Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 19

Memuat...

ah dah mengatasinya, memenangkannya.

Mengenai batiniah, kerohanian, kita serahkan saja kepada Tuhan!

Percaya, menyerah dengan sabar, ikhlas, tawakal.

Rohani adalah kuasa Tuhan, akan tetapi urusan jasmani adalah tugas kewajiban kita sendiri.

Kaisar Thai-cu tak pernah tunduk terhadap segala kesukaran yang berdatangan semenjak dia menjadi kaisar.

Bukan saja dia memilih para pembantu yang pandai untuk dijadikan pejabat yang bijaksana, akan tetapi dia bahkan tidak melupakan para tokoh di dunia persilatan untuk memanfaatkan tenaga mereka.

Dia tahu benar bahwa para pendekar yang tidak mau memegang jabatan merupakan orang-orang yang dapat berjasa banyak demi lancarnya roda pemerintahannya.

Oleh karena itu, dia selalu menghubungi mereka untuk dimintai pendapat, nasihat dan bahkan bantuan.

Ketika banyak pusaka istana lenyap dari gudang istana, belasan tahun yang lalu, dia juga minta bantuan para tokoh persilatan, bahkan kemudian, Sam-sian (Tiga Dewa) yang berhasil mendapatkan kembali kumpulan pusaka yang dicuri oleh mendiang Se Jit Kong itu.

Kemudian dia mendengar akan adanya usaha orang-orang Mongol untuk menyebar mata-mata yang mungkin akan membahayakan, maka diapun segera mengirim utusan mencari dan mengundang Sam-sian untuk datang menghadap.

Akan tetapi, yang datang menghadap hanya Ciu-sian seorang, karena dua orang rekannya, Kiam-sian dan Pek-mau-sian, telah meninggal dunia.

Kaisar Thai-cu lalu minta bantuan Ciu-sian untuk menanggulangi dan menyelidiki gerakan jaringan mata-mata Mongol.

Ciu-sian menyanggupi, akan tetapi dia merasa tua, maka dia mewakilkan pelaksanaan tugas penting yang berat itu kepada muridnya, yaitu Sin Wan.

Bayangan merah muda itu meluncur cepat menuruni lembah gunung sebelah timur.

Baru setelah ia berhenti di tepi padang rumput kehijauan, nampak jelas bahwa ia seorang gadis yang berpakaian serba merah muda.

Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah yang cerah, sepasang mata yang berkilat tajam, mulut yang mungil terhias senyum mengejek dan mulut itu dihias lesung pipi yang manis sekali.

Ia mengagumi pemandangan alam yang indah di pagi itu, menghirup udara yang sejuk hangat sehingga cuping hidungnya yang tipis nampak kembang kempis.

Tubuhnya ramping padat dengan lekuk liku sempurna karena ia seorang gadis muda usia.

Sesungguhnya, usianya sudah duapuluh dua tahun, akan tetapi takkan ada orang menyangka begitu, tentu ia akan disangka berusia paling banyak delapanbelas tahun.

Begitu segar berseri, anggun seperti setangkai bunga yang baru merekah dihembus semilirnya angin gunung, bermandi embun dan sinar matahari pagi.

Pakaiannya ringkas, namun pakaian berwarna merah muda itu terbuat dari sutera yang mahal.

Tubuhnya terbungkus ketat sehingga nampak jelas tonjolan dan lekukannya.

Rambut kepalanya digelung ke atas dan diikat dengan pita berwarna hijau dan kuning, tusuk sanggulnya terbuat dari emas berbentuk burung merak yang indah.

Kakinya yang kecil memakai sepatu dari kulit hitam mengkilap.

Di punggungnya terdapat buntalan pakaian dan sebatang pedang melintang di bawahnya dengan gagang di belakang pundak kanan.

Gadis itu adalah Tang Bwe Li atau yang biasa disebut Lili.

