Mungkin juga dia hendak menguasai Thian-li-pang dan memusuhi kami yang berlawanan pendapat dan sikap dengan dia.
Tentang perubahan yang terjadi di Thian-li-pang semenjak saya dipilih menjadi ketua, memang benar.
Kami menganggap bahwa perjuangan bukan monopoli golongan pendekar saja, melainkan menjadi tugas setiap orang warga negara untuk menyelamatkan bang-sa dari penjajah Mancu.
Dan kami berkeyakinan bahwa tanpa adanya persatuan dari semua pihak, perjuangan akan gagal.
Oleh karena itu, kami sengaja mengada-kan hubungan dengan semua pihak yang menentang pemerintah, dan kami akan menundukkan dan memaksa golongan yang menjadi antek penjajah untuk membantu perjuangan kami.
Adapun penguasa-an atas semua tempat pelesiran dan meminta sumbangan dari kaum hartawan, memang hal itu kami lakukan karena dari mana kami akan memperoleh biaya" Kalau tempat-tempat maksiat itu dibiar-kan tanpa pengontrolan kami, tentu akan menjadi sarang golongan penjahat.
Juga, apa salahnya mengajak para hartawan membantu perjuangan dengan menyum-bangkan sedikit harta mereka" Kalau kebijaksanaan kami mengenai perjuangan bangsa ini tidak cocok dengan keinginan Bu-tong-pai, maaf, hal itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Bu-tong-pai.
Kami sendiri pun belum pernah mencampuri urusan dapur dan kamar Bu-tong-pai." "Siancai....
keterangan Ouw Pangcu masuk diakal sungguhpun belum meyakinkan kami tentang Sin-ciang Tai-hiap.
Lalu bagaimana dengan berita tentang tewasnya Sin-ciang Taihiap Yo Han di tangan Pangcu" Benarkah itu, ataukah hanya berita isapan jempol belaka?" Cu Kim Giok mengerutkan alisya.
Sikap tosu itu terlalu sombong, pikirnya, dan terbelalak memandang rendah ke ada.
Ouw Seng Bu.
Akan tetapi sikap ketua Thian-li-pang itu tetap tenang Menghadapi ucapan yang nadanya tidak percaya dan meremehkan itu.
"To-tiang, Yo Han memang muncul di sini dan dia berusaha untuk membunuhku.
Dia datang dan pura-pura hendak menyelidiki kematian suhu dan yang lain--lain, akan tetapi ketika berada di bagian belakang perkampungan kami, dia me-nyerangku dan nyaris membunuhku.
Un-tung aku dapat mempertahankan diri dan dengan bantuan para anggauta Thian--li-pang, kami berhasil membuat dia jatuh terjungkal ke dalam sumur tua dan te-was, walaupun aku sendiri menerima pukulan darinya." "Siancai....! Sin-ciang Tai-hiap adalah seorang pendekar budiman, dan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Bagaimana mungkin dapat dikalahkan demikian mudahnya" Cerita Pangcu itu sukar untuk diterima begitu saja...." Sepasang mata Seng Bu mencorong dan suaranya terdengar dingin sekali.
"To-tiang tidak percaya kepada keterang-anku?" "Bagaimana kami dapat percaya?" kata Thian To-cu.
"Kalau kami melihat buktinya, barulah kami dapat percaya." "To-tiang adalah seorang tokoh besar dan pemimpin Bu-tong-pai, bagaimana dapat bersikap seperti anak kecil begini?" tiba-tiba terdengar suara merdu dan lantang.
"Akulah yang menjadi saksi akan kebenaran keterangan Ouw Pangcu.
Aku yang membantunya mengobati lukanya di dada yang terkena pukulan tangan Sin--ciang Tai-hiap Yo Han!" Semua orang memandang dan lima orang tosu Bu-tong-pai kini memperhati-kan Kim Giok dengan pandang mata penuh selidik.
"Siancai, kalau boleh kami mengetahui, siapakah Nona dan apa hu-bungan Nona dengan Ouw Pangcu?" "To-tiang, Nona ini adalah Nona Cu Kim Giok, puteri dari majikan Lembah Naga Siluman, pendekar Cu Kun Tek.
Ia keturunan keluarga Cu, penghuni Lembah Naga Siluman.
Apakah Totiang juga me-ragukan ucapannya dan tidak percaya?" kata Ouw Seng Bu.
Lima orang tosu itu nampak kaget, akan tetapi Thian To-cu mengerutkan alisnya dan pandang matanya kepada gadis itu nampak ragu.
Seorang gadis cantik manis bermata indah yang usianya paling banyak baru delapan belas tahun! Kalau benar gadis itu puteri keluarga yang amat terkenal itu, bagaimana dapat berada di Thian-li-pang" "Maafkan kami, Nona.
Kami belum pernah melihat Nona, walaupun kami sudah mendengar akan nama besar ke-luarga Lembah Naga Siluman.
Bagaimana kami dapat yakin bahwa Nona adalah puteri majikan Lembah Naga Siluman?" "Singgg....!!" Nampak sinar berkelebat menyilaukan mata dan Kim Giok sudah mencabut pedangnya.
"Pendeta yang som-bong, lihat baik-baik, apakah engkau masih meragukan pedangku ini?" bentak Kim Giok.
Pedang Koai-liong Po-kiam nampak berkilat menyilaukan mata dan ketika dicabut tadi, suara berdesingnya mengandung suara seperti harimau meng-aum.
Melihat pedang itu, Thian To-cu ter-kejut dan cepat dia memberi hormat.
"Koai-liong Pokiam! Ah, maafkan kami, nona Cu.
Setelah Nona maju sebagai saksi, kami tidak meragukan kebenaran-nya.
Akan tetapi, yang membuat kami sukar percaya adalah bagaimana mung-kin Sin-ciang Tai-hiap dapat dikalahkah oleh Ouw Pangcu yang murid mendiang Lauw Pangcu" Padahal, Lauw Pangcu sendiri, gurunya, tidak akan mampu me-nandingi Sin-ciang Tai-hiap! Bukankah hal ini amat aneh dan sukar dipercaya?" "Ngo-wi To-tiang," kata Ouw Seng Bu, suaranya terdengar dingin dan pan-dang matanya mencorong, "haruskah se-orang murid lebih lemah dibandingkan gurunya" Ingat, To-tiang, orang muda mempunyai kesempatan jauh lebih banyak untuk memperoleh kemajuan daripada gurunya yang sudah tua.
Kalau Ngo-wi masih belum percaya akan kemampuanku sehingga aku terpilih menjadi ketua Thian--li-pang dan mampu menandingi Yo Han, silakan To-tiang berlima maju dan meng-uji kemampuanku!" Mendengar tantangan ini, lima orang tosu Bu-tong-pai saling pandang.
Mereka adalah tokohtokoh Bu-tong-pai, dan kini mereka berlima ditantang untuk meng-hadapi seorang pemuda! "Ha-ha-ha-ha-ha, aku berani mem-pertaruhkan kepalaku bahwa lima orang kakek Bu-tongpai yang sombong ini ti-dak akan mampu bertahan sampai tiga puluh jurus melawan Ouw Pangcu.
Ha--ha-ha!" Siangkoan Kok berkata sambil tertawa mengejek dan minum araknya.
Itulah ejekan yang amat merendahkan lima orang tosu itu! Mempertaruhkan kepalanya! Akan tetapi ini bukan sekedar bualan kosong belaka.
Siangkoan Kok su-dah mengenal lima orang tosu itu dan tahu akan tingkat kepandaian mereka berlima.
Dia sendiri pun akan mampu menandingi pengeroyokan lima orang tosu itu.
Walaupun dia belum dapat memasti-kan bahwa dia akan berada di pihak pemenang.
Kalau tidak lima orang itu disatukan hanya sebanding dengan tingkat-nya, maka tidak mungkin mereka berlima mampu bertahan sampai tiga puluh jurus menghadapi pemuda ketua Thian-li-pang yang memiliki ilmu kepandaian aneh namun dahsyat itu."Siancai! Thian-li-pang sungguh me-mandang rendah Bu-tong-pai, dan kami ingin sekali membuktikan apakah ketua baru Thian-li-pang memang seorang sakti yang mampu menewaskan Sin-ciang Tai-hiap.
Ouw Pangcu, kami berlima mohon petunjuk!" berkata demikian, Thian To--cu melintangkan tongkatnya di depan dada, sedangkan empat orang sutenya juga sudah mencabut pedang masing--masing dan mereka membuat suatu baris-an ngo-heng-tin (barisan lima unsur).
Ouw Seng Bu maklum bahwa dia harus memperlihatkan kepandaiannya, bukan saja untuk menundukkan dan sekedar memberi hajaran kepada lima orang tosu yang me-mandang rendah kepadanya itu, melainkan juga untuk mendatangkan kesan kepada mereka yang belum mau bekerja sama atau tunduk kepada Thian-li-pang.
