Halo!

Suling Naga Chapter 93

Memuat...

Tiba-tiba timbul pikiran Hong Beng untuk membantu nenek itu agar jalan darahnya lebih cepat dan biarpun hal itu bukan merupakan pertolongan terhadap nyawa nenek itu, namun mungkin saja dapat membuat nenek itu sadar, walaupun hanya untuk beberapa detik lamanya. Siapa tahu, nenek ini hendak meninggalkan pesan. Kasihan orang yang mau mati tidak sempat meninggalkan pesan apa-apa. Dengan hati-hati sekali, dengan tenaga yang dikendalikannya baik-baik, di lalu menotok beberapa jalan darah di pundak, tengkuk dan punggung, dan mengurut lengan kanan. Harapannya terkabul. Tak lama kemudian, mata yang terbelalak itu bergerak dan memandang dengan wajar kepadanya tanpa menoleh. Hong Beng mendekatkan mukanya karena melihat bibir itu bergerak-gerak. Nenek itu berbisik-bisik.

"Kau.... berjanjilah untuk mentaati perintahku...."

Bukan main nenek ini, pikir Hong Beng. Sudah menghadapi maut, masih keras hati dan minta dia mentaati perintahnya! Dia mengangguk-angguk menghormati pesan seorang di ambang pintu kematian.

"Saya berjanji untuk mentaati, nek."

"....ber.... bersumpah!"

Hong Beng terbelalak, akan tetapi tidak berani menolak. Kembali dia mengangguk dan berkata.

"Saya bersumpah, nek!"

Wajah yang sudah menghitam itu nampak tenang, mulut yang sudah membiru bibirnya itu tersenyum menyeramkan jadinya!

"Bagus! Kelak kau.... kau harus menjadi suami Suma Lian...."

Hampir saja Hong Beng terlonjak kaget dan dia cepat membantah,

"Akan tetapi, nek! Nenek.... ah, nenek... ini tidak bisa.... nek....!"

Percuma saja dia berteriak-teriak karena nenek itu sudah tak bernapas lagi! Pelayan yang berada di luar kamar mendengar teriakan-teriakan Hong Beng lalu masuk dan segera terdengar jerit tangis pelayan perempuan itu yang menarik perhatian para tetangga. Tak lama kemudian, terdengar tangis kaum wanita yang menjadi tetangga nenek itu.

Sudah menjadi suatu kelajiman, bahwa pada setiap kematian, tentu terdengar tangis wanita. Agaknya kalau tidak terdengar tangis wanita akan menjadi aneh sekali tentu! Tak seorangpun memperdulikan Hong Beng yang duduk di ruangan luar sambil bengong terlongong. Kadang-kadang dia menarik napas panjang, lalu menggeleng-geleng kepala seperti hendak membantah sesuatu, lalu nampak menyesal sekali seperti orang mau menangis. Dia memang merasa menyesal bukan main. Bagaimana nenek aneh itu meninggalkan pesan seperti itu kepadanya? Dan dia sudah berjanji, bersumpah malah! Bersumpah untuk mentaati perintahnya. Siapa tahu perintah terakhir itu begitu gila? Bagaimana mungkin dia harus menjadi calon suami.... siapa lagi nama anak perempuan yang menjadi cucunya itu? Suma Lian, benar, Suma Lian.

Mana mungkin ini? Suma Lian adalah puteri tunggal Suma Ceng Liong. Sedangkan dia? Hanya anak yatim piatu, hanya keturunan tukang kayu sederhana. Seorang pemuda yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Ayah tidak, ibu tidak, uang sepeserpun tidak, rumah tidak dan keluargapun tidak! Untuk menjadi bujang Suma Lian saja agaknya masih belum tentu diterima, apa lagi menjadi suami! Dan siapa berani memberitahukan pesan itu kepada keluarga susioknya? Biar sampai mati dia tidak akan berani! Dia tahu tentu akan ditolak, dan mungkin dia tidak dipercaya dan disangkanya dia bikin-bikin saja. Alangkah akan malunya, dan dia akan merasa terhina sekali. Tidak, dia tidak akan ber-cerita kepada siapapun juga! Akan tetapi, dia sudah bersumpah untuk mentaati pesan terakhir yang berupa perintah itu!

"Hayaaaaa.... nenek aneh, kenapa sih engkau meninggalkan pesan yang begitu aneh dan gila? Engkau menambahkan beban pada pundakku, membuat kehidupan ini menjadi semakin berat rasanya...."

Baru saja dia dilanda duka karena penolakan cinta dan sekarang dia dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih rumit lagi. Kalau persoalan mengenai diri Bi Lan, dianggapnya sudah selesai. Cintanya ditolak dan habis perkara! Dia akan menderita atau tidak adalah urusannya sendiri, tidak ada lagi hubungan dan sangkut pautnya dengan orang lain.

Akan tetapi urusan pesan nenek itu? Celaka! Begitu banyaknya orang akan tersangkut. Bukan hanya diri Suma Lian langsung yang terkena pesan itu, akan tetapi juga dia berhadapan dengan ayah ibu anak perempuan itu, dan gurunya sendiri tentu akan ikut terbawa buruknya, dan salah-salah seluruh keluarga Pendekar Pulau Es akan memusuhinya karena menganggap dia menghina keluarga itu! Akan tetapi, kalau dia diam saja karena pesan terakhir itu hanya diketahui oleh dia dan nenek itu sendiri, selama hidupnya akan ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Selama hidupnya! Karena dia sudah berani bersumpah di depan seorang nenek yang hampir mati dan tidak menetapi janjinya tidak memenuhi sumpahnya. Dan untuk itu, selama hidupnya dia tentu akan tersiksa oleh batin sendiri.

"Celaka, mengapa nasibku begini aneh dan buruk?"

Dan hampir saja Hong Beng menangis kalau saja saat itu tidak datang suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Mereka pulang dengan tangan kosong dan dengan muka agak pucat mengandung kegelisahan hati.

Mereka melihat Hong Beng duduk di ruangan depan, akan tetapi melihat banyaknya tetangga dan tangis para wanita, suami isteri itu tidak memperdulikan Hong Beng dan mereka segera lari ke dalam rumah. Tangis di dalam rumah itu menjadi semakin riuh dengan kedatangan suami isteri itu. Para tamu wanita itu, para tetangga, harus memperlihatkan keprihatinan dan kesedihan mereka di depan tuan dan nyonya rumah. Itu namanya sopan santun. Dan seorang saja menangis, yang lainpun tanpa diperintah lagi, otomatis air matapun bercucuran! Perempuan namanya! Makin berat rasa hati Hong Beng. Kedatangannya, seolah-olah membawa bencana pada keluarga pendekar Suma ini! Melihat betapa suami isteri itu pulang dengan tangan kosong, tahulah dia bahwa mereka kehilangan jejak Sai-cu Lama!

Dan dialah pembawa berita buruk tentang diculiknya anak mereka dan bahkan membawa ibu pendekar itu dalam keadaan sekarat. Bagaimana mungkin dia, si pembawa berita buruk, si pendatang pembawa sial, akan pernah berani membuka rahasia pesan terakhir nenek itu? Akan tetapi, ada berita baik yang dapat disampaikannya kepada mereka, yaitu ke mana larinya Sai-cu Lama. Dia tahu ini! Bukankah Tiong Ki Hwesio pernah mengatakan bahwa kalau hendak mencari Sai-cu Lama, harus dicari di istana kota raja? Wah, sedikitnya dia akan berjasa kalau memberitahukan hal itu. Hong Beng sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya, hendak berlari masuk, akan tetapi pikiran-nya melarangnya. Mengapa harus memberitahukan mereka? Biarlah dia sendiri yang akan mengejar ke kota raja.

