Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 90

Memuat...

Setiap kali melihat ada anak buah Thian--li-pang lainnya, orang itu ditarik oleh Sian Li untuk bersembunyi dan pedangnya menodong punggungnya.

Akhirnya, setelah melalui jalan berliku-liku, orang itu mem-bawa Sian Li memasuki ruangan bagian belakang.

Bangunan di situ cukup besar dan mereka memasuki gang dan tiba di depan pintu sebuah kamar yang terbuat dari besi dan ada jerujinya yang kokoh kuat.

Pintu kamar itu dipasangi rantai yang dikunci.

"Dia....

dia di sana...." Orang itu menuding ke dalam kamar tahanan itu.

Sian Li menggerakkan tangan kirinya dan orang itu terkulai lemas, tak mampu bergerak lagi karena tertotok.

Sian Li menghampiri jeruji pintu kamar itu dan melihat ke dalam.

Jantungnya berdebar.

"Han-koko....!" Ia berseru, akan te-tapi lirih karena tidak ingin membuat gaduh.

Ia melihat Yo Han duduk bersila, membelakangi pintu.

Ia memang tidak melihat wajah orang itu, akan tetapi perawakannya membuat ia mengenal pemuda itu, apalagi anak buah Thian--li-pang tadi mengatakan bahwa Yo Han ditawan di kamar itu.

"Han-koko....!" Ia memanggil lagi, akan tetapi orang yang bersila membela-kanginya itu tidak menjawab, tidak ber-gerak.

Agaknya Yo Han terluka parah dan sedang menghimpun hawa murni, maka tidak dapat menjawabnya, pikir Sian Li.

Ia melihat betapa Yo Han me-narik napas panjang dan menahan napas itu sampai lama.

Ah, Yo Han tentu terjebak musuh dan menderita luka, maka dapat tertawan, pikir Sian Li.

Sekaranglah saatnya mem-bebaskannya, karena kalau sampai Ouw Seng Bu dan sekutunya muncul, tidak akan mudah baginya untuk membebaskan kekasih hatinya itu.

"Han-koko, jangan khawatir, aku akan menolongmu!" katanya.

Ia memperhitung-kan bahwa kalau kamar tahanan itu di-pasangi jebakan, tentu Yo Han akan memperingatkannya.

Sian Li mengeluarkan sulingnya.

Su-ling itu hanya disaput emas, akan tetapi sebetulnya di sebelah dalamnya terbuat dari baja pilihan yang amat kuat.

Ia mengerahkan tenaganya, tenaga gabungan Im-yang-sin-kang dari keluarga Pulau Es seperti yang ia pelajari dari Suma Ceng Liong, memutar sulingnya dengan ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan sinar emas menyambar ke arah lantai yang membelenggu daun pin-tu kamar tahanan itu.

"Tranggg....

trakkk!" Rantai itu patah dan Sian Li mendorong daun pintu kamar tahanan itu sehingga terbuka.

Dengan cepat, namun hati-hati dan tidak kehilang-an kewaspadaan, ia pun memasuki kamar tahanan itu.

Pada saat itu terdengar suara gaduh di luar dan ketika ia me-nengok, nampak banyak anak buah Thian--li-pang memasuki rumah tahanan itu.

Hemmm, ia telah ketahuan musuh, pikir-nya.

Ia harus cepat membebaskan Yo Han.

"Han-koko, mari kita pergi...." Ia menahan kata-katanya dan terbelalak ketika orang yang tadinya bersila mem-belakanginya itu meloncat ke depan, membalikkan tubuhnya dan ia ber-hadapan dengan Ouw Seng Bu! Kiranya, ketua Thian-li-pang itu yang tadi duduk bersila membelakanginya.

Memang pera-wakan ketua baru ini mirip dengan pe-rawakan Yo Han, dan agaknya sang ketua ini sengaja menyamar sehingga ram-but yang dikucir bergantung dan me-lingkar leher itu pun sama, juga pakaian-nya.

"Ha-ha-ha, Bangau Merah! Sudah ku-katakan bahwa Yo Han telah berkhianat, dan dia telah mati di dalam sumur tua, dan engkau masih juga tidak percaya" Sekarang, lebih baik engkau menyerah dan membantu kami berjuang melawan penjajah, sesuai dengan nama besar ke-luargamu sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa." "Keparat Ouw Seng Bu! Engkau tentu telah menjebak Han-koko! Sekarang aku harus membalas dendam kepadamu!" Se-telah berkata demikian, Sian Li memutar suling dan menerjang maju.

Akan tetapi, Ouw Seng Bu menghindar dengan loncat-an ke kiri.

"Ha-ha-ha, engkau sudah terkepung dan masih bicara besar" Lihat di luar kamar ini anak buahku telah menghadang dan mengepung.

Engkau tidak akan dapat lolos, Tan San Li.

Melawan pun tidak ada gunanya karena kalau Yo Han saja tidak mampu menandingi aku, apa lagi engkau." "Jahanam busuk sombong!" Sian Li berteriak dan ia pun menyerang lagi dengan dahsyat.

Diam-diam Ouw Seng Bu terkejut karena serangan Si Bangau Me-rah itu memang dahsyat dan kuat bukan main.

Sulingnya berubah menjadi sinar emas yang mengeluarkan suara meleng-king-lengking aneh.

Dia melompat ke tepi kamar, tangannya menekan tombol di dinding dan di dinding di belakangnya terbuka.

Dia melompat masuk.

"Pengecut, hendak lari ke mana kau?" bentak Sian Li yang mengejar cepat.

Ia pun ,meloncat masuk ke dalam kamar lain di mana Ouw Seng Bu sudah menunggu sambil tersenyum mengejek.

Pemuda itu menggerak-gerakkan kedua lengan tangan-nya secara aneh dan terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan! Dia telah menghimpun tenaga dari ilmunya yang sesat, yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latih.

Dan kini wajahnya berubah, masih tampan, akan tetapi senyumnya yang tadinya ramah dan manis itu berubah menjadi wajah menyeringai yang amat menyeramkan, sadis dan dingin, matanya liar dan suara tawanya seperti setan tertawa.

Ketika Sian Li melihat keadaan Ouw Seng Bu seperti itu, ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang yang tidak waras, atau miring otaknya! Ia tidak tahu bahwa keadaah itu merupakan akibat dari ilmu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan.

"Iblis gila!" bentaknya dan ia me-ngerang lagi dengan Sulingnya.

Kamar yang ini berbeda dengan kamar tahanan di depan tadi.

Dinding yang tadi terbuka menembus ke kamar tahanan kini sudah menutup kembali dengan sendirinya dan kamar ini lebih luas.

Hantaman sulingnya ke arah kepala pemuda itu meloncat ke samping dan ketika suling itu mengejar dengan sambaran ke samping, dia me-nangkis dengan tangan kirinya.

"Takkk....!" Dua tenaga dahsyat ber-temu dan akibatnya tubuh Sian Li ter-dorong ke belakang sampai tiga langkah.

Gadis itu terkejut bukan main.

Sulingnya yang ditangkis tadi tergetar hebat dan ada tenaga aneh yang amat dingin me-nyusup melalui suling dan tangannya dan tenaga itu amat kuat sehingga dia ter-dorong dan terhuyung.

Baiknya ia masih mengerahkan.

tenaga sin-kang untuk me-nolak pengaruh hawa dingin aneh itu.

"Ha-ha-heh-heh-heh!" Ouw Seng Bu terkekeh menyeramkan dan membusung-kan dadanya.

"Si Bangau Merah, engkau tidak akan menang melawan aku.

Ilmuku yang amat hebat ini tidak dapat ditan-dingi siapapun juga dan sebentar lagi aku akan menjadi jagoan nomor satu di dunia, mengusai dunia kang-ouw, bahkan se-telah menjatuhkan pemerintah penjajah Mancu, akulah yang layak dan pantas menjadi kaisar.

Ha-ha-ha!" "Gila, dia gila akan tetapi memiliki ilmu yang ajaib," pikir Sian Li.

Ia harus dapat merobohkan orang ini, kalau tidak, ia tentu akan celaka.

Baru orang ini saja sudah demikian hebat, kalau para sekutu-nya datang mengeroyok, ia tahu bahwa ia tidak akan mampu menandingi mereka.

Sian Li mengeluarkan pekik melengking dan kini ia memutar suling emas-nya, memainkan ilmu pedangnya yang paling ampuh, yaitu Ang-ho Sin-kun (Si-lat Bangau Merah) yang ia pelajari dari ayahnya, Pendekar Sakti Bangau Putih.

Sulingnya berubah menjadi sinar emas bergulung-gulung menyilaukan mata, dan tubuhnya juga lenyap berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan terbungkus sinar emas.

Dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyerang ke arah Ouw Seng Bu.

Akan tetapi sambil terkekeh-kekeh aneh, Ouw Seng Bu berdiri tegak dan kedua tangannya membuat gerakan-gerak-an aneh, kadang diputar seperti baling--baling, dan dari kedua tangan itu me-nyambar hawa dahsyat yang membuat semua serangan Sian Li tertolak kembali, mental sebelum mengenai tubuh lawan! Ketika Ouw Seng Bu melangkah maju mendekat, hawa pukulan kedua tangannya semakin kuat sehingga kini gulungan sinar emas itu makin menyempit, tanda bahwa Si Bangau Merah terdesak oleh tenaga aneh itu.

Pada saat itu terdengar suara wanita, "Bu-ko, jangan bunuh atau lukai ia!" Mendengar teriakan itu, Ouw Seng Bu terkekeh.

"Heh-heh-heh, tidak, tidak, sayang, jangan khawatir!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia meloncat ke bela-kang dan berlari keluar dari ruangan itu melalui sebuah lorong yang lebarnya sekitar dua meter dan panjang.

"Jangan lari!" bentak Sian Li yang mengejar.

Terdengar suara keras dan jorong itu sudah tertutup dari depan dan belakang oleh pintu rahasia.

Sian Li terkejut, merasa terjebak dalam lorong yang tertutup, akan tetapi karena Ouw Seng Bu masih berada di situ bersamanya, ia tidak takut dan memutar suling lebih cepat untuk menjaga agar orang itu ti-dak melarikan diri melalui sebuah pintu rahasia.

"Heh-heh-heh, engkau takkan dapat lolos, Bangau Merah!" kata Ouw Seng Bu.

Tiba-tiba dari lantai lorong itu keluar asap kemerahan memenuhi lorong.

Sian Li mencium bau harum menyengat dan tahulah ia bahwa asap itu mengandung racun pembius! Akan tetapi, tidak ada jalan keluar dan jalan satu-satunya hanya menyerang mati-matian pada lawan yang masih tertawa-tawa walaupun asap merah makin menebal.

Gadis perkasa yang cer-dik ini menyesal akan kebodohannya sen-diri.

Tentu saja, pikirnya.

Ouw Seng Bu telah memakai obat penawar! Asap sudah terpaksa disedotnya ketika ia bernapas.

"Keparat keji, pengecut, curang....!" Ia menyerang lagi akan tetapi kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang dan ia pun roboh terkulai pingsan.

Ketika siuman kembali, Sian Li men-dapatkan dirinya rebah di atas sebuahdipan.

Ia melihat betapa kaki tangannya diikat rantai baja panjang.

Cepat ia turun dari pembaringan itu dan mengerahkan tenaga sin-kang untuk mematahkan rantai kaki tangannya.

"Jangan, Sian Li.

Jangan patahkan, rantai.

kaki tanganmu." terdengar suaraorang.

Ia menengok dan melihat Hui Eng juga berada di kamar itu.

Juga gadis ini dirantai kaki tangannya, dengan rantai panjang yang membuat ia mampu bergerak ke sana sini, mampu mempergunakan tangan kakinya akan tetapi rantai itu tidak sampai pintu kamar tahanan yang beruji.

"Ah, kiranya engkau pun sudah ter-tawan.

Post a Comment