Dia ta-hu bahwa peristiwa ini tentu akan disebar-luaskan oleh mereka yang hadir dan se-bentar saja dunia kang-ouw akan men-dengar betapa ketua Thian-li-pang telah mengalahkan lima orang tosu tokoh Bu--tong-pai.
Dia lalu maju dan menghadapi lima orang tosu yang sudah memasang barisan di tengah ruangan itu, di tempat yang cukup luas dan semua tamu menon-ton dengan hati penuh ketegangan.
Melihat Ouw Seng Bu menghadapi lima orang tosu itu dengan tangan ko-song, padahal lima orang itu memegang senjata dan mereka membentuk suatu barisan, hati Kim Giok menjadi resah.
"Ouw Pangcu, pergunakan pedangku ini!" katanya dan dia pun sudah me-loncat ke depan, mencabut pedang Koai-liong Po-kiam dan menyerahkan pedang itu kepada Seng Bu.
Ouw Seng Bu merasa girang bukan main.
Dengan ilmunya yang ajaib, yaitu Bu-kek Hoatkehg, dia tidak gentar meng-hadapi pengeroyokan lima orang tosu itu walaupun dia tidak memegang senjata.
Akan tetapi, sikap gadis itu yang me-nyerahkan pedangnya kepadanya, membuktikan bahwa Kim Giok benar sayang kepadanya dan mengkhawatirkan kesela-matannya.
Dia pun menerima pedang itu.
"Terima kasih, sebetulnya tanpa pe-dang pun aku tidak gentar menghadapi lima orang tosu yang tinggi hati ini." "Ouw Pangcu, sambutlah serangan kami!" kata Thian To-cu sambil meng-gerakkan tongkatnya menyerang.
Seng Bu menyambut dengan pedang Koai-liong Po--kiam dan terdengar suara mengaung me-nyeramkan karena dia menggerakkan pedang itu dengan mengerahkan sin-kang-nya.
Thian To-cu yang mengenal pedang ampuh, menarik kembali tongkatnya dan meloncat ke samping.
Dua orang tosu lain sudah menyerang dari kanan kiri, diikuti dua orang lain lagi yang sudah siap untuk melakukan serangan sambung menyambung, dan Thian To-cu sendiri yang sudah menyelinap ke arah belakang lawan juga siap dengan tongkatnya.
Seng Bu maklum bahwa lima orang tosu itu menjadi berbahaya karena mereka bergerak mengikuti kedudukan bintang Ngo-heng yang perubahannya otomatis dan kadang amat ganas itu.
Seng Bu mengerahkan tenaga Bu-kek Hoat-keng dan memutar pedangnya.
Tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata dan suara mengaungngaung itu sungguh menggetakkan hati para pengeroyok.
Karena cara Seng Bu bergerak amatlah aneh, seperti kacau balau akan tetapi semua serangan senjata lawan dapat digagalkan, lima orang tosu itu terseret oleh kekacauan gerakannya sehingga kerapian gerakan barisan Ngo heng-tin itu juga menjadi retak.
Tiba--tiba Seng Bu mengeluarkan teriakan me-lengking yang begitu nyaring mengerikan, sehingga bukan saja membuat lima orang lawannya terkejut, juga semua orang yang berada di situ tergetar dan merasa ngeri.
Teriakan itu bukan seperti suara manusia, mengandung gaung yang aneh dan seketika membuat lima orang tosu itu seperti kehilangan kesadaran.
Kemudi-an terdengar suara keras lima kali ber-turut-turut dan empat batang pedang beserta sebatang tongkat telah tersambar dan patah-patah oleh sinar pedang Koai--liong Po-kiam! Lima orang tosu itu berlompatan mundur dengan kaget bukan main.
Dalam waktu belasan jurus saja, senjata mereka telah patah-patah dan ini berarti bahwa mereka telah kalah.
Ucapan Siangkoan Kok tadi terbukti! "Ha-ha-ha, sekawanan tosu sombong sekarang baru menyaksikan tingginya la-ngit!" Siangkoan Kok tertawa bergelak, diikuti oleh mereka yang memang sudah tunduk kepada Thian-li-pang.
253 Seng Bu yang tadinya seperti kesetan-an, kini sudah tenang kembali dan dia pun menghampiri Kim Giok dan mengembalikan pedang gadis itu.
Gadis itu masih duduk tercengang.
Tadi ia melihat betapa pemuda pujaan itu seperti telah berubah.