Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 17

Memuat...

lan Se Jit Kong ini?" tanya si Dewa Arak.

"Teecu tidak menginginkan sedikitpun dari harta peninggalan Se Jit Kong.

Ayah kandung teecu sendiri tidak meninggalkan apa-apa ketika tewas, demiklan pula ibuku.

Teecu akan meninggalkan rumah dan seluruh harta ini kepada para pelayan.

Teecu akan pergi mengikuti suhu bertiga tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian teecu." Kembali tiga orang pendeta itu saling pandang dan mereka menjadi semakin kagum.

Baru berusia sepuluh tahun akan tetapi Sin Wan tidak terikat oleh harta benda!

Ini membuktikan bahwa anak itu memiltki keberanian dan harga diri.

Anak seperti ini kelak kalau sudah dewasa tidak akan mudah dicengkeram dan dipermainkan nafsu yang timbul oleh daya benda yang amat kuat.

Harta benda yang mendorong sebagian besar manusia menjadi lupa diri, dan dalam pengejaran terhadap harta benda, manusia terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan jahat.

Mencuri, merampok, menipu dan lain macam perbuatan jahat lagi demi mengejar harta benda.

Harta benda pula yang membuat manusia yang memilikinya menjadi sombong, merasa berkuasa dan merendahkan orang lain.

"Bagus!

Kalau begitu malam ini juga harus dilakukan penyerahan harta benda itu agar besok pagi kita dapat berangkat," kata si Dewa Arak.

Tujuh orang pelayan itu lalu dipanggil dan dikumpulkan di ruangan tamu, juga kepala kampung yang mengepalai daerah tempat tinggal Se Jit Kong diundang menjadi saksi.

Di depan kepala kampung, Sin Wan menerangkan bahwa dia akan pergi merantau dan seluruh harta kekayaan yang berada di rumah itu, berikut rumahnya, dia berikan kepada tujuh orang pelayan.

Tentu saja semua orang merasa terkejut dan terheran, akan tetapi tujuh orang pelayan itupun menjadi gembira bukan main.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Wan .dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka.

Biar dibagi tujuh sekalipun, mereka akan mendapat bagian yang akan membuat masing-masing pelayan menjadi orang yang kaya!

Juga kepala kampung terkejut dan terheran, akan tetapi ketika si Dewa Arak yang mewakili Sin Wan mengatur semua urusan itu mengatakan bahwa sebagai saksi dan pengawas agar pembagian dilakukan seadil-adilnya, kepala kampung mendapat pula upah yang cukup layak, kepala kampung menjadi gembira pula.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Wan dan tiga orang gurunya meninggalkan rumah Se Jit Kong di Yin-ning itu dengan kereta rampasan mereka.

Tujuh orang pelayan mengantarkan sampai di luar pintu gerbang, dan setelah kereta membalap di luar kota.

Sin Wan menghela napas panjang, seolah dia terlepas dari belenggu yang amat tidak menyenangkan hatinya.

Belenggu itu terasa olehnya, sejak dia mendengar keterangan ibunya bahwa Se Jit Kong bukan ayah kandungnya, bahkan pembunuh ayah kandungnya, dan bahwa ibunya menjadi isteri Se Jit Kong karena terpaksa untuk menyelamatkannya!

Sejak saat itu, rumah dan harta milik Se Jit Kong itu seperti sebuah penjara baginya, lantai rumah terasa seperti api membara, harta kekayaan itu seperti lintah-lintah bergayutan di tubuhnya.

Kini dia merasa bersih dan ringan, dan dia dapat memandang ke depan dengan wajah cerah penuh harapan.

Akan tetapi teringat akan penderitaan ibunya, kedua matanya menjadi basah dan cepat dia menghapus air matanya.

Ibunya sudah meninggal dunia, berarti sudah terbebas dari penderitaan hidup di dunia yang penuh kepalsuan.

Dia hanya dapat berdoa dengan diam-diam semoga Allah Maha Pengampun sudi mengampuni semua dosa ibunya.

Semua keindahan pemandangan alam yang terbentang luas disekelilingnya menghilangkan semua kenangan sedih tentang ibunya.

Baru sekarang Sin Win melakukan perjalanan jauh, melalui daerah yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan tiga orang pendeta itupun merupakan pencinta alam.

Setiap kali terdapat pemandangan yang amat indah, si Dewa Arak yang duduk di tempat kusir bersama Dewa Pedang, menghentikan kuda penarik kereta dan mereka berhenti, menikmatl keindahan alam.

Sin Wan memperhatikan mereka dan segera melihat perbedaan di antara mereka kalau menghadapi keindahan alam yang mempesona itu.

Dewa arak menikmati keindahan alam sambil meneguk araknya, Dewa Pedang melihat ke sekeliling seperti orang terpesona dan termenung, sedangkan Dewa Rambut Putih, kalau tidak meniup sulingnya tentu bersajak!

Belasan hari lewat tanpa ada gangguan diperjalanan dan pada suatu senja, kereta berhenti di puncak sebuah bukit.

Puncak itu datar dan dari tempat itu, pemandangan alam amatlah indahnya.

Apalagi mereka dapat melihat matahari senja mengundurkan diri di atas kaki langit di barat, hampir menyembunyikan diri di balik bayangan gunung-gunung.

Melihat matahari senja memang merupakan suatu pengalaman yang mempesonakan.

Langit di barat berwarna kemerahan, diseling warna perak, biru dan ungu, ada sebagian yang warnanya keemasan.

Matahari sendiri berwarna merah cerah namun tidak menyilaukan, seperti tersenyum memberi ucapan selamat berpisah, seperti hendak mengucapkan selamat tidur.

Matahari menjadi bola merah yang besar, perlahan namun pasti makin menyelam ke balik bukit-bukit.

Angin senja semilir menggoyang pucuk-pucuk ranting pohon, membuat pohon itu seperti kekasih"kekasih yang ditinggal orang yang dicintanya dan melambai-lambai mengucapkan selamat jalan untuk bersua kembali esok hari.

Burung-burung terbang melayang, berkelompok sambil mengeluarkan bunyi hiruk-pikuk, sekelompok mahluk yang setelah sehari rajin bekerja.

kini pulang ke sarang mereka yang hangat, atau berlindung di ranting-ranting pohon berselimutkan daun-daun yang melindungi.

Tanpa diperintah lagi, setelah mendapat pengalaman selama beberapa hari dan tahu apa yang harus dilakukannya, Sin Wan mencari kayu dan daun kering dan menumpuknya di atas tanah, tak jauh dari kereta.

Dia harus mengumpulkan cukup banyak kayu bakar untuk membuat api unggun malam ini.

Kalau mereka tidur di tempat terbuka, harus ada api unggun yang selalu dapat memberi penerangan, juga dapat mengusir nyamuk dan binatang lain.

Dapat pula mengusir hawa dingin yang dibawa angin malam.

Tiga orang pendeta itupun turun dari kereta, duduk bersila untuk memulihkan tenaga setelah kelelahan melakukan perjalanan dengan kereta sehari penuh.

Sin Wan mengambil sebuah buntalan yang berisi bekal makanan dan minuman yang dibeli tiga orang suhunya di dusun yang mereka lewati siang tadi.

Tanpa banyak bicara, mereka lalu makan malam di dekat api unggun yang sudah dibuat oleh Sin Wan.

Tiga orang kakek itu makin suka kepada murid mereka.

Biarpun sejak kecil hidup sebagai putera orang kaya raya, ternyata Sin Wan tidak manja, tidak cengeng, berani menghadapi kesukaran dan rajin, tidak canggung melakukan pekerjaan kasar.

Setelah makan malam, mereka duduk dekat api unggun dan Dewa Arak berkata kepada Sin Wan.