Setelah menerima tugas dari sucinya, ia meninggalkan Bukit Ular tempat tinggal suhunya, See-thian Coa-ong Cu Kiat, dan hatinya merasa riang gembira.

Tidak saja ia merasa seperti seekor burung bebas lepas di udara, dapat melakukan apa saja sekehendak hatinya tanpa harus mentaati perintah siapapun, menjadi majikan dirinya sendiri, akan tetapi juga ia merasa dirinya penting sekali.

Sucinya yang lihai dan yang semula malah menjadi gurunya itu, yang merawat dan mendidiknya sejak ia kecil, sucinya yang amat dihormati dan disayangnya, begitu percaya kepadanya untuk mewakili membalas dendam kepada seorang laki-laki yang dianggap telah menghancurkan kehidupan sucinya!

Dan ia akan menunaikan tugas itu dengan baik.

Ia harus dapat melaksanakan balas dendam itu, demi sucinya ia rela mempertaruhkan nyawanya.

Tidak aneh kalau Lili merasa bebas dan gembira.

Ia penuh kepercayaan kepada diri sendiri dan pada saat itu, ia memang merupakan seorang gadis yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dahulu, ketika ia belum digembleng oleh See-thian Coa-ong sendiri yang ketika itu adalah kakek gurunya, ia sudah merupakan seorang gadis yang sukar dicari bandingnya dalam ilmu silat.

Apalagi sekarang, setelah menerima gemblengan datuk itu, ilmu kepandaiannya meningkat dengan cepatnya sehingga kini tingkatnya hampir sejajar dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, bekas gurunya yang kini menjadi sucinya.

Dengan ilmu kepandaian sehebat itu, tentu saja Lili merasa kuat dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, apalagi memang pada dasarnya ia seorang gadis yang pemberani bahkan tidak mengenal artinya takut.

Sudah belasan hari ia meninggalkan Bukit Ular dan selama itu ia sudah melewati banyak gunung, padang rumput, gurun dan lembah yang amat sukar dilalui.

Juga banyak ia melewati perkampungan bermacam suku bangsa, namun tidak pernah ada gangguan.

Pagi hari ini, dengan gembira ia menuruni bukit menuju ke sebuah dusun yang tadi sudah dilihatnya dari puncak bukit itu.

Perutnya terasa lapar pagi itu, dan perjalanan sejak matahari terbit tadi menambah rasa laparnya.

Di dusun bawah sana tentu ia akan dapat membeli sesuatu untuk sarapan.

Bekal makanan yang masih ada dalam buntalan di punggungnya hanya roti kering dan daging asin, untuk minum hanya ada air putih.

Ia ingin sarapan makanan yang hangat seperti bubur, dan ingin minum air teh panas-panas.

Ketika ia menuruni lembah terakhir dan tiba di sebuah tikungan, ia mendengar suara banyak orang dan melihat bahwa di depan sana terdapat banyak orang sedang mengaso, duduk di bawah pohon-pohon dan batu-batu besar.

Banyak di antara mereka berada di balik pohon dan rumpun semak belukar, maka ia tidak dapat melihat jelas berapa banyaknya orang yang berada di sana dan sedang apa mereka itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang laki-laki sudah meloncat dan berdiri di depannya.

Lili memperhatikan mereka.

Dua orang ini bertubuh tinggi besar dan memakai topi bulu putih.

Mereka kelihatan kokoh kuat, dan keduanya memandang kepadanya seperti dua ekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk.

Mata mereka seperti hendak menelannya bulat-bulat, bahkan seorang di antara mereka, yang kumisnya panjang menjuntai ke bawah, terang-terangan menjulurkan lidah dan menjilati bibir sendiri seperti seekor anjing mengilar melihat sepotong tulang.

Orang ke dua, yang mukanya bopeng karena cacar, menyeringai dan nampak giginya yang besar-besar dan hitam.

Agaknya orang ini pecandu rokok yang berat atau pengunyah tembakau.

