Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 93

Memuat...

Hampir saja Ci Sian mengeluarkan suara saking kagetnya, akan tetapi dia cepat-cepat menutup mulutnya dan mengerahkan tenaga untuk menekan batinnya yang terguncang ketika dia mendengar nama Ibunya disebut-sebut itu! Sim Loan Ci adalah ibunya, ibu kandungnya seperti yang pernah didengarnya dari kakeknya bahwa Ibunya she Sim dan ayahnya seorang pendekar besar yang tentu saja she Bu, sama dengan she kakeknya. Dia lalu mendengarkan lagi dengan penuh perhatian.

"Dialah isteriku pertama yang sah, walaupun wanita seperti Nandini ini juga kuanggap isteriku sendiri, dan juga engkau, Cui Bi."

"Tak perlu merayu, lanjutkan ceritamu."

Desak dua orang wanita itu.

"Setelah menikah setahun lamanya, kami mempunyai seorang anak perempuan. Akan tetapi, berbareng dengan kebahagiaan ini, datanglah malapetaka. Kiranya hubunganku dengan puteri-puteri datuk kaum sesat itu, yang kutinggalkan karena memang kuanggap hanya hubungan selewat dan merupakan hiburan belaka, mendatangkan akibat panjang! Aku dicari-cari oleh para datuk kaum sesat, bahkan di antaranya terdapat Im-kan Ngo-ok yang mencari-cariku, karena seorang puteri mereka telah membunuh diri setelah kutinggalkan sehingga kini Im-kan Ngo-ok mencariku untuk membunuhku!"

"Huh, sudah sepatutnya engkau dibunuh!"

Kata Nandini.

"Dasar mata keranjang!"

Nikouw itu menyambung.

"Biar kulanjutkan ceritaku."

Kata pendekar itu setelah menarik napas panjang.

"Semenjak melahirkan, kesehatan Loan Ci amat buruk. Hal ini menggelisahkan hatiku, karena dalam keadaan seperti itu, mempunyai seorang bayi dan seorang isteri yang tidak sehat, tentu saja amat berbahaya menghadapi ancaman musuh-musuh seperti Im-kan Ngo-ok yang lihai itu. Maka terpaksa aku lalu membawa isteriku dan Anakku kepada Ayahku. Ayahku adalah seorang pendekar yang amat terkenal, yaitu Kiu-bwe Sin-eng Bu Thai Kun, seorang tokoh besar di dunia selatan. Ketika itu, aku agak takut-takut menghadap Ayah, karena aku pernah diusir oleh Ayah ketika di waktu muda aku bermain-main dengan seorang gadis dusun tempat kami."

"Dasar hidung belang ceriwis!"

Nandini kembali mencela.

"Mata keranjang tak tahu malu, kecil-kecil sudah gila perempuan sehingga diusir Ayah sendiri!"

Gu Cui Bi menyambung.

"Wah, kalian ini terus menerus mencelaku."

Bu Seng Kin terkekeh.

"Ayahku tidaklah segalak kalian. Dia memaafkan aku dan menerima kedatanganku dengan baik. Kemudian malah Ayah menganjurkan agar meninggalkan anak kami bersama Ayah, kemudian aku bersama isteriku pergi menjauhkan diri agar Im-kan Ngo-ok tidak mencelakai anak kami. Beberapa kali kami tersusul oleh mereka dan aku melakukan perlawanan mati-matian. Kalau saja isteriku tidak dalam keadaan sakit payah, kiranya kami berdua tidak akan takut menghadapi mereka. Akan tetapi karena isteriku sedang sakit, dan aku harus melindunginya, maka terpaksa aku melarikan diri bersama isteriku dan terus dikejar-kejar oleh Im-kan Ngo-ok. Akan tetapi akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari mereka, bersembunyi di Pegunungan Go-bi-san dan di sanalah isteriku meninggal dunia...."

Pendekar itu diam dan di atas genteng, Ci Sian menangis. Air matanya berlinang-linang dan dia menahan isaknya. Jelaslah kini bahwa pria di bawah itu, pria yang mata keranjang itu, adalah ayah kandungnya, dan ibunya benar-benar telah meninggal dunia.

"Semenjak itu, kembali aku berkeliaran...."

"Dan main perempuan....!"

Nandini mencela.

"Habis, mau apa lagi? Agaknya aku tidak boleh berjodoh lama-lama dengan wanita yang kucinta. Aku pindah dari pelukan satu ke lain wanita, akan tetapi semua itu hanya merupakan selingan hidup dan aku tidak pernah bersungguh-sungguh. Paling lama sebulan aku dapat bertahan dalam pelukan seorang wanita dan aku sudah pergi lagi...."

"Mencari yang lain! Phuihh!"

Nandini mencela.

"Sampai engkau berjumpa denganku."

Tiba-tiba nikouw itu berkata, suaranya mengandung kebanggaan. Pendekar itu menarik napas panjang.

"Ya, sampai aku bertemu denganmu, Cui Bi. Sekarang biar Nandini mendengar cerita tentang kita. Setelah aku mulai bosan merantau, bosan bertualang, pada suatu malam bertemulah aku dengan seorang nikouw di sebuah kuil Kwan-im-bio, di sebelah lereng bukit. Nikouw itu cantik dan muda dan.... aku jatuh cinta."

"Pada seorang nikouw? Dan engkau merayunya pula?"

Nandini bertanya, alisnya berkerut.

"Ha, apa bedanya? Dia pun seorang wanita, bukan? Dia masuk menjadi nikouw karena. patah hati, akan dikawinkan dengan seorang kakek kaya, dia tidak sudi dan melarikan diri setelah dipaksa menjadi isteri kakek itu selama sepekan. Lalu dia masuk menjadi nikouw dan ber-temu dengan aku."

"Engkau mahluk berdosa, Bu Seng Kin! Engkau merayu pinni dan menyeret pinni ke dalam jalan sesat!"

Tiba-tiba nikouw itu berkata dan suaranya mengandung isak penyesalan. Bu Seng Kin cepat merangkul pundaknya.

"Aih, Cui Bi, hal itu telah lama berlalu, bukan? Kita sama-sama mencinta, dan kemudian engkau melarikan diri dari kuil bersamaku, memelihara rambut lagi dan menjadi wanita biasa, kita hidup sebagai suami isteri yang penuh kebahagiaan."

"Ya, sampai aku tahu bahwa engkau adalah Si Petualang besar, bahkan engkaulah Si Perayu yang pernah membuat Bibiku tergila-gila dan diceraikan oleh Paman sehingga akhirnya Bibiku mati karena nelangsa. Kiranya engkaulah petualang yang telah menghancurkan hati banyak sekali kaum wanita itu. Aku menyesal dan aku lalu kembali menjadi nikouw, untuk minta ampun atas dosaku, juga untuk mintakan ampun atas dosanya. Dan engkau sudah berjanji akan bertapa di sini, untuk menebus dosa!"

Bu Seng Kin tersenyum lebar.

"Sudah kuusahakan hal itu, Cui Bi. Engkau tahu betapa bertahun-tahun aku menahan diri, aku hidup kesepian penuh kerinduan, terutama rindu sekali kepada orang-orang yang kucinta. Engkau menyiksaku, Cui Bi, maka sekarang, bertepatan dengan kedatangan Nandini, kita berkumpul di sini bertiga. Marilah kita hidup bersama, menikmati kehidupan kita yang tinggal tidak lama lagi ini, menikmati kebahagiaan hidup kita bertiga di hari tua bersama. Aku cinta kalian....!"

Dia lalu merangkul keduanya.

"Bu-taihiap, demi Tuhan, bersumpahlah bahwa engkau tidak akan mengganggu dan menghinaku!"

Nandini berseru.

"Orang she Bu, jangan engkau mengotori diriku; telah dua tahun aku menyucikan diri!"

Nikouw itu pun berkata.

"Aku bersumpah takkan mengganggu dan menghina kalian berdua, aku cinta pada kalian, tidak mungkin aku mau menyusahkan kalian."

Kata pendekar itu dan tiba-tiba dia menarik leher Nandini dan.... mencium mulut wanita itu dengan penuh kemesraan. Nandini terkejut sekali, tak mampu bergerak, bahkan tubuhnya menggigil dan naik sedu sedan dari dadanya, setelah pria itu melepaskan ciumannya, dia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

"Kau.... kau.... manusia busuk.... kau melanggar sumpahmu....!"

"Ha-ha, siapa melanggar sumpah, Nandini yang manis? Aku bersumpah tidak akan mengganggu dan menghina kalian. Engkau adalah isteriku yang kucinta, kalau seorang suami mencium isterinya, apakah itu mengganggu atau menghina namanya?

"Aku.... aku bukan isterimu, engkau bukan suamiku!"

"Mungkin menurut umum, akan tetapi bukankah kita sudah menjadi suami isteri, bukankah engkau pertama kali menyerahkan diri kepadaku, dan bukankah kita saling mencinta, Nandini? Apa salahnya orang yang saling mencinta berciuman?"

"Laki-laki busuk, mata keranjang, hidung belang.... tak tahu malu!"

Cui Bi memaki-maki dengan marah, akan tetapi tiba-tiba dia harus menghentikan maki-makinya karena mulutnya sudah dicium pula oleh pria itu, dengan sama mesranya seperti ketika dia mencium Nandini tadi! Nikouw itu gelagapan tak mampu bersuara, dan hanya memejamkan mata dan tanpa disadarinya, kedua lengannya merangkul leher pendekar itu!

"Kau memang tak tahu malu!"

Nandini membentak penuh cemburu dan tangannya bergerak menampar, akan tetapi tamparan yang sama sekali tidak bertenaga. Bu Seng Kin lalu membujuk rayu keduanya dengan kata-kata manis.

"Maafkanlah aku, Nandini dan Cui Bi, aku cinta kalian, tidak kasihankah kalian kepadaku? Aku hanya ingin menikmati kehidupan di dunia ini bersama kalian orang-orang yang kucinta sepenuh jiwa ragaku."

Pendekar itu bahkan berlutut di depan mereka, memohon-mohon dan akhirnya kembali dia merangkul mereka dan sekali ini,

Ketika dia mencium mereka, dua orang wanita itu hanya dapat memejamkan mata dengan muka berobah merah sekali. Mereka lupa segala! Ternyata pria ini masih hebat kemampuannya untuk merayu dan menundukkan wanita-wanita, dan terutama sekali karena memang dua orang wanita itu tak pernah mampu melupakannya dan masih mencintanya. Ci Sian yang melihat tontonan ini, disamping merasa heran dan juga malu, terutama sekali dia merasa berduka, teringat akan ibu kandungnya yang telah meninggal dunia, maka dia menghapus air matanya dan mengambil keputusan untuk pergi saja lagi dari situ. Untuk apa menemui seorang ayah kandung seperti itu? Seorang petualang asmara yang memalukan. Seorang laki-laki hidung belang, mata keranjang yang gila perempuan!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment