ak ada, mewakilkannya kepada murid ini.
Mereka pergi ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang berada di bagian belakang bangunan itu.
Ruangan ini luas dan memang enak sekali untuk bermain silat, penuh dengan alat-alat untuk berolah raga dan berlatih silat.
TAK lama kemudian, kedua orang itu sudah saling berhadapan.
Melihat tuan rumah yang sudah melepas baju luar itu menghadapinya dengan tangan kosong, Sin Wan yang mempunyai niat untuk mengukur ilmu pedang dan kalau mungkin memberi petunjuk, segera memberi hormat dan berkata, "Paman Bhok, aku mendengar bahwa paman adalah seorang pendekar Butong-pai, dan Butong-pai terkenal dengan ilmu pedangnya.
Oleh karena itu, kalau paman tidak berkeberatan, aku ingin sekali merasakan kelihaian ilmu pedang paman dan mengagumi keindahannya." Tentu saja Sin Wan bermaksud lain.
Dia tahu bahwa orang seperti Lili pasti tidak mau bertanding dengan tangan kosong saja melawan orang yang akan dibunuhnya, dan tentu menggunakan pedang ular putih.
Bukankah ia sudah memperlihatkan pedang itu kepada putera puteri panglima itu dan mengancam akan membunuhnya dengan pedang itu?
Lili pasti mempergunakan pedang dan Bhok-ciangkun pasti terpaksa akan melayani dengan pedangnya pula.
Mendengar ucapan Sin Wan, Ci Hwa berseru kaget, "Aih, Wan-twako, kenapa harus dengan pedang?
Bagaimana kalau kalian saling melukai?" Mendengar ini, Bhok-ciangkun mencela puterinya.
"Ci Hwa, masih belum tahukah engkau bahwa orang yang ilmu pedangnya sudah setinggi tingkat Sin Wan, tidak mungkin pedangnya dapat melukai orang tanpa dikehendakinya?
Pedang sudah merupakan bagian ujung dari tangannya, begitulah!" Ci Han dan Ci Hwa tentu saja tahu akan hal itu, namun karena tingkat mereka belum setinggi itu, belum sempurna benar menguasai pedang, maka mereka memandang kagum.
"Baik, Sin Wan.
Mari kita main-main sebentar dengan pedang." Panglima itu lalu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.
Akan tetapi Sin Wan agak meragu, lalu dengan perlahan dia mencabut pedangnya.
"Ihh!
Pedangmu kenapa buruk amat, twako?" kembali Ci Hwa berseru.
Gadis lincah ini begitu terbuka dan terus terang, ini membuktikan bahwa ia memang sudah akrab benar dengan Sin Wan sehingga tidak lagi merasa sungkan.
Kembali Bhok Cun Ki yang tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha, engkau seperti seekor anak burung yang baru belajar terbang, belum mengenal dunia luas, Ci Hwa.
Lihat baik-baik.
Yang dipegang Sin Wan itu adalah sebuah di antara pedang-pedang pusaka paling ampuh di dunia ini.
Itulah Pedang Tumpul yang dahulu menjadi pusaka istana!" "Wahhh.......!!" Ci Han dan Ci Hwa terbelalak kagum.
Mereka sudah mendengar akan pedang pusaka itu yang oleh kaisar dihadiahkan kepada Sam-sian bersama beberapa benda lain.
Sin Wan menggerakkan tangannya dan tahu-tahu pedang itu telah lenyap, menyusup kembali ke dalam sarung pedang.
"Eh, kenapa kau simpan kembali pedangmu, Sin Wan?" "Paman, aku tidak ingin kalau sampai pedangmu rusak oleh pedangku, maka sebaiknya kalau kita menggunakan pedang yang biasa dipakai untuk latihan saja." Dan tiba-tiba tubuhnya sudah meluncur ke arah rak senjata.
Demikian cepat gerakannya dan tahu-tahu dia sudah kembali ke tempat tadi, di depan panglima itu dan membawa dua batang pedang yang biasa dipakai latihan.
Melihat gerakan secepat itu, Bhok Cun Ki dan kedua orang anaknya menjadi kagum, dan panglima itu merasa gembira.
Ketika mendengar bahwa Sin Wan adalah murid Sam-sian dan telah memperoleh kepercayaan seorang sakti seperti Ciu-sian untuk mewakilinya, dia sudah percaya bahwa tentu pemuda itu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi, dia ingin membuktikan sendiri agar yakin bahwa pembantunya ini dapat dipercaya dan diandalkan.
"Bagus, usulmu itu baik sekali, Sin Wan!" katanya dan dia menerima sebatang pedang dari pemuda itu.
Kini mereka saling berhadapan dengan pedang di tangan.
Karena maklum bahwa panglima itu sebagai seorang pendekar Butong tentu lihai sekali ilmu pedangnya, Sin Wan segera memasang kuda-kuda dari ilmu pedang yang dia pelajari dari mendiang Kiam-sian (Dewa Pedang), yaitu Jit-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Sinar Matahari).
Sebaliknya, Bhok-ciangkun memasang kuda-kuda ilmu pedang Butong-pai yang terkenal indah gerakannya namun amat tangguh itu.
"Silakan, paman," kata Sin Wan yang tidak berani bergerak lebih dahulu.
"Ha..ha, engkau terlalu sungkan, Sin Wan.
Nah, aku akan memulai, bersiaplah engkau!" Setelah berkata demikian, panglima itu mengeluarkan bentakan nyaring dan pedang di tangannya sudah bergerak dengan setengah lingkaran, lalu menusuk ke arah dada Sin Wan.
Dengan gerakan tenang, Sin Wan mengelak dan balas menyerang.
Lawannya juga meloncat dan membalas.
Terjadi serangan balas membalas dan duanya mengandalkan kegesitan tubuh untuk mengelak.
Makin lama, semakin cepat gerakan mereka dan pedang di tangan Sin Wan yang menjadi sinar bergulung-gulung itu menyilaukan mata, sesuai dengan nama ilmunya.
Namun lawannya juga tidak kalah cepat gerakannya, pedang di tangan panglima itupun menjadi sinar bergulung-gulung yang kadang-kadang menyambar ke arah lawan.
"Tranggg..........!" Bunga api berpijar ketika untuk pertama kalinya kedua pedang bertemu di udara.
Keduanya merasa betapa telapak tangan mereka tergetar.
Ternyata dalam hal tenaga merekapun berimbang.
Kini kedua pedang itu saling sambar dan kadang bertemu mengeluarkan bunga api, dua gulungan sinar pedang saling belit seperti dua ekor naga berlaga di angkasa.
Setelah lewat tigapuluh jurus, Sin Wan teringat akan maksudnya mengajak bertanding pedang.
Tiba-tiba dia mengubah gerakannya dan kini dia sering bermain silat pedang dengan tubuh direndahkan.
Sinar pedangnya menyambar-nyambar dari bawah, kadang tubuhnya bergulingan di atas lantai dan sinar pedang mencuat dari bawah.
Nampak betapa Bhok-ciangkun terkejut dan agak kewalahan menghadapi serangan-serangan aneh itu.
Setelah beberapa jurus lamanya Sin Wan mendesak, sambil menyapu kedua kaki lawan dengan pedangnya sehingga.
Bhok-ciangkun terpaksa berlompatan, Sin Wan berkata halus, "Lawan ular yang tangguh adalah burung!" Seketika teringatlah Bhok-ciangkun dan diapun tahu mengapa pemuda itu kini mengubah ilmu pedangnya walaupun tadi pemuda itu tidak terdesak.
Mendengar kata "ular" ingatlah Bhok-ciangkun bahwa sore nanti dia harus bertanding melawan gadis yang datang dari Bukit Ular.
Maka, dia pun cepat mengubah ilmu pedangnya dan kini gerakannya menggunakan banyak loncatan dan pedangnya menyambar-nyambar dari atas bagaikan seekor burung yang menandingi seekor ular!
Setelah lewat duapuluh jurus, Sin Wan mengubah lagi ilmu pedangnya dan kembali menggunakan Jit-kong-kiamsut seperti tadi.
Dan Bhok-ciangkun sudah cukup puas.
Dia tadi pernah mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, namun semua serangannya dapat dipatahkan oleh Sin Wan.
Dia tidak tahu apakah pemuda itu dapat mengalahkannya, akan tetapi yang jelas baginya, untuk dapat mengalahkan pemuda itu, agaknya akan merupakan hal yang amat sukar baginya.
Dan ini sudah memuaskan hatinya.
Diapun meloncat agak jauh ke belakang.
"Cukuplah, Sin Wan," katanya sambil tersenyum.
"Sekarang aku tahu benar betapa lihainya murid dari Sam-sian!" "Paman, ilmu pedang paman juga hebat dan indah, aku mengaku kalah," kata Sin Wan.
Dengan sopan dia lalu menghampiri panglima itu, menerima pedangnya dan mengembalikan kedua pedang itu di rak senjata.
"Sin Wan, terima kasih atas petunjukmu tadi," kata Bhok Cun Ki.
Kedua orang anaknya tidak mengerti apa yang terjadi, akan tetapi Sin Wan hanya tersenyum dan tidak menjawab.
Setelah mendengar keterangan Bhok Cun Ki tentang tanda-tanda rahasia untuk mengenal anak buah panglima itu yang disebar sebagai penyelidik di kota raja, Sin Wan lalu pergi ke kamarnya untuk membuat persiapan.
Dia akan memulai dengan tugasnya hari itu juga, melakukan penyelidikan di kota raja dalam usahanya membantu Bhok-ciangkun memberantas jaringan mata-mata Mongol.
Ketika dia hendak meninggalkan kamarnya setelah bertukar pakaian yang tadi basah oleh keringat, dia bertemu Ci Han dan Ci Hwa di ruangan depan kamarnya.
Agaknya kakak dan adik itu sengaja mencarinya, Sin Wan menyambut mereka dan tiga orang muda itu duduk di ruangan itu.
"Twako, ajaklah aku melakukan, penyelidikan agar menambah luas pengetahuanku!" Ci Han membujuk.
Sin Wan tersenyum.
"Bagaimana mungkin, Han-te (adik Han).
Pekerjaanku adalah penyelidik, dan dalam hal ini aku beruntung bahwa di kota raja tidak ada orang mengenalku.
Ini memudahkan pekerjaanku, karena aku akan dapat bergerak dengan leluasa, melakukan pengamatan terhadap siapa saja yang kuamati.
Akan tetapi engkau adalah seorang pemuda yang dikenal siapa saja di kota raja.
Orang-orang yang kita curigai, siang-siang sudah berjaga diri dan bersikap hati-hati kalau melihat engkau muncul.
Maaf aku terpaksa tidak dapat membawawu serta, Han-te." "Akupun tadinya ingin ikut untuk menambah pengalaman, twako.
Akan tetapi mendengar alasanmu tadi, aku mengerti bahwa pekerjaanmu harus dilakukan secara rahasia, dan kami berdua tak mungkin menyembunyikan keadaan diri kami.
Eh, Han-koko, kalau tidak mungkin kita bekerja sama dengan kakak Sin Wan, sebaiknya kita bekerja sendiri-sendiri saja membantu ayah.
Aku akan pergi seperti sedang pesiar atau berjalan-jalan, akan tetapi mulai sekarang aku akan waspada.
Siapa tahu aku akan dapat menangkap seorang mata-mata Mongol." "Hwa-moi, engkau jangan main-main.
Pekerjaan ini bukan pekerjaan ringan.
Menurut ayah, kalau orang Mongol mengirim mata-mata, sudah pasti dia lihai sekali!" "Aku tidak takut!
Kita di kota raja, takut apa?
Semua orang akan membantuku!" Kakak beradik itu lalu meninggalkan Sin Wan akan tetapi tidak lama kemudian Ci Hwa, muncul lagi, kini sendirian saja.
"Wan-twako, ada sebuah hal yang ingin kubicarakan denganmu berdua saja." "Ehh?
Apakah itu, Hwa-moi?
Duduklah dan ceritakanlah yang hendak kaubicarakan," jawab Sin Wan dan kembali mereka duduk di tempat tadi.
"Twako, aku khawatir sekal