Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 21

Memuat...

Lili juga bersikap baik dan sambil tersenyum ia menjawab, "Ah, kiranya mereka itu anak buahmu?

Jadi engkau ini majikan mereka?

Tanya saja kepada mereka karena mereka mengeroyok dan menyerangku maka kurobohkan mereka." Pria itu mengerutkan alisnya, lalu menoleh kepada lima orang yang masih kesakitan itu.

"Hei kalian berlima.

Benarkah kalian mengeroyok nona ini, dan kalau benar kenapa?" Dalam suaranya yang lembut itu terkandung teguran keras.

Sambil menahan rasa nyeri, lima orang itu menjatuhkan diri berlutut menghadap pria itu dan seorang di antara mereka mewakili teman-teman menjawab, "Maafkan kami, kongcu.

Karena melihat nona itu memukul roboh dan melukai dua orang rekan, maka kami berlima turun tangan mengeroyoknya." Pria itu kini kembali menghadapi Lili, sepasang matanya mengamati penuh selidik dan nampak kekaguman dalam pandang matanya.

Gadis yang demikian muda, cantik manis dan nampak lembut, telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi sehingga dua orang pembantunya yang dia tahu cukup lihai, tadi nampaknya tidak berdaya melawan nona ini.

"Nona, agaknya terpaksa aku harus kembali kepada nona dan bertanya mengapa nona melukai dua orang anak buah kami." Senyum dibibir Lili melebar.

Ia merasa tertarik.

Pria ini demikian lembut dan tenang, akan tetapi dalam menyelidiki urusan dan mengajukan pertanyaan, cukup adil dan tidak berat sebelah, tidak memihak seperti seorang hakim yang jujur.

"Engkau ingin tahu mengapa aku hajar mereka?

Yang seorang ingin menciumku, dan orang ke dua ingin memelukku, maka aku lalu membiarkan yang seorang mencium sepatuku, dan orang ke dua memeluk tanah!" Wajah pria itu berubah kemerahan dan dengan suara yang meninggi dia lalu menoleh dan berseru.

"Siapakah kalian berdua?

Maju ke sini!" Dua orang yang tadi mencari gara-gara dengan Lili, merangkak maju, berlutut menghadap pria itu.

Karena si kumis mulutnya remuk dan dia tidak dapat bicara, maka si bopeng yang mewakili.

"Kongcu, ampunkan kami........" "Jawab, benarkah kalian hendak memeluk dan mencium nona ini?

Ceritakan apa yang terjadi?" "Ampun, kongcu.

Kami berdua melihat nona ini lewat.....

melihat ia begitu cantik, kami.....

kami hanya ingin main-main........" "Cukup!

Kalian tahu bahwa satu di antara larangan keras kita adalah mengganggu wanita?" "Kami.....

kami tahu, kongcu." "Dan kalian tahu apa hukumannya kalau melanggar larangan itu?' Dua orang itu menjadi ketakutan.

Mereka membenturkan dahi di tanah dan merintih minta ampun, akan tetapi karena ketakutan, si bopeng masih dapat berkata dengan suara menggigil, "Kami......

kami siap meneriam hukuman......" "Bagus!

Setidaknya kalian mati sebagai laki-laki yang bertanggung jawab!" kata pria itu dan tiba-tiba saja tubuhnya bergerak, nampak sinar berkelebat dan dua tubuh yang berlutut itu terpelanting dengan kepala terpisah dari badan.

Lili memandang kagum.

Gerakan pria itu sungguh cepat bukan main.

Bagi mata biasa, gerakan itu tidak dapat diikuti, akan tetapi Lili tadi dapat melihat betapa cepatnya pria itu bergerak mencabut pedang yang berada di pinggangnya tertutup jubah panjang, mengelebatkan pedangnya memancung kepala dua orang itu lalu menyarungkan kembali pedangnya yang tidak ternoda darah!

Demikian cepatnya gerakan itu, menunjukkan ilmu pedang dahsyat seorang ahli!

"Kuburkan mayat mereka," kata pria itu kepada para anak buahnya.