"Sin Wan, sekarang engkau sudah menjadi murid kami.

Kami ingin melihat apa saja yang pernah kaupelajari dari Iblis Tangan Api.

Nah, cobalah engkau mainkan ilmu-ilmu silat yang pernah kaupelajari darinya." Sin Wan mengerutkan alisnya.

Sebetulnya dia tidak suka memainkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari pembunuh ayahnya.

Akan tetapi, untuk membantah perintah gurunya dia tidak berani.Melihat keraguan anak itu, dan kerut di alisnya, Kiam-sian bertanya.

"Kenapa, Si Wan?

Engkau kelihatan tidak suka memainkan ilmu yang pernah kaupelajari dari Se Jit Kong?" "Maaf, suhu, Se Jit Kong adalah seorang datuk sesat yang amat kejam dan jahat.

Teecu ingin melupakan saja semua yang pernah teecu pelajari darinya karena kalau orangnya jahat, ilmunya pasti juga jahat." "Siancai, engkau tidak boleh berpendapat seperti itu, Sin Wan.

Ilmu adalah ilmu pengetahuan dan merupakan alat bagi manusia dalam kehidupannya.

Ilmu, seperti alat-alat hidup yang lain, tidak ada sangkut pautnya dengan sifat jahat atau baik.

Jahat atau baiknya ilmu, seperti jahat atau baiknya alat, tergantung dari pada orang yang menggunakannya.

Kalau orang itu berniat jahat, segala macam alat apa saja, ilmu apa saja, dapat dia pergunakan untuk berbuat jahat, Yang jahat bukan ilmunya, melainkan orangnya!

Andaikata di waktu hidupnya Se Jit Kong mempergunakan semua ilmunya untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, apakah engkau akan mengatakan bahwa ilmu-ilmunya jahat?" Mendengar ucapan Kiam-sian ini, Sin Wan segera menjadi sadar dan diapun memberi hormat kepada Dewa Pedang itu.

"Maafkan teecu, suhu, Pandangan teecu tadi memang keliru dan picik.

Baiklah, teecu akan memainkan semua ilmu silat yang pernah teecu pelajari dari Se Jit Kong." Anak itu lalu bersilat, diterangi sinar api unggun, dan ditonton ketiga orang gurunya.

Se Jit Kong memang seorang datuk besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Sejak Sin Wan berusia empat tahun, anak itu telah digemblengnya.

Bahkan tubuh anak itu telah dibikin kuat dengan obat-obat gosok maupun minum.

Sejak berusia enam tahun, Sin Wan sudah diajar melakukan siulian (semadhi) dan latihan pernapasan untuk menghimpun teraga sakti.

Tidak mengherankan ketika berusia sepuluh tahun.

Sin Wan telah menjadi seorang anak yang cukup lihai, yang tidak akan dapat dikalahkan oleh orang dewasa biasa, betapapun kuatnya orang itu.

Sin Wan tidak hendak menyembunyikan sesuatu.

Dia bersilat sepenuh hatinya, memainkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, bahkan mengerahkan tenaga sin-kang seperti yang pernah diajarkan Se Jit Kong kepadanya.

Dan perlahan-lahan, dari kedua tangan anak itu mengepul uap panas!

Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk.

Dalam usia sepuluh tahun, Sin Wan telah dapat mencapai tingkat seperti itu.

Sungguh hebat, walaupun dia belum sepenuhnya menguasai ilmu Tangan Api, namun kedua tangannya telah mengepulkan uap panas, dan pukulan-pukulannya mengandung hawa panas.

Setelah anak itu selesai bersilat dan mengatur kembali pernapasannya yang agak terengah, Kiam-sian bertanya.

"Pernahkah diajari ilmu pedang?" Sin Wan mengangguk dan Dewa Pedang menggerakkan tangan kirinya ke arah pohon yang berada di dekat rnereka.

Diam-diam dia mengerahkan Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu pukulan

Post a Comment