Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 18

Memuat...

Ouwyang Cin, juga diharapkan bantuan datuk itu agar cita-cita Pangeran Yaluta dapat terkabul, yaitu menjatuhkan kaisar petani seperti yang disebut oleh si kedok hitam dan mendirikan kembali Kerajaan Goan yang sudah runtuh.

Harta dan kedudukan merupakan dua kesenangan yang amat kuat daya pengaruhnya terhadap manusia.

Demi mengejar kedudukan dan harta, manusia lupa diri dan tidak segan melakukan perbuatan apapun juga.

Membunuh, merampok, menipu, berkhianat, apa saja akan dilakukan demi mendapatkan harta atau kedudukan yang diinginkannya.

Kalau sudah begini, manusia kehilangan harga dirinya sebagai manusia, sebagai mahluk yang mendapatkan anugerah paling besar dari Sang Pencipta.

Manusia sudah menjadi budak, menjadi hamba dari kesenangan, hamba dari nafsunya sendiri.

Manusia lupa bahwa menghambakan diri, bertekuk lutut kepada nafsu merupakan sumber segala malapetaka dalam kehidupan, sumber sengketa, sumber derita sengsara.

Harta kekayaan yang tadinya dibayangkan sebagai sumber segala kesenangan, akhirnya hanya menjadi sumber kegelisahan, takut akan kehilangan, sumber sengketa dan perebutan, dan kesenangan yang dihasilkan oleh adanya harta hanya menjadi kesenangan palsu yang membosankan.

Pengejaran terhadap harta dan kedudukan membutakan hati merusak pertimbangan, membuat kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan hal-hal yang amat tidak baik, jahat atau merugikan orang yang pada akhirnya akan membuahkan buah yang pahit, yang harus kita makan sendiri.

Kita terkadang silau oleh tujuan, buta akan cara yang kita pergunakan untuk pengajaran mencapai tujuan itu.

Bagaimana mungkin cara yang kotor bisa menghasilkan sesuatu yang bersih?

Tujuan merupakan akibat, merupakan hasil daripada caranya.

Cara tidak terpisah dari hasilnya.

Kaisar Thai-cu, pendiri Kerajaan Beng (Terang) adalah seorang yang pandai.

Biarpun ia terlahir sebagai anak petani, namun berkat pengalaman dan kepemimpinannya, dia berhasil menyusun kekuatan, menarik dukungan hampir seluruh rakyat dan akhirnya berhasil pula menumbangkan kekuasaan Mongol yang sudah menjajah selama hampir seratus tahun itu.

Dan diapun maklum bahwa orang-orang Mongol tentu saja tidak rela melepas kekuasaan mereka dan pasti mereka akan selalu berusaha untuk merebut kembali tahta kerajaan.

Oleh karena itu, maka diapun mengangkat puteranya yang sejak muda memiliki kemampuan seperti dia, yaitu pandai mengatur pasukan, Pangeran Yung Lo, sebagai raja muda di Peking sehingga puteranya itu akan menjamin bahwa orang-orang Mongol tidak akan menyeberangi Tembok Besar.

Juga dia mengerahkan kekuatan untuk melakukan penjagaan di perbatasan, mempertanankan kedaulatan Kerajaan Beng.

Untuk tugas-tugas ini, dia memiliki banyak pembantu.

Para panglimanya adalah orang-orang yang cakap, di antaranya yang menjadi orang kepercayaannya adalah Jenderal Shu Ta dan Jenderal Yauw Ti.

Kedua orang jenderal ini merupakan panglima-panglima perang yang pandai dan merekalah yang mengatur semua penjagaan, walaupun keduanya tetap tinggal di kota raja.

Jasa keduanya amat besar dalam meruntuhkan Kerajaan Goan (Mongol), maka kaisar memberi mereka kedudukan tinggi yang membuat mereka berdua dapat menetap di kota raja dan sekali-sekali saja melakukan peninjauan ke perbatasan.

Di kalangan sipil, Kaisar Thai-cu juga mempunyai banyak menteri yang pandai.

Seorang kaisar memang harus dapat mempergunakan orang-orang pandai kalau dia menghendaki kemajuan dalam pemerintahan yang dikendalikannya.

Kaisar Thai-cu yang kini telah berusia enam puluh tahun itu mempunyai banyak anak dari para selirnya, akan tetapi dari permaisuri, dia hanya mempunyai seorang putera, yaitu Pangeran Chu Hui San yang diangkat menjadi putera mahkota.

Hanya ada satu hal yang kadang merisaukan hati sang Kaisar, yaitu melihat betapa puteranya yang menjadi Pangeran Mahkota itu dianggapnya tidak memiliki kewibawaan dan kekuatan yang patut membuat dia menjadi calon kaisar, tidak seperti puteranya yang kini menjadi raja muda di Peking.

Pangeran Mahkota yang sudah berusia empatpuluh tahun itu lemah dan hanya berfoya-foya saja, sama sekali tidak memperdulikan urusan pemerintah.

Padahal, Putera Mahkota itu sudah cukup dewasa, bukan kanak-kanak lagi.

Dia sudah mempunyai beberapa orang anak, dari isterinya mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berusia enam tahun dan bernama Pangeran Chu Song, sedangkan dari para selirnya, dia juga mempunyai beberapa orang anak.

Bahkan ada puterinya yang sudah berusia delapanbelas dan tujuhbelas tahun.

Namun, tetap saja Pangeran Mahkota ini berwatak kekanak-kanakan dan selalu mengejar kesenangan.

Tidak mengherankan apabila dia dikelilingi penjilat-penjilat yang memanfaatkan kelemahannya untuk mendapatkan keuntungan darinya.

Pangeran Chu Hui San hidup bermewah-mewah, setiap hari hanya berpesta, bermain judi, bahkan dia terkenal sekali di antara rumah-rumah pelesir yang dikunjunginya secara diam-diam dan menyamar, tentu saja atas anjuran para penjilat yang menjadi teman-temannya, yaitu para pemuda bangsawan putera para pejabat tinggi di kota raja.

Pangeran Mahkota dan teman-temannya itu merupakan sebuah gerombolan bangsawan yang mempunyai tukang-tukang pukul sendiri, dan kadang mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti merampas barang berharga yang mereka senangi dari siapa saja, dan tidak jarang mereka merampas seorang gadis cantik dan menculiknya dengan kekerasan.

Tak seorangpun berani menentang mereka, karena pemimpin gerombolan itu adalah Pangeran Mahkota!

Bahkan tidak ada yang berani melapor kepada kaisar yang amat menyayang putera mahkota ini, sehingga kaisar sendiri tidak tahu akan sepak terjang calon penggantinya itu.

MEMANG sesungguhnya, tidak ada yang sempurna di seluruh alam mayapada ini kecuali Tuhan Yang Maha Sempurna.

Tidak ada seorangpun yang hidupnya mulus tanpa cacat.

Tidak ada hati yang selalu mengenal senang tanpa mengenal susah.

Kaisar Thai-cu memang dari luar nampak hidup penuh kesenangan, penuh kebahagiaan.

Dia merupakan pendiri sebuah kerajaan baru yang berhasil.

Hidup penuh kemuliaan sebagai kaisar, orang yang paling tinggi kedudukannya di antara ratusan juta manusia.

Dia tidur di atas puncak kekuasaan, berenang di lautan kemewahan.

Berkuasa, mulia, terhormat, kaya raya, mempunyai banyak isteri dan banyak anak.

Lengkap semua!

Itu hanya nampaknya saja bagi orang lain.

Namun, betapa kaisar yang satu ini seringkali termenung bertopang dagu memikirkan keadaan putera mahkota, tidak ada yang tahu!

Betapa hatinya seringkali gelisah, khawatir kalau-kalau kerajaan yang dibangunnya itu tidak akan bertahan, tidak akan berkembang menjadi besar dan jaya.

Betapa dia selalu dirongrong oleh berita tentang pemberontakan di perbatasan, tentang usaha orang Mongol yang hendak merebut kembali kekuasaan, negara-negara tetangga di selatan dan barat yang tidak mengakui kedaulatan Kerajaan Beng, dan para bajak laut yang mengacau di sepanjang pantai timur.

Tentang pejabat yang korup, pengkhianat, dan masih banyak hal lagi yang cukup membuat kaisar merasa hidupnya tidak berbahagia!

Nafsu itu seperti api, selalu mencari bahan bakar, tak pernah berhenti selama ada yang dilahapnya.

Yang sudah dibakar, ditinggalkannya menjadi abu, tak dihiraukannya lagi karena selalu disibukkan mencari bahan bakar baru.

Kalau kita sudah dikuasai nafsu, kita selalu mengejar sesuatu yang belum kita miliki.

Yang sudah kita miliki terlupa, tidak lagi nampak keindahannya, tidak lagi menyenangkan, bahkan ada kalanya membosankan.

Yang nampak indah menarik dan dianggap menjadi sumber kesenangan hanyalah yang belum diperoleh, seperti api yang selalu tertarik kepada sesuatu yang belum dijamahnya.

Nafsu membuat segala sesuatu hanya nampak indah menyenangkan bagi yang belum memiliki!

Akan tetapi yang sudah memiliki, menjadi bosan dan yang dimiliki itu segera kehilangan daya tariknya.

Hanya mereka yang tidak kaya saja yang menganggap bahwa kaya raya itu amat membahagiakan, sebaliknya, yang sudah kaya raya kehilangan apa yang digambarkan oleh yang belum kaya itu.

Hanya yang tidak memiliki kedudukan menganggap bahwa yang berpangkat tinggi itu senang dan bahagia, namun seringkali dia tersiksa justeru oleh kedudukannya itu.

Orang yang tinggal di kota rindu kepada gunung, sebaliknya yang tinggal di gunung rindu kepada kota!

Demikianlah bekerjanya nafsu, mendorong kita untuk tidak merasa puas dengan keadaan yang ada, selalu haus akan hal yang belum kita miliki.

Ini memang wajar.

Nafsu memang amat berguna bagi kehidupan kita.

Nafsu yang membuat kita maju dan bertumbuh, membuat kita "hidup".

Namun, kalau dia menjadi alat, menjadi hamba kita.

Kalau terjadi sebaliknya, kita yang diperhamba, celakalah!

Kita akan menjadi robot, dan kita kehilangan pertimbangan, mau saja dituntun melakukan perbuatan yang jahat atau tidak benar hanya untuk memuaskan nafsu mendapatkan hal-hal yang kita inginkan.

Seperti api yanq terus menjalar mencari bahan bakar baru, melupakan dan meninggalkan yang lama.

Namun kaisar Thai-cu adalah seorang yang gigih, tidak pernah menyerah kepada segala macam kesukaran.

Dia selalu berusaha menanggulangi segala masalah.

Dia seorang yang sadar akan romantika kehidupan.

Hidup memang merupakan perjuangan, di mana tantangan datang dari segala penjuru dan di segala saat.

Bahaya dan tantangan berdatangan, dan justeru itulah romantika kehidupan.

Betapa akan hampa dan haramnya penghidupan ini tanpa adanya tantangan!

Betapa akan membosankan siang hari tanpa adanya malam!

Rasa manispun akan memuakkan tanpa adanya rasa pahit dan lain-iain.

Hidup adalah perjuangan menghadapi semua tantangan.

Melarikan diri dari tantangan hidup berarti sudah tigaperempat mati.

Kita harus menghadapi kenyataan yang ada, berani menghadapi tantangan yang datang menimpa.

Menghadapi tantangan, menanggulangi atau mengatasi tantangan, itu seni kehidupan!

Kita harus mempergunakan segala daya yang ada pada kita, setiap anggauta jasmani, hati akal pikiran, untuk menanggulangi segala masalah kehidupan, persoalan lahiri

Post a Comment