Mayat dua orang itu lalu digotong pergi dan pria itu memberi hormat kepada Lili.

"Kami harap nona memaafkan kami dan puas dengan pelaksanaan hukuman bagi anak buah kami yang telah menghina nona." Lili masih tertegun karena kagum.

Orang ini jelas bukan orang sembarangan, pikirnya.

Kelihatan lemah lembut dan seperti seorang bangsawan terpelajar, namun memiliki ilmu pedang yang dahsyat!

Selain itu, juga amat berwibawa dan sikapnya mengingatkan ia akan gurunya, See-thian Coa-ong yang juga dapat bertindak tegas berwibawa terhadap anak buahnya.

Pula, dia menghukum mati dua orang anak buahnya yang mengganggu wanita, hal ini saja sudah mendatangkan rasa kagum dan suka di hati Lili.

"Kiamsut (ilmu pedang) yang hebat!" katanya memuji.

"Aih, dibandingkan nona, aku bukan apa-apa," pria itu merendah.

"Kalau nona tidak menganggap aku terlalu rendah untuk menjadi kenalanmu, perkenalkanlah.

Namaku Lu Ta dan semua Orangku menyebut aku Ya-kongcu.

Bolehkah aku mengetahui nama nona?" Karena sikap orang ini baik dan cukup berharga untuk dijadikan teman, setidaknya kenalan, Lili menjawab sederhana.

"Namaku Tang Bwe Li dan orang biasa memanggil Lili." Ya Lu Ta atau Ya-kongcu kembali memberi hormat, kemudian dia menoleh ke belakang, kepada anak buahnya dan berteriak, "Heiii, kalian lihat.

Ini adalah Tang Siocia, mulai sekarang menjadi sahabatku.

Kalian harus bersikap hormat kepadanya!" Kemudian dia berkata kepada Lili, "Tang Siocia, kami persilakan engkau untuk menjadi tamu kehormatan kami dan sudi makan minum bersama kami." Lili memang sedang lapar.

Menghadapi sikap yang demikian hormat dan baik, dan penawaran itupun dilakukan dengan sikap hormat dan jujur, iapun tertawa lepas.

"Heh..heh, memang aku sedang lapar dan sedang bingung bertanya-tanya dalam hati ke mana harus mencari sarapan.

Terima kasih, aku akan suka sekali makan minum denganmu, Ya-kongcu." Pria itu nampak gembira sekali.

Lili memang seorang gadis yang berwatak polos dan bebas, tidak terikat oleh sikap malu-malu seperti para wanita lainnya.

Namun, Ya-kongcu maklum sepenuhnya bahwa walaupun gadis itu bebas, jangan dikira bahwa ia boleh dipermainkan begitu saja!

Buktinya, anak buahnya sempat dihajar habis-habisan oleh gadis ini.

Dia lalu mengajak Lili ke tempat peristirahatannya, tidak jauh dari situ, di bawah pohon-pohon rindang dan ternyata di sana terdapat banyak kuda pilihan dan anak buah kongcu itu tidak kurang dari tigapuluh orang!

Di bawah pohon itu telah diatur makanan dan minuman yang cukup lezat.

Lili semakin kagum.

Kiranya kongcu ini bersama rombongannya membawa peralatan masak pula karena masakan itu masih mengepul panas dan tak jauh dari situ nampak dapur darurat.

Ya-kongcu dengan gembira mempersilakan Lili untuk duduk menghadapi meja sederhana yang dibuat secara darurat pula, duduk di atas bangku.

Lili makan minum dengan lahapnya, senang karena tuan rumah tidak banyak cakap, hanya bicara kalau mempersilakan ia mengambil hidangan dan menambah minuman yang terdiri dari dua macam.

Ada anggur dan ada pula teh harum.

Setelah selesai makan minum dan meja dibersihkan, Ya-kongcu berkata.

"Tadi kulihat gerakanmu yang mirip gerakan seekor ular.

Mungkin masih ada hubungan antara nona dengan See-thian Coa-ong, yaitu locianpwe (orang tua gagah) Cu Kiat?" Kembali Lili dibuat kagum.

Jelaslah bahwa orang ini memang lihai dan bermata tajam, tentu luas pengetahuannya tentang ilmu silat sehingga melihat gerakannya sedikit saja sudah dapat mengenal ilmu silatnya.

"Dia adalah guruku" katanya.

Kini Ya-kongcu yang terkejut dan memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri.

"Pantas kalau begitu!

Biar seluruh anak buahku maju mengeroyok kau, tentu mereka semua akan dapat kaurobohkan!

Kiranya nona adalah murid See-thian Coa-ong, datuk wilayah barat yang terkenal itu." Dia cepat bangkit berdiri.

"Maafkan kalau aku tadi bersikap kurang hormat, Tang Siocia (nona Tang)." Lili cepat membalas penghormatan itu.

"Aih, jangan terlalu merendah, Ya-kongcu.

Engkau sendiri memiliki ilmu pedang yang amat dahsyat." "Aku mendengar bahwa See-thian Coa-ong merupakan seorang di antara calon bengcu yang akan diadakan oleh para tokoh dan datuk persilatan di puncak Thai-san.

Benarkah itu, Siocia?" Kembali Lili kagum.

Memang orang ini memiliki pengetahuan yang luas.

Iapun mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu, tentu kepergianmu ini ada hubungannya dengan pemilihan bengcu yang akan diadakan sebulan sesudah sin-cia tahun depan, bukan?" "Tidak, Ya-kongcu.

Urusan pemilihan bengcu itu adalah urusan suhu dan suci, sedangkan aku mempunyai tugas lain." "Ah, begitukah?

Kalau kau hendak mengurus pemilihan bengcu, katakan saja terus terang, nona.

Karena sesungguhnya, kami sudah sejak semula siap untuk memilih locianpwe See-thian Coa-ong sebagai bengcu." "Eh, kenapa begitu?" Lili tertarik.

"Apakah engkau sudah mengenal suhu?" Pria itu menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Mengenal secara pribadi memang belum, akan tetapi aku telah lama mendengar nama besar gurumu itu dan aku yakin bahwa hanya dia yang pantas untuk menjadi bengcu.

Kami siap untuk membantunya agar dia yang kelak terpilih.

Kami mempunyai banyak anak buah yang tersebar di seluruh kota besar, juga di kota raja, maka kalau kami membantu, pasti gurumu akan memperoleh suara dukungan terbanyak." "Aku tidak tahu apakah suhu memerlukan bantuan itu, akan tetapi mungkin saja engkau dapat membantuku dengan keterangan, kongcu.

Aku sedang mencari seseorang,......" kata Lili, timbul harapannya untuk dapat segera menemukan orang yang dicarinya ketika mendengar bahwa Ya-kongcu mempunyai banyak anak buah di kota besar dan di kota raja.

Apalagi sikap dan pernyataan Ya-kongcu yang hendak membantu dan mendukung suhunya itu menimbulkan rasa suka dan percaya, maka ia tidak ragu untuk minta bantuan.

Wajah itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar.

"Katakanlah, siapa orang yang kaucari itu, nona?

Kami akan membantumu sekuat tenaga dan kami yakin dalam waktu singkat kami akan dapat memberitahu kepadamu di mana adanya orang yang kaucari itu.

Siapa dia?" "Dia seorang tokoh Butong-pai berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) dan namanya Bhok Cun Ki," kata Lili sambil menatap tajam wajah itu untuk melihat reaksinya.

Ya-kongcu terbelalak.

"Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki?

Ah, tentu saja aku mengenal siapa dia, nona!

Akan tetapi, sebelum kuberitahu kepadamu di mana dia, aku ingin tahu lebih dulu, apa hubunganmu dengan Sin-kiam-eng?" Tentu saja gembira sekali rasa hati Lili mendengar bahwa Ya-kongcu mengenal orang yang dicarinya.

Tak disangkanya akan sedemikian mudahnya ia dapat menemukan musuh besar sucinya.

Ka

Post a Comment