"Nanti kalau memang kau telah berkelana didalam rimba persilatan, engkau harus ber-hati2 menghadapi manusia2 jahat seperti Sam Sat itu, karena jika sampai kau berhadapan dengan manusia seperti litu dan kurang hati2 tentu engkau akan dicelakai nya dengan mempergunakan akal bulus!
Kie Bouw mengangguk mengiyakan perkataan gurunya tersebut.
---oo0dw0oo--- BAGIAN 05 HARI demi hari lewat dengan cepat sekali dan juga waktu telah berjalan terus tanpa dapat ditahan.
Tanpa terasa sudah lima tahun lagi Kie Bouw berdiam di Lam- hong bersama gurunya tersebut yaitu Lam Ceng Siansu.
Usia Kie Bouw juga telah mencapai tiga beIas tahun, dia merupakan seorang pemuda yang berusia muda tetapi memiliki potongan tubuh yang tinggi besar.
Selama lima tahun itu Kie Bouw telah dididik untuk mempelaiari ilmu pedang yang lebih mendalam senjata2 tajam lainnya dan juga melatih tenaga dalamnya.
Didalam waktu lima tahun itu, Kie Bouw telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali.
Dengan sendirinya, walaupun Kie Bouw baru berusia tiga belas tahun, tetapi dia sudah merupakan seorang pemuda yang tangguh sekali.Dan seteiah menjelang tiga tahun lagi, akhirnya sempurnalah Kie Bouw mempelaiari seluruh kepandaian yang dirmiliki aleh Lam Ceng Siansu.
Didalam usia yang telah mencapai usia enam belas tahun seperti itu Kie Bouw benar2 merupakan pemuda yang hebat sekali kepandaiannya maupun tenaga dalam yang dimilikinya.
Lam Ceng Siansu sendiri jadi tidak mengetahuinya apa yang harus diturunkan lagi kepada muridnya tersebut, karena dia memang tidak mengetahui pula pelajaran mana yang dapat diturunkan dan diwarislkan buat muridnya.
Maka pada suatu pagi, Lam Cemg Siansu telah memanggil murid tunggalnya itu.
Kie Bouw didalam usia enam belas tahun seperti itu memang telah menjadi seorang pemuda yang memiliki kepandaian yang tinggi, maka bisa di maklumi jika, sampai Lam Ceng Siansu sendiri kebingungan tidak memiliki pelajaran lagi yang bisa diturunkan kepada murid tunggalnya itu.
Akhirnya pagi itu, Lam Ceng Siansu telah menjelaskannya kepada Kie Bouw bahwa Lam Ceng Siansu ingin memerintahkan murid tunggalnya itu turun gunung guna mencari pengalaman.
Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan oleh gurunya, tentu saia Kie Bouw keberatan dengan perintah gurunya.
Namun Lam Ceng Siansu telah memberi memerintahkanya dengan tegas.
sehingga mau tidak mau Kie Bouw harus menuruti perintah gurunya itu.
Begitulah, pada hari yang telah ditentukan, Kie Bouw turun gunung .
dengan di iringi oleh linangan air mata.
Lam Ceng Siansu sendiri telah menitikan air mata, karena selama tiga belas tahun dia mendidik Kie Bouw dan si bocah selalu berada disampingnya.
Lagi pula Kie Bouw sangat disayangi nya, sehingga di anggap sebagai murid, juga sebagai puteranya sendiri.Dengan sendirinya mau tidak mau perpisahan ini sangat mendukakan hati Lam Ceng Siansu.
Namun disebabkan Lam Ceng Siausu menginginkan muridnya memiliki pengalaman yang luas dan memang seharusnya berkelana untuk menambah pengetahuannya, dia telah merelakannya.
Begitulah, perpisahan antara guru dan murid itu telah di iringi oleh linangan air mata.
Dan juga terlibat Lam Ceng Siansu telah mengantarkan kepergian Kie Bouw sampai dikaki gunung Thian-san.
"Hati2lah engkau berkelana, Bouw-jie !!!" Kata Lam Ceng Siansu dengan suara yang terharu, karena mereka akan segera berpisah.