Dia sendiri yang akan menolong anak perempuan itu! Ya, dia harus menolong Suma Lian, bukan memperisterinya seperti yang dipesankan oleh nenek aneh itu! Kalau dia dapat menyelamatkan Suma Lian, baru dia membuka rahasia itu hanya dengan maksud menyampaikan pesan terakhir, bukan bermaksud menuntut haknya! Tidak, dia tidak akan menuntut haknya, dia tidak akan memaksa Suma Lian menjadi jodohnya. Sekali saja berhubungan hati dengan wanita sudah cukuplah. Dia sudah jera. Sakitnya bukan alang kepalang kalau cintanya ditolak! Dia tidak mau mengalaminya untuk ke dua kalinya. Biarlah, dia tidak akan membiarkan hatinya jatuh lagi, tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta kepada seorang wanita. Pula, wanita mana sih yang sudi menjadi calon isteri seorang pemuda yang miskin,

Yatim piatu, tidak punya apa-apa, bahkan memiliki kepandaianpun tidak ada gunanya? Buktinya, kepandaiannya itu tidak mampu menyelamatkan nenek itu, tidak mampu merampas Suma Lian. Dia hanya akan mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, bahkan seluruh hidupnya, untuk melaksanakan perintah suhunya, dan sekarang ditambah lagi, untuk mencari dan menyelamatkan Suma Lian. Untung bahwa dua tugas hidup yang sudah ditentukannya sendiri itu semua terletak di kota raja Dia akan pergi sekarang juga, untuk melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama. Dia tahu betapa tangguhnya pendeta Lama itu, dan belum tentu dia akan berhasil. Akan tetapi, kalau perlu dia akan berkorban nyawa untuk dua tugas itu! Didatanginya seorang pelayan yang berada di luar dan dia berkata lirih,

"Paman, tolong nanti beritahukan kepada tuan dan nyonya rumah kalau mereka menanyakan aku bahwa aku pergi untuk mencari nona Suma Lian."

Tanpa menanti jawaban, dia lalu pergi meninggalkan rumah duka itu yang mulai dibanjiri tangis yang datang berlayat. Mengapa kita selalu menyambut kelahiran dengan tawa dan mengantar kematian dengan tangis? Mengapa dalam urusan hidup dan mati kitapun masih mempergunakan perhitungan rugi untung? Merasa beruntung karena memperoleh warga baru dan merasa rugi atau kehilangan kalau ditinggal mati seorang anggauta keluarga? Kalau bukan karena merasa rugi atau kehilangan, lalu mengapa menangisi seorang yang mati? Hanya ada dua jawaban yang akan kita dapat kalau kita bertanya kepada mereka yang menangisi kematian, yang berduka kalau ada seseorang anggauta keluarga meninggal dunia.

Jawaban itu tentu, pertama : Karena mencinta yang mati dan merasa kehilangan maka mereka berduka. Jawaban ke dua adalah : Karena merasa iba kepada yang mati maka mereka menangis. Akan tetapi, benarkah jawaban itu? Benarkah kita menangis karena kita mencinta si mati? Dan benarkah kita merasa iba kepada si mati maka kita menangis? Jawaban ke dua itu jelas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita dapat merasa kasihan, dapat merasa iba kepada si mati kalau kita tidak tahu apa dan bagaimana keadaan orang yang mati itu? Sakitkah? Jelas tidak merasa sakit lagi. Menderitakah dia yang mati? Jelas bahwa kita tidak tahu, akan tetapi mana bisa orang menderita kalau dia tidak merasakan apa-apa lagi? Jadi, merasa iba kepada si mati adalah suatu alasan yang palsu.

Yang jelas, bukan iba kepada dia yang mati, melainkan iba kepada diri sendiri karena ditinggalkan. Coba dengarkan kalau kita menangisi orang yang mati. Bagaimana keluh kesah dan ratap tangisnya? Kita mengatakan betapa teganya si mati itu meninggalkan kita! Kita mengatakan lalu bagaimana dengan kita ini setelah ditinggalkan untuk selamanya? Bukankah semua itu menunjukkan bahwa kita ini sebenarnya terlalu mementingkan diri sendiri, bukan iba kepada si mati melainkan iba kepada diri sendiri? Kemudian jawaban pertama tadi. Kita mencinta si mati dan merasa kehilangan ditinggalkan, maka berduka. Benarkah kita mencinta si mati kalau kita menyedihi kematiannya? Bukankah kesedihan itu muncul karena adanya ikatan kita kepada si mati? Ikatan inilah yang menimbulkan duka.

Ikatan batin. Bukan hanya kepada orang lain, melainkan juga ikatan kepada benda, kepada milik. Sekali yang mengikat batin itu hilang, kita akan berduka dan merasa kehilangan. Dan cinta bukan berarti belenggu ikatan batin. Cinta seperti itu hanya akan menimbulkan cemburu, iri hati, bahkan dapat mengubah cinta menjadi kebencian, karena cinta yang membelenggu batin hanyalah nafsu belaka. Nafsu yang mendatangkan kesenangan pada diri kita, pada perasaan kita, itulah yang membelenggu, yang membuat kita tidak mau kehilangan dan ingin selamanya merangkul yang menyenangkan itu. Inilah cinta kita yang sesungguhnya hanyalah nafsu belaka. Cinta membuat kita INGIN MELIHAT YANG DICINTA ITU BERBAHAGIA! Dan yakinkah kita bahwa dia akan lebih berbahagia kalau masih hidup?

Ada yang ketika hidupnya sakit parah sampai bertahun-tahun, setelah mati ditangisi, katanya karena sayang dan cinta! Nah, banyak lika-likunya tentang kata "cinta"

Ini kalau kita mau menyelidiki dan membuka mata meneliti perasaan diri kita sendiri yang selalu ringan mulut mengaku "cinta". Keluarga Suma tidak dapat berlama-lama menahan peti jenazah nenek Teng Siang In, bahkan tidak sempat menanti kedatangan para keluarga yang tinggal jauh dari situ, karena mereka ingin cepat-cepat mengubur peti jenazah itu agar mereka dapat cepat pergi mencari puteri mereka yang lenyap dibawa lari. Mereka berdua merasa terkejut dan menyesal sekali melihat bahwa Hong Beng telah pergi tanpa pamit kepada mereka, hanya meninggalkan pesan kepada seorang pelayan bahwa pemuda itu pergi untuk mencari Suma Lian.

Mereka merasa menyesal mengapa tadi saking duka hati mereka tertimpa dua kemalangan secara berbareng, yaitu terculiknya Suma Lian dan matinya nenek Teng Siang In, mereka tidak memperhatikan lagi pemuda itu. Mereka sangat memerlukan pemuda itu yang tidak sempat bercerita sejelasnya tentang kakek yang melarikan Suma Lian. Mereka berdua tidak tahu siapa kakek pendeta itu, siapa namanya dan dari mana datangnya. Walaupun pemuda itu sendiripun belum tentu tahu, namun setidaknya pemuda itu dapat menceritakan bagaimana bentuk dan rupa kakek itu dan tentang Ban-tok-kiam yang tiba-tiba saja berada di tangan kakek yang membunuh nenek Teng Siang In dan menculik Suma Lian.

Pedang Ban-tok-kiam adalah Pedang pusaka milik nenek Wan Ceng isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Tidak mungkin kalau pendeta itu suruhan mereka. Sungguh tidak mungkin! Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa pedang Ban-tok-kiam itu dicuri dari tangan nenek Wan Ceng oleh kakek penculik Suma Lian itu, mengingat betapa lihainya kakek itu sehingga nenek Teng Siang In juga terluka dan tewas di tangannya. Tidak ada lain jalan, ke sanalah mereka pergi. Ke Istana Gurun Pasir, tempat tinggal suami isteri sakti itu, di luar Tembok Besar, jauh di utara. Mereka harus menyelidiki dulu tentang Ban-tok-kiam dan mungkin dari sana mereka akan mendengar siapa adanya kakek yang tiba-tiba saja memusuhi keluarga mereka itu.

Setelah penguburan selesai, dengan pakaian berkabung suami isteri inipun segera meninggalkan rumah, berangkat menuju ke utara. Pegunungan Tai-hang-san terkenal sebagai pegunungan yang indah, memanjang dari selatan ke utara. Di pegunungan itu terdapat banyak puncak-puncaknya yang selain amat indah pemandangan alamnya, juga amat sukar didaki orang karena untuk mencapai puncak, orang harus menuruni jurang dan memanjat tebing-tebing yang amat curam. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendekati puncak-puncak yang berbahaya itu, melainkan mencari binatang buruan di sekitar lereng pegunungan di mana terdapat banyak hutan-hutan yang luas. Pegunungan ini terletak di tepi daerah pegunungan yang memenuhi sebagian besar daratan Cina, di tepi timur sehingga dari puncak-puncaknya,

Nampaklah bagian timur yang datar dan rendah, penuh dengan sungai-sungai besar yang mengalir dari barat dan utara yang penuh dengan pegunungan itu. Akan tetapi kalau dari puncak Tai-hang-san orang memandang ke utara, selatan dan terutama barat, maka yang nampak hanya pegunungan belaka, dan daerah-daerah tandus yang tinggi. Karena di bagian timurnya datar dan tidak terhalang gunung, amat indahlah pemandangan matahari terbit di puncak Tai-hang-san. Matahari terbit pagi sekali karena tidak terhalang apa-apa, nampak kalau pagi matahari seperti muncul dari tanah yang merupakan garis jauh sepanjang mata memandang, dan nampak bola merah itu menyembul perlahan-lahan, besar dan merah darah, makin lama makin tinggi sampai mata tidak kuat memandang lagi karena semakin tinggi bola merah itu naik, semakin kuat cahayanya.

Warna merahpun berganti keemasan, lalu kalau sudah berubah seperti warna perak, matahari itu sudah naik tinggi. Namun, ketika bola itu masih berwarna merah darah, pemandangan alam di atas puncak sukar dilukiskan dengan kata-kata. Pokoknya, indah yang mengandung sesuatu yang dapat mendatangkan perasaan damai penuh ketenangan di dalam hati, mendatangkan perasaan takjub dan hening, menggugah kesadaran betapa diri kita ini kecil dan sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebesaran alam. Menyadarkan batin bahwa kita ini merupakan sebagian kecil saja dari alam, ikut berputar dalam arus kekuasaan alam yang sudah mengatur segala-galanya secara sempurna.

Betapa kita ini merupakan mahluk yang hanya dapat hidup karena adanya semua yang nampak dan tidak nampak di alam ini. Cahaya matahari, udara, bumi, air, pohon-pohonan. Semua sudah teratur, sedemikian sempurna, saling kait-mengait, saling mematikan, saling menghidupkan, tak boleh kurang satu pun juga, sesuai dengan hukum alam. Sayang bahwa kesadaran ini hanya kadang-kadang saja memasuki batin kita, dan sebagian besar dari waktu kita terisi oleh pikiran yang menciptakan sang aku, sehingga bayangan aku inilah yang paling besar, paling penting, dan harus dipaling dahulukan! Padahal, tanpa pergi ke puncak gunung seperti puncak Tai-hang-san sekalipun, dengan meneliti tubuh kita sendiri, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban itu, akan menemukan kekuasaan alam yang bekerja dengan sempurna pada diri kita,

Karena keadaan diri kita tiada ubahnya dengan keadaan alam! Lihatlah, rambut kita yang tak dapat kita hitung banyaknya itu, bulu-bulu di tubuh kita, satu demi satu hidup sendiri-sendiri tanpa kita kuasai, ada yang panjang ada yang pendek ada yang rontok ada yang tumbuh lagi. Garis-garis kulit kita, lekuk dan lengkung tubuh kita, badan kita seluruhnya, isi kepala dan perut, otak kita, semua tumbuh sendiri-sendiri tanpa dapat diatur oleh sang aku! Jantung kita berdenyut setiap saat, baik kita sedang sadar maupun tidak, seolah-olah hidup tersendiri. Lalu apa sesungguhnya kemampuan sang aku yang begitu kita agung-agungkan? Bukankah sang aku itu hanya ciptaan pikiran kita saja yang selalu mengejar hal-hal yang menyenangkan yang pernah kita alami dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan?

Di mana ada pengejaran kesenangan maka aku menjadi-jadi pentingnya. Segala macam nafsu mengaku menjadi sang aku. Dan begitu ada pengejaran kepentingan diri untuk kesenangan, mulailah di antara kita saling bertumbukan, saling memperebutkan kesenangan yang kita beri nama kebenaran dan sebagainya yang muluk-muluk. Bahkan perangpun terjadi di antara bangsa karena cetusan keinginan untuk mengejar kesenangan masing-masing itulah, mengejar kepentingan diri pribadi. Hampir setiap pagi, di atas satu di antara puncak-puncak pegunungan itu, seorang pria selalu menyambut munculnya matahari sambil meniup sulingnya. Keadaan di sekitarnya, pemandangan alam yang nampak oleh matanya, bunyi-bunyian antara binatang-binatang malam yang mulai mengendur diganti suara kokok ayam dan kicau burung yang memasuki telinganya,

Keharuman tanah yang dibasahi air embun, rumput dan daun-daun pohon yang memasuki hidungnya, perasaan hati yang tenang dan hening, semua itu seolah-olah memberi ilham kepadanya untuk mengalunkan suara sulingnya tanpa memainkan suatu lagu tertentu! Semua yang didengarnya, dilihatnya dan diciumnya itu seolah-olah hendak dia masukkan ke dalam tiupan sulingnya, atau lebih tepat lagi, dia ingin mengiringi semua itu dengan alunan suara yang serasi, dan dia meniup dengan sepenuh perasaan, hanyut ke dalam suara buatan sulingnya sendiri. Pria itu berusia tiga puluh tiga tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan, namun sepasang matanya yang tajam itu seperti diselimuti kesayuan, seperti mata orang yang pernah dilanda duka.

Pakaiannya sederhana sekali, namun bersih. Dia duduk di atas sebuah batu hitam, menghadap ke timur dan suara sulingnya akhirnya berhenti setelah matahari naik semakin tinggi dan cahayanya mulai menyilaukan mata. Begitu suara sulingnya berhenti, ramailah terdengar suara burung-burung berkicau dan pergantian suara ini bukan membikin suasana menjadi buruk, bahkan kini suasana menjadi gembira sekali, seolah-olah burung-burung itu bergembira menyambut hari yang cerah. Suara suling tadi mendatangkan kesyahduan dan agaknya banyak burung ikut mendengarkan dan baru sekarang mereka semua berkicau dan ada yang mulai terbang meninggalkan pohon untuk pergi mencari makan. Melihat sulingnya yang mengeluarkan cahaya ketika tertimpa sinar matahari yang mulai naik tinggi tentu akan membuat orang terkejut karena suling itu,

Terbuat dari pada kayu menghitam yang diukir indah seperti bentuk naga akan tetapi tajam dan runcing seperti pedang. Dan memang benda itu adalah Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) dan pemegangnya adalah Pendekar Suling Naga Sim Houw! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sim Houw pernah pergi jauh ke daerah Himalaya untuk mengunjungi keluarga Cu Kang Bu yang masih merupakan keluarga mendiang ibunya. Ibunya, mendiang Cu Pek In, adalah keponakan dari pendekar Cu Kang Bu. Ketika berkunjung itulah dia berhasil mengalahkan mendiang Pek-bin Lo-sian dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam itu. Karena pedang ini amat cocok untuk dipakai sebagai suling dan pedang, maka diapun menyerahkan kembali suling emas yang diterima dari ibunya dahulu, juga mengembalikan Koai-liong Po-kiam yang memang asalnya dari lembah keluarga Cu.

Semenjak itu, diapun merantau selama tujuh tahun, dan pedangnya yang sudah mengalahkan entah berapa banyak tokoh-tokoh kaum sesat, membuat nama Pendekar Suling Naga semakin terkenal. Akan tetapi, semakin dia terkenal, Sim Houw menjadi semakin rendah hati. Dia yang sejak muda sudah biasa hidup di alam bebas, menyatukan diri dengan kebesaran alam, dapat melihat bahwa dirinya itu sesungguhnya bukan apa-apa, hanya kebetulan menjadi pewaris ilmu silat yang tinggi dan pusaka yang ampuh begitu saja. Seperti juga semua manusia lain, tentu dia memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dia kelihatan terkenal dan dikagumi orang, akan tetapi hidupnya selalu sebatangkara dan sampai hari itu, dia masih juga hidup menyendiri. Dia sudah tidak memiliki keluarga kecuali keluarga Cu yang tinggal jauh di Himalaya itu, dan kalau sampai berusia tiga puluh tiga tahun dia belum juga menikah, hal itu sama sekali bukan karena dia pantang menikah,

Melainkan karena dia belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang cocok untuk menjadi jodohnya, seorang yang saling mencinta dengan dia! Dia tidak mau patah hati untuk kedua kalinya. Kegagalan cinta dan pertalian perjodohannya dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri pendekar Suma Ceng Liong, membuat Sim Houw berhati-hati sekali dan tidak mau sembarangan jatuh hati kepada wanita sebelum dia yakin benar bahwa cintanya tidak akan bertepuk tangan sebelah. Dan sampai sekarang, dia masih merasa belum bertemu dengan jodohnya. Kalau ada wanita yang menarik hatinya, ternyata wanita itu tidak cinta kepadanya, dan sebaliknya kalau ada gadis yang tertarik kepadanya, dia sendiri tidak mencinta gadis itu. Dia tidak mencari gadis yang cantik jelita, atau yang kepandaian silatnya setingkat dia.

Dia tidak mempunyai syarat apapun, kecuali saling mencinta. Dan bagi cinta, agaknya wajah dan kepandaian itu tidak dapat dipakai sebagai dasar atau ukuran. Cinta adalah urusan hati, sedangkan kepandaian dan kecantikan adalah urusan badan. Walaupun ada kaitannya, namun keindahan lahiriah itu tidak menjadi syarat yang menentukan bagi cinta. Kadang-kadang timbul pula rasa kesepian di lubuk hati pria yang masih muda ini, dan rasa kesepian ini menakutkan sekali. Sebagai seorang pendekar sakti, belum pernah dia takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun, akan tetapi menghadapi kesepian ini kadang-kadang membuatnya merasa ngeri! Haruskah hidupnya selalu begini, seorang diri saja? Akan tetapi ada kalanya kesepian itu menjadi keheningan yang menyejukkan hati, yaitu di waktu pikirannya tenang dan tidak meng-ada-ada.

"Bagus sekali, mengapa berhenti?"

Tiba-tiba terdengar suara halus. Sejak tadi, pendekar ini tahu bahwa ada orang datang dari arah belakang dan orang itu berhenti sampai lama. Biarpun dia tadi masih meniup sulingnya, akan tetapi andaikata orang di belakangnya itu menyerangnya secara tiba-tiba, dia tentu akan dapat melindungi dirinya. Karena sudah tahu bahwa di belakangnya ada orang, semestinya dia tidak kaget ketika mendengar teguran itu. Akan tetapi, kenyataannya Sim Houw terkejut dan terheran, cepat dia menoleh karena tak disangkanya bahwa orang yang datang adalah seorang wanita dan teguran tadipun sama sekali tidak menunjukkan nada permusuhan.

Dan kekagetannya bertambah ketika dia menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang dara yang masih muda, paling banyak delapan belas tahun usianya dan dara itu manis sekali. Kini gadis itu berdiri, baru saja keluar dari balik batang pohon di mana ia tadi mengintai, dan tersenyum. Memang luar biasa manisnya gadis ini kalau tersenyum. Wajahnya memang selalu cerah, sikapnya selalu gembira dan jenaka, akan tetapi kalau ia tersenyum, mulut yang kecil itu dihias sepasang lesung pipit di kanan kiri sehingga Sim Houw terpesona dan sejenak timbul pikiran tahyul bahwa yang muncul ini bukan manusia melainkan seorang dewi! Akhirnya dapat juga dia menenteramkan jantungnya yang berdebar tidak karuan itu dan diapun bertanya, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya tadi,

"Apa yang kau katakan tadi?"

"Aku berkata bahwa tiupan sulingmu itu bagus dan merdu bukan main, akan tetapi kenapa berhenti?"

Sim Houw tersenyum dan bangkit berdiri, menghadapi gadis itu.

"Tiupanku hanya asal bunyi saja, bagaimana bisa bagus? Dan aku berhenti meniup karena memang sudah habis."

Sukar dia menguraikan mengapa dia meniup suling, digerakkan oleh suasana dan suasana pula yang menghentikan tiupan sulingnya.

"Eh, lagu apakah tadi? Indah sekali!"

Kembali gadis itu bertanya sambil mendekat.

"Lagu asal bunyi saja. Adik ini siapakah dan datang dari mana hendak ke mana? Sungguh aneh melihat seorang dara muda seperti engkau ini dapat datang ke puncak ini. Bagaimana kau bisa datang ke sini dan bersama siapa, ada keperluan apa?"

"Wah-wah-wah, pertanyaanmu datang bertubi seperti hujan deras saja. Kenapa kau bertanya-tanya? Apakah puncak ini milikmu?"

Ditanya demikian, Sim Houw membelalakkan matanya. Suasana menjadi demikian gembira setelah gadis ini bicara. Mungkin karena wajahnya yang cerah itu, atau senyumnya yang manis, atau juga karena kata-katanya yang jenaka.

"Puncak ini? Puncak ini memang milikku, juga milikmu, dan milik siapa saja yang mau mengakuinya."

"Wah, jawabanmu aneh dan ngaco! Mana bisa semua orang boleh memilikinya asal mau mengakuinya?"

"Siapa pula yang mau memiliki gunung? Aku bertanya karena merasa heran bagaimana engkau bisa datang ke sini."

"Aku datang seorang diri tanpa kawan, dan apa anehnya?

"Akan tetapi tidak mudah naik ke puncak ini, apa lagi bagi seorang...."

"Bagiku mudah saja!"

Mengertilah Sim Houw bahwa yang datang ini adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian silat cukup tinggi maka dapat dengan mudah mendaki puncak ini.

"Kalau boleh aku bertanya, apakah keperluanmu datang ke sini?"

"Mencari orang! Dan sekarang, untuk pertanyaanmu yang bertubi-tubi itu, aku mau membalas dengan satu pertanyaan saja. Setelah kau jawab, aku segera pergi dari sini tidak akan menganggumu lagi."

Sim Houw tersenyum lagi. Sikap dan cara bicara anak ini sungguh lucu dan lincah jenaka.

"Tanyalah, adik yang baik, bukan hanya sebuah pertanyaan, biar selosinpun akan kujawab."

"Tak usah banyak-banyak, satu saja karena aku datang bukan untuk mengajak orang mengobrol. Begini paman yang baik. Aku mendengar bahwa orang yang sedang kucari itu berada di sekitar Pegunungan Tai-hang-san ini, dan ketika aku bertanya-tanya kepada para penghuni dusun di bawah sana, mereka memberi tahu bahwa untuk mencari orang itu aku harus bertanya kepada seorang penyuling yang mungkin berada di puncak ini. Nah, akupun datang di sini dan karena engkau pandai bermain suling, agaknya engkaulah penyuling itu. Tentu saja kecuali kalau ada penyuling lain lagi."

Hati Sim Houw mulai merasa tidak enak, akan tetapi dengan sikap tenang dia menyimpan Liong-siauw-kiam di sarungnya yang terselip di pinggang di balik bajunya jang panjang, dan dia bertanya.

"Nona, siapakah yang kau cari itu?"

Dara itu bukan lain adalah Can Bi Lan. Setelah ia mendengar dari Kun Tek bahwa kalau ia hendak mencari Pendekar Suling Naga, ia harus pergi ke Tai-hang-san karena pendekar itu suka berkeliaran di daerah itu, maka iapun langsung saja pergi ke Tai-hang-san. Di sekitar kaki dan lereng pegunungan itu, ditanyainya penghuni dusun barang kali ada yang mengenal orang yang bernama Sim Houw berjuluk Pendekar Suling Naga.

"Yang kucari adalah Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment