Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 23

Memuat...

ya adalah Bhok Cun Ki yang diberi kedudukan jenderal dan merupakan seorang di antara para pembantu Jenderal Shu Ta.

Sedikit saja kekeliruan keterangan yang diberikan Ya-kongcu kepada Lili, yaitu mengenai tempat tinggal Bhok-Goanswe (Jenderal Bhok).

Dia dan keluarganya tidak tinggal di dalam benteng, melainkan di sebuah gedung yang cukup besar dan megah.

Sebagai seorang Panglima, tentu saja rumahnya itu siang malam dijaga pengawal yang biarpun hanya belasan orang banyaknya, namun mereka merupakan perajurit-perajurit kepercayaan Jenderal Bhok dan merupakan orang-orang pilihan yang selain setia juga memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Di dalam gedungnya, Bhok Cun Ki tinggal bersama keluarganya.

Dia kini berusia empatpuluh lima tahun, dan dalam usia setengah tua ini dia masih nampak gagah perkasa, berwajah ganteng dengan kumis dan jenggot tipis, matanya lebar berwibawa, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan kelembutan hati walaupun dagunya milik orang yang keras dan teguh hati.

Sebelum menjadi panglima dia sudah terkenal di dunia persilatan dengan julukan Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) karena dengan ilmu pedang dari Butong-pai yang indah dan cepat, dia memang merupakan seorang ahli pedang yang sukar dicari bandingnya.

Bhok Cun Ki telah menikah sebelum Kerajaan Mongol jatuh, dengan seorang wanita yang masih berdarah bangsawan karena isterinya itu puteri seorang pembesar bagian kebudayaan, seorang Han yang ketika terjadi perjuangan, juga berpihak kepada pejuang, meninggalkan kedudukannya dan meninggalkan kota raja bersama keluarganya.

Bersama isterinya dia mempunyai dua orang anak, seorang pemuda yang kini sudah berusia duapuluh tahun dan seorang gadis yang kini berusia delapanbelas tahun.

Pemuda itu bernama Bhok Ci Han, tampan dan tegap, pendiam dan gagah perkasa, sedangkan adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik manis, lincah jenaka tidak seperti kakaknya yang pendiam.

Kedua Kakak beradik ini sejak kecil sudah digembleng oleh ayahnya sendiri sehingga setelah kini mereka dewasa, keduanya selain memiliki ilmu sastera yang cukup baik, juga mereka mewarisi ilmu silat Butong-pai yang tangguh.

Biarpun diluarnya mereka kelihatan seperti seorang kongcu (tuan muda) dan seorang siocia (nona) yang lemah lembut, pandai membaca kitab, pandai bersajak dan kesenian lain, namun sebenarnya mereka berdua adalah pendekar-pendekar Butong-pai yang lihai.

Bhok Cun Ki tinggal bersama isteri dan dua orang anaknya di gedung yang selalu terjaga perajurit pengawal.

Gardu penjagaan berada di dekat pintu gerbang, akan tetapi seringkali, terutama di waktu malam, serombongan pengawal melakukan perondaan mengelilingi gedung, bahkan ada pula yang memeriksa keamanan dari atap gedung.

Pada suatu sore, Panglima Bhok menerima undangan yang bersifat panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta yang menjadi panglima besar kepercayaan kaisar yang utama.

Tentu saja Bhok Cun Ki merasa heran karena biasanya atasannya tidak akan memanggilnya di waktu hari telah sore.

Kalau hal ini terjadi, berarti atasannya itu memiliki alasan yang kuat dan tentu ada urusan yang teramat penting sehingga Jenderal Shu Ta tidak segan-segan mengganggu waktunya beristirahat.

Dia segera berangkat, naik kereta dan dikawal selusin orang perajurit pengawal, menuju ke perbentengan karena dia dipanggil menghadap ke sana.

Setelah tiba di dalam benteng dan dipersilakan memasuki ruangan yang biasa dipergunakan untuk rapat, di situ telah menanti Jenderal Shu Ta dan pembantu utamanya, yaitu Jenderal Yauw Ti, dan beberapa orang panglima muda lain, juga seorang pemuda berpakaian sederhana, pakaian rakyat biasa.

Kiranya atasannya mengadakan rapat yang lengkap dengan para panglima, pikir Bhok Cun Ki dan diapun memandang sejenak kepada pemuda tinggi tegap berkulit gelap itu.

Jenderal Shu Ta berusia kurang lebih limapuluh tiga tahun, tubuhnya agak gemuk namun kokoh kuat, mukanya kemerahan dan sikapnya tegas berwibawa.

Adapun wakil atau pembantu utamanya, Jenderal Yauw Ti, bertubuh tinggi besar dengan pinggang ramping, usianya sekitar limapuluh tahun akan tetapi dia masih nampak muda dan tegap.

Selain menjadi pembantu utama panglima besar, Jenderal Yauw Ti ini juga menjadi penasihat kaisar di bagian kemiliteran dan karena dia terkenal pandai dalam ilmu silat dan ilmu perang, diapun dijadikan guru bagi para panglima muda dalam hal ilmu perang.

Kedua orang jenderal ini sudah banyak jasanya di waktu perjuangan, maka mereka merupakan dua orang yang paling tinggi kedudukannya di bagian kemiliteran, walaupun Jenderal Yauw Ti lebih dipercaya dan lebih dekat dengan kaisar yang merupakan sahabat karibnya di waktu perjuangan dan mereka masih menjadi pemuda-pemuda dari kalangan rakyat kecil biasa.

Sebaliknya, Jenderal Yauw Ti sejak muda sudah menjadi seorang perwira walaupun dahulu dia seorang perwira pasukan Mongol.

Ketika terjadi pemberontakan rakyat, diapun meninggalkan pasukannya dan berpihak kepada rakyat, maka jasanya besar dan kini dia memperoleh kedudukan tinggi yang hanya kalah oleh Jenderal Shu Ta saja.

Para panglima yang hadir, ada belasan orang banyaknya, merupakan orang-orang yang menduduki jabatan penting di bagian ketentaraan dan keamanan.

Maka, tentu saja mengherankan hati Bhok Cun Ki melihat adanya seorang pemuda asing, bukan anggauta pasukan, apalagi panglima atau perwira, hadir pula di situ.

"Bhok-ciangkun telah datang, kini lengkap sudah, kita boleh mulai bicara," kata Jenderal Shu Ta yang memimpin pertemuan itu.

"Pertama-tama, kami perkenalkan kepada ciangkun (perwira tinggi) sekalian, saudara ini adalah murid yang mewakili locianpwe Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui.

Namanya adalah Sin Wan dan dia datang sebagai utusan dan wakil dari locianpwe Ciu-sian." Bhok Cun Ki mengamati pemuda yang berdiri dan memberi hormat ke sekeliling itu dengan hormat.

Nampaknya tidak mengesankan namun dia dapat menduga bahwa murid Ciu-sian tentulah lihai, apalagi sudah menjadi wakil tokoh besar dunia persilatan itu.

Dan kalau dalam sikap yang sopan dan pendiam itu tidak dapat dilihat kelihaiannya namun sinar matanya yang bersinar-sinar itu menunjukkan bahwa dia bukan pemuda sembarangan.

"Maaf, Shu-goanswe (jenderal Shu), saya mengenal locianpwe Ciu-sian, akan tetapi bagaimana kita dapat yakin bahwa pemuda ini murid dan datang mewakilinya?

Kita harus yakin benar akan hal ini, mengingat akan bahayanya kalau ada orang luar yang tidak berhak menyelundup," kata Bhok Cun Ki dan para rekannya mengangguk setuju.

Jenderal Shu Ta tersenyum senang dan menoleh kepada Sin Wan setelah mempersilakan pemuda itu duduk kembali.

"Nah, engkau dapat mendengar dan melihat sendiri, taihiap, betapa teliti dan berhati-hati para rekan panglima di sini.

Tentu engkau maklum betapa besar bahayanya kalau sampai ada mata-mata musuh datang menyusup.

Rahasia kami akan diketahui musuh dan hal itu amat berbahaya.

Karena itu, maafkan sikap mereka kalau meragukan keaselianmu sebagai murid dan wakil locianpwe Ciu-sian." Sin Wan mengangguk.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, bahkan saya merasa kagum sekali.

Nah, sebaliknya kalau cu-wi ciangkun (para panglima sekalian) memeriksa tanda kuasa yang diberikan suhu kepada saya ini, dan juga surat keterangan yang ditulis suhu seperti yang tadi telah saya perlihatkan kepada Shu-goanswe." Sin Wan mengeluarkan sehelai leng-ki, yaitu sebuah bendera kecil sebagai tanda bahwa pemegangnya adalah utusan kaisar yang akan menerima sambutan penghormatan dan bantuan dari setiap orang pejabat, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi kedudukannya.

Kaisar telah memanggil Ciu-sian dan kaisar sendiri yang menyerahkan sehelai leng-ki kepada Ciu-sian dan memberi tugas kepada Dewa Arak itu untuk membantu pemerintah, melakukan penyelidikan dan menentang jaringan mata-mata Mongol yang berbahaya bagi keamanan negara.

Di samping leng-ki itu, juga Sin Wan mengeluarKan segulung surat tulisan, Dewa Arak yang menerangkan bahwa karena dia sudah terlalu tua, maka dia menyerahkan tugas dari kaisar kepada muridnya bernama Sin Wan yang akan bertindaK mewakilinya dalam segala hal, dan bahwa sepak terjang Sin Wan dialah yang bertanggung jawab.

Membaca surat keterangan itu dan leng-ki, belasan orang panglima itu segera memberi hormat secara militer, berdiri tegak, lalu berlutut sebelah kaki.

Bendera kecil (leng-ki) adalah tanda kuasa dari kaisar yang diberikan kepada seorang utusan, maka bukan utusan itu yang dihormati, melainkan leng-ki yang merupakan lambang kehadiran kaisar.

"Hari ini Sin Wan taihiap (pendekar besar) datang berkunjung, dengan maksud untuk minta keterangan dan penjelasan tentang jaringan mata-mata musuh seperti yang kita ketahui, agar dia dapat memulai dengan penyelidikannya.

Karena melihat pentingnya tugas yang dilakukannya, dan kita semua mengharapkan bantuannya, maka kami mengundang cu-wi (anda sekalian) untuk membicarakan urusan ini." "Nanti dulu, tai-ciangkun," kata Jenderal Yauw Ti.

"Kita semua sejak dulu telah bekerja untuk menentang musuh, dan kita selalu menyelidiki jaringan mata-mata Mongol.

Akan tetapi, kita tidak pernah menemukan jaringan mata-mata itu, kecuali ditangkapnya beberapa orang yang kita curigai.

Itupun tidak ada hasilnya karena tidak ada yang mengaku, dan mungkin mereka itu hanya terkena fitnah belaka.

Kita, dengan kekuatan pasukan kita, dapat menanggulangi segala ancaman musuh.

Lalu apa artinya Saudara Sin Wan yang hanya seorang diri ini untuk menghadapi jaringan mata-mata, kalau memang ada?" Mendengar ini, beberapa orang panglima mengangguk menyetujui.

Bagaimanapun juga, mereka merasa diremehkan.

Mereka adalah panglima-panglima yang memimpin pasukan dan selama ini mereka berhasil menghalau semua musuh Kerajaan Beng.

Kalau sekarang ada seorang pemuda yang hendak bertugas menyelidiki jaringan mata-mata, bukankah hal itu sama saja dengan meremehkan kekuatan dan kemampuan mereka?

Apa sih artinya seorang pemuda saja, betapapun pandainya?

Jenderal Shu Ta yang dahulunya juga seorang rakyat biasa, namun sudah sejak muda berke

Post a Comment