Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 92

Memuat...

"Omitohud....! Dasar mata keranjang, hidung belang, jahanam ceriwis keparat!"

Dari luar jendela yang berlawanan, yaitu di sebelah selatan, terdengar suara nyaring yang menyumpah ini. Mendengar ini, pria itu menoleh ke arah jendela sebelah selatan, tanpa bangkit berdiri, melainkan tersenyum. Dan begitu dia tersenyum, wajahnya nampak semakin menarik, tampan dan kelihatan jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Memang pria ini amat tampan, di waktu mudanya dahulu sudah tentu amat tampan dan banyak menjatuh kan hati kaum wanita, sedangkan sekarang pun masih nampak tampan menarik.

"Aihh, Bi-moi yang manis, mengapa engkau main sembunyi-sembunyi dan mengintai? Kalau memang kau merasa rindu padaku dan ingin bicara dan bercanda, masuklah, sayang!"

Sungguh ucapan ini mengandung rayuan maut bagi seorang setengah tua seperti dia dan terdengar amat menggairahkan dan juga amat menarik hati.

"Omitohud, dasar gila wanita!"

Terdengar suara dari luar jendela itu dan tiba-tiba jendela itu jebol didorong dari luar dan melayanglah sesosok tubuh ke dalam kamar itu. Melihat siapa yang masuk ini, Ci Sian terkejut sekali. Tadi dia sudah bengong terlongong ketika dia mengenal bahwa dua orang wanita itu adalah Siok Lan dan ibunya. Selagi dia kebingungan dan terheran-heran belum tahu benar siapa pria itu dan mengapa Siok Lan dan Ibunya berada di situ mengintai seperti dia, maka ketika mendengar suara wanita dari luar jendela selatan itu dia pun amat kaget.

Karena dia sejak tadi mengintai, maka dia tidak melihat munculnya wanita ini di belakang jendela selatan dan tahu-tahu dia mendengar suaranya. Kini, melihat siapa yang muncul di dalam kamar dengan gerakan yang demiklan ringan dan cekatan, Ci Sian hampir berseru kaget. Wanita yang masuk ini bukan lain adalah nikouw muda cantik yang dijumpainya siang tadi! Makin bingung dan heranlah dia, akan tetapi dengan penuh perhatian dia terus mengintai dari atas genteng. Nikouw muda itu kini berhadapan dengan pria itu, wajahnya yang putih halus itu merah sekali, tanda bahwa dia sudah amat marah dan suaranya nyaring ketika dia berkata sambil menudingkan telunjuk kirinya yang berkuku runcing terpelihara itu ke arah hidung pria itu.

"Dasar kerbau hidung belang kau! Katanya hendak bertapa di sini menjauhkan diri dari semua wanita, siapa tahu diam-diam engkau merindukan wanita lain! Keparat, sungguh tak tahu malu engkau!"

"Eh.... ehhh.... sabarlah, sayang. Engkau sendiri yang mengambil keputusan untuk menjadi nikouw sehingga aku terpaksa kekeringan dan kesepian di sini, membuat aku teringat kepada bekas-bekas kekasih lama yang kurindukan. Mengapa kau marah? Marilah, sayang, mari kau mendekat, aihh, tak tahukah engkau betapa selama ini aku amat rindu kepadamu, dan betapa setelah engkau berpakaian nikouw dan kepalamu gundul engkau menjadi semakin cantik saja?"

"Phuhh, siapa sudi rayuanmu? Dan kepalaku sudah tidak gundul lagi!"

Berkata demikian, nikouw itu membuka penutup kepalanya dan memang benar, kepala gundul itu sudah ditumbuhi rambut, walaupun baru setengah jari panjangnya.

"Aduh engkau semakin manis. Ke sinilah, mari minum arak bersamaku, Cui Bi kekasihku yang denok!"

"Brakkkkk!"

Tiba-tiba daun jendela sebelah utara pecah berantakan disusul melayangnya tubuh Nandini! Wanita ini sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi melihat betapa pria itu merayu nikouw itu sedemikian rupa. Hatinya penuh dengan cemburu yang membuat dadanya hampir meledak sehingga dia tidak ingat apa-apa lagi lalu menghantam jendela itu dan meloncat masuk.

"Nandini....!"

Pria itu berseru, nampaknya kaget akan tetapi mulutnya tersenyum penuh daya pikat.

"Engkau baru datang, bidadariku dari Nepal?"

"Laki-laki kejam, mata keranjang dan rendah budi! Jadi untuk nikouw inilah engkau meninggalkan aku?"

Bentak Nandini sambil menudingkan telunjuknya.

"Bu Seng Kin! Jadi engkau telah mempunyai gendak orang Nepal ini?"

Bentak nikouw itu dan dua orang wanita itu sejenak saling pandang penuh kebencian dan cemburu, akan tetapi kemarahan mereka itu kini tertumpah kepada pria yang disebut Bu Seng Kin itu dan mereka berdua kini menubruk maju dan menyerang pria dari kanan kiri dengan pukulan-pukulan maut yang amat cepat dan ganas!

"Wah, beginikah kalian memperlihatkan rasa rindu kalian? Heh-heh, mana bisa kalian menyerangku dengan ilmu-ilmu pukulan yang kuajarkan sendiri kepada kalian? Ha-ha, tidak kena! Wah, hampir saja, Nandini! Nah, meleset, Cui Bi!"

Biarpun diserang dengan ganas oleh dua orang wanita itu, namun dengan amat mudahnya pria itu menggerakkan langkah-langkah kaki sedemikian rupa sehingga semua serangan itu mengenai tempat kosong belaka!

"Wah, mana bisa kita bicara baik-baik kalau kalian marah-marah begini? Sabarlah, tenanglah....!"

Pria itu membujuk, akan tetapi bagaikan dua ekor singa betina yang marah-marah, dua orang wanita itu terus menyerang semakin hebat.

Akhirnya, entah bagaimana Siok Lan yang mengintai dari jendela dan Ci Sian, yang mengintai dari genteng itu tidak tahu benar, tiba-tiba saja dua orang wanita yang marah-marah itu telah kena dirangkul pinggang mereka di kanan kiri dan pria itu sambil tersenyum-senyum menarik mereka dan mengajak mereka duduk di atas bangku, di kanan kirinya! Akan tetapi Ci Sian segera dapat menduga bahwa tentu pria yang amat lihai itu telah berhasil menotok jalan darah dua orang wanita itu sehingga menjadi lemas dan tidak dapat melawan lagi. Dugaannya memang benar karena biarpun mereka tidak melawan ketika dirangkul dan didudukkan ke atas bangku, keduanya memaki-maki kalang-kabut!

"Bu-taihiap, kalau engkau sampai mengganggu dan menghinaku, aku bersumpah akan memusuhimu sampai titik darah terakhir!"

Nandini berkata akan tetapi tidak mampu melepaskan dirinya yang dipaksa duduk di samping pria itu dan pinggangnya yang masih ramping itu dirangkul!

"Bu Seng Kin, aku bersumpah akan membunuh diri kalau engkau berani mengganggu diriku!"

Nikouw itu juga berkata tanpa mampu melepaskan dirinya yang juga dirangkul pinggangnya.

"Ha-ha-ha, manisku, sayangku, kalian adalah isteri-isteriku, kalian adalah jantung hatiku, aku sayang dan cinta kepada kalian, mana mungkin aku akan mengganggu dan menghina kalian? Akan tetapi kalian juga jangan mengecewakan hatiku lagi, dan suka temani aku makan."

Sambil tersenyum girang, petani yang bernama Bu Seng Kin itu lalu melepaskan rangkulannya dan mengeluarkan makanan dari sudut belakang ruangan yang merupakan dapur. Tidak banyak macamnya makanan itu, hanya beberapa macam sayur sederhana, nasi dan daging kering. Akan te-tapi dengan lagak sedang pesta besar, Bu Seng Kin lalu mengatur semua itu di atas meja. Dua orang wanita itu hanya memandang saja, kadang-kadang saling lirik dan saling menyelidiki keadaan ma-sing-masing.

"Ha-ha, mari kita makan, manis. Nandini sayangku, kau makanlah, sawi putih ini dahulu menjadi kesukaanmu, bukan?"

Dan dia lalu mengambil sepotong sayur dari mangkok dengan sumpitnya dan membawa makanan itu ke mulut Nandini. Karena maklum bahwa dia tidak berdaya, juga karena terharu akan sikap yang manis dan menyayang dari pria itu, Nandini tidak dapat menolak, membuka mulut dan makan sayur itu.

"Dan kesukaanmu dahulu adalah daging dendeng asin ini, bukan, Cui Bi?"

Dia mengambil sepotong kecil daging dengan sumpitnya dan mendekatkannya ke mulut Cui Bi yang kecil mungil itu.

"Gila! Kau tahu sebagai nikouw aku tidak makan daging!"

Cui Bi berkata.

"Ah, engkau menjadi nikouw karena terpaksa dalam kemarahanmu, bukan sewajarnya. Sekarang setelah berkumpul kembali dengan aku, tidak perlu kau berpantang daging lagi. Hayolah, jangan pura-pura, manisku."

Dan nikouw itu terpaksa menerima pula daging itu dan memakannya. Demikianlah, dengan sikap gembira sekali Bu Seng Kin lalu makan minum, menyuapkan makanan secara bergantian kepada dua orang wanita di kedua sisinya itu, juga memberi mereka minum arak. Karena pandainya dia bicara dan merayu, dua orang wanita itu agaknya perlahan-lahan lenyap kemarahan mereka, bahkan mereka kadang-kadang sudah mau tersenyum oleh cerita lucu, walaupun senyum yang ditahan-tahan.

"Hayo ceritakan pengalamanmu semenjak berpisah dariku, Bu-taihiap, ceritakan semua tanpa ada yang kau sembunyikan tentang wanita-wanita yang kau ambil sebagai pengganti-ku, baru aku mau melanjutkan makan minum bersamamu."

Tiba-tiba Nandini berkata sambil melirik ke arah nikouw yang berada di samping kiri pendekar itu.

"Benar! Aku pun harus mendengar semua petualanganmu sebelum bertemu dengan aku yang agaknya merupakan seorang di antara banyak wanita yang kau rayu dan menjadi jatuh!"

Kata pula nikouw itu.

"Kalau tidak, aku pun tidak sudi duduk bersamamu lagi."

Bu Seng Kin tersenyum lebar dan berdongak ke atas, mengejutkan hati Ci Sian karena dara ini merasa seolah-olah pendekar itu memandang kepadanya yang sedang mengintai. Akan tetapi pendekar itu menunduk kembali dan dia pun mencurahkan perhatiannya. Biarpun dia merasa muak menyaksikan adegan roman-romanan itu, akan tetapi dia pun ingin mendengar cerita orang yang diduganya adalah pria yang dicarinya, yaitu ayah kandungnya. Hatinya sudah seperti disayat-sayat karena kecewa melihat tingkah pria di bawah itu yang jelas merupakan seorang pria tukang merayu wanita, sedang pria yang hidung belang yang pandai sekali menjatuhkan hati wanita.

"Ha-ha-ha, baiklah, baiklah, akan kuceritakan. Aihh, biarpun sudah lewat belasan tahun, hampir dua puluh tahun, engkau masih nampak cantik jelita saja, Nandini, betapa masih kuingat benar ketika aku terpaksa meninggalkanmu, kasihku."

"Bohong! Dan jangan sebut aku kekasihmu, kalau engkau benar cinta padaku tidak mungkin engkau meninggalkan aku!"

Kata Nandini dengan marah karena hatinya masih panas kalau teringat betapa dalam keadaan mengandung dia telah ditinggal pergi oleh kekasihnya ini.

"Aihh, jangan kau berkata begitu. Aku pergi meninggalkanmu dengan hati yang berdarah, luka parah oleh kedukaan. Ah, ya, Cui Bi belum tahu akan riwayat kami, biarlah kuceritakan secara singkat."

Pendekar itu lalu bercerita, didengarkan oleh Siok Lan dan Ci Sian yang masih mengintai.

"Biarpun terus terang saja, Nandini bukan merupakan wanita pertama yang pernah menjadi kekasihku, akan tetapi baru kuakui bahwa dialah wanita pertama yang benar-benar membuat aku tergila-gila dan dengan Nandinilah untuk pertama kali aku benar-benar menaruh cinta."

"Huh, siapa percaya?"

Kata, Nandini, akan tetapi sepasang matanya berseri penuh kegembiraan mendengar ini, dan nikouw di sebelah itu memandang iri!

"Sungguh mati! Akan tetapi, seperti kau ketahui, Ayah Nandini marah-marah melihat hubungan antara puterinya dan aku karena Nandini telah ditunangkan kepada seorang pangeran. Ayah Nandini bahkan menyerangku dan berusaha membunuhku, akan tetapi dia sudah tua dan sampai meninggal karena serangan jantungnya sendiri. Aku merasa menyesal sekali, apalagi ketika aku mendengar bahwa kalau Nandini tidak berpisah dariku, maka pangeran itu akan menangkap dan membunuh seluruh keluarganya. Tentu saja aku tidak menghendaki hal itu terjadi, maka aku lalu pergi meninggalkan Nandini, dengan hati hancur berdarah, hanya demi menjaga keselamatan keluargamu, Nandini."

"Hemm, benarkah itu?"

Nandini bertanya, nampaknya terharu.

"Aku berani bersumpah tujuh turunan...."

"Turunanmu jangan dibawa-bawa dalam hukum akibat petualanganmu!"

Nandini memotong.

"Teruskan ceritamu."

Kata Gu Cui Bi, nikouw itu, dengan hati semakin iri dan cemburu.

"Setelah meninggalkan Nepal, tentu saja aku bertemu dengan banyak wanita cantik, di antaranya adalah puteri kepala suku Biauw yang manis, ada pula pendekar-pendekar wanita petualang kang-ouw, ada pula puteri-puteri datuk kaum sesat, akan tetapi semua itu hanya merupakan selingan-selingan saja dan tidaklah sungguh-sungguh seperti yang terjadi antara aku dan Nandini. Kemudian, kurang lebih setahun semenjak meninggalkan Nepal dan bertualang dengan belasan orang wanita secara selewat saja, aku bertemu dengan seorang pendekar wanita yang bernama Sim Loan Ci dan kami saling mencinta lalu kami menikah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment