Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 16

Memuat...

menandingi mereka, dan tindakannya melawan mereka itu merupakan suatu keputusan bahwa dia akan menghadapi segala akibatnya seperti sebuah janji yang takkan dijilatnya kembali dan tidak akan menyesal andaikata dia kalah dan tewas . . . Karena itu, kalau dia dibantu, dia tentu akan menjadi marah karena bantuan kawan-kawannya itu sama dengan merendahkan dia!

Begitu memandang ke arah pertandingan, Sin Wan menjadi kagum.

Kiranya kini pertapa itu sama sekali tidak terdesak lagi.

Gerakannya demikian cepatnya seperti seekor burung walet dan pedangnya menjadi gulungan sinar menyilaukan mata dan karena dia terus berloncatan ke sana sini, maka lima orang pengeroyoknya mendapatkan kesukaran untuk rnenyudutkannya.

Terpaksa merekapun mengejar ke sana sini dengan kacau dan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membentuk atau mengatur barisan.

Menghadapi seorang lawan seperti ini, mereka merasa seperti menghadapi lawan yang lebih banyak jumlahnya.

Memang benar seperti yang dikatakan Dewa Arak dan Dewa Rambut Putih tadi.

Sebelum menghadapi lima orang itu seorang diri saja, Kiam-sian Louw Sun memang sudah memperhitungkan bahwa dia akan mampu menandingi mereka.

Dari gerakan mereka ketika meloncat turun dari kereta, ketika mereka mencabut golok dan memasang barisan, dia sudah dapat mengukur sampai di mana kira-kira kekuatan mereka.

Kini, setelah dia berhasil keluar dari himpitan barisan golok, Dewa Pedang meloncat jauh ke kiri, ke lawan yang paling ujung dan begitu lawan ini menyambutnya dengan bacokan golok, dia menangkis sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) disalurkan lewat pedang sehingga ketika pedang bertemu golok, pedang itu seperti mengandung semberani yang amat kuat, menyedot dan menempel golok.

Si pemegang golok terkejut ketika tidak mampu melepaskan goloknya dari tempelan pedang dan pada saat itu, tangan Kiam-sian Louw Sun meluncur ke depan.

"Cratt ""." Orang itu berteriak kesakitan, goloknya terