Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 26

Memuat...

ku dapat mengukur sampai di mana kelihatan ayah kalian." Ci Hwa tidak perduli lagi.

Begitu pukulannya luput, ia sudah melanjutkan dengan serangan bertubi yang ganas.

Namun, Lili beberapa kali mengelak dan ketika ia menyambut sebuah tamparan dengan lengan kirinya, dua buah lengan yang sama-sama mungil berkulit halus bertemu dengan kuatnya.

"Dukk!" Tubuh Ci Hwa terhuyung.

Hal ini bukan saja mengejutkan Ci Hwa, akan tetapi juga membuat Ci Han khawatir sekali akan keselamatan adiknya, maka diapun meloncat dan melindungi adiknya dengan sebuah dorongan tangan ke arah pundak Lili.

"Plakk!" Lili menangkis dengan lengan melingkar, dan kini Ci Han yang hampir terpelanting!

Tentu saja dia terkejut dan tahu bahwa gadis manis itu tidak membual atau menyombong ketika mengeluarkan ucapan mengancam ayahnya, karena memang ia lihai bukan main.

Dia dan adiknya lalu mengeroyok Lili dan terjadilah perkelahian yang seru.

Namun segera ternyata bahwa Lili memang memiliki tingkat kepandaian silat yang lebih tinggi dari pada kakak beradik itu.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Lili mendesak mereka dengan ilmu silatnya yang aneh.

Tubuhnya begitu lentur dan berlenggang-lenggok seperti tubuh seekor ular saja.

Memang ilmu silatnya adalah ilmu silat yang dasarnya meniru gerakan seekor ular.

Bukan hanya tubuh yang meliuk-liuk seperti tubuh ular, juga kedua lengannya ketika menangkis dan menyerang seolah gerakan dua ekor ular yang gesit kuat dan cepat sekali.

Lili hanya dipesan subonya untuk membunuh Bhok Cun Ki.

Oleh karena itu, ketika menghadapi dua orang putera dan puteri musuh besar subonya itu, ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencelakai atau membunuh mereka.

Karena itulah maka Lili tidak mengerahkan tenaga yang mengandung racun.

Bahkan ketika ia memperoleh kesempatan, ia hanya merobohkan Ci Hwa dengan totokan dengan ujung kaki pada belakang lutut Ci Hwa dilanjutkan dorongan kakinya membuat Ci Hwa terjengkang, dan ketika Ci Han memukul ke arah dadanya, ia mengelak, tangan kirinya menangkap dan lengannya, seperti seekor ular, telah membelit lengan pemuda itu!

Ci Han terkejut, dan kesempatan ini dipergunakan Lili untuk membantingnya ke samping dan pemuda itupun terpelanting.

Ci Hwa yang merasa penasaran sudah meloncat ke arah rak senjata untuk mengambil pedangnya yang tadi ia taruh di situ ketika latihan, diikuti kakaknya.

Akan tetapi ketika ia menyambar pedangnya, lengannya dipegang oleh Ci Han.

Ia menengok dan kakaknya menggeleng kepala sambil memandang kepadanya.

"Jangan, moi-moi (adik), tidak perlu kita menggunakan senjata." Melihat itu, Lili tertawa walaupun di dalam hatinya, ia merasa suka kepada kakak beradik itu.

Tadi, kakak beradik itu melawannya berdua tanpa menimbulkan keributan, ini saja menunjukkan bahwa mereka memang memiliki wajah yang gagah.

Kalau tidak demikian, apa sukarnya bagi mereka untuk berteriak atau memberi tanda agar para pasukan pengawal datang mengeroyoknya?

Dan sekarang, si kakak itu melarang adiknya menggunakan senjata, inipun merupakan bukti bahwa mereka, biarpun putera dan puteri seorang panglima, namun agaknya tidak biasa membonceng kedudukan ayah untuk bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain.

"Kakakmu itu benar, tidak perlu kita menggunakan senjata, sudah cukup bagiku menguji kepandaian kalian.

Aku tidak bermaksud membunuh kalian atau siapa saja, kecuali Bhok Cun Ki!" "Kalau engkau tidak bermaksud mengganggu keluarga ayah kami, kenapa tadi engkau mencari keluarga ayah?" Ci Han bertanya sedangkan Ci Hwa memandang dengan mata melotot marah.

"Ketika penjaga di luar mengatakan bahwa Bhok Cun Ki tidak ada, aku tidak percaya dan aku ingin bertemu dengan keluarganya, hanya untuk bertanya di mana adanya Bhok Cun Ki.

Aku tadipun tidak bermaksud untuk mengajak kalian berkelahi." "Ayah memang tidak berada di rumah." "Ke mana dia pergi?" Sepasang mata yang amat tajam itu seperti hendak menembus dan menjeguk isi hati Ci Han melalui matanya.

"Kami tidak tahu benar.

Ayah kami sedang melaksanakan tugas dan hal itu tidak dapat dibicarakan dengan siapapun juga." "Hemm, aku percaya padamu.

Sinar mata dan suaramu tidak membohong.

Akan tetapi, kapan dia pulang?" tanya pula Lili.

"Itupun kami tidak tahu dengan pasti.

Mungkin malam nanti, mungkin juga besok pagi.

Akan tetapi, kenapa engkau hendak membunuh ayah kami?

Siapakah engkau dan dari mana engkau datang?" Lili tersenyum.

"Tidak perlu kujelaskan, akan tetapi kalau ayah kalian pulang, katakan saja kepadanya bahwa aku menantangnya untuk mengadu nyawa pada besok sore di puncak bukit Bambu Naga.

Katakan saja bahwa aku membawa benda ini untuk memcabut nyawanya!" Berkata demikian, tangan kanannya bergerak, nampak sinar putih berkelebat dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor ular putih.

Hanya sebentar saja kakak beradik itu melihat pedang itu, karena dengan gerakan secepat kilat, pedang itu telah kembali masuk ke dalam sarungnya dan Lili meninggalkan tempat itu dengan melompat dan tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebat.

Kakak beradik itu saling pandang dan merasa kagum, juga khawatir sekali.

Gadis tadi harus mereka akui amat lihai.

Walaupun mereka yakin bahwa ayahnya juga amat lihai, namun mereka tetap khawatir karena selain gadis itu akan merupakan lawan tangguh ayahnya, juga mereka mengenal watak ayah mereka.

Biarpun dia sudah menjadi seorang panglima, namun tetap saja ayah mereka itu berwatak pendekar.

Sebagai seorang laki-laki jantan, apalagi yang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, bagaimana ayahnya akan suka melawan seorang gadis muda yang menantangnya?

Dengan hati merasa penasaran, kakak beradik itu lalu pergi ke luar untuk menegur para penjaga mengapa mereka membolehkan gadis tadi masuk dan di tempat itu baru mereka mengerti betapa gadis itupun telah menghajar lima orang yang bertugas jaga di luar ketika mereka hendak mencegah ia memasuki pekarangan!

"Kalian berenam tidak perlu bicara kepada siapapun mengenai kunjungan gadis tadi, biar kami yang akan melapor kepada ayah.

Awas, kalau ada di antara kalian yang membocorkan berita tentang peristiwa tadi, kalian akan dihukum berat!" kata Ci Han kepada mereka.

Enam orang perajurit itu memberi hormat.

"Baik, kongcu.

Kami tidak akan bicara kepada siapapun tanpa ijin kongcu dan siocia." Setelah menyuruh seorang penjaga mengambil rak senjata dari taman, kakak beradik itu lalu memasuki rumah.

Kepada ibu merekapun mereka tidak bercerita tentang peristiwa tadi.

Ibu mereka adalah seorang wanita yang lemah dan halus perasaannya.

Mereka tidak ingin melihat ibu mereka menjadi gelisah kalau mendengar ancaman dari gadis tadi.

Mereka akan menanti sampai ayah mereka pulang.

Tidak mengherankan kalau Lili dapat menemukan rumah Bhok Cun Ki sedemikian mudahnya.

Gadis ini telah bertemu dan bersahabat dengan Pangeran Yaluta yang dikenalnya sebagai Ya Lu Ta atau Ya-kongcu.

Karena pangeran yang dianggapnya seorang pemuda yang kaya raya dan ramah tamah itu bersikap baik, bahkan menghukum anak buahnya sendiri yang kurang ajar kepadanya, kemudian Ya-kongcu menjanjikan untuk mendukung See-thian Coa-ong Cu Kiat menjadi bengcu dalam pemilihan di Thai-san tahun depan, bahkan berjanji akan membantunya mencarikan Bhok Cun Ki, maka Lili mau menjadi sahabatnya.

Ia mau pula diajak melakukan perjalanan bersama ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan sikap Ya-kongcu amat baik, ramah dan penuh hormat kepadanya.

Lili yang belum banyak mengenal dunia ramai, dengan mudah saja tunduk dan menganggap Ya-kongcu sebagai seorang yang baik dan patut dijadikan sahabat.

Di Nan-king, Lili tidak perlu repot-repot.

Anak buah Ya-kongcu sudah menyediakan sebuah kamar di hotel terbesar, dan beberapa hari kemudian ia bahkan memperoleh petunjuk di mana adanya musuh besar bekas gurunya yang kini menjadi sucinya itu.

Bhok Cun Ki telah menjadi seorang panglima dan tinggal di sebuah gedung besar, tidak tinggal di dalam benteng.

Begitu mudahnya!

Oleh karena itu, ia segera pada sore hari itu datang berkunjung seorang diri karena ia menolak tawaran Ya-kongcu untuk mengirim pembantu menemaninya "Terima kasih, Ya-kongcu," katanya menolak halus.

"Bantuanmu menemukan tempat tinggal Bhok Cun Ki saja sudah merupakan budi besar, dan urusanku dengan Bhok Cun Ki adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri orang lain.

Aku akan mengunjunginya seorang diri saja." Demikianlah, sore itu ia datang berkunjung ke rumah keluarga Bhok, bahkan sempat menguji kepandaian putera dan puteri musuh besar sucinya itu dan merasa puas.

Ia telah meninggalkan pesan untuk Bhok Cun Ki, dan pada besok sore ia tentu akan dapat menyelesaikan tugas yang diserahkan sucinya kepadanya.

Malam hari itu, Ya-kongcu dan dua orang pengawalnya datang berkunjung ke tempat penginapan Lili dan membawa hidangan makan malam yang dipesannya dari restoran terbesar dan termewah.

Hidangan itu diantar dengan kereta oleh pegawai restoran.

Lili terkejut akan tetapi tentu saja tidak berani menolak, dan mereka berdua makan minum di dalam ruangan yang khusus disediakan untuk keperluan tamu dalam hotel yang mewah itu.

Ketika mereka makan minum, Lili melihat betapa dua orang laki-laki setengah tua yang datang bersama Ya-kongcu hanya berdiri di dekat pintu ruangan.

"Siapakah teman kongcu itu?

Kenapa tidak di suruh makan sekalian dengan kita?" "Ah, mereka adalah dua orang pengawalku.

Di kota raja ini banyak terdapat orang jahat, maka lebih aman kalau aku pergi disertai dua orang pengawal.

Mereka bertugas melindungiku, maka tidak semestinya kalau mereka ikut makan bersama kita.

Sudahlah, jangan pikirkan mereka dan mari kita makan sambil aku mendengarkan ceritamu tentang kunjunganmu kepada keluarga Bhok Cun Ki itu." Mereka makan minum dengan gembira dan Lili lalu menceritakan dengan singkat namun jelas hasil kunjungannya kepada Bhok Cun Ki, betapa ia tidak berhasil bertemu dengan Bhok Cun Ki karena panglima itu tidak berada di rumah, akan tetapi ia sudah bertemu dengan putera dan puterinya dan meninggalkan pesa

Post a Comment