ibadinya, juga temannya berfoya-foya.
Yauw Siucai amat pandai mengambil hatinya.
Dengan adanya Yauw Siucai, putera mahkota ini dapat menikmati bermacam kesenangan yang tadinya tidak dikenalnya sama sekali.
Dengan bantuan Yauw Siucai, wanita yang bagaimana keraspun akan menjadi lunak dan jinak.
Bahkan putera mahlota itu, saking percayanya kepada Yauw Siucai, telah mengangkat sastrawan ini menjadi guru sastra dari puteranya yang bernama Chu Hong.
Maka, kuatlah kedudukan Yauw Siucai di istana putera mahkota.
Dengan cerdik sekali Yauw Lu Ta yang memang mendekati pangeran putera mahkota ini untuk tujuan yang lebih besar, menuntun Pangeran Chu Hui San yang lemah itu sehingga keadaan pangeran itu semakin rusak.
Bukan saja bujukan Yauw Siucai membuat dia menjadi semakin menggila dalam mengejar kesenangan sehingga lupa diri, juga Yauw Siucai dengan cerdik menjerumuskan pangeran yang menjadi calon pengganti kaisar itu menjadi seorang pecandu madat!.
Yauw Siucai ingin agar kelak yang menjadi kaisar seorang yang lemah, tidak mampu dan yang berada dibawah pengaruhnya sehingga kalau dia mendapatkan kesempatan baik melakukan gerakan, maka pemerintahan di bawah kaisar semacam itu akan mudah dia robohkan dan dia dapat membangun kembali Kerajaan Goan (Mongol) yang pernah jaya!
(Lanjut ke Jilid 07) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.
Kho Ping Hoo Sore itu udara cerah sekali.
Langit tidak ternoda awan, dan biarpun matahari sudah condong jauh ke barat, namun sinarnya masih kuat dan hawa udara cukup gerah karena tidak ada angin bertiup.
Dengan langkah lebar dan tegap, Panglima Bhok Cun Ki berjalan mendaki bukit Bambu Naga di luar kota raja.
Dia sengaja berjalan kaki, tidak menunggang kuda.
Pertama, agar tidak ada orang yang memperhatikannya, dan ke dua agar lebih mudah baginya untuk melihat bahwa tidak ada orang yang membayanginya.
Dia tidak ingin anak-anaknya mencampuri urusan pribadinya.
Tentu saja cerita putera dan puterinya tentang gadis yang berpedang Ular Putih itu seketika mengingatkan dia akan riwayat hidupnya dahulu, ketika dia belum menikah.
Dia pernah saling berkenalan dan bersahabat dengan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai dan akhirnya ia dan wanita itu yang bernama Cu Sui In saling jatuh cinta.
Dia sendiri seorang pendekar muda Butong-pai di waktu itu, dan gadis itu memang cantik dan pandai, sehingga mereka berdua merupakan pasangan yang serasi dan cocok sekali.
Hubungan di antara mereka sudah amat intim dan mesra, bahkan keduanya sudah demikian saling percaya bahwa mereka akan menjadi suami isteri sehingga mereka saling menyerahkan diri.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian, dia mendapat kenyataan bahwa kekasihnya itu adalah puteri See-thian Coa-ong!
Bahkan kekasihnya itu di dunia kangouw dikenal dengan julukan Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) yang terkenal ganas dan kejam!
Melihat kenyataan pahit ini, seketika dia mengambil keputusan untuk memisahkan diri dan meninggalkan Cu Sui In.
Tidak mungkin dia sebagai seorang pendekar penentang golongan sesat, menikah dengan seorang puteri datuk sesat!
Seluruh dunia kangouw akan mentertawakannya, dan bagaimana dia akan tetap dapat menentang kejahatan kalau beristeri seorang tokoh jahat?
"Sui In........" Dia menghela napas panjang dan mengeluh dalam hati, "kenapa sampai sekarang engkau masih mendendam?
