Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 27

Memuat...

n tantangan kepada Bhok Cun Ki agar besok sore mereka mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu di luar kota raja.

Ya-kongcu mendengarkan dan nampak kagum sekali.

"Engkau sungguh gagah perkasa dan pemberani, nona Lili.

Akan tetapi kalau engkau hendak membunuh panglima Bhok Cun Ki, setelah tiba di rumahnya dan bertemu dengan dua orang anaknya, kenapa engkau tidak membunuh mereka?" Lili menunda makannya, memandang wajah pemuda itu dan mengerutkan alisnya, "Kenapa aku harus membunuh mereka, kongcu?

Urusanku ini hanya menyangkut diri pribadi Bhok Cun Ki, tidak ada hubungannya dengan keluarganya.

Tidak, aku tidak mau membunuh orang lain, kecuali Bhok Cun Ki seorang!" Melihat sikap Lili, Ya-kongcu mengangguk-angguk, di dalam hati mencatat watak dan pendirian Lili.

Gadis ini tidak dapat disamakan dengan tokoh-tokoh dunia hitam yang lain.

Walaupun datang dari lingkungan datuk sesat, murid dari datuk See-thian Coa-ong, namun watak gadis ini lebih mendekati watak seorang pendekar.

Dia harus berhati-hati menghadapi seorang seperti ini.

Kalau Lili seorang tokoh sesat, amat mudahlah menanganinya.

Cukup dengan pemberian hadiah-hadiah berharga, dia akan dapat mempergunakan tenaga seorang datuk sesat sekalipun.

Akan tetapi gadis ini lain!

Karena itu, ia menolak ketika hendak dibantu menghadapi Bhok Cun Ki.

"Akan tetapi, nona.

Aku tahu bahwa nona lihai sekali, hanya aku mendengar dari para pembantuku bahwa Bhok Cun Ki adalah seorang ahli pedang yang amat tangguh.

Dia adalah seorang murid Butong-pai yang sukar dikalahkan.

Aku khawatir kalau besok sore engkau melawannya......." Lili tersenyum dan Ya-kongcu terpesona.

Dia bukan seorang pemuda hijau, sama sekali tidak.

Usianya sudah tigapuluh lima tahun dan dia sudah mempunyai banyak pengalaman hidup, juga dengan wanita.

Dia pernah bergaul dengan wanita yang bagaimanapun juga.

Akan tetapi baru sekarang dia bertemu dengan gadis seperti ini, dan senyumnya demikian menawan, membuat jantungnya berdebar penuh gairah.

Bagaimanapun, belum pernah dia mempunyai kekasih seorang gadis perkasa dan aneh seperti Lili!

"Engkau mengkhawatirkan aku kalau kalah melawan Bhok Cun Ki, kongcu?

Aihh, apa yang harus dikhawatirkan?

Kalah menang dalam pertandingan adalah hal yang lumrah dan biasa saja.

Kalau tidak menang tentu kalah dan kalau tidak kalah ya menang!

Apa bedanya?

Yang terpenting bagiku adalah memenuhi tugas ini.

Kalau aku sudah berhadapan dan bertanding dengan dia, cukuplah.

Menang kalahnya terserah keadaan nanti, akan tetapi tentu saja aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku dan untuk itu aku sudah membuat persiapan matang." "Aku yakin engkau akan menang, nona.

Dan untuk itu, aku ikut mendoakan dengan tiga cawan anggur!" Dia mengangkat cawan anggurnya, disambut oleh Lili dan mereka minum beruntun sampai tiga kali.

Sementara itu, di rumah keluarga Bhok, panglima Bhok Cun Ki malam itu pulang bersama Sin Wan.

Dalam perjalanan pulang ke gedung keluarga Bhok ini, Sin Wan bercakap-cakap dengan panglima itu dan diam-diam dia kagum.

Panglima ini seorang yang cerdik dan berpemandangan luas, juga berwatak pendekar, rendah hati dan mengenal dunia kang-ouw secara luas.

Oleh karena itu, dia merasa girang sekali bahwa Jenderal Shu Ta telah memberi tugas kepadanya agar bekerja sama dan membantu panglima ini.

Mula-mula dia merasa ragu apakah panglima ini memiliki pandangan yang sama dengan Jenderal Shu Ta bahwa dia seorang keturunan asing, bukan orang Han aseli, melainkan keturunan Uighur.

Jangan-jangan panglima ini mempunyai pandangan yang dangkal seperti yang dikemukakan Jenderal Yauw Ti tadi, yang menaruh curiga kepada orang yang bukan aseli dan menganggap bahwa dalam hati seorang keturunan Uighur tidak mempunyai kesetiaan terhadap pemerintah Han!

Dia sengaja memancing, dalam perjalanan itu dia bertanya kepada Bhok-ciangkun tentang hal itu.

"Ciangkun, bagaimana pendapat ciangkun tentang ucapan Jenderal Yauw Ti tadi, mengenai kenyataan bahwa aku bukanlah seorang pribumi, bukan orang Han melainkan keturunan Uighur, keturunan asing?

Agaknya Jenderal Yauw Ti meragukan kesetiaanku terhadap negara." Bhok Cun Ki tersenyum.

"Kesetiaan seseorang, bahkan lebih luas lagi, baik buruknya seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh kebangsaan, keturunan atau keadaan lahiriyahnya, taihiap.

Dalam setiap kelompok, keturunan, suku atau bangsa, bahkan kelompok agama sekalipun, di situ pasti terdapat orang yang baik dan orang yang tidak baik, seperti adanya orang yang sehat dan orang yang sakit.

Karena itu, menilai seseorang dari keadaan lahiriahnya saja merupakan penilaian yang salah sama sekali.

Dan khususnya mengenai keturunan, aseli dan tidak aseli, bagaimana ukurannya?

Aku sendiri tidak tahu nenek moyangku ini keturunan apa dan dari mana.

Aku tidak tahu apakah darahku ini dari satu keturunan yang aseli ataukah sudah campuran.

Apa bedanya?

Seseorang hanya dapat dinilai dari perbuatannya, sepak terjangnya dalam hidup.

Itu saja!

Kalau menilai dari segi lain, bahkan dari sikapnya atau kata-katanya sekalipun, hal itu masih belum meyakinkan, karena sikap dan kata-kata dapat saja dibuat-buat.

Akan tetapi perbuatan dan sepak terjang yang berkelanjutan dalam hidup, merupakan kenyataan yang tidak bisa dibuat-buat." "Kalau begitu, di dalam hati ciangkun tidak mempunyai perasaan tidak senang dan berprasangka buruk terhadap diriku dan orang-orang bukan pribumi Han?" Panglima itu menggeleng kepala.

"Sudah kukatakan, aku memandang seseorang dari perbuatannya pribadi, bukan dari golongan dan kebangsaannya.

Tentu saja ini merupakan pandangan pribadiku.

Dalam pandanganku sebagai seorang panglima, tentu saja jalan pikiranku lain lagi, harus disesuaikan dengan kepentingan negara.

Kalau ada kelompok yang memusuhi pemerintah, tentu saja mereka akan kuhadapi sebagai musuh, lepas dari pada permusuhan antara pribadi.

Mengertikah engkau, taihiap?" Sin Wan mengangguk dan pandang matanya mencorong penuh kekaguman.

"Ciangkun adalah seorang bijaksana, aku merasa gembira sekali dapat bekerja sama denganmu." Panglima itu tertawa.

"Ha..ha..ha, sudah lama aku mengagumi Sam-sian, dan sekarang dapat bekerja sama dengan murid mereka, tentu saja hal itu merupakan suatu kebanggaan bagiku." Akan tetapi ketika mereka tiba di rumah keluarga Bhok, mereka disambut dengan wajah berkerut penuh ketegangan oleh Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa.

Sejak tadi pemuda dan gadis itu menanti pulangnya ayah mereka untuk melaporkan peristiwa yang amat menggelisahkan hati mereka itu, namun melihat ayah mereka pulang bersama seorang pemuda asing, mereka memandang dengan penuh perhatian dan tidak berani segera menceritakan di depan pemuda asing itu.

"Ayah, siapakah saudara ini?" Ci Han bertanya.

