Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 83

Memuat...

Sian Li berpikir, biarpun ia ingin sekali segera mendengar tentang Yo Han, akan tetapi ia ingin mengajukan pertanyaan secara teratur.

"Ouw-pangcu, aku mendengar bahwa Thian-li-pang menalukkan banyak partai persilatan dan memaksa para tokoh kang--ouw untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang, bahkan Thian-lipang bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwapal.

Benarkah itu dan mengapa demikian! Setahuku, Thian-li-pang adalah perkumpul-an pejuang yang gagah perkasa yang me-nentang partai-partai sesat.

" Ouw Seng Bu tersenyum.

Sebelum pendekar wanita itu mengajukan per-tanyaan, dia telah dapat mengira apa yang akan dipertanyakan, maka, dia pun tentu saja sudah siap dengan jawabannya.

"Itulah pertanyaanmu, Nona" Memang kami akui bahwa Thian-li-pang telah mengubah siasat.

Kami yakin benar bah-wa tanpa adanya persatuan, pengerahan seluruh tenaga yang ada di tanah air, mustahil akan dapat mengenyahkan pen-jajah Mancu dari tanah air kita.

Karena itulah, maka kami memang membujuk, bahkan kalau perlu memaksa, menyadar-kan semua pihak untuk bekerja sama dalam satu perjuangan menentang pen-jajah dan membebaskan bangsa dari be-lenggu penjajahan.

Karena itu, kami ti-dak berpantang untuk barsekutu dengan pihak manapun, termasuk Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang kami anggap se-bagai rekanrekan seperjuangan." "Aku setuju sekali dengan tindakan itu, Sian Li," kata Kim Giok.

"Begitukah" Sekarang pertanyaan ke dua.

Aku mendengar bahwa para pimpin-an Thian-lipang, termasuk pangcu Lauw Kang Hui, telah tewas dibunuh orang.

Benarkah itu, dan kalau benar, apa yang terjadi dan siap pelakunya?" Dengan jantung berdebar namun wajah tetap tenang, sepasang matanya mencorong mengamati wajah ketua Thian-li-pang itu, Sian Li menanti jawaban.

Ouw Seng Bu menghela napas panjang sebelum menjawab, "Pertanyaan ini amat menyedihkan hati saya, akan tetapi se-lalu saja orang menanyakannya.

Memang benar, Nona.

Suhu Lauw Kang Hui, juga suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin, su-siok Su Kian dan su-siok Thio Cu, mere-ka semua telah terbunuh.

Bagaimana terjadinya, kami semua tidak mengetahui jelas.

Yang kami tahu adalah bahwa mereka itu tewas dan dari tanda pukulan pada tubuh mereka, jelaslah bahwa pem-bunuhnya adalah Sin-ciang Tai-hiap Yo Han." "Tidak mungkin!" Sian Li berteriak.

"Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah se-orang pendekar besar, bahkan dia juga tokoh pimpinan dan kehormatan Thian--li-pang.

Bagaimana mungkin dia mem-bunuh para tokoh Thian-li-pang sendiri?" "Kami sendiri memang merasa heran dan berduka, Nona.

Sin-ciang Tai-hiap Yo Han dahulunya adalah pujaan kami se-mua, menjadi tokoh kami.

Akan tetapi banyak sekali anggauta Thian-li-pang yang menyaksikan kematian para tokoh kami itu dan jelas bahwa mereka melihat bekas pukulan pada tubuh mereka, pem-bunuhnya adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han." "Hemmm, begitukah" Sekarang per-tanyaan terakhir.

Aku mendengar bahwa engkau, Ouw Seng Bu, telah membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.

Benarkah itu?" berkata demikian, Sian Li bangkit berdiri, matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang.

Ouw Seng Bu nampak tegang dan gelisah lehernya basah oleh peluh.

"Nona Tan Sian Li, sungguh hal ini amat me-nyedihkan.

Entah apa yang terjadi pada diri Sin-ciang Tai-hiap karena dia telah berubah sama sekali.

Dia datang dan menyerang saya ketika saya berada didekat sumur keramat di belakang bukit.

Saya terkena pukulannya yang ampuh sehingga hampir saya tewas.

Akan tetapi, para saudara di Thian-li-pang membela saya dan akhirnya Yo-taihiap tergelincir ke dalam sumur tua itu.

Karena kami semua takut kepadanya yang seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang ke-jam dan hendak membunuhi kami, ter-paksa kami pergunakan batu-batu untuk menutup sumur itu." "Tidak....! Bohong....! Aku tidak per-caya! Kaukira aku tidak mengenal siapa Yo Han" Dia adalah kakak angkatku, suhengku, dan orang yang paling kucinta di dunia ini.

Aku mengenalnya dan tidak mungkin dia melakukan semua itu.

Bo-hong!" "Maaf, Sian Li," kata Cu Kim Giok, "terpaksa sekali ini aku mencampuri.

Aku yang menanggung bahwa keterangan Ouw -pangcu tadi benar, karena aku sendiri yang menjadi saksi.

Aku yang mengobati luka yang diderita oleh Ouw-pangcu aki-bat pukulan Yo Han! Dia terluka parah dan hampir tewas, bagaimana engkau mengatakan dia berbohong?" "Aku tidak mengerti kenapa orang seperti engkau dapat berada di sini dan membela ketua Thian-li-pang yang baru ini, Kim Giok, akan tetapi aku tidak peduli.

Siapapun yang mengatakan bahwa Yo Han melakukan itu semua, aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat bukti-nya.

Ouw Seng Bu, bawa aku ke tempat sumur itu, di mana kaukatakan tadi Yo Han tergelincir masuk!" Ouw Seng Bu menghela napas pan-jang.

"Sungguh, ini merupakan masalah yang membuat kami semua berduka, Nona.

Akan tetapi kalau itu yang kau-kehendaki, marilah!" Tanpa banyak cakap lagi, Sian Li mengikuti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok keluar dari ruangan tamu dan me-nuju ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang, melalui sebuah bukit kecil.

Ia tidak peduli ketika melihat puluhan orang anggauta Thian-li-pang mengikuti mereka dari jarak jauh.

Setelah tiba di sumur yang dimaksud-kan, Ouw Seng Bu berhenti dan menunjuk ke arah sumur itu.

"Di situlah dia ter-gelincir masuk, Nona." Mendengar bahwa kekasihnya tergelin-cir ke dalam sumur tua itu dan ditimbuni batu-batu, Sian Li merasa jantungnya seperti diremas dan kedua kakinya men-jadi limbung ketika dengan terhuyung ia menghampiri sumur itu.

Ketika ia tiba di tepi sumur dan melongok ke dalam, ingin rasanya ia menjerit melihat betapa su-mur itu telah tertutup batu, memang tidak penuh sekali, akan tetapi dasarnya tidak nampak karena tertutup batu-batu-an.

Wajahnya menjadi pucat dan matanya mencorong akan tetapi basah ketika ia membalikkan tubuhnya.

Ia melihat bahwa Seng Bu berdiri tegak dan di belakang-nya nampak puluhan orang anak buah Thian-li-pang.

Kim Giok berdiri di sam-ping Ouw Seng Bu dan kelihatan bingung dan gelisah.

"Ouw Seng Bu, cepat perintahkan anak buahmu untuk menggali sumur ini, mengangkat semua batu yang telah di-timbunkan ke dalamnya!" "Aih, Nona, bagaimana mungkin su-mur ini merupakan sumur keramat bagi kami Thian-lipang...." Tidak peduli! Batu-batu itu dilemparkan ke dalam sumur oleh orang-orang Thian-li-pang, maka mereka pula yang harus mengangkatnya dari dalam sumur.

Aku ingin melihat bukti keteranganmu tadi.

Aku ingin melihat....mayat....

Han-koko.

Kalau engkau tidak mau me-nuruti permintaanku, berarti engkau mem-bohongi aku, dan aku akan membunuh-mu!" "Sian Li, kuharap engkau jangan ber-sikap seperti ini.

Percayalah, kami tidak membohongimu.

Lebih baik kita sekarang mengerahkan tenaga kita untuk mem-bebaskan bangsa dari cengkeraman pen-jajah, itu lebih mulia daripada kita saling bentrok sendiri.

