yang jelas apa yang terjadi.
Sin Wan mari silakan duduk," kata panglima itu dengan sikap serius, dan mereka lalu duduk mengelilingi meja diserambi depan.
"Tentu saja kami marah mendengar ia hendak menbunuhmu, ayah.
Kami minta penjelasan mengapa ia hendak melakukan hal itu, akan tetapi ia tidak mau mengaku dan akhirnya kami berkelahi, maksudku.....
kami berdua mengeroyoknya." "Hemmm......" Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya.
Putera dan puterinya yang sudah digembleng sejak kecil dan telah memiliki ilmu silat tinggi dan jarang menemui lawan yang dapat menandinginya, kini tidak malu bercerita bahwa mereka mengeroyok seorang gadis?
Dua orang muda itu agaknya mengerti apa yang membuat ayah mereka kelihatan tidak senang.
(Lanjut ke Jilid 06) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.
Kho Ping Hoo "Ayah, tadinya Hwa-moi yang menandinginya, akan tetapi melihat Hwa-moi terancam, akupun maju dan kami mengeroyoknya.
Ia lihai bukan main, ayah.
Biarpun kami mengeroyok dua, kami....
kami sempat roboh.
Hwa-moi hendak melanjutkan dengan pedang, akan tetapi aku melarangnya.
Gadis itu lalu meninggalkan pesan, menantang ayah agar besok ayah dan ia mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu Naga di luar kota." Bhok Cun Ki menger"tkan alisnya dan meraba-raba jenggotnya yang pendek, mengingat-ingat.
Rasanya tidak pernah dia bermusuhan dengan seorang gadis muda!
"Apakah ia sama sekali tidak menceritakan mengapa ia memusuhiku?" "Tidak, ayah," kata Ci Hwa.
"Hanya ia memperlihatkan sebatang pedang ular kepada kami dan mengatakan bahwa ia membawa pedang ular putih itu untuk membunuh ayah." "Sebatang pedang ular?
Putih?
Bukan hitam?" Tiba-tiba wajah panglima itu berubah.
"Yakinkah engkau bahwa itu adalah pedang ular putih, bukan pedang ular hitam?" "Pedang ular putih, ayah," kata Ci Hwa.
"Ia mencabutnya dan kami berdua melihatnya." "Dan namanya?
Ia menyebutkan namanya?" "Ia hanya bilang bahwa kami boleh menyebut namanya Lili dan......" Ci Hwa tidak melanjutkan ucapannya karena mereka bertiga mendengar seruan kaget dari Sin Wan.
Bhok Cun Ki memandang wajah Sin Wan penuh selidik.
"Kenapa, taihiap?
Engkau mengenal gadis itu?" Sin Wan mengangguk.
"Kalau tidak salah, aku pernah bertemu dengan gadis bernama Lili, dan kalau tidak salah, memang pedangnya berupa pedang ular putih, kalau pedang ular hitam adalah senjata gurunya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In." "Ahhh....
ahhh....
benar ia...., Ci Han, Ci Hwa, ingat baik-baik, apakah gerakan silat gadis itu seperti gerakan seekor ular?" "Benar sekali, ayah!" kata dua orang muda itu hampir berbareng dan mereka memandang ayah mereka dengan gelisah karena ayahnya kini menjadi pucat sekali wajahnya.
"Ilmu silat dari See-thian Coa-ong," kata pula Sin Wan dan Bhok-ciangkun yang memandang kepadanya mengangguk-angguk, wajah yang pucat itu nampak muram.
"Ayah, kita hadapi bersama gadis itu kalau memang ia terlalu berbahaya untuk ayah!" kata Ci Hwa penasaran.
"Tidak!" tiba-tiba suara Bhok-ciangkun menggelegar, mengejutkan dua orang anaknya dan mengherankan hati Sin Wan.
"Urusanku dengan gadis itu adalah urusan pribadi dan tak seorangpun boleh mencampurinya, biar dia anakku sendiri sekalipun." "Tapi, kenapa, ayah?" tanya Ci Han penasaran.
"Kami adalah anak-anakmu, ayah.
Kami berhak mengetahui dan kami berhak mencampuri dan melindungi ayah!" kata pula Ci Hwa yang lebih berani karena lebih dimanja ayahnya.
Panglima itu menggeleng kepala.
Sekali ini tidak.
Urusan ini adalah urusanku dahulu sebelum kalian lahir, jadi kalian tidak boleh mencampuri.
Biar aku sendiri yang akan menyelesaikannya besok," kata panglima itu, akan tetapi dia tidak nampak bersemangat bahkan kelihatan lesu dan murung.
"Maaf, ciangkun.
Bukan aku bermaksud lancang mencampuri.
Akan tetapi aku mengenal gadis itu dan kalau ciangkun suka memberitahu persoalannya, kukira aku akan dapat membujuknya agar ia tidak melanjutkan tantangannya." Bhok-ciangkun menghela napas panjang, memandang kepada Sin Wan, lalu kepada kedua orang anaknya, dan dia menggeleng kepala.
"Tidak, engkaupun tidak boleh mencampuri, taihiap.
Ketahuilah kalian bertiga, aku sama sekali bukannya takut menghadapi lawan yang manapun juga, akan tetapi ini......
ini urusan pribadi.
Taihiap, aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, nah, mengertikah engkau?" Sin Wan mengangguk-angguk.
Biarpun tidak tahu urusannya, namun dia dapat menduga bahwa munculnya Lili yang hendak membunuh panglima itu, tentu ada hubungannya dengan masa lalunya pada waktu mana panglima itu agaknya telah melakukan sesuatu yang membuat menyesal dan kini dia siap mempertanggung-jawabkan!
Maka diapun diam saja.
"Nah, sekali lagi, kalian bertiga besok sore sama sekali tidak boleh menemaniku ke sana, juga tidak boleh mengikuti dan membayangiku.
Mengerti?
Aku akan marah sekali dan tidak dapat memaafkan siapa saja yang membayangiku dan mencampuri urusan pribadi ini." Dengan alis berkerut, kedua orang muda itu mengangguk, dan Sin Wan segera memberi hormat.
"Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu, ciangkun." "Terima kasih dan maafkan aku, taihiap.
Nah urusan ini tidak boleh kalian beritahukan ibu kalian, mengerti?
Ci Han, antarkan Sin Wan taihiap ke kamar tamu dan suruh pelayan melayaninya baik-baik.
Selamat malam, taihiap.
Besok pagi-pagi saja kita bertemu di ruangan makan pagi dan kita lanjutkan perundingan kita tentang tugas kita berdua.
Selamat malam.
Oh ya, malam ini biar kedua anakku yang menemanimu makan malam." Panglima itu lalu meninggalkan mereka, masuk ke dalam.
Tiga orang muda itu lalu duduk kembali di serambi depan, masih merasa tegang.
"Aneh sekali kenapa ayah tidak membiarkan kita membantu?
Apakah ayah sudah tidak percaya lagi kepada kita?" Ci Hwa mengomel kepada kakaknya.
"Ada orang mengancam hendak membunuh ayah dan kita tidak boleh mencampurinya.
Bagaimana mungkin ini?
Setidaknya, kalau kita melihat pertand"ngan itu, kita tidak akan segelisah kalau ditinggal di sini dan menanti-nanti ayah pulang." Ci Han juga berkata kepada adiknya.
"Sebaiknya kalau ji-wi (anda berdua) tidak gelisah.
Aku yakin bahwa Bhok-ciangkun dapat melindungi dan membela diri pasti akan dapat menyelesaikan urusan itu dan dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan." Kakak beradik itu seperti baru teringat bahwa di situ ada orang lain.
Mereka lalu memandang kepada Sin Wan.
"Ayah menyebutmu taihiap (pendekar besar), tentu engkau lihai sekali dan mempunyai banyak pengalaman.
Engkau tadipun mengenal gadis jahat itu!
Ceritakanlah kepada kami, siapa sebenarnya Lili itu dan orang macam apa?
Siapa pula itu Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan siapa pula See-thian Coa-ong?" tanya Ci Hwa sambil memandang wajah Sin Wan penuh selidik.
Mereka duduk berhadapan, terhalang meja dan Sin Wan harus mengakui diam-diam dalam hatinya bahwa gadis ini cantik sekali, cantik jelita dan memiliki sifat kelembutan yang mengingatkan dia kepada sumoinya, yaitu Lim Kui Siang yang kini tinggal di Peking menjadi kepala pengawal wanita untuk keluarga Raja Muda Yung Lo.
Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa setiap kali bertemu seorang gadis cantik, otomatis wajah Kui Siang terbayang di depan matanya?
Melihat Sin Wan seperti melamun dan hanya memandang wajah adiknya, Ci Han segera mendesak, "Benar adikku, taihiap.
Kamipun ingin sekali mengetahui siapakah mereka itu, orang-orang yang kini agaknya hendak memusuhi ayah.
Atau taihiap tidak sudi menceritakan dan ingin kuantar sekarang juga ke kamar tamu?" Sin Wan baru sadar dari lamunannya dan diapun tersenyum.
"Kuharap ji-wi tidak lagi menyebutku taihiap.
Sebutan itu terlalu besar dan tinggi bagiku.
Bagaimana kalau kita saling sebut seperti saudara saja?
Kalau ji-wi tidak merasa direndahkan tentu saja.
Atau lebih suka kalau aku menyebut kongcu (tuan muda) dan siocia (nona muda) kepada ji-wi?" "Memang kita tidak perlu berbasa-basi.
Setelah engkau menjadi pembantu kepercayaan ayah, tentu akan banyak bergaul dengan kami.
Nah, kusebut engkau twa-ko (kakak besar), bagaimana?
Dan engkau menyebut aku siauw-moi (adik kecil)." "Dan engkau boleh menyebut aku siauw-te (adik kecil), Wan-twako (kakak Wan)!" kata pula Ci Han.
"Nah, setelah kita menjadi sahabat akrab, bolehkah kami mendengarkan penjelasanmu?" Sin Wan tersenyum girang.
Dua orang putera panglima ini seperti ayah mereka.
Begitu sederhana, tidak berlagak seperti biasanya anak-anak bangsawan.
"Baiklah, Han-te dan Hwa-moi.
Aku mengenal gadis liar itu yang bernama Lili.
Memang ia liar dan galak, akan tetapi ia bukan orang jahat," Sin Wan teringat akan pertemuannya dengan Lili, betapa ia disiksa dan diikat, dijadikan umpan bagi harimau.
Akan tetapi betapa Lili kemudian menyelamatkannya, dan betapa gadis itu mengaku cinta, akan tetapi juga mengaku benci.
Gadis liar memang!
Akan tetapi dia tidak mungkin dapat menganggap Lili sebagai gadis jahat.
"Hemm, ia hendak membunuh ayahku dan ia tidak jahat?" Ci Hwa mencela.
"Teruskan, twako.
Siapa itu Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In dan siapa pula itu See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat)?" tanya Ci Han.
"Huh, serba ular!
Mengerikan!" kata Ci Hwa bergidik.
"Dan gerakan Lili itupun seperti ular, tentu ia siluman ular!" "Setahuku, Bi-coa Sianli Cu Sui In adalah guru dari Lili, dan Dewi Ular Cantik itu puteri dari See-thian Coa-ong, datuk yang amat lihai dan yang tinggal di Bukit Ular.
Keluarga itu memang lihai sekali." "Seorang datuk sesat, tokoh golongan hitam?" tanya Ci Han.
Sin Wan menggeleng kepalanya.
"Hal itu aku tidak tahu jelas, karena datuk-datuk seperti See-thian Coa-ong itu tidak dapat digolongkan hitam atau putih.
Dia hanya mementingkan diri sendiri.
Baik golongan hitam maupun putih, kalau dianggap merugikan, akan ditentang, sebaliknya tanpa memperdulikan golongan, kalau dianggap sahabat, akan dibela mati-matian." "Ihh!
Kalau begitu, lebih berbahaya dari pada golongan hitam yang sesat!" kata Ci Hwa.
"Kenapa begitu, Hwa-moi?" tanya Ci Han.
"Kalau datuk sesat sudah