Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 92

Memuat...

Bermanfaat berarti tidak merusak.

Dengan dengan pasrah, dengan menyerahkan kepada Tuhan yang mencipyakan kita, menyerah penuh keiklasan dan ketawakalan, barulah mungkin bagi kita untuk menerima segala yang terjadi dengan penuh kesadaran, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu, pada akhirnya ditentukan oleh kekuasaan-nya.

"Aku mengerti sekarang, enci Eng, dan aku merasa kasihan kepada Kim Giok.

Aku hampir yakin bahwa ia telah terbujuk, bahwa Ouw Seng Bu itu seorang yang tidak waras, orang gila yang teramat cerdik dan licik, juga memiliki ilmu silat yang aneh dan berbahaya sekali." "Kita lihat perkembangannya, adik Sian Li.

Kita harus bersabar dan melihat apa yang akan mereka lakukan terhadap kita.

Aku yakin mereka akan menghubungi kita, mungkin melalui Cu Kim Giok tadi.

Tidak perlu kita bergerak dengan sia--sia, sebaiknya menanti datangnya kesem-patan baru kita mematahkan rantai ini dan mencoba untuk lolos." Sian Li mengangguk, diam-diam merasa lega dan girang karena mempunyai teman seperti ini boleh diandalkan.

*** Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tiba di kaki Bukit Naga.

Terdapat sebuah kuil tua kosong di kaki bukit sebelah itu dan karena hari menjelang senja, mereka mengambil keputusan untuk melewatkan malam di kuil tua itu.

Tadi mereka telah membeli bekal makanan dari dusun ter-akhir.

Di luar kuil tua yang tidak digunakan lagi itu, mereka berhenti dan terkejut melihat ada seorang tosu duduk bersila di bagian depan kuil.

Ciang Hun yang sudah berpengalaman, tidak berani lancang dan dia menghampiri tosu itu.

Bi Kim mengikutinya dari belakang, siap menghadapi, segala kemungkinan karena tahu bahwa mereka telah berada di dae-rah Bukit Naga.

290 "Harap Totiang memaafkan kami ber-dua.

Karena kemalaman di perjalanan kami ingin melewatkan malam di kuil tua ini, kalau saja tidak mengganggu Totiang." "Siancai, silakan, Kongcu dan Siocia.

kata pendeta itu dengan sikap acuh.

Pada saat kedua orang muda itu hendak melangkah masuk, dari dalam keluar empat orang tosu lainnya dan tentu saja, hal ini membuat Ciang Hun terkejut.

"Ah, maafkap kami, Cu-wi To-tiang.

Kiranya kuil ini sekarang menjadi tempat tinggal Totiang sekalian?" Tosu tertua yang tadi duduk bersila di luar berkata lembut, "Sama sekali bukan, Kongcu.

Kami berlima juga se-dang berteduh dan melewatkan malam di sini.

Kuil ini kosong dan tidak diperguna-kan lagi." "Ah, kalau begitu kebetulan dan terima kasih To-tiang." Ciang Hun dan Bi Kim lalu membersihkan lantai di sudut ruangan depan karena ternyata hanya ruangan depan itu saja yang masih agak utuh dan bersih, sedangkan ruangan tengah dan belakang kuil itu sudah rusak dan kotor.

Lima orang tosu itu duduk bersila, dan dua orang muda di sudut itu lalu menyalakan lilin yang tadi mereka beli sehingga ruangan itu tidak menjadi gelap lagi.

Malam tiba dan hawa udara amat dinginnya.

Dua orang di antara para tosu itu lalu membuat api unggun dari kayu-kayu yang agaknya telah mereka cari dan kumpulkan siang tadi.

Keadaan men-jadi semakin terang oleh cahaya api unggun dan ada kehangatan di situ.

Bi Kim mengeluarkan buntalan ma-kanan yang mereka beli tadi, dan dengan ramah dan hormat Ciang Hun dan Bi Kim menawarkan makanan kepada lima orang tosu itu.

"Cu-wi To-tiang mari silakan Cu-wi To-tiang makan malam bersama kami, kita makan seadanya, To-tiang." kata Bi Kim.

"Silakan, To-tiang, kami akan gembira sekali untuk menjamu Cu-wi dengan ma-kanan kami yang sederhana." kata pula Ciang Hun.

"Siancai, Ji-wi adalah dua orang muda yang ramah dan baik.

Terima kasih, Kongcu dan Siocia, kami tadi sudah ma-kan dan tidak merasa lapar.

Silakan Ji--wi makan, harap jangan sungkan-sungkan." kata tosu tertua.

Karena maklum bahwa mereka berdua menghadapi perjalanan yang mungkin sukar dan membutuhkan banyak pengerah-an tenaga, maka dua orang muda itu tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai makan bak-pao dan dendeng yang tadi mereka beli sebagai bekal.

Setelah me-reka selesai makan, membersihkan mulut dan tangan dengan air yang mereka ba-wa, mereka diundang duduk dekat api unggun oleh para tosu.

Dengan gembira dua orang muda itu duduk mengelilingi api unggun bersama lima orang pendeta itu."Kalau pinto (saya) tidak salah lihat, Ji-wi bukanlah dua orang muda biasa, melainkan dua orang muda yang memiliki kepandaian silat.

Bolehkah pinto menge-tahui nama Ji-wi dan apa keperluan Ji--wi mendatangi daerah yang berbahaya ini?" Karena yakin bahwa lima orang pen-deta ini adalah orang-orang beribadat yang baik, maka Ciang Hun tidak merasa perlu untuk menyembunyikan keadaan mereka.

"To-tiang, saya bernama Gak Ciang Hun dan nona ini adalah Gan Bi Kim.

Kami berdua melakukan perjalanan ke sini untuk mencari seorang sahabat kami yang jejaknya menuju ke bukit ini." Tiba-tiba Gan Bi Kim berkata, "Mung-kin sekali Cu-wi To-tiang ada yang me-lihat sahabat kami itu lewat di sini!" "Aih, benar juga!" seru Ciang Hun girang.

"Apakah Cu-wi To-tiang melihat sahabat kami itu lewat di sini" ia se-orang gadis muda...." "Pakaiannya serba merah?" potong seorang tosu.

"Benar, benar!" Ciang Hun berseru girang.

"Siancai, yang kalian cari itu bukankah Si Bangau Merah, nona Tan Sian Li?" Dua orang muda itu hampir berteriak karena girangnya, "Benar sekali, To-tiang!" kata Gak Ciang Hun.

"Apakah Totiang melihatnya" Di mana?" tanyanya dengan penuh gairah.

"Nanti dulu, kalau Ji-wi mengenal Si Bangau Merah, tentulah Ji-wi bukan orang--orang sembarangan.

Kongcu she Gak" Hemmm...." pinto mendengar tentang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Beng-san), apakah hubungan Kongcu de-ngan para pendekar she Gak itu?" "Saya adalah puteranya...." "Ahhh! Sungguh kami merasa ber-untung bertemu dengan putera Beng-san Siang-heng!" "Kalau boleh kami mengetahui, siapa-kah Cu-wi To-tiang?" tanya Ciang Hun, kini memandang penuh perhatian.

Tosu tertua itu menghela napas pan-jang.

"Pinto disebut Thian-tocu, seorang murid Bu-tongpai dan empat orang ini adalah para sute pinto.

Baru kemarin pinto berlima bertemu dengan Si Bangau Merah, bahkan ia yang mengobati.

Pinto dari pukulan beracun.

Karena masih belum pulih kekuatan pinto, maka kami berhenti di sini untuk memulihkan tenaga." "Lalu, ke manakah perginya adik Sian Li?" tanya Ciang Hun.

Tosu itu menghela napas panjang.

"Kami khawatirsekali.

Ia pergi mendaki Bukit Naga itu dan hendak berkunjung ke Thian-li-pang, padahal keadaan Thian--li-pang telah berubah sama sekali.

Per-kumpulan itu telah menyeleweng dan dipimpin oleh seorang ketua baru yang seperti Iblis.

Kami sungguh mengkhawatir-kan keselamatan pendekar wanita itu." "Totiang, apakah yang telah terjadi?" tanya Gan Bi Kim, ikut pula merasa khawatir mendengar ucapan tosu itu.

Thian-tocu lalu menceritakan semua pengalaman mereka berlima.

Mereka sengaja mendatangi Thian-li-pang karena mendengar berita tentang sepak terjang Thian-li-pang yang menyeleweng, menundukkan para tokoh-tokoh kang-ouw de-ngan kekerasan, melakukan pemerasan.

292 "Bahkan lebih mengejutkan lagi adalah berita tentang terbunuhnya Pendekar Tangan Sakti Yo Han oleh ketua baru Thian-li-pang...." "Ahhh....!! Benarkah itu, Totiang?" Ciang Hun berseru kaget.

"Kami pun tidak percaya.

Ketika kami tanyakan hal itu kepada Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang, dia mengatakan bahwa Yo Han telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, kemudian Yo Han juga menyerang dia.

Dalam perlawanan yang dibantu anak buahnya, Yo Han tewas.

Demikian keterangan Ouw pangcu.

Kami tidak percaya sehingga terjadi perkelahian, akan tetapi ketua baru itu seperti iblis, lihai bukan main dan pinto terkena pukulan beracun darinya.

Kami merasa kalah dan turun bukit, bertemu di jalan dengan Si Bangau Merah yang mengobati pinto.

Kami sungguh meng-khawatirkan Si Bangau Merah yang hen-dak melakukan penyelidikan ke tempat berbahaya itu." "Kalau begitu, adik Sian Li terancam bahaya.

Kita harus cepat ke sana, Kim- moi!" kata Ciang Hun, khawatir sekali.

"Gak-taihiap, sebaiknya kalau kita berhati-hati menghadapi Thian-li-pang.

Selain ketuanya amat lihai, juga kini Thian-li-pang bergabung dengan tokoh--tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti.

Siangkoan Kok bekas ketua Pao-beng--pai juga para tokoh Pek-lian-kauw dan Patkwa-pai berada di sana.

Sebaiknya kalau Ji-wi bersabar sampai lewat malam ini dan besok pagi-pagi barulah mendaki ke sana." "Kita?" Ciang Hun bertanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment