Halo!

Suling Naga Chapter 132

Memuat...

Bentak Hong Beng.

"Kami dapat membunuhmu, kemudian kami masih mempunyai waktu cukup untuk membunuh enam orang perwira pembantu itu, baru kami akan mengamuk membunuhi pasukan yang tentu akan kacau karena kehilangan pimpinan itu. Kami tidak melakukan hal itu, justeru karena kami bukan pemberontak dan kami tidak mau menyusahkan pasukan pemerintah. Nah, cepat kau pilih sekarang juga!"

Ucapan itu merupakan desakan yang membuat Coa-ciangkun tidak berdaya lagi. Dia tahu bahwa orang-orang kang-ouw ini berbahaya sekali. Membunuh atau dibunuh bagi mereka tidak ada artinya, seperti para perajurit yang maju perang.

"Baiklah."

Akhirnya dia berkata sambil menundukkan muka, seperti tunduknya hati yang sudah tidak mampu mencari jalan keluar lagi. Dia terpaksa melakukan ini, dan tentang akibatnya dengan Hou Taijin,

Itu urusan nanti dan dia baru akan mencari jalan keluarnya kalau saatnya sudah tiba. Demi-kianlah, Hong Beng dan Kun Tek lalu membawa pembesar militer itu mendekati padang rumput, sambil bersembunyi. Ternyata perkelahian pibu itu sudah dimulai dan ketika Bhok Gun dan Kim Hwa Nio-nio memberi isyarat kepada pasukan yang bergerak maju, dua orang pendekar muda itu lalu membawa Coa-ciangkun keluar. Karena terpaksa, Coa-ciangkun meneriakkan perintahnya agar pasukannya itu tidak bergerak lalu mengundurkan diri. Tentu saja peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya. Mereka terkejut bukan main dan sekaligus menjadi gelisah. Pasukan itu mundur ke dalam hutan dan mereka tidak terlindung pasukan lagi! Pada hal, mereka semua terdesak dengan hebat oleh pihak lawan.

"Coa-ciangkun, engkau akan dihukum gantung oleh Hou Taijin atas perbuatanmu ini....!"

Kim Hwa Nio-nio berteriak marah, akan tetapi kemarahannya yang ditujukan kepada Coa-ciangkun inilah yang mencelakakannya. Ia sudah terdesak hebat oleh suling dan pedang di tangan Sim Houw, dan karena ia marah-marah dan meneriakkan kata-kata itu kepada Coa-ciangkun sambil menoleh ke arah batu besar di mana panglima itu berdiri, berarti dia membagi perhatiannya, dan kelengahan sedikit saja membuat Sim Houw melihat lowongan yang baik sekali.

"Singgg.... srattt....!"

Darah muncrat dan Kim Hwa Nio-nio terpekik, Liong-siauw-kiam terlepas dari tangan kanannya dan Sim Houw sudah cepat menyambar pedang pusaka itu dengan suling emasnya. Pedang pusaka itu dapat ditempel suling dan ditariknya, lalu dipegangnya dengan tangan kiri sambil menyimpan suling emas. Kim Hwa Nio-nio terbelalak melihat lengan kanannya. Ujung pedang Koai-liong Po-kiam tadi dengan kecepatan seperti kilat melihat lowongan dan sudah menyambar ke arah lengan kanan, membuat putus urat nadi lengan kanannya sehingga darahnya muncrat-muncrat keluar.

Kim Hwa Nio-nio menotok lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah, kemudian sambil mengeluarkan teriakan melengking saking marahnya, ia menggunakan kebutan di tangan kiri untuk menyerang Sim Houw dengan membabi-buta. Akan tetapi, kalau tadi saja ketika ia masih menggunakan dua senjata, ia selalu terdesak oleh Sim Houw, apa lagi sekarang setelah lengan kanannya tak dapat dipergunakan lagi untuk menyerang! Dengan mudah saja Sim Houw mengelak, lalu nampak sinar berkelebat menyilaukan mata ketika Koai-liong Po-kiam meluncur dan membabat. Nampak bulu-bulu kebutan itu berhamburan karena terbabat putus dan selagi nenek itu terhuyung, Liong-siauw-kiam sudah bergerak di tangan kiri Sim Houw.

"Tukk....! Nampaknya ujung Liong-siauw-kiam itu hanya menyentuh sedikit saja belakang kepala nenek itu sebelah kiri, akan tetapi akibatnya sungguh hebat. Nenek Kim Hwa Nio-nio mengeluarkan jeritan mengerikan dan tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, dan tubuh itu diam tak bergerak lagi.

Kiranya ujung pedang pusaka Suling Naga itu telah membikin retak bagian kepala itu dan merusak isi kepala sehingga nenek itupun tewas seketika setelah mengeluarkan jeritan itu. Kebutan buntungnya masih tergenggam di tangan kirinya. Nenek ini, bagaimanapun juga tewas sebagai seorang gagah, tak pernah menyerah sampai maut merenggut nyawanya. Jeritan nenek yang mengantar nyawanya itu disusul pekik yang keluar dari mulut Bhok Gun. Sejak tadi, diantara tujuh orang di masing-masing pihak, Bhok gun yang paling repot keadaannya. Tingkat kepandaian lawan, yaitu Suma Hui, masih lebih tinggi dengan selisih yang lumayan, maka sejak bentrok pertama kali, Bhok Gun selalu terdesak dan lebih banyak menangkis daripada menyerang. Ketika mendengar teriakan Coa-ciangkun yang memerintahkan pasukannya mundur,

Wajahnya menjadi pucat sekali dan jeritan gurunya benar-benar merupakan pukulan hebat baginya. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan dia tak mampu lagi menghindarkan benturan pedangnya dengan pedang milik Suma Hui yang membuat pedangnya menyeleweng dan terpental, kemudian tahu-tahu pedang kanan lawan telah menembus dadanya. Dengan teriakan panjang diapun roboh dan nyawanya melayang, menyusul nyawa subonya. Kematian dua orang ini tentu saja mendatangkan perasaan tidak tenang dan gelisah dalam dada Bi Kwi, Sam Kwi dan bahkan Sai-cu Lama sendiri. Diantara mereka, hanya Sai-cu Lama dan Bi Kwi yang dapat mengimbangi permainan lawan, sedangkan tiga orang Sam Kwi itu harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang sakti dan mereka merasakan betapa beratnya menandingi mereka.

"Sai-cu Lama, kembalikan Ban-tok-kiam milik keluarga Gurun Pasir itu!"

Sim Houw yang sudah mengembalikan pedang dan suling kepada Kun Tek kini maju menerjang Sai-cu Lama dengan Liong-siauw-kiam, membantu Tiong Khi Hwesio. Diserang oleh senjata pusaka itu dari samping, Sai-cu Lama terkejut karena serangan dengan pedang pusaka itu selain mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring seolah-olah ada suling ditiup dekat telinganya dan mengguncang jantungnya. Suara itupun mengandung khi-kang yang amat hebat! Dia cepat menggerakkan Ban-tok-kiam menangkis.

"Cringgg....!"

Nampak bunga api berhamburan ketika Ban-tok-kiam bertemu dengan Liong-siauw-kiam.

"Bagus! Kalian ini pendekar macam apa? Main keroyok!"

Bentak Sai-cu Lama dengan sikap congkak, untuk menutupi kegelisahannya, matanya sudah liar mencari-cari jalan keluar untuk melarikan diri.

"Ingat, Sai-cu Lama. Yang melakukan tantangan adalah aku dan locianpwe Tiong Khi Hwesio terhadap Kim Hwa Nio-nio dan engkau, jadi boleh saja aku maju melawanmu dan membantu locianpwe ini karena lawanku sudah tewas."

Dan Sim Houw melanjutkan serangannya.

"Omitohud...., memang sudah tiba saatnya engkau harus menyerah Sai-cu Lama. Ucapan Pendekar Suling Naga itu benar, dan pinceng tidak malu harus mengeroyokmu agar engkau cepat takluk!"

Tiong Khi Hwesio juga menyerang dengan pedang pusakanya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu. Hwesio tua ini maklum bahwa andaikata dia akan menangpun, akan makan waktu banyak sekali untuk menundukkan Lama yang menyerang Ban-tok-kiam. Akan tetapi, kalau seorang pendekar muda sakti seperti Sim Houw itu maju membantunya, pihak lawan tentu takkan dapat bertahan lama.

Sai-cu Lama tidak melihat adanya lowongan untuk melarikan diri. Melarikan diri dari dua orang lawan yang sakti itu berarti bunuh diri, maka diapun mengamuk dan melawan mati-matian dan sekuat tenaga. Tentu saja dia harus bergerak lebih cepat dan mengalurkan tenaga lebih banyak dari pada dua orang yang mengeroyoknya dan karena itu, sebentar saja tubuhnya sudah penuh keringat, napasnya memburu dan dari kepalanya yang gundul itu keluar uap tebal! Setelah merobohkan lawannya, Suma Hui membalikkan tubuh dan melihat betapa suaminya, Kao Cin Liong masih terlibat dalam perkelahian yang amat seru melawan kakek cebol Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat, wanita yang gagah ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia pun menerjang ke dalam perkelahian itu.

"Haiiiittt....!"

Sepasang pedang di tangannya sudah berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang menyambar-nyambar ke arah kepala dan tubuh Iblis Akhirat. Tentu saja orang pertama dari Sam Kwi ini terkejut bukan main. Menghadapi Kao Cin Liong saja dia sudah merasa repot dan terdesak terus, makin lama dia merasa tubuhnya semakin lemah dan lelah sedangkan lawannya nampak masih segar. Kini, isteri lawannya yang memainkan sepasang pedang dengan amat ganasnya, ikut maju mengeroyok! Tentu saja dia menjadi panik dan gerakannya kacau. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kao Cin Liong utuk mengirim sebuah tendangan ke arah perut kakek cebol itu.

"Dukkk....!"

Iblis Akhirat yang juga seorang ahli tendang Pat-hong-twi, berhasil menangkis tendangan itu dengan kakinya, akan tetapi pada detik yang sama, pedang di tangan kiri Suma Hui "masuk"

Dan menyayat paha kakinya.

"Srattt....!"

Darah mengucur deras dari celana dan kulit paha yang robek. Iblis Akhirat terkejut, golok Toat-beng Hui-to yang hanya dapat dipergunakan dalam jarak jauh, kini dibabatkan ke arah perut Suma Hui, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah selangkang Kao Cin Liong. Hebat memang orang pertama dari Sam Kwi ini. Dalam keadaan terluka itu, dia masih mampu sekaligus membagi serangan kepada dua orang lawannya. Dan serangan berganda inipun sama sekali tak boleh dipandang ringan karena kalau mengenai sasaran, tentu dua orang lawannya itu akan roboh tewas! Akan tetapi, tentu saja suami isteri keturunan Gurun Pasir dan Pulau Es itu tidak mudah dirobohkan oleh lawan yang sudah terdesak.

"Tranggg....!"

Post a Comment