Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 32

Memuat...

ng pangeran.

Yang membuat ia terheran-heran adalah melihat sikap wanita itu.

Kenapa begitu berani dan sama sekali tidak menghormatinya?

"Nyonya muda yang manis, pandanglah aku.

Apakah engkau tidak tahu, siapa aku?" perintahnya.

Dengan ketakutan wanita itu mengangkat muka memandang, namun ia sama sekali tidak nampak terkejut.

Bahkan ia menggeleng kepalanya, "Aku tidak mengenal engkau siapa, akan tetapi mohon kau lepaskan aku, jangan ganggu aku......" "Hemm, aku adalah pangeran, putera mahkota, tahu?" Wanita itu kembali memandang dengan mata terbelalak, lalu keranjangnya jatuh mengelinding dan iapun menjatuhkan diri berlutut menyernbah-nyembah.

"Ahh....

ampun hamba....

hamba tidak tahu, hamba baru sebulan berada di kota raja, hamba dari dusun, setelah menikah baru di sini.....

mohon paduka mengampuni hamba dan membiarkan hamba pergi...." Pangeran itu semakin heran.

"Aku suka padamu, manis.

Kesinilah dan jangan takut.

Aku akan memberi hadiah besar kepadamu." "Tidak......

tidak......

mohon paduka mengampuni hamba....

hamba baru sebulan menikah, hamba tidak berani, suami hamba galak......." "Aih, pengantin baru, ya?

Heh..heh, aku suka pengantin baru.

Tentang suamimu, jangan takut.

Dia tidak akan berani memarahimu kalau tahu bahwa pangeran putera mahkota yang mengajakmu.

Kesinilah!" Pangeran Chu Hui San semakin bergairah karena belum pernah dia bertemu dengan wanita yang tidak segera lari ke dalam pelukannya.

Malah dia yang kini turun dari pembaringan dan menghampiri wanita yang menggigil ketakutan itu.

Akan tetapi baru saja dia memegang lengan wanita itu untuk ditariknya, dia mendengar suara gedebukan di luar kamar, suara orang berkelahi.

Dia terkejut dan heran, lalu dibukanya daun pintunya untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata dua orang tukang pukul berewokan itu sedang mengeroyok seorang laki-laki muka bopeng yang juga tinggi besar.

Akan tetapi laki-laki bopeng itu lihai sekali, dan ketika sang pangeran membuka daun pintu, tepat dia melihat betapa dua orang tukang pukul itu dihantam roboh!

"Cang-ko (kakak Cang),.......!" Wanita cantik yang berada di dalam kamar Pangeran Chu Hui San menjerit ketika ia melihat laki-laki bopeng itu.

"Kim-moi (adik Kim)!" Laki-laki itu berteriak dan diapun menerjang masuk ke dalam kamar.

"Aku tahu, engkau berada disini!" bentaknya dan dengan mata melotot dia memandang kepada isterinya, lalu kepada sang pangeran.

Ketika dia memandang kepada pangeran itu, Pangeran Chu Hui San berkata dengan sikap gagah dan marah.

"Orang kasar, butakah matamu?

Aku adalah Pangeran Chu Hui San!

Hayo cepat engkau pergi dari sini atau akan kusuruh orang menangkap dan menghukum siksa sampai mati!" Akan tetapi si muka bopeng itu menyeringai, "Aku tahu engkau pangeran putera mahkota yang mata keranjang itu.

Engkau berani menghina isteriku!

Biar aku akan dihukum mati, akan tetapi sekali ini engkau yang akan kusiksa sampai mati lebih dulu!" Dengan langkah lambat namun sikapnya menyeramkan, si muka bopeng menghampiri sang pangeran.

Pangerah yang satu ini memang lemah.

Melihat gertakannya tidak berhasil, diapun melangkah mundur dan mukanya mulai membayangkan ketakutan.

"Jangan......

maafkan aku dan engkau akan kuganjar hadiah yang besar........" "Tidak ada hadiah besar dari pada membunuh orang yang telah berani menghina isteriku tercinta!" bentak orang itu dengan geram dan dia sudah siap untuk menubruk.

Tiba-tiba seseorang muncul di ambang pintu kamar itu.

Akan tetapi kemunculannya tidak membesarkan harapan sang pangeran, karena dia hanyalah seorang pria berusia tigapuluh lima tahun yang berpakaian seperti seorang sastrawan muda, mungkin sastrawan kaya karena pakaiannya mewah.

Apa artinya seorang sastrawan lemah terhadap si bopeng yang tangguh ini?

Dua orang jagoan tukang pukul di rumah pelesir itupun sudah dia pukul roboh.

"Muka bopeng, jangan kurang ajar kau!" sastrawan itu membentak dan biarpun suaranya lembut, namun mengandung getaran berwibawa sehingga tiba-tiba si bopeng menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menghadapi sastrawan itu, nampaknya terkejut.

Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menegur dan mencelanya hanya seorang sastrawan yang kelihatan lemah, dia menjadi semakin berang.

Dengan langkah lebar dia menghampiri sastrawan itu dan sikapnya mengancam.

"Jahanam, siapa engkau berani mencampuri urusanku?" Dia mengepal tinju dan siap menerjang.

"Engkaulah yang jahanam!

Berani engkau mengancam yang mulia pangeran putera mahkota yang sepatutnya kau sembah?

Hayo cepat berlutut minta ampun!" Akan tetapi, si muka bopeng menjawabnya dengan gerengan dan diapun menerjang dengan ganas ke arah sastrawan itu.

Pangeran Chui Hui San menyangka bahwa penolongnya itu tentu roboh dengan sekali pukul dan dia sudah siap untuk melarikan diri.

Akan tetapi, dia terbelalak.

Ketika si muka bopeng yang tinggi besar itu menerjang, sastrawan itu mengelebatkan kipas yang berada di tangannya dan entah bagaimana, tiba-tiba saja si muka bopeng itu yang terpelanting ke atas lantai Dia merangkak bangun, meloncat dan menerjang lagi akan tetapi disambut tendangan yang mengenai dadanya dan membuat, dia terjengkang dan terbanting keras.

Si muka bopeng terengah-engah dan matanya terbelalak ketakutan, lalu dia bangkit dan membalikkan diri, cepat lari keluar dari dalam kamar itu.

Sastrawan itu membiarkan si muka bopeng lari, dan diapun membalik, menghadapi Pangeran Chu Hui San dan menjatuhkan diri berlutut dengan sikap hormat dan sopan sekali.

"Hamba kira akan jauh lebih baik dan aman kalau paduka selalu ditemani seorang pengawal yang boleh dipercaya.

Dewasa ini banyak sekali terdapat penjahat dan pemberontak yang tentu akan berbuat yang tidak baik kepada paduka." Tentu saja pangeran itu merasa berterima kasih karena tanpa munculnya sastrawan itu, tentu sekarang dia telah tewas dibunuh si muka bopeng tadi.

Dia melangkah maju dan dengan kedua tangan menyentuh pundak sastrawan itu dia berkata.

"Terima kasih, engkau telah menyelamatkan aku.

Kami akan merasa senang sekali kalau saat ini engkau suka menemani dan menjaga keselamatanku." "Hamba suka sekali, hamba siap mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka, pangeran!" kata sastrawan itu.

"Siapa namamu?" "Hamba she (bernama keturunan) Yauw, nama hamba Lu Ta." Pada saat itu, wanita muda yang sejak tadi berdiri ketakutan, mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri keluar dari dalam kamar.

Akan tetapi melihat ini, Yauw Lu Ta meloncat dan sekali tangannya bergerak, dia telah menotok wanita itu pada pundaknya, membuat wanita itu menjadi lemas dan tentu akan jatuh ke atas lantai kalau Yauw Lu Ta tidak menyambutnya, memegang lengannya kemudian mendudukkannya di atas lantai bersandar dinding.

Wanita muda itu tidak mampu bergerak, hanya matanya yang memandang dengan ketakutan.

"Yauw Siucai (Sastrawan Yauw), kalau ia tidak mau, suruh ia pergi.

Kami tidak mau memperkosanya!" kata Pangeran Chui Hui San dengan suara mengandung kekecewaan.

Wanita itu bukan saja menolak cintanya, bahkan suaminya hampir saja membunuhnya!

Yauw Lu Ta membungkuk dengan senyum.

"Harap paduka jangan kecewa.

Dalam satu menit ia akan berubah sama sekali dan akan melayani paduka dengan seluruh tubuh dan hatinya." Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya.

Ketika dibukanya, dalam bungkusan terisi bubuk merah.

Melihat di atas meja dalam kamar itu, terdapat cawan dan guci arak, dituangkannya sedikit arak ke dalam cawan, dimasukkannya sedikit bubuk merah ke dalam cawan kemudian dia menghampiri wanita muda itu, tangan kiri menekan kanan-kiri mulut sehingga mulut itu terbuka, ditengadahkan, lalu isi cawan dia tuangkan ke dalam mulut.

Di luar kehendaknya, wanita itu terpaksa menelan anggur dari cawan dan Yauw Lu Ta melepaskannya.

Pangeran Chu Hui San memandang penuh perhatian.

Semenit kemudian, terjadi perubahan pada wajah wanita itu.

Kedua pipinya kemerahan dan pandang matanya tidak lagi ketakutan, akan tetapi seperti orang yang mengantuk.

Yauw Lu Ta membebaskan totokannya dan diapun berkata.

"Kini paduka dapat berbuat apapun terhadap dirinya dan ia akan menyerahkan diri dengan suka rela dan penuh semangat.

Hamba akah menjaga keamanan paduka di luar kamar." Yauw Lu Ta melangkah keluar dan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar.

Sebetulnya, peristiwa tadi sudah mengusir semua gairah nafsu dari pikiran pangeran ini.

Akan tetapi, dia tertarik dan ingin sekali tahu apakah ucapan pengawal barunya itu benar.

Dia lalu memandang wanita muda yang sudah dibebaskan dari totokan itu.

Kini wanita itu berlutut menghadap kepadanya, hanya menundukkan muka dan tidak berani memandangnya, tidak pula mengeluarkan kata-kata, juga tidak lagi menangis ketakutan.

"Angkat mukamu!" kata pangeran itu dengan suara memerintah.

Dan wanita muda itu mengangkat muka memandangnya.

Dan alangkah jauh bedanya dengan tadi.

Wanita itu kini memandangnya dengan sikap malu-malu, dengan mata sayu dan mulut mengulum senyum.

"Kesinilah," kata pula pangeran itu.

Wanita itu nampak tersipu, lalu bangkit dan dengan malu-malu berjalan menghampiri Pangeran Chu Hui San.

Ketika pangeran merangkulnya, iapun mengeluarkan suara lirih dan menyandarkan mukanya ke dada pangeran itu.

"Siapa namamu, manis?" "Nama hamba Bi Kim....." suaranya berbisik dan kini bangkitlah kembali gairah di hati pangeran itu.

Dia menuntun wanita itu ke pembaringan dan benar seperti yang dikatakan Yauw Lu Ta tadi, kini wanita itu sama sekali tidak menolaknya, bahkan melayaninya dengan sukarela dan penuh gairah.

Tentu saja semua itu adalah siasat yang sudah diatur oleh Yauw Lu Ta atau Yaluta, pangeran Mongol itu!

Ketika Kerajaan Mongol belum jatuh, dia masih kecil, baru belasan tahun usianya dan tidak dikenal.

Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu dia menggunakan namanya, hanya diubah sedikit menjadi nama pribumi agar tidak ada yang tahu bahwa dia adalah bekas pangeran Mongol!

Sejak peristiwa di rumah pelesir itu, Pangeran Chu Hui San menerima Yauw Lu Ta yang disebutnya Yauw Siucai menjadi pengawal pr

Post a Comment