Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 81

Memuat...

Gerakannya demikian aneh, seperti bukan orang bersilat, seperti orang gila atau binatang buas mengamuk, dan suaranya tadi! Juga matanya mencorong aneh dan mengerikan.

Akan tetapi sekarang dia telah kembali menjadi seorang pemuda yang tampan dan lembut seperti biasa-nya, yang mengembalikan pedangnya dengan senyum manis.

Ia pun menerima pedang itu dan menyarungkannya kem-bali, tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pemuda itu.

"Terima kasih, Giok-moi," kata Seng Bu dan dia pun kembali menghadapi lima orang tosu yang masih berdiri tertegun.

"Apakah Totiang berlima masih pena-saran" Masih tidak percaya bahwa aku telah mengalahkan Yo Han yang hendak membunuhku dan kini dia telah tewas di dalam sumur tua?" tanyanya, tersenyum, akan tetapi senyumnya dingin dan pan-dang matanya mengejek dan merendah-kan.

Lima orang tosu itu merasa pena-saran sekali.

Sukar bagi mereka untuk menerima kekalahan dari seorang pemuda, padahal mereka tadi maju bersama.

"Ouw Pangcu, senjata kami rusak karena keampuhan pedang Koai-liong Po-kiam, akan tetapi kami belum merasa kalah." kata Thian To-cu.

"Lalu To-tiang mau apa?" Seng Bu menantang.

"Kita lanjutkan pertandingan dengan tangan kosong agar kalah menang di-tentukan oleh kepandaian, bukan oleh keampuhan senjata." "Baik, kalau Totiang masih penasaran, silakan!" Seng Bu menantang.

"Ha-ha-ha, dasar tosu-tosu tolol, tak tahu diri!" Siangkoan Kok mencela dari tempat duduknya.

"Semua orang tahu bahwa orang-orang Bu-tong-pai mengan-dalkan ilmu pedangnya.

Kalau mengguna-kan pedang saja kalah, apalagi bertangan kosong.

Mencari penyakit, ha-ha-ha, para tosu tolol yang mencari penyakit!" Bekas ketua Pao-beng-pai ini tertawa-tawa.

Mendengar ejekan ini, lima orang tosu Bu-tong-pai menjadi marah.

Mereka su-dah memasang kuda-kuda dan Thian To--cu berseru, "Ouw Pangcu, sambut serang-an kami!" Orang-orang telah memiliki ilmu ke-pandaian tinggi seperti Cu Kim Giok, Siangkoan Kok dan beberapa orang di antara tamu, terkejut melihat cara lima orang tosu itu membuka penyerangan mereka.

Thian To-cu berada di depan, empat orang sutenya menempelkan tela-pak tangan di punggungnya.

Jelas bahwa mereka berlima itu menyatukan tenaga sakti mereka untuk mengalahkan Seng Bu.

Kim Giok terkejut sekali, maklum betapa kuatnya tenaga lima orang tosu yang dipersatukan itu.

Bahkan Siangkoan Kok sendiri mengerutkan kening dan memandang khawatir.

Akan tetapi, Kim Giok menahan teriakannya untuk men-cegah kekasihnya menyambut serangan itu karena memang sudah terlambat.

Seng Bu sama sekali tidak mengelak, bahkan dia juga mendorongkan kedua telapak tangan ke depan untuk menyam-but serangan gabungan itu.

"Desss....!!" Dua pasang telapak ta-ngan bertemu dengan dahsyatnya dan lima orang tosu itu terjengkang roboh! Ilmu yang dikuasai Seng Bu memang hebat dan aneh.

Biarpun dipelajarinya secara ngawur dan tidak menurut aturan, namun tidak kehilangan keampuhannya, bahkan lebih aneh lagi dan mengandung racun yang hebat.

Ilmu Bu-kek Hoat--keng aselinya, biarpun dahsyat, namun dapat dikendalikan, dan memang memiliki daya penolak atau mengembalikan ke-kuatan lawan yang menyerangnya.

Akan tetapi, yang dikuasai Seng Bu sudah ber-ubah, tenaga dahsyat itu tidak dapat di-kendalikannya dan mengandung racun hebat.

Akan tetapi daya tolaknya masih ampuh sehingga ketika lima orang tosu itu menyerangnya dengan tenaga gabung-an yang dahsyat, tenaga itu membalik dan memukul diri mereka Sendiri! Peristiwa robohnya lima orang tosu ini mengejutkan semua orang, dan amat mengagumkan dan melegakan hati Kim Giok.

Bahkan Siangkoan Kok terkejut dan kagum bukan main, membuat dia semakin yakin akan kelihaian ketua Thian-li-pang yang masih muda itu.

Lima orang tosu itu bangkit dengan muka pucat.

Yang paling parah adalah Thian To-cu yang muntah darah.

Seng Bu memberi hormat dan berkata, "Totiang berlima melihat sendiri bukti ketanguhan kami.

Sebaiknya kalau Totiang membawa Bu-tong-pai bekerja sama dengan kami untuk berjuang dan kalau Bu-tong-pai menolak, kami harap tidak lagi meng-ganggu kami." "Maafkan kami yang tak tahu diri, kami mengaku kalah." kata Thian To--cu dan dibantu empat orang sutenya, dia pun meninggalkan tempat itu diikuti suara tawa Siangkoan Kok.

*** Thian To-cu dengan susah payah menuruni Bukit Naga, dibantu oleh empat orang sutenya yang juga menderita luka guncangan dalam dada.

Mereka terpukul oleh tenaga mereka sendiri yang membalik, akan tetapi yang paling parah adalah Thian To-cu karena dia bukan saja terguncang hebat oleh pukulannya- yang membalik, juga dia dilanda hawa beracun yang membuat dadanya sesak dan warna kulit dadanya menghitam! Se-telah tiba di kaki bukit, Thian To-cu tidak tahan lagi dan roboh pingsan! Pada saat empat orang to-su dengan bingung merubung suheng mereka dan berusaha menyadarkannya, mereka men-dengar, suara seorang wanita yang ber-tanya, "To-tiang sekalian, apakah yang terjadi dan kenapa To-tiang itu" Eh, bukankah kalian tosu-tosu dari Butong-pai?" Empat orang tosu itu menengok.

Se-orang gadis telah berdiri di situ.

Gadis yang masih amat muda, belum dua puluh tahun usianya.

Cantik jelita dan gagah sekali sikapnya.

Pakaiannya berwarna merah.

"Aih, bukankah dia Thian To-cu To-tiang dari Bu-tong-pai?" kata lagi gadis itu dengan nada suara heran.

"Kenapa dia?" Kini dua di antara empat orang tosu itu teringat bahwa gadis ini pernah satu kali singgah di kuil mereka.

"Kiranya Ang-ho Li-hiap (Pendekar Wanita Bangau Merah)!" seru seorang di antara mereka.

"Kami berlima baru turun dari bukit, berkunjung ke Thian-li-pang dan kami dilukai oleh ketuanya." "Ahhhhh?" Gadis itu adalah Tan Sian Li, Si Bangau Merah.

Tentu saja ia me-hasa heran bukan main mendengar ketua Thian-li-pang melukai lima orang tosu Bu-tong-pai.

Bukankah Thian-li-pang merupakan perkumpulan para patriot gagah perkasa" Bahkan Yo Han menjadi pemimpin besar mereka.

Kenapa kini ke-tuanya memukul orang-orang Bu-tong--pai" Kalau ia tidak salah ingat, Yo Han pernah bercerita tentang Thian-li-pang dan ketuanya adalah Lauw Kang Hui, seorang kakek yang gagah perkasa.

Akan tetapi, yang lebih penting adalah menolong tosu yang terluka itu.

Bu-tong--pai adalah perkumpulan orang gagah, para muridnya banyak yang menjadi pen-dekar.

Bahkan ayahnya menghormati Bu--tong-pai, maka sudah sepantasnya kalau ia mencoba menolong para tosu itu.

"Biarkan aku memeriksanya, siapa tahu, akan dapat mengobati dan menyem-buhkannya," katanya.

Melihat sikap gadis muda itu yang tenang dan tegas, empat orang tosu itu mundur dan membiarkan Sian Li melakukan pemeriksaan.

Sian Li berjongkok dekat tubuh Thian Tocu yang masih pingsan, lalu memegang pergelang-an tangannya, merasakan denyut nadinya.

Ia mengerutkan alisnya.

Dari denyut nadi itu ia maklum bahwa keadaan tosu itu cukup gawat dan dia menderita luka dalam yang mengandung hawa beracun! "Coba ceritakan, apa yang terjadi bagaimana dia sampai terluka dalam se-perti ini." katanya.

Empat orang tosu itu menceritakan tentang perkelahian mere-ka melawan ketua Thian-lipang, tentang adu tenaga yang mengakibatkan mereka semua terluka.

Sian Li mengerutkan alisnya.

"Hemmm, sungguh aneh.

Aku harus memeriksa ke-adaan tubuhnya.

Tolong bukakan bajunya, aku ingin memeriksa dadanya." Seorang tosu membuka baju yang menutupi dada Thian To-cu dan mereka terkejut melihat dada itu ke-hitaman.

Sian Li meraba dada itu dan mengangguk-angguk.

"Dia telah terkena hawa beracun yang aneh sekali.

Bagai-mana mungkin ketua Thian-li-pang dapat melakukan pukulan sekeji ini?" "Pemuda itu memang keji, aneh, se-perti iblis!" "Pemuda" Bukankah ketua Thian-li-pang sudah tua?" "Dia masih muda sekali, Lihiap, pa-ling tua dua puluh empat tahun." "Ahhh" Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui dan sudah tua?" "Bukan.

Lauw Kang Hui sudah mati, dan dialah ketua baru yang penuh rahasia." Sian Li merasa heran.

"Biarlah ku-coba mengobati suheng kalian ini lebih dahulu." katanya dan gadis murid Yok--sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini lalu mengeluarkan dua batang jarum emas.

Ia mengobati Thian To-cu dengan cara menusuk jarum.

Tidak sampai se-tengah jam ia mengobati tosu tua itu, warna hitam di dada pendeta itu lenyap dan tosu Butong-pai itu siuman, dan biarpun masih agak lemah, telah mampu bangkit.

"Siancai...., kiranya Si Bangau Merah yang telah mengobatiku.

Terima kasih atas pertolonganmu, Tan-lihiap." kata Thian To-cu.

"Totiang, apa sih yang telah terjadi di Thian-li-pang" Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui, dan bagaimana sekarang tiba-tiba muncul ketua baru yang masih muda dan memiliki ilmu pukulan keji itu" Aku sendiri hendak naik ke sana dan mencari kalau-kalau Han--koko berada di sana." "Siapakah Han-koko itu, Lihiap?" ta-nya Thian To-cu.

"Yang kumaksudkan adalah koko Yo Han, Sin-ciang Tai-hiap.

Bukankah dia merupakan pemimpin besar Thian-li-pang?" Mendengar ini, Thian To-cu menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram.

"Siancai....,suatu keanehan ter-jadi di atas sana, Lihiap." Dia meman-dang ke atas bukit.

"Karena terjadinya perubahan aneh di Thian-li-pang, maka kami berlima datang terkunjung untuk melakukan penyelidikan dan meminta keterangan.

Akan tetapi, kami dihadap-kan kepada kenyataan pahit, bahkan kami sampai terluka." Tentu saja, Sian Li tertarik sekali.

"Ceritakan, Totiang.

Apa sih yang terjadi dengan Thian-lipang?" "Mula-mula kami mendengar berita yang meresahkan hati, bahwa para pim-pinan Thian-lipang, yaitu Lauw Kang Hui dan beberapa orang pembantunya, telah tewas.

Kemudian terdengar berita bahwa Thian-li-pang mempunyai seorang ketua baru dan sejak itu sepak terjang Thian-li-pang menjadi aneh.

Mereka me-nundukkan hampir semua perkumpulan silat dan tokoh kang-ouw di daerah ini, membujuk atau memaksa mereka untuk bekerja sama.

Bahkan golongan sesat, bersekutu pula dengan golongan Pek-lian--kauw dan Pat-kwa-pai, sebetulnya, kami dari Bu-tong-pai tidak ingin mencampuri urusan dalam, sampai ada sebuah berita yang membuat kami merasa penasaran sekali dan memaksa kami untuk datang berkunjung.

Berita itu adalah bahwa para pemimpin Thian-li-pang itu dibunuh oleh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han." "Ahhhhh....

tidak mungkin....!!" Sian Li berseru, kaget bukan main.

"Kami juga tidak percaya akan berita itu, Lihiap.

Kami mengenal siapa Sin--ciang Tai-hiap.

Apalagi membunuh para pimpinan Thian-li-pang padahal dia pemimpin besar di sana, bahkan para pen-jahat pun tidak ada yang dibunuhnya.

Post a Comment