"Suhu..
apakah tidak bisa ditunda satu atau dua tahun lagi kepergianku ini ?" Tanya sang murid dengan linangan air mata, kata Kie Bouw merasakan betapa beratnya perpisahan antara dia dengan gurunya.
Dan tentu saja hal ini telah membuat Lam Ceng Siansu tambah terharu.
Rase Emas Karya dari Chin Yung Pertanyaan muridnya yang terakhir itu sempat mendukakan hatinya.
Mau tidak mau memang Lam Ceng Siansu juga merasakan betapa perpisahan sangat memberatkan hati mereka berdua sebagai guru dan murid yang telah hidup bersama selama tiga belas tahun, tetapi karena sebagai orang yang berpengalaman dan juga menyadari bahwa Kie Bouw memerlukan pengalaman didalam rimba persilatan, dari itu Lam Ceng Siansu telah mengeraskan hati dan dia memaksakan juga Kie Bouw pergi merantau.
Dan pengalaman itu memang diperlukan Kie bouw, sebab memiliki kepandaian yang bagaimanapun tingg, tanpa pengalaman itu memberikan gambaran betapa tidak ada artinya semua kepandaian yang telah ia miliki itu.
---oo0dw0oo---BAGIAN 06 PAGI itu sesungguhnya udara masih sejuk dan langit cerah sekali.
Terlihat Kie Bouw tengah melakukan perjaIanan seorang diri dijalan kecil yang berliku yang menghubungkan daerah pegunungan Thian-san dengan sebuah perkampungan kecil yang bernama Khoa- hoa-cung.
Dan tujuan Kie Bouw memang ingin pergi ke Khoa-hoa-cung itu karena perkarmpungan itu sering juga didatangi oleh Kie Bouw bersama gurunya jika memang mereka kehabisan persedian makanan.
Setelah melakukan perjalanan cukup lama hampir menjelang tengah hari, Kie Bouw telah sampai di perkampungan tersebut, segera dia mencari warung makan.
Dan ditangsalnya perut dan minum air yang cukup banyak, karena Kie Bouw merasa haus sekali.
Sedang bersantap begitu Kie Bouw tidak mau mengacuhkan keadaan sekelilingnya, dan dia mengambil sikap tidak acuh terhadap tamu2 yang menghadiri ruangan makan di rumah makan tersebut.
Dengan sendirinya, sikap pemuda ini merupakan sikap yang baik, yang mungkin dia terhindar dari segala kericuhan.
Sebab memang terkadang, disebabkan pandangan mata belaka bisa menimbulkan keributan.
Tetapi disaat Kie Bouw tergah menikmati santapannya itu, tiba2 bahunya telah ditepuk seseorang "Hei!
.
aku ingin bertanya kepadamu !", kata seseorang dengan sember." Kie Bouw melirik dengan terkejut, dia melihat seorang lelaki yang memelihara berewok sangat hitam dan tebal berdiri dibelakangnya.Tentu saja Kie Bouw jadi heran sekali dia tidak kenal dengan orang ini.
"Siapakah siecu (tuan) ?"' tanya Kie Bouw "Aku Siangkoan lang" Menyahut orang tersebut.
"Dan aku perlu bicara dengan engkau!" "Silahkan !" "Hmm.., apakah engkau memiliki uang sebanyak seratus tail perak ?" Tanya orang itu lagi.
"Memangnya kenapa?" "Aku bermaksud akan meminjamnya dari kau!" "Hah ?" Sungguh2 Kie Bouw terkejut, orang ini wajahnya menyeramkan, tetapi Kie Bouw melihat orang tersebut berkata-kata dengan sikap yang poIos "Aku ingin meminjam uang dari kau sebanyak seratus tail!" Kata orang itu dengan suara parau.
Kie Bouw jadi memandang orang itu sejenak, achirnya dia baru menyahuti .
"Hmm.., aku tidak memiliki uang sebanyak itu, menyesal sekali aku tidak bisa memenuhi permintaan siecu !" Kata Kie Bouw kemudian.
"Jika memang siecu mau, bisa satu atau dua tail kupinjami kepadamu.
"Hmm.., aku tidak perlu uang sesedikit itu !" Kata si brewok dengan wajah yang tidak sedap dilihat.
"Aku justeru memerlukan uang seratus tail perak ?" "Menyesal sekali aku tidak memilikinya.." "Tetapi kukira, engkau memiliki uang yang cukup banyak !, engkau jangan berdusta!
" Melihat orang mendesak secara demikian, segera timbul perasaan tidak menyukai dihati Kie Bouw.Segera juga hati kecilnya merasakan bahwa, orang berewok ini tentunya bukan sebangsa manusia baik2.
Dia meneruskan santapanya dan tidak mau melayani lagi orang itu.
Tentu saja sikap yang diperlihatkan oleh Kie Bouw telah membuat gusar Siangkoan Lang Itu.
Dia mengeluarkan suara dengusan mengejek, tahu2 lengan kanannya telah digerakkan.
Dia telah menggebrak bahu Kie Bouw.
"Plakkk!" Keprakannya yang sangat kuat sekali, tetapi karena Kie Bouw memang memiiiki kepandaian yang tinggi, dengan sendirinya keprakan orang itu tidak membawa arti apa2, dia tetap duduk bersantap tenang ?.
Tubuhnya juga tak bergeming sedikitpun juga, bagaikan keprakan orang itu tidak bertenaga sama sekali.
Tentu saja orang she Siangkoan jadi terkejut bukan main melihat ini.
Dia penasaran sakali.
Dengan cepat dia telah mengerahkan tenaganya dan sekali lagi dia menggeprak.
Namun Kie Bouw tidak bermaksud mengelak, dia membiarkan bahunya dikeprak orang itu, cuma saja keprakan orang ini kuat sekali.
Sehingga terdengar suara keprakan yang keras sekali.
Disamping itu memang teriilhat jelas betapa keprakan orang itu tidak memberikan hasil sama sekali.
Hal ini disebabkan dengan gerakan yang cepat bukan main Kie Bouw telah memiringkan bahunya sedikit doyong kesamping, sehingga keprakan orang itu jatuh ditempat kosong.
Tentu saja orang she Siangkoan tersebut jadi murka sekali Dengan mengeluarkan suara erangan yang keras sekali.
SiangkoanLang telah mengayunkan tangannya, maksud tindakan memberikan kesempatan kepada Kie Bouw berdiri.
Tetapi celaka buat orang she Siangkoan itu, karena begitu dia mengayunkan tangan kanannya itu, begitu dadanya terasa sakit, karena siku tangan Kie Bouw telah nyelusup masuk menghantam telak sekali jalan darah Pai-tu-hiat didada Siangkoan Lang.
Tanpa ampun lagi, tubuh Siangkoan Lang telah terpental keras sekali.
Begitu bergulingan, begitu menghajar meja kursi orang lain, sehingga terdengar suara hingar bingar yang berisik sekali.
Dengan sendirinya hal ini telah membuat tamu2 yang lain jadi melompat kearah pintu, dengan sikap yang ketakutan.
Mereka telah cepat2 meninggakan kursi makan mereka, karena ketakutan menjadi sasaran keributan itu.
Sedangkan Siangkoan Lang telah merangkak bangun.
Dengan muka merah padam.
Tampaknya dia murka bukan main, dengan mengeluarkan erangan kemarahan bukan main, dia bermaksud akan melancarkan serangannya lagi.
Tetapi Kie Bouw mendengus dan berdiri dari duduknya, dia telah menggerakkan sepasang tangannya dengan gerakan yang bukan main cepatnya.
Rupanya gerakkan yang dipergunakan oleh Siangkoan Lang tadi telah membangkitkan kegusaran Kie Bouw.
Setidaknya Kie Bouw telah melihatnya bahwa cara menyerang orang she Siangkoan itu sangat telengas sekali sehingga betapa memperlihatkan bahwa orang she Siangkoan itu sangat bengis dan merupakan manusia jahat.
Disaat itulah, dengan mengeluarkan suara seruan keras, Siangkoan Lang telah kena dihantam telak sekali oleh pukulan yang dilancarkan lawannya.
"Bukkk !"Telapak tangan Kie Bouw telah berhasil menghajar dada Siangkoan Lang.
Dan hantaman itu juga sangat keras sekali, tenaga hantaman ini memiliki kekuatan yang sangat tangguh untuk menghantam dada Siangkoan Lang, sehingga hantaman ini mengeluarkan suara berkesiuran .