu memperhatikannya sehingga ia dapat memasuki kamarnya di rumah penginapan terbesar di kota raja itu dengan aman.
Setibanya di dalam kamar, Lili tidak menahan-nahan lagi rasa nyeri di pundaknya dan iapun merintih kesakitan.
Lalu ia menyalakan lampu penerangan, ditambah beberapa batang lilin, dan memeriksa luka di pundaknya di depan sebuah cermin.
Hemm, luka beracun, pikirnya.
Sebagai murid See-thian Coa-ong yang mempelajari penggunaan bermacam racun, terutama racun ular dan binatang berbisa lainnya, ia segera mengetahui bahwa luka di pundaknya itu mengandung racun bunga yang cukup berbahaya.
Untung bahwa racun itu tidak menjalar ke dalam, juga sebagian besar racun telah disedot oleh koyok yang dipasangkan Bhok Cun Ki dan yang tadi dibuangnya.
SELAGI ia hendak mengobati lukanya dengan obat yang berada dalam bekalnya, tiba-tiba terdengar suara di luar daun jendela kamarnya.
"Lili, bukalah jendela ini, biarkan aku masuk.
Aku ingin bicara denganmu." Tangan kanan Lili meraba gagang pedangnya, dan matanya terbelalak.
Suaranya terdengar agak gemetar, bukan karena takut melainkan karena tegang ketika ia bertanya, "Siapa....?
Siapa di luar jendela itu?" "Aku yang berad