Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 88

Memuat...

Dia pun menunggu dengan hati berdebar tegang penuh kekhawatiran.

*** Kekuasaan Tuhan mencakup dan me-nyelimuti seluruh yang ada, seluruh yang nampak dan yang tidak nampak oleh mata manusia.

Keadaan di seluruh alam semesta ini terjadi karena Kekuasaan Tuhan.

Kekuasaan Tuhan berada di dalam yang paling dalam, di luar yang paling luar, mencakup yang paling kecil sampai paling besar, yang terendah sampai yang tertinggi.

Kekuasaan Tuhan jugalah yang mencipta, memelihara, dan mengadakan sampai yang meniadakan.

Segala sesuatu terjadi karena Kehen-dak Tuhan.

Segala macam suka, duka, indah buruk, hanya merupakan ulah pikir-an yang bergelimang nafsu daya rendah.

Sebab akibat merupakan mata rantai kait mengait yang dibentuk oleh hati akal pikiran kita sendiri.

Tidak ada yang lebih kuat daripada Kekuasaan Tuhan, yang juga bekerja di dalam tubuh kita, dari ujung rambut sampai ke kuku jari kaki.

Kekuasaan Tuhan bekerja sepenuhnya kalau kita menyerah.

Penyerahan total yang meniadakan ulah hati akal pikiran sehingga kekuasaan Tuhan mutlak be-kerja.

Kalau sudah begitu, tidak ada yang tidak mungkin.

Hanya Tuhanlah Maha Sempurna, Maha Kuasa.

Segala kehendakNya jadilah! Ketika dia terjebak di dalam sumur tua, dan sumur itu ditimbuni batu-batu dari atas, Yo Han mengerahkan segala daya hati akal pikirannya yang memang tugasnya untuk mempertahankan manusia agar hidup dalam dunia ini.

Dia berhasil menutup terowongan dalam sumur itu dengan batu besar sehingga batu-batu yang dilemparkan dari atas sumur itu tertahan oleh batu besar.

Yo Han duduk bersila di atasgulungan tali, memusatkan semua rasa diri, seolah-olah tenggelam dan membiarkan dirinya tenggelam ke dalam lautan penyerahan.

Sampai malam lewat, dia tidak menyadari dan dia merasa seperti hidup di dalam lautan, atau di dalam udara tanpa datar.

Tubuhnya ringan, tidak ada secuil pun pikiran mengganggu batin, bahkan tidak ada lagi rasa enak atau tidak enak.

Seperti orang tidur atau orang mati, begitu kiranya keadaan.

Yo Han.

Hanya bedanya, dia sadar.

Dia me-nyadari bahwa dia berada di dasar sumur tua dan tidak ada jalan keluar.

Namun pada saat dia duduk bersila seperti itu, dia tidak merasa khawatir, tidak merasa apa-apa seolah-olah tidak peduli dan tiada bedanya baginya.

Malam lewat dan setelah ada sinar matahari menyorot masuk melalui celah--celah di antara batu-batu di atas, dia seperti terbangun.

Dan teringatlah dia akan semua yang terjadi kemarin.

Ke-marin" Hanya samar-samar dia teringat bahwa malam telah lewat, berarti dia telah semalam berada di terowongan sumur itu.

Lima orang pimpinan Thian-li-pang telah tewas dan mayat mereka dilempar ke dalam sumur yang kini di-timbuni batu-batu.

Kini semuanya jelas baginya.

Ouw Seng Bu membunuhi para pimpinan Thian-li-pang karena ingin menguasai perkumpulan itu.

Gila! Bukankah Ouw Seng Bu murid Lauw Kang Hui bahkan merupakan murid tersayang" Kalau hanya murid mendiang Lauw Kang Hui, bagaimana mungkin dia mampu mem-bunuh lima orang tokoh pimpinan Thian--li-pang yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi itu.

Dan bagaimana pula para murid Thian-li-pang mau menerima dia sebagai ketua baru" Dan yang mem-buat dia lebih heran lagi, bagaimana gadis yang diperkenalkan kepadanya sebagai puteri Cu Kun Tek, pendekar sakti dari Lembah Naga Siluman, dapat berada di Thian-li-pang, bahkan bersahabat baik dengan Ouw Seng Bu" "Aku harus dapat keluar dari sini.

Harus! Aku harus dapat membongkar semua rahasia Ouw Seng Bu, kalau tidak Thian-li-pang akan diselewengkan, dunia kang-ouw akan kacau balau dan kejahat-an akan menjadi-jadi.

Semoga Tuhan memberi bimbingan kepadaku." katanya dalam hati.