Tidak ada yang mem-bohongimu, Sian Li.

Agaknya telah ter-jadi sesuatu sehingga Yo Han menjadi berubah...." "Tutup mulutmu, Kim Giok! Han-koko selamanya tidak berubah.

Dia seorang pendekar dan orang gagah sejati.

Sedang-kan Ouw Seng Bu ini orang macam apa" Kita tidak mengenal dengan baik, siapa tahu semua ini hanya akal busuknya saja.

Buktinya, dia telah bersekongkol dengan golongan sesat!" Pada saat itu terdengar seruan keras dan para anggauta Thian-li-pang oto-matis membuat gerakan mengepung su-mur tua itu sehingga dengan sendirinya Sian Li juga ikut terkepung! Dan dari rombongan itu muncullah Siangkoan Kok bersama dua orang berjubah pendeta yang bukan lain adalah Im Yang Ji tokoh Pat-kwa-pai dan Kui Thian-cu tokoh Pek--lian-kauw.

Ouw Seng Bu kini melangkah maju dengan sikapnya yang gagah.

Dengan suara yang dibuat menyesal dia berkata, "Nona, semua ini adalah kesalahanmu sendiri.

Engkau tidak percaya kepada kami dan hendak membongkar sumur keramat ini, berarti engkau telah meng-hina Thian-li-pang.

Karena kami sedang menghimpun tenaga untuk perjuangan, maka sikapmu yang bermusuhan ini tentu saja akan membahayakan kami, misalnya engkau melapor kepada pemerintah penjajah.

Karena itu, menyerahlah, terpaksa kami akan menawanmu." "Singgg....!" nampak sinar emas men-corong dan di tangan gadis berpakaian merah itu telah terdapat sebatang suling berselaput emas yang panjangnya seperti pedang.

"Hem, sikapmu ini saja sudah me-nunjukkan dengan jelas bahwa engkau telah berbohong! Aku yakin bahwa eng-kau memutar-balikkan kenyataan.

Han--koko belum tewas, atau andaikata dia tewas pun tentu engkau sengaja men-jebaknya! Aku yakin akan hal itu.

Eng-kau hendak menawanku dan menyuruh aku menyerah" Jangan mimpi! Si Bangau Merah tidak mengenal kata menyerah.

Kalian hendak mengandalkan pengeroyok-an" Boleh, boleh! Kulihat bekas ketua Pao-beng-pai, Siangkoan Kok, telah ber-ada pula di sini dan dua orang tosu yang tentu merupakan orang-orang sesat!?"Tangkap gadis sombong ini!" Ouw Seng Bu membentak dan Siangkoan Kok, dua orang tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, segera menggerakkan senjata mereka.

Ouw Seng Bu sendiri juga mener-jang maju dengan tangan kosong.

Para anggauta Thian-li-pang mengepung ketat.

Menghadapi para pengeroyok yang mulai menyerangnya, Sian Li memutar sulingnya dan nampaklah gulungan sinar emas menyambar-nyambar di antara ber-kelebatnya bayangan merah.

Gerakan gadis ini cepat bukan main, juga amat indah dan gulungan sinar emas itu me-ngandung tenaga kuat sehingga dalam beberapa gebrakan saja, beberapa batang senjata anak buah Thian-li-pang terlepas dari pegangan, bahkan dua orang ang-gauta perkumpulan itu roboh terkena sambaran sinar suling emas.

"Semua mundur, biarkan kami saja yang menghadapinya!" bentak Ouw Seng Bu yang maklum akan kelihaian Si Ba-ngau Merah itu.

Para anggauta Thian--li-pang yang memang sudah merasa jerih segera mengendurkan pengepungan dan kini yang menghadapi Sian Li hanya ting-gal empat orang, yaitu Siangkoan Kok, Im Yang-ji, Kui Thian-cu dan Ouw Seng Bu sendiri.

Akan tetapi Cu Kim Giok masih belum bergerak, dan hanya menon-ton tiga orang sekutunya yang kini mulai menggerakkan senjata menyerang gadis berpakaian merah yang memegang suling emas itu.

Post a Comment