Lili adalah seorang gadis cantik yang usianya duapuluh dua tahun dan sudah banyak melakukan perjalanan, dan mengalami banyak gangguan dari para pria yang mata keranjang.

Tentu saja sekilas pandang dara ini tahu bahwa ia berhadapan dengan dua orang pria yang kurang ajar.

"Hemm, kalian ini pringas-pringis seperti monyet, mau apa?" Lili bertanya, dan senyumnya tambah mengejek.

"Heh..heh, aku mau mencium kamu!" kata si kumis bergantung.

''Ha..ha, dan aku mau memeluk kamu!" kata si muka bopeng.

Mulut itu masih tersenyum, mata itu masih bersinar-sinar, akan tetapi cuping hidung tipis itu kembang kempis.

Dua orang itu mengira bahwa gadis manis di depan mereka menyambut dengan gembira, tidak tahu bahwa kalau cuping hidungnya sudah kembang kempis, itu tandanya Lili mulai marah.

"Benarkah kalian hendak memeluk dan mencium?" tanya Lili suaranya masih ramah.

"Heh..heh, mari beri aku sebuah ciuman manis, sayang!" kata si kumis.

"Mari rebah dalam pelukanku yang hangat, manis!" kata si bopeng.

Tiba-tiba tubuh Lili bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandang mata, hanya terdengar ia berkata, "Nah, ciumlah sepatuku ini dan peluklah tanah!" Ucapannya itu disusul gerakan kaki menendang mulut si kumis dan tangan kiri menampar tengkuk si bopeng.

"Dukk!

Plakk......!" Dua orang itu terpelanting.

Si kumis terjengkang oleh sambaran kaki, mulutnya benar-benar mendapat ciuman sepatu yang keras sehingga bibirnya pecah-pecah berdarah, beberapa buah giginya rontok!

Sedangkan si bopeng terpelanting dan jatuh menelungkup, memeluk dan mencium tanah dalam keadaan puyeng karena bumi rasanya berputar, dadanya sesak dan sukar bernapas.

"Heiiii.....!

Gadis liar, apa yang kau lakukan itu?" terdengar bentakan orang dan nampak lima orang sudah berlari ke tempat itu.

Mereka juga mengenakan topi bulu yang berwarna putih dan melihat dua orang rekan mereka roboh dan mengaduh-aduh, apalagi melihat si kumis megap-megap dengan mulut remuk berdarah, mereka marah sekali.

"Kalian ingin seperti mereka?" Lili bertanya dengan sikap mengejek dan suaranya masih ramah dan lembut.

Ia memang memiliki suara yang basah, seperti orang berbisik mesra.

Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali.

"Gadis liar dan sombong, engkau patut dihajar!" teriak seorang di antara mereka dan mereka pun sudah menerjang ke depan dengan maksud untuk menangkap gadis yang telah merobohkan dan melukai dua orang rekan mereka itu.

Namun mereka disambut kilat yang menyambar-nyambar!

Seperti kilat saja tubuh Lili bergerak, kedua tangan dan kakinya berkelebatan dan lima orang itupun terpelanting satu demi satu, merintih kesakitan, ada yang mulutnya penyok, ada yang tulang pundaknya patah, ada yang perutnya mulas dicium sepatu, ada yang berjingkrak karena tulang kering kakinya retak.

Dalam segebrakan saja Lili telah membuat lima orang laki-laki yang bertubuh kuat itu tidak berdaya melanjutkan serangan mereka!

Setelah lima orang itu roboh, Lili mendapatkan dirinya dikepung sedikitnya duabelas orang laki-laki dan mereka semua memegang senjata, ada pedang, golok atau ruyung!

Lili bersikap tenang, mulutnya masih tersenyum mengejek dan matanya mengerling ke kanan kiri.

"Hemm, kalau mereka tadi hanya layak dihajar, kalian ini memegang senjata tajam, apakah kalian sudah bosan hidup?" suaranya terdengar merdu dan ramah, sama sekali tidak memba

Post a Comment