Adiknya, Ci Hwa, juga memandang penuh perhatian kepada pemuda itu.

"Taihiap, perkenalkan, ini adalah putera dan puteriku, Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa.

Kalian ketahuilah bahwa ini adalah murid Sam-sian, bernama Sin Wan, oleh Jenderal Shu Ta dia diangkat menjadi pembantuku dalam sebuah tugas penting." Pemuda dan gadis itu memandang penuh perhatian.

Pemuda yang diangkat menjadi pembantu ayahnya ini sama sekali tidak mengesankan, tidak nampak sebagai seorang perajurit, apalagi pendekar, walaupun ayah mereka memperkenalkannya sebagai murid Sam-sian.

Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya agak gelap, tidak seperti kulit pemuda Han biasa, dan ketampanan wajahnya juga lain, agak asing.

Dahinya lebar, alisnya tebal berbentuk golok dan mata yang lebar bersinar itu terlalu hitam, hidungnya juga terlalu tinggi dan agak besar.

Namun Ci Hwa mengakui dalam hatinya bahwa pemuda ini memang memiliki kejantanan walaupun lembut, seperti seekor harimau jantan yang sudah jinak.

Dan melihat Sin Wan merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat, Ci Han dan Ci Hwa cepat membalas penghormatan itu.

"Mana ibu kalian?

Kenapa tidak berada dengan kalian menanti pulangku di sini?" tanya Bhok-ciangkun yang merasa heran karena biasanya, isterinya tentu bersama dua orang anaknya itu menanti kepulangannya di serambi depan.

"Tidak, ayah.

Ibu berada di dalam dan memang kami sengaja menanti ayah berdua saja karena kami mempunyai berita yang teramat penting." kata Ci Han.

"Hemm, berita apa yang begitu penting sehingga ibumu tidak dibawa serta mendengarnya?" tanya ayah mereka sambil tersenyum.

"Ayah......," Ci Hwa berkata dan matanya melirik ke arah Sin Wan.

Mengertilah Bhok-ciangkun, dan dia tertawa.

"Ha..ha..ha, jangan khawatir.

Kalau ada berita penting bagaimanapun, katakan saja.

Sin Wan Taihiap adalah seorang kepercayaan Sribaginda Kaisar sendiri, mewakili gurunya, maka tidak ada rahasia baginya.

Katakanlah, apa yang telah terjadi?

Tidak seperti biasa, malam ini kalian kelihatan begini tegang.

Ada apa?" "Ayah, sore tadi kami kedatangan seorang tamu.

Tadinya ia ingin bertemu denganmu, akan tetapi ketika diberitahu bahwa ayah tidak berada di rumah, ia memaksa hendak bertemu dengan keluarga ayah.

Bahkan ia memaksa masuk ke pekarangan dan lima orang penjaga yang hendak mencegahnya, dipukulnya roboh.

Lalu tamu itu menemui kami berdua yang sedang berlatih silat di taman." Bhok-ciangkun mengerutkan alisnya.

"Begitu beraninya?

Siapakah tamu itu?" "Ia seorang gadis cantik, usianya sekitar duapuluhtiga tahun....." "Lalu bagaimana?

Teruskan!" Bhok-ciangkun merasa tertarik dan juga heran sekali.

Ada seorang gadis cantik yang memaksa memasuki tempat tinggalnya!

Sungguh aneh dan betapa beraninya.

"Setelah bertemu kami, kami bertanya apa maksudnya mencari ayah dan ia menjawab bahwa ia....

ia......" Ci Han tergagap.

"Ia ingin membunuhmu ayah." Ci Hwa melanjutkan.

Bhok-ciangkun membelalakkan matanya.

Kalau dia mendengar ada orang-orang hendak membunuhnya, hal itu memang tidak aneh karena tentu banyak orang memusuhinya, baik sebagai seorang pendekar Butong-pai yang sudah banyak membasmi kawanan penjahat, maupun sebagai panglima yang sering memimpin pasukan bertempur.

Akan tetapi seorang gadis muda mencarinya dan hendak membunuhnya?

Luar biasa!

"Ceritakan

Post a Comment