Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 25

Memuat...

gai tamu oleh Pangeran Yen atau Raja Muda Yung Lo, dan dijamu oleh beliau.

Bukan itu saja, bahkan taihiap ini akan diangkat menjadi panglima oleh beliau akan tetapi taihiap Sin Wan menolaknya." "Ehh?

Kenapa menolak anugerah pangkat panglima yang akan diberikan Pangeran Yen?" tanya Jenderal Yauw penasaran.

Sin Wan tersenyum.

Tentu saja dia tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak menerima kedudukan itu karena di sana ada Lim Kui Siang, sumoinya yang dari cinta berbalik benci kepadanya.

"Saya tidak dapat menerima anugerah itu karena terus terang saja, saya tidak betah tinggal di utara yang dingin.

Saya lebih senang tinggal di selatan." Alasan ini memang masuk diakal.

Bagi orang yang biasa hidup di selatan, tinggal di utara memang tidak menyenangkan.

Apalagi kalau tiba musim salju, dinginnya bukan main.

"Nah, sekarang kita kembali kepada pembagian tugas.

Bhok-ciangkun kami tugaskan untuk menjaga agar kedudukan bengcu tidak sampai terjatuh ke tangan datuk sesat yang dapat dimanfaatkan oleh orang Mongol, sedangkan taihiap Sin Wan membantunya dalam pelaksanaan tugas itu.

Sementara itu, engkaupun dapat melakukan penyelidikan di kota raja, taihiap, sebelum waktu pemilihan bengcu tiba.

Dan untuk ini, engkau boleh bekerja sama dengan Bhok-ciangkun, dan tentu akan kami bantu kalau sewaktu-waktu membutuhkan." "Terima kasih, mudah-mudahan saya dapat melaksanakan tugas dengan baik.

Saya kira keadaan akan menjadi baik kalau Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang kelak menjadi bengcu.

Dia seorang datuk besar yang tentu akan membawa semua orang kang-ouw mendukung pemerintah.

Kalau dunia kang-ouw sudah bersikap demikian, menentang para pemberontak, maka tugas pemerintah akan lebih ringan.

Menurut suhu Ciu-sian, yang paling berbahaya datang dari utara, dari orang-orang Mongol.

Selain mereka mempunyai banyak orang pandai, juga mengenal baik seluruh keadaan di semua kota, juga di kota raja, terutama sekali mereka itu tentu berusaha mati-matian untuk dapat mendirikan kembali kerajaan mereka yang telah hancur, atau setidaknya akan berusaha membikin kacau.

Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang pendek dan rapi.

"Engkau benar, taihiap.

Orang-orang Mongol itu agaknya sudah maklum bahwa mereka tidak mungkin membangun kembali kerajaan mereka melalui kekerasan, karena setiap kali bergerak, pasukan mereka dapat kita hancurkan.

Mereka tentu akan mempergunakan siasat busuk, oleh karena itu, senang dan legalah hati kami kalau kini Bhok-ciangkun dapat memperoleh bantuanmu.

Kami yakin bahwa kalian berdua akan mampu menghancurkan setiap usaha jaringan mata-mata yang berbahaya, dimulai dari pemilihan Bengcu.

Nah, kami semua mengharapkan kalian akan dapat melaksanakan tugas dengan baik, Bhok-ciangkun dan Sin Wan taihiap!" Jenderal itu mengangkat cawan arak yang disambut dengan gembira oleh Sin Wan dan Bhok Cun Ki.

Juga Jenderal Yauw Ti mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan baiknya dengan secawan arak.

Setelah pertemuan rahasia antara para panglima itu dibubarkan, panglima Bhok Cun Ki segera mengajak Sin Wan bersamanya.

Karena pemuda itu sudah ditunjuk sebagai pembantunya, bekerja sama dengan dia, maka tentu saja mulai saat itu pendekar muda itu harus selalu dekat dengannya dan dia mengusulkan agar Sin Wan tinggal saja di rumahnya sehingga mereka dapat bekerja sama lebih baik.

Sin Wan rnenerima tawaran ini dan diapun segera mengikuti Bhok Cun Ki ketika panglima itu mengajaknya pulang untuk membuat persiapan dan perundingan lebih lanjut mengenai tugas mereka berdua.

Dua orang muda itu sedang berlatih silat, saling serang dengan gerakan cepat dan kuat.

Dari gerakan tangan mereka terdengar angin menyambar-nyambar, tanda bahwa mereka bukanlah ahli-ahli silat biasa, melainkan sudah memiliki tingkat kepandaian yang hebat.

Sambaran angin yang mengiuk-ngiuk itu saja membuktikan bahwa mereka berdua telah memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang kuat.

Mereka adalah seorang pemuda berusia duapuluh tahun dan seorang gadis berusia delapanbelas tahun.

Mereka kakak beradik, putera dan puteri Bhok Cun Ki.

Pemuda itu, anak pertama, bernama Bhok Ci Han, bertubuh sedang tegap dan wajahnya tampan dan gagah seperti ayahnya.

Gadis itu adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik jelita, lincah jenaka, bertubuh ramping.

Sebagai putera puteri panglima Bhok, tentu saja sejak kecil mereka digembleng ayah mereka sendiri sehingga kini mereka telah menjadi dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.

Biasanya, kalau mereka berlatih silat di sore hari, ayahnya selalu mengamati latihan mereka.

Akan tetapi sore ini mereka berdua berlatih tanpa pengamatan ayahnya, bermain silat di kebun mereka yang luas, di dalam lingkungan pagar tembok yang tinggi.

Sore ini ayah mereka menerima panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta, maka dua orang kakak beradik itu berlatih berdua saja.

Ayah mereka, Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar Butong-pai dan pernah membuat nama besar di dunia kang-ouw sampai dia menjabat pangkat panglima setelah kerajaan Beng menggantikan kerajaan Mongol.

Ibu mereka adalah seorang wanita cantik berdarah bangsawan yang lemah lembut dan ahli seni dan sastra, tentu saja sama sekali tidak pandai silat.

Dari ibu mereka, dua orang muda inipun mewarisi kelembutan dan kepandaian dalam hal seni dan sastra.

Ketika mereka berdua sedang berlatih dan gerakan mereka semakin cepat sehingga mata biasa akan sukar mengikuti gerakan mereka bahkan tubuh mereka hanya kelihatan seperti dua sosok bayangan yang berkelebatan, tiba-tiba muncul seorang perajurit yang biasa berjaga di pintu gerbang depan.

"Kongcu (tuan muda) dan Siocia (nona muda), harap berhenti dulu!" teriak perajurit itu.

Kakak beradik itu menghentikan latihan mereka.

Dengan leher dan muka berkeringat mereka memandang kepada perajurit itu.

Bhok Ci Hwa menghapus keringat di lehernya dengan sehelai kain handuk, dan mengomel.

"Ada apa sih?

Engkau mengganggu latihan kami!" Perajurit itu memberi hormat.

"Maafkan saya.

Akan tetapi di luar terdapat seorang tamu yang bersikeras ingin bertemu dengan Bhok-ciangkun.

Ketika saya beritahu bahwa ciangkun tidak berada di rumah, ia berkeras mengatakan hendak bertemu dengan keluarganya." "Berkeras?

Hemm, kenapa tidak kaukatakan saja bahwa ia boleh kembali lagi kalau ayah sudah pulang?" tegur Bhok Ci Han yang juga merasa tidak senang dengan gangguan itu.

"Maaf, kongcu.

Saya dan kawan-kawan sudah mengatakan demikian, akan tetapi ia berkeras hendak bertemu dengan Bhok-ciangkun atau dengan keluarganya." "Siapa sih orang itu?

Dan apa keperluannya?

Ci Hwa menjadi tertarik.

"Ia seorang gadis yang cantik dan galak, Siocia.

Dan ketika kami bertanya tentang keperluannya, ia mengatakan bahwa ia membawa berita yang teramat penting bagi Bhok-ciangkun atau keluarganya." "Apakah ia tidak memberitahu siapa namanya dan dari mana ia datang?" tanya Ci Han.

"Kami sudah tanyakan, akan tetapi ia tidak mau mengaku....." "Namaku Lili!" Ci Han dan Ci Hwa, juga perajurit itu terkejut.

Mereka memutar tubuh dan di situ telah berdiri seorang gadis yang cantik manis telah berdiri di situ, matanya mencorong tajam dan bibirnya yang manis itu tersenyum sinis.

"Itu.....

itu ia orangnya, kongcu........." kata perajurit itu, lalu melangkah maju dengan sikap galak.

"Heii, nona.

Kenapa engkau lancang masuk ke sini tanpa ijin?

Bukankah tadi sudah ku suruh menanti di luar sementara aku melapor kedalam?" Perajurit itu mengambil sikap hendak menyerang, dan Lili hanya berdiri santai sambil tersenyum mengejek.

Bhok Ci Han menyentuh lengan perajurit itu dan berkata, "Keluarlah, biar kami bicara dengan nona ini!" Perajurit itu memberi hormat, lalu keluar dari dalam taman itu dengan langkah lebar dan bersungut-sungut.

Agaknya dia masih penasaran bagaimana tamu itu tahu-tahu sudah berada di taman.

Bukankah di luar masih ada lima orang kawannya?

Bagaimana mereka membiarkan gadis lancang itu masuk begitu saja?

Dia akan menegur lima orang kawan itu.

Akan tetapi ketika dia tiba di gardu penjagaan pintu gerbang depan, dia disambut oleh lima orang kawannya yang babak belur dan matang biru karena dihajar oleh gadis tamu itu ketika mereka berlima hendak menghalanginya memasuki pekarangan!

Sementara itu, Lili sudah berdiri saling pandang dengan dua putera dan puteri Bhok Cun Ki.

Melihat kakak beradik itu mengenakan pakaian ringkas dan mereka berkeringat karena habis latihan, dan di situ terdapat sebuah rak senjata yang lengkap dengan bermacam senjata, Lili tersenyum.

lapun teringat akan pesan gurunya agar ia berhati-hati melawan Bhok Cun Ki karena pendekar Butong-pai itu lihai sekali.

Subonya sendiri diwaktu mudanya kalah oleh Bhok Cun Ki, membuktikan bahwa pendekar itu memang lihai.

Kalau ayahnya lihai, tentu anak-anaknya juga berkepandaian tinggi.

"Apakah kalian ini anak-anak dari Bhok Cun Ki?" tanya Lili dengan sikap sambil lalu, seolah pertanyaan itu tidak penting baginya.

"Benar, panglima Bhok Cun Ki adalah ayah kami.

Ada keperluan apakah nona mencari ayah kami?" tanya Ci Han, sedangkan Ci Hwa memandang dengan alis berkerut.

Gadis yang berdiri di depannya memang cantik manis, senyum sinis yang dihias lesung pipinya itu amat elok, juga cuping hidung yang agak kembang kempis itu nampak lucu, akan tetapi pandang mata itu dingin dan galak bukan main.

Walaupun suara gadis itu lembut berbisik, namun mengandung ejekan, dan terutama pandang mata dan senyum itu jelas memandang rendah orang lain.

"Kalau kalian ini anak-anaknya, kalian boleh mengetahui bahwa aku datang mencari Bhok Cun Ki untuk membunuhnya." Pemuda dan gadis itu terbelalak dan muka mereka berubah merah.

Ci Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Keparat busuk yang sombong!

Sebelum engkau bertemu dengan ayah, engkau akan lebih dulu kuhajar!" Sambil berteriak nyaring gadis ini sudah menerjang Lili dengan pukulan dahsyat ke arah muka gadis yang mengancam hendak membunuh ayahnya itu.

"Bagus!" kata Lili sambil mengelak dan meloncat ke belakang.

"Dari kepandaian kalian a

Post a Comment