Dan kenapa pula tidak datang sendiri mencariku, akan tetapi menyuruh muridmu?" Setelah tiba di puncak bukit yang sunyi itu, dia berdiri di puncak yang datar, yang dikelilingi hutan bambu yang lebat.
Banyak di situ terdapat bambu yang batangnya seperti tubuh ular naga, maka disebut bambu naga.
Biarpun dia tidak melihat bayangan orang, akan tetapi dia merasa bahwa ada orang yang mengintai dan mengamatinya.
Oleh karena itu, dia berdiri dengan tegak, kedua kaki terpentang, lalu dia berkata dengan suara yang lantang.
"Nona berpedang Ular Putih, aku Bhok Cun Ki telah datang memenuhi undanganmu!" Memang sejak tadi Lili sudah mengintai dari balik semak belukar.
Sejak laki-laki itu mendaki lereng dekat puncak, ia sudah tahu dan ketika pria itu sudah dekat, ia memandang kagum.
Jadi inikah kekasih sucinya yang telah meninggalkan sucinya dan membuatnya hidup merana?
Pantas kalau sucinya tergila-gila.
Memang pria ini seorang pria yang gagah perkasa dan ganteng.
Sekarangpun, dalam usia yang mendekati limapuluh tahun, pria itu masih nampak tegap dan ganteng, dengan penampilan seorang pendekar tulen.
Sebatang pedang tergantung di pinggangnya dan langkahnya ketika mendaki puncak tadi bagaikan langkah seekor harimau.
Dari atas puncak ia mengamati dan melihat bahwa pria itu memang datang seorang diri, dan inipun menunjukkan bahwa dia memang gagah dan berani, dan tidak curang.
"Bagus, kiranya engkau yang bernama Bhok Cun Ki!" Bhok Cun Ki membalikkan tubuh dan melihat bayangan berkelebat, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik.
Dia mengamati penuh perhatian.
Seorang gadis berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun yang cantik manis, dengan sikap yang dingin dan galak, namun matanya bersinar tajam.
Dia tahu bahwa gadis itu memiliki keringanan tubuh dan kecepatan yang tak boleh dipandang ringan.
Cepat dia memberi hormat sepantasnya dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Apakah hubunganmu dengan Cu Sui In, nona?
Apakah engkau muridnya?" Bhok Cun Ki langsung bertanya karena dia sudah yakin bahwa inilah gadis yang telah mencarinya dan mengalahkan putera dan puterinya.
"Cu Sui In adalah suciku.
Hemm, agaknya engkau sudah dapat menduga bahwa aku datang diutus oleh suci untuk membunuhmu?" Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan mengangguk.
"Aku sudah dapat menduganya.
Kiranya engkau adalah sumoinya, dan engkau murid See-thian Coa-ong.
Pantas engkau lihai.
Akan tetapi, terima kasih bahwa engkau tidak membunuh kedua orang anakku.
Hal ini saja sudah mengherankan karena biasanya orang-orang dari Bukit Ular tak pernah membiarkan lawannya hidup." Lili mengerutkan alisnya.
"Aku bukan pembunuh!
Aku ditugaskan untuk membunuhmu, bukan membunuh anak-anakmu.
Nah, bersiaplah untuk mengadu nyawa.
Engkau atau aku yang akan mati hari ini!" Lili mencabut pedangnya dan nampak sinar putih menyilaukan mata tertimpa sinar matahari senja.
Bhok Cun Ki mengeluh dalam hatinya.
Tak disangkanya bahwa urusan pribadinya dengan Cu Sui In akan menimbulkan peristiwa yang dihadapinya sekarang ini.
Dia ditantang seorang gadis muda!
"Nona, siapakah namamu?" tanya dan suaranya lembut karena melihat gadis itu, walaupun ia nampak galak dan dingin, menimbulkan perasaan suka dalam hatinya.
Dia merasa berhadapan dengan anak sendiri atau keponakan sendiri.
Bagaimana dia, seorang pendekar Butong-pai, seorang panglima, dapat enak hati menyambut tantangan mengadu nyawa seorang gadis yang sepantasnya menjadi anaknya atau keponakannya?
"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan adu nyawa ini, Bhok Cun Ki!" kata Lili dengan tegas.
"Benar sekali, akan tetapi kalau engkau kalah dan mati, engkau akan tahu siapa yang membunuhmu, sebaliknya kalau aku yang kalah dan mati, arwahku bisa penasaran karena aku tidak tahu siapa yang membunuhku." Bhok Cun Ki bicara dengan nada suara serius, akan tetapi juga mengandung kelakar.
Lili juga merasa sukar untuk mempertahankan kekakuannya juga, di dalam hatinya tidak mempunyai masalah pribadi dengan pria ini, maka iapun tidak dapat merasa benci.
Bahkan ia merasa kagum karena ia berhadapan dengan seorang laki-laki jantan yang bersikap begitu tenang.
"Baik, namaku biasa disebut orang Lili." "Nona Lili, nama yang bagus.
Akan tetapi kenapa sucimu Cu Sui In tidak datang sendiri membunuhku, melainkan menyuruh engkau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan kami?" "Aku hanya menunaikan tugas.
Jangan tanya kepadaku, tanyalah kepada suci, akan tetapi tidak ada kesempatan lagi bagimu karena engkau akan mati ditanganku." Bhok Cun Ki tersenyum.
"Nona Lili, engkau masih begini muda namun memiliki kepandaian tinggi dan pemberani.
Sungguh sayang seorang muda seperti nona ini melakukan pertandingan mengadu nyawa.
Aku sendiri sudah cukup tua, dan mati bagiku bukan apa-apa.
Akan tetapi engkau, masih begini muda dan berhak untuk hidup lebih lama lagi dan menikmati hidupmu.
Tahukah engkau mengapa sucimu itu menyuruhmu mencariku dan membunuhku?" "Bhok Cun Ki, kenapa engkau begini cerewet, sih?
Agaknya dahulu suci terpikat oleh kapandaianmu merayu dengan kata-kata.
Tentu saja aku tahu kenapa suci ingin aku membunuhmu.
Engkau telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya, engkau telah membuat ia merana sampai sekarang tidak berumah tangga.
Engkau merayunya dengan ketampananmu, kepandaianmu merayu, dengan janji-janji palsumu.
Sudahlah, akupun tidak perduli.
Yang penting, aku harus membunuhmu.
Cepat keluarkan pedangmu, atau aku akan membuat engkau mati konyol!" Gadis itu menggerakkan pedangnya sehingga berkelebatan dan mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata.
"Tunggu sebentar, nona.
Aku tidak percaya seorang gadis seperti engkau ini mau membunuh orang yang belum siap melawan.
Dengar dahulu, baru kita bertanding agar engkau mengetahui urusan antara aku dan sucimu itu, agar kita berdua dapat bertanding dengan penuh kesadaran.
Memang ku akui bahwa ketika aku masih muda, di antara aku dan sucimu Cu Sui In terjalin hubungan cinta kasih yang mendalam, bahkan kami berdua sudah saling berjanji dan sepakat untuk menjadi suami isteri.
Aku mencintainya dengan sepehuh hatiku, bahkan sampai sekarangpun aku masih mencintanya.
Akan tetapi ia menipuku.
Ia tadinya tidak berterus terang tentang dirinya.
Setelah aku mengetahui bahwa ia adalah puteri See-thian Coa-Ong dan ia berjuluk Bi-coa Sianli, seorang tokoh sesat, puteri seorang datuk sesat yang melakukan banyak kekejaman dan kejahatan, bagaimana mungkin aku berjodoh dengannya?
Seluruh pimpinan Butong-pai akan mengutuk aku, karena sebagai seorang pendekar aku harus menentang golongan sesat, bukan mengawini puteri seorang di