Perutnya mulai terasa lapar, akan tetapi dia menampung rembesan air yang menetes-netes turun dari atas dengan kedua tangan dan setelah minum air beberapa teguk, laparnya hilang.

Mulai-lah dia memeriksa semua dinding tero-wongan itu.

Dinding itu terjal ke atas, licin dan keras, tidak mungkin dipanjat, apalagi di atasnya tidak nampak lubang yang cukup besar seperti mulut sumur, melainkan tertutup dan sinar yang ma-suk pun melalui celah-celah dari sam-ping atas yang tidak nampak dari situ.

Tiba-tiba terdengar suara mencicit dan Yo Han melihat seekor tikus yang cukup besar, sebesar anak kucing, berlari keluar dari sebuah lubang dan menggigit sebuah benda hitam kehijauan.

Dia me-rasa heran bagaimana binatang itu dapat membawa sesuatu dengan gigitan, dan mengeluarkan bunyi mencicit pula.

Tikus itu lenyap menyelinap ke dalam lubang kecil dan tak lama kemudian terdengar suara mencicit-cicit anak tikus.

Yo Han tersenyum.

Betapa besar kekuasaan Tu-han, pikirnya.

Bahkan di tempat seperti ini pun terdapat mahluk hidup.

Belum yang tidak nampak olehnya, seperti ca-cing dan kutu-kutu lainnya, mungkin dalam tetesan-tetesan air itu pun ter-dapat mahluk hidupnya! Hatinya semakin tenang karena dia yakin bahwa kekuasaan Tuhan berada di mana-mana, sehingga kalau memang Tuhan menghendaki dia tidak mati, tentu ada jalan keluar dari situ! Tikus itu! Dia membawa benda hitam kehijauan dan kembali ke sarang, mem-beri makan kepada anak-anaknya.

Benda tadi tentulah makanan.

Teringatlah dia akan jamur-jamur atau tanaman dalam air yang terdapat di terowongan gua di mana dia pernah mempelajari ilmu dari Kakek Ciu Lam Hok! Kini Yo Han memandang ke arah lubang dari mana tikus tadi keluar.

Bu-kan lubang sesempit kepalan tangan ke mana tikus tadi menghilang, melainkan lubang yang cukup besar, agaknya dia akan dapat memasuki lubang itu dengan merangkak rendah.

Siapa tahu, itu me-rupakan jalan keluar, setidaknya jalan menuju ke tempat makanan! Andaikata bukan jalan keluar sekalipun, kalau dari sana dia bisa mendapatkan makanan se-bagai penyambung hidup, itu sudah luma-yan namanya.

279 Akan tetapi, baru dua meter lebih dia merangkak melalui lubang sempit itu, lubang mengecil dan tubuhnya tidak da-pat maju lagi.

Terpaksa Yo Han mem-pergunakan tenaganya untuk membongkar batu-batu di depannya, memperbesar terowongan itu sehingga dia dapat maju lagi.

Tentu saja pekerjaan ini memakan waktu dan setelah sehari penuh bekerja, dia baru dapat maju sejauh empat meter dan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena lelah dan gelap.

Dia merangkak mundur dan minum air dengan menadah air rembesan dari atas dengan kedua tangannya sampai kenyang.

Malam itu, Yo Han mengatur tali sehingga merupakan tempat tidur darurat, lumayan untuk membiarkan tubuhnya beristirahat dengan rebah terlentang.

Sudah menjadi lajim bagi kita bahwa dalam keadaan menderita sengsara, kalau semua daya kita sudah tidak mampu menolong keadaan kita, maka kita baru teringat kepada Tuhan! Kita lalu me-rengek-rengek dan memohon kepada Tu-han agar kita dibebaskan daripada pen-deritaan.

Tentu saja setiap orang dari kita tidak mau kalau dikatakan bahwa kita hanya teringat kepada pencipta kita kalau kita membutuhkan saja.

Di waktu kita dalam keadaan senang, sewaktu kita berhasil, maka kita tidak ingat lagi ke-pada Tuhan dan merasa bahwa semua hasil itu adalah karena kepintaran kita! Keberhasilan mendatangkan kesombongan, kita menjadi tinggi hati dan merasa diri hebat.

Sebaliknya, dalam keadaan gagal dan menderita, baru kita merasa betapa kita lemah tak berdaya, dan kita baru berdoa dan, meminta-minta kepada Tu-han.

Segela macam permintaan kita aju-kan, kita mohon diberi rejeki, mohon di-beri kenaikan pangkat, mohon diluluskan ujian, mohon disembuhkan dari penyakit, dan segala macam permohonan lagi.

Kita lupa bahwa segala sarana yang lengkap telah diberikan Tuhan kepada kita untuk mencapai itu semua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment