Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 22

Memuat...

rena ia seorang yang jujur dan terbuka, apalagi kalau ia sudah percaya kepada seseorang, mendengar pertanyaan Ya-kongcu iapun mengaku terus terang.

"Aku mencari Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki untuk membunuhnya." "Ahhh........!" Ya-kongcu berseru, terbelalak.

"Mengapa, kongcu?" tanya Lili dan alisnya berkerut ketika ia teringat sesuatu.

"Apakah dia sahabat baikmu atau keluargamu?" Pria itu tertawa dan menggeleng kepala.

"Sama sekali bukan, nona.

Bahkan sebaliknya, diapun musuh besarku dan tentu saja aku suka sekali membantumu menentangnya.

Akan tetapi, aku hanya terkejut mendengar engkau hendak membunuh Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki.

Dia seorang pendekar ahli pedang yang amat tangguh, nona.

Bahkan namanya paling terkenal di antara para tokoh Bu-tong-pai!" "Hem, boleh jadi dia lihai, akan tetapi aku tidak takut," jawab Lili gagah dan dingin, penuh kepercayaan kepada kemampuannya sendiri.

"Tang Siocia, kalau boleh kami mengetahui, permusuhan apa yang ada antara engkau dan dia?" "Ini merupakan urusan pribadi yang tak dapat kuceritakan kepada siapapun juga, kongcu.

Cukup kauketahui bahwa aku mencari dia untuk mengajaknya bertanding dan kalau mungkin membunuhnya." Dalam suara gadis itu terkandung ketegasan yang membuat Ya-kongcu berhati-hati dan tidak berani mendesak.

"Aku mengerti, nona, dan aku tidak berani mencampuri urusan pribadi nona.

Akan tetapi, kurasa tidaklah mudah untuk melaksanakan keinginanmu itu, sungguh tidak mudah sama sekali." Dengan alis masih berkerut Lili berkata, "Katakan saja di mana aku dapat menemukan Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki dan selanjutnya aku tidak berani merepotkanmu, kongcu." "Nona Tang, dalam hal ini, sebaiknya kita bekerja sama.

Aku akan membantumu menemukan dan menghadapi Sin-kiam-eng, dan aku akan mengerahkan kawan-kawanku untuk membantu suhumu agar terpilih sebagai bengcu." Lili adalah seorang gadis yang cukup cerdik.

Mendengar janji kesanggupan ini, ia menatap tajam.

"Dan sebaliknya?

Apa yang harus kulakukan untukmu?" Pria itu tersenyum.

"Tidak apa-apa, nona.

Cukup kalau nona menganggap kami sebagai sahabat baik, cukuplah.

Di antara sahabat baik tentu saja saling membantu tanpa pamrih, bukan?" "Ya-kongcu, aku akan berterima kasih sekali kalau engkau suka membantuku memberitahu di mana musuh besarku itu.

Dan engkau akan kuanggap seorang sahabat baik kalau keteranganmu itu betul dan aku dapat menemukan musuh itu.

Nah, katakan di mana dia?" "Tang Siocia, Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki telah berjasa besar terhadap Kerajaan Beng dan karena jasa-jasanya ketika para petani memberontak dan menggulingkan pemerintah Goan, maka kini dia diangkat menjadi seorang jenderal yang berkuasa dan berkedudukan tinggi di kota raja." "Hemm, dia tinggal di kota raja?" tanya Lili.

Kedudukan tinggi itu sama sekali tidak berkenan baginya.

Yang penting, ia dapat menemukan orang itu!

"Dia tinggal di kota raja, nona.

Akan tetapi, sebagai seorang jenderal, dia tinggal di dalam benteng di mana terdapat ribuan orang tentara.

Kiranya tidak mungkin bagi nona untuk mencari dia di dalam tempat tinggalnya." Mendengar ini, barulah Lili tertegun.

Tentu saja, betapa tinggipun ilmu kepandaiannya, kalau harus mencari musuh besarnya ke dalam benteng pasukan yang ribuan orang banyaknya, sama saja dengan bunuh diri.

Tidak mungkin ia akan berhasil.

"Hemmm, begitukah?

Lalu bagaimana aku akan dapat berhadapan dengan dia?" gumamnya seperti pada diri sendiri.

"Itulah sebabnya mengapa tadi aku menawarkan bantuan kepadamu, nona.

Kita harus bekerja sama dan aku akan mendapatkan jalan agar engkau dapat bertemu muka dengan jenderal itu.

Kalau engkau mau bekerja sama, mari kita melakukan perjalanan bersama karena kamipun ingin pergi ke kota raja." Tentu saja Lili menyetujuinya.

Biarpun ia seorang gadis dan akan melakukan perjalanan yang jauh bersama seorang pria yang mempunyai anak buah banyak dan kesemuanya pria, ia sama sekali tidak merasa canggung.

Ia seorang gadis yang bebas dan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga ia tidak khawatir akan gangguan pria.

Apalagi semua anak buah Ya-kongcu sudah mengenal siapa gadis itu dan tentu takkan ada seorangpun yang berani mengusiknya.

Hajaran yang diberikan Lili kepada tujuh orang itu sudah cukup keras, apalagi dua orang pengganggu pertama dihukum pancung kepala oleh Ya-kongcu.

Lili juga tidak ingin tahu siapa sebenarnya pria itu.

Andaikata ia tahu akan keadaan Ya-kongcu yang sesungguhnya, agaknya ia tidak akan perduli.

Yang penting baginya adalah menemukan Sin-kiam-eng agar ia dapat melaksanakan tugas yang diberikan sucinya kepadanya.

Siapakah sebetulnya Ya Lu Ta yang disebut Ya-kongcu itu?

Dia bukan orang sembarangan, karena dia adalah Pangeran Yaluta, seorang di antara para pangeran dari Kerajaan Goan, yaitu Kerajaan Mongol yang telah runtuh.

Bersama sisa keluarga kerajaan, Pangeran Yaluta ini juga terpaksa melarikan diri mengungsi ke utara, kembali ke tanah air bangsa Mongolia di utara karena semua usaha sisa pasukan Mongol untuk melawan pasukan Kerajaan Beng gagal.

Semua pasukan Mongol dihancurkan, banyak yang tewas dan yang masih dapat menyelamatkan diri, melarikan diri ke Mongolia.

Tentu saja banyak anggauta keluarga, terutama para pangeran Mongol, yang masih penasaran dan (Lanjut ke Jilid 05) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.

Kho Ping Hoo tidak mau menerima nasib.

Bagaimana mungkin keluarga yang tadinya merajai seluruh daratan Cina, yang berada di puncak kekuasaan, hidup mulia, terhormat dan kaya raya, kini harus kembali ke daerah tandus di utara dan hidup sebagai bangsa pengembara lagi?

Tidak, mereka akan tetap berusaha untuk mencoba menguasai kembali daerah selatan dan di antara para pangeran yang paling gigih adalah Pangeran Yaluta yang memang memiliki kemampuan besar itu.

Dia memiliki ilmu silat tinggi, pandai memimpin pasukan, dan juga dia ahli sastera.

Selama hampir seabad menjajah Cina, orang-orang Mongol, terutama sekali kaum bangsawannya, melebur diri menjadi pribumi, mempelajari kebudayaan dan peradaban mereka yang lebih tinggi.

Maka, tidak sukar bagi Pangeran Yaluta untuk mengaku bernama Ya Lu Ta seperti orang pribumi dan kalau saja dia berpakaian pribumi, takkan ada seorangpun menyangka dia seorang pangeran Mongol.

Tidak ada sedikitpun pada dirinya berbekas Mongol.

Sudah sejak jatuhnya Kerajaan Mongol, Pangeran Yaluta atau yang kini dikenal sebagai Ya-kongcu itu, berusaha keras untuk merampas kembali tahta kerajaan yang telah terjatuh ke tangan orang-orang Han sendiri yang kini mendirikan Kerajaan Beng yang baru.

Namun, usahanya mempergunakan kekerasan selalu gagal, selalu pasukannya dipukul hancur oleh pasukan Beng yang kuat.

Oleh karena itu, selama beberapa tahun ini.

Ya-kongcu mempergunakan siasat lain.

Dia tidak lagi mempergunakan kekuatan pasukan untuk mencoba menyerang ke selatan, melainkan mempergunakan siasat halus.

Dia mengirim para pembantunya yang lihai dan cerdik, menyebar banyak sekali mata-mata ke selatan.

Bahkan orang-orangnya sudah beberapa kali berusaha untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap orang-orang penting dari pemerintah Kerajaan Beng, ada yang berhasil ada pula yang gagal.

Kemudian dia memberi perintah baru kepada orang-orang yang merupakan jaringan mata-mata di Kerajaan Beng.

Usaha kekerasan agar dihentikan, dan dia menggunakan siasat lain.

Kedudukan bengcu dari dunia persilatan harus dikuasai oleh orang yang dapat mereka pengaruhi, dan persaingan di antara pangeran Kerajaan Beng harus dimanfaatkan untuk menimbulkan pertikaian di antara mereka dan memperlemah kedudukan Kerajaan Beng.

Untuk tugas yang penting ini, Ya-kongcu bertekad untuk turun tangan sendiri, memimpin langsung di tempat lawan, yaitu di kota raja!

0leh seorang ahli pengobatan di negerinya, dia telah membiarkan wajahnya diubah dengan pembedahan dan pengobatan sehingga bentuk mata, hidung dan mulutnya berubah.

Tidak akan ada seorangpun di kota raja yang akan mengenal wajahnya sepagai wajah pangeran Mongol yang terkenal.

Di kota raja sendiri dia sudah mempunyai wakil atau tangan kanan yang selama ini memimpin jaringan mata-mata, orang yang memegang kedudukan penting di Kerajaan Beng, yang sudah dapat dia pengaruhi dan dia manfaatkan tenaganya.

Demi tercapainya cita-citanya itulah Ya-kongcu bersikap ramah terhadap Lili, setelah diketahui bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apalagi setelah mereka berkenalan dan dia tahu bahwa gadis itu adalah murid See-thian Coa-ong.

Dia harus dapat merangkul orang-orang yang pandai, apalagi datuk-datuk yang selain lihai juga memiliki kekuasaan besar, mempunyai banyak pengikut.

Kalau kelak bengcu menjadi sekutunya, dan dia dapat merangkul banyak perkumpulan besar, mempengaruhi pejabat-pejabat tinggi, kiranya cita-citanya bukan merupakan mimpi belaka.

Ya-kongcu selalu menerima laporan dari kaki tangannya maka bekas pangeran ini mengetahui dengan baik segala peristiwa yang terjadi di Kota raja, bahkan dia mengenal nama mereka yang memiliki kedudukan penting, mana yang dianggap berbahaya bagi pergerakannya, dan pejabat mana yang kiranya dapat ditarik menjadi sekutu.

Oleh karena itu, keterangannya tentang Bhok Cun Ki kepada Lili, bukanlah keterangan bohong.

Bhok Cun Ki memang kini menjadi seorang jenderal yang dipercaya di kota raja.

Sejak terjadinya perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol yang dipimpin oleh Chu Goan Ciang yang kemudian menjadi Kaisar Thai-cu, kaisar pertama Kerajaan Beng (1368-1398), Bhok Cun Ki sudah ikut dalam perjuangan sebagai seorang toKoh pemimpin yang gagah perkasa.

Dia memang seorang pendekar, murid Butong-pai yang lihai sekali.

Oleh karena itu, setelah perjuangan berhasil dan Chu Goan Ciang menjadi kaisar, maka pemimpin pejuang ini tidak melupakan rekan-rekannya.

Selain dua orang panglima besar seperti Jenderal Shu Ta dan Jenderal Yauw Ti yang memperoleh kedudukan panglima pertama dan kedua, banyak tokoh pejuang yang menerima kedudukan sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

Di antaran

Post a Comment