cimpung di dunia kangouw, mengerutkan alisnya.
"Harap cu-wi tidak berpendapat sepicik itu.
Cu-wi agaknya lupa bahwa orang-orang dunia persilatan seperti locianpwe Ciu-sian atau muridnya ini, dapat bergerak lebih bebas dari pada kita.
Mereka akan dapat menghubungi orang-orang kangouw dan mereka dapat melakukan penyelidikan tanpa diketahui pihak lawan.
Kita sudah dikenal, dan kalau kita bergerak, tentu musuh sudah mengetahuinya.
Kalau musuh yang datang itu pasukan yang menyerang dengan berterang, tentu saja kita dengan pasukan kita yang maju, bukan perorangan seperti taihiap ini.
Akan tetapi pihak lawan bergerak dengan sembunyi, maka kitapun harus mempercayakan kepada para pendekar seperti taihiap ini.
Lupakah cu-wi ketika benda-benda pusaka milik Sribaginda dicuri orang?
Kita sudah mengerahkan pasukan untuk mencari, hasilnya sia-sia belaka.
Kemudian, setelah Sribaginda mengutus Sam-sian untuk mencarinya, maka para locianpwe itu berhasil membawa kembali benda-benda pusaka.
Nah, apa yang dapat cu-wi katakan lagi?" Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk.
"Kini kami mengerti dan kami menanti perintah ciangkun," katanya mengalah.
Jenderal Shu Ta lalu menceritakan keadaan keamanan pada waktu itu, terutama sekali kepada Sin Wan, dan juga berita baru tentang perubahan gerakan orang-orang Mongol.
"Kami menerima laporan dari para komandan pasukan, juga dari Raja Muda Yung Lo bahwa kini orang-orang Mongol mengundurkan diri, tidak lagi melakukan tekanan di perbatasan.
Belum diketahui dengan pasti sebab-sebabnya mengapa mereka tiba-tiba saja mengendurkan tekanan dan jarang ada serangan terhadap para penjaga di perbatasan.
Hal ini hanya ada dua kemungkinan.
Pertama, mereka sengaja mundur untuk membuat kita lengah, sementara mereka memperkuat kedudukan dan memperbesar pasukan.
Kemungkinan kedua, mereka melihat bahwa penyerangan mereka untuk menembus perbatasan selalu gagal dan tidak mungkin dilanjutkan, maka mereka mungkin akan menyerang dari jurusan lain, bisa dari barat dan mungkin juga membonceng keadaan yang dibikin kacau oleh para bajak, menyerang dari timur menggunakan perahu, walaupun kemungkinan ini kecil sekali.
Betapapun juga, kita harus memperkuat penjagaan di barat, dan mengamati dengan ketat pantai timur." Jenderal Shu Ta berhenti sebentar dan memandang kepada semua pembantunya.
"Bagaimana pendapat cuwi?" "Ciangkun, saya melihat kemungkinan lain," tiba-tiba Bhok Cun Ki berkata.
Semua orang memandang kepada panglima yang tampan dan gagah itu.
"Bhok-ciangkun, katakan apa pendapatmu." "Berulang-kali orang-orang Mongol kita pukul mundur.
Bahkan sejak Shu-goanswe memimpin pasukan besar ke utara belasan tahun yang lalu, kita menyeberangi gurun Gobi, kita menggempur dan membakar kota lama Karakorum dari bangsa Mongol, bahkan terus ke utara sampai ke Pegunungan Yablonoi dan menghancurkan setiap pasukan Mongol.
Sejak itu boleh dibilang kekuatan pasukan Mongol sudah hancur dan agaknya tidak mungkin bagi mereka untuk bangkit kembali.
Kalau kini mereka menghentikan penyerangan, hal itu wajar saja dan ada kemungkinan yang cukup membahayakan kita, yaitu bahwa mungkin mereka akan mengganti siasat, tidak menyerang dengan kekerasan lagi." "Tidak menyerang dengan kekerasan?
Kalau begitu, kenapa kaukatakan berbahaya, Bhok-ciangkun?" tanya Jenderal Shu Ta.
Memang dahulu, ketika dia memimpin pasukan besar mengejar bangsa Mongol sampai jauh ke utara, Bhok Cun Ki merupakan seorang di antara pembantunya yang gagah perkasa dan berjasa besar.
"MUNGKIN mereka akan menggunakan siasat halus, antara lain penyebaran mata-mata yang lebih tekun, memasang jaringan mata-mata untuk mendatangkan kekacauan di kota raja dan kota-kata besar lainnya.
Mungkin mereka akan merangkul dan mempengaruhi para pejabat yang memang tidak suka kepada Kerajaan Beng, atau mereka itu bersekutu dengan para pengkhianat, memanfaatkan perkumpulan-perkumpulan golongan sesat untuk membuat kekacauan agar kehidupan rakyat menjadi tidak aman.
Bisa saja mereka melakukan usaha pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting pemerintahan kita." Suasana menjadi hening setelah Bhok Cun Ki bicara karena semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing, membayangkan kemungkinan itu dengan hati merasa ngeri.
Bagi orang-orang yang biasa menghadapi pertempuran ini, mereka merasa ngeri menghadapi musuh yang dilakukan secara sembunyi.
Melakukan kekacauan dengan cara apa saja, cara yang bagi mereka amatlah hina dan curang, dan mereka tidak biasa menghadapi cara-cara seperti itu.
"Benar apa yang diucapkan Bhok-ciangkun," kata Jenderal Shu Ta.
"Oleh karena itulah maka usaha menanggulangi jaringan mata-mata ini perlu digalakkan, dan lebih-lebih kita amat membutuhkan bantuan para pendekar.
Dalam hal inilah tenaga para pendekar seperti Sin Wan taihiap ini amat kita butuhkan.
Nah, siapa lagi yang mempunyai pendapat yang kiranya berguna bagi kita untuk kita bicarakan?" Seorang panglima yang bertubuh tinggi kurus berkata dengan suaranya yang lantang dan mantap.
"Shu-goanswe, saya tadi teringat akan keterangan Bhok-ciangkun bahwa mungkin sekali pihak musuh akan mendekati dan memanfaatkan perkumpulan golongan sesat.
Saya setuju sekali, dan saya teringat bahwa beberapa bulan lagi akan diadakan pemilihan bengcu di dunia persilatan.
Kalau sampai kedudukan bengcu itu berada di tangan seorang datuk sesat, kemudian bengcu itu dapat dipengaruhi oleh orang Mongol dan dijadikan sekutu, maka hal itu akan berbahaya sekali.
Maka, sebaiknya kalau kita memperhatikan pemilihan bengcu itu." "Benar sekali!" kata Jenderal Shu Ta.
"Memang hal itu kami bicarakan dengan Sin Wan taihiap ketika dia datang kepada kami, bahkan kami sudah merencanakan pembagian tugas dan sebaiknya kalau Sin Wan taihiap yang bertugas untuk mengamati pemilihan bengcu itu dan sedapat mungkin mencegah agar kedudukan bengcu jangan sampai terjatuh ke tangan orang sesat.
Dalam hal ini, kami menunjuk Bhok-ciangkun untuk bekerja sama dengan Sin Wan taihiap, mengingat bahwa Bhok-ciangkun mempunyai hubungan yang luas dengan para tokoh dunia kang-ouw." Semua panglima setuju dan Bhok Cun Ki mengangguk-angguk.
Memang sebaiknya begitu, pikirnya.
Dia belum tahu sampai di mana kemampuan pemuda itu.
Akan berbahayalah kalau tugas sepenting itu diserahkan kepada pemuda itu seorang.
Kalau bekerja sama dengan dia, maka dia akan dapat menguji pemuda itu, dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau dalam pemilihan itu pihak golongan sesat akan menguasainya.
"Maaf, Shu tai-ciangkun!" kata Jenderal Yauw Ti.
"Kami mempunyai pendapat yang penting, akan tetapi agar dimaafkan kalau menyinggung, karena pendapat ini hanya terdorong oleh keinginan menjaga keamanan bagi pihak kita sendiri." "Bicaralah, Yauw-ciangkun," kata Jenderal Shu Ta.
Semua orang memandang kepada Jenderal yang bertubuh tinggi besar dan ramping itu.
"Sekali lagi saya minta maaf kalau pendapat saya ini menyinggung, terutama kepada taihiap Sin Wan.
Memang taihiap ini telah membawa leng-ki dan surat kuasa dari locianpwe Ciu-sian, akan tetapi terus terang saja, kita sama sekali belum pernah mengenalnya.
Dan kalau mata saya yang tua ini belum berkurang kemampuannya, saya lihat bahwa taihiap ini seperti bukan orang Han!
Dan siapakah keturunannya?
Kenapa namanya Sin Wan begitu saja tanpa nama keluarga?" Semua orang terdiam dan kini mereka memandang kepada Sin Wan, diam-diam mereka terkejut akan keberanian Jenderal Yauw Ti, karena bagaimanapun juga, ucapannya itu amat menyinggung dan jelas membayangkan ketidak kepercayaannya.
Pada hal pemuda itu membawa surat kuasa Ciu-sian dan bahkan membawa leng-ki dari kaisar.
Juga jenderal Shu Ta terkejut, dan kini dia memandang kepada Sin Wan.
Memang sebetulnya, dalam hati kecilnya juga ada pertanyaan ini, akan tetapi dia tidak berani mengeluarkannya karena dia melihat leng-ki dan surat Ciu-sian.
Kini, ada yang berani menanyakan, hal itu sungguh baik sekali dan dia mengharapkan jawaban sejujurnya dari Sin Wan.
Akan tetapi, kekhawatiran para panglima itu sia-sia saja.
Pemuda itu sama sekali tidak nampak tersinggung.
Memang Sin Wan tidak merasa tersinggung, dan diapun hanya tersenyum.
Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan orang-orang peperangan yang wataknya terbuka, keras dan jujur.
Kalau pertanyaan tadi diajukan oleh Jenderal Yauw Ti, jelas bahwa pertanyaan itu keluar dari hati yang jujur dan sama sekali tidak berniat menyinggung atau menghina.
Dan memang dia tidak malu untuk mengakui keadaannya.
Dia menyapu wajah para panglima itu dengan pandang matanya.
Dia melihat wajah-wajah yang gagah, sinar mata yang tajam berwibawa dan membayangkan kekerasan dan ketegasan.
"Saya tidak merasa tersinggung sedikitpun, karena pertanyaan itu memang sudah sewajarnya.
Memang sebaiknya kalau cu-wi (anda sekalian) mengenal siapa sesungguhnya saya.
Nama saya Sin Wan, tanpa nama keluarga dan saya memang bukan orang Han.
Ayah dan ibu saya telah meninggal dunia dan mereka berdua adalah orang-orang yang bersuku bangsa Uighur.
Akan tetapi sejak kecil saya terdidik sebagai orang Han, dan menjadi murid ketiga suhu Sam-sian, maka saya merasa diri saya tidak berbeda dengan orang-orang Han yang merupakan pribumi aseli." "Suku bangsa Uighur?" Terdengar Jenderal Yauw Ti berseru dan matanya terbuka lebar, lalu alisnya berkerut dan matanya mengamati wajah Sin Wan dengan penuh selidik.
"Akan tetapi banyak orang Uighur yang berpihak kepada Mongol!!" Suasana menjadi hening dan banyak mata memandang kepada Sin Wan penuh selidik.
Suasana yang tegang itu dipecahkan oleh suara tawa Jenderal Shu Ta.
"Ha..ha..ha, tidak ada jeleknya kalau Yauw-ciangkun bersikap hati-hati.
Akan tetapi ketahuilah bahwa kita sama sekali tidak curiga kepada taihiap ini.
Tidak semua orang Uighur berpihak kepada Mongol, dan selain taihiap ini murid Sam-sian, sudah dipercaya oleh locianpwe Ciu-sian yang memberikan leng-ki kepadanya dan mengangkatnya sebagai wakilnya melaksanakan perintah Sribaginda, juga taihiap Sin Wan ini pernah bersama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki diundang seba