Halo!

Suling Naga Chapter 91

Memuat...

Bagaimana mungkin ia terus menusukkan benda runcing ke dalam tengkuk gendut itu, yang mirip perut orok? Hampir ia pingsan ketika darah itu muncrat dan sebagian mengenai pipinya, sehingga ia terkulai kembali tanpa dapat menghindar ketika tangan kanan kakek itu menggunakan gagang pedang mengetuk kepalanya. Cukup keras untuk membuat gadis cilik itu roboh pingsan! Sai-cu Lama telah terluka. Biarpun tidak terlalu dalam, akan tetapi dia semakin khawatir. Gadis cilik ini saja demikian lihai. Kalau datang seorang lagi saja, dia akan celaka! Maka, dia memutar Ban-tok-kiam sedemikian rupa sehingga kedua orang lawannya terpaksa berloncatan ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk meloncat jauh ke belakang lalu melarikan diri secepatnya! Hong Beng berseru marah,

"Kakek jahat, hendak lari ke mana?"

Dia meloncat dan hendak mengejar, akan tetapi terdengar suara lemah,

"....jangan.... kejar...."

Dia menoleh dan melihat nenek itu terguling roboh! Teringatlah Hong Beng bahwa nenek itu sudah terluka parah. Maka diapun cepat meloncat menghampiri dan berlutut di dekat tubuh nenek itu.

"Bagaimana baiknya, locianpwe....?"

Tanyanya, bingung.

"Aku.... keadaanku.... payah.... lekas bawa aku pulang.... kita laporkan hal ini.... kepada.... Ceng Liong...."

Ia menuding ke barat dan terkulai, pingsan.

Hong Beng cepat memondong tubuh nenek itu dan berlari menuju ke barat seperti yang ditudingkan oleh nenek itu. Diapun tadi sudah mendapat keterangan bahwa jurusan itu menuju ke dusun Hong-cun. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Suma Ceng Liong dan isterinya ketika mereka melihat seorang pemuda berpakaian serba biru memondong tubuh nenek Teng Siang In yang pingsan. Tadinya mereka yang tidak melihat anak mereka dan nenek itu mengira bahwa nenek itu mengajak cucunya berjalan jalan seperti biasa, atau bermain ke suatu tempat. Mereka sedikitpun tidak pernah merasa khawatir kalau anak perempuan mereka pergi bersama neneknya. Akan tetapi sekarang, tahu-tahu nenek itu pulang dipondong seorang pemuda dalam keadaan pingsan dan tidak nampak Suma Lian bersama mereka!

"Apa yang terjadi dengan ibu?"

Suma Ceng Liong berseru dan terkejut melihat betapa wajah ibunya sudah biru menghitam.

"Di mana anakku, Suma Lian? Di mana ia....?"

Melihat kebingungan suami isteri itu, Hong Beng dapat memakluminya. Begitu tadi melihat munculnya suami isteri itu, dia sudah merasa kagum sekali. Suma Ceng Liong memang gagah perkasa, tepat seperti yang diceritakan suhunya kepadanya.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dengan muka lonjong dan dagu meruncing, mulutnya seperti selalu tersenyum, wajahnya cerah dan sinar matanya begitu tajam seperti mencorong. Menurut keterangan suhunya, susiok (paman guru) ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari suhunya. juga isteri susioknya itu menurut gurunya, memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali karena dia mewarisi ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas)! Dan dalam usia yang sebaya suaminya bibi guru itu nampak masih amat cantik menarik seperti seorang gadis saja! Selain cantik, juga sepasang matanya amat tajam dan sikapnya gesit dan gagah sekali. Akan tetapi, saat itu, suami isteri yang hebat ini sedang dalam keadaan gelisah dan Hong Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi.

"Saya melihat nenek ini bertanding dengan seorang pendeta Lama, kurang lebih lima li disebelah timur dusun ini dan seorang anak perempuan terikat di punggung pendeta itu. Nenek ini terluka dan saya berusaha membantunya, akan tetapi kami tidak berhasil dan kakek pendeta itu sudah melarikan diri membawa anak perempuan di punggungnya...."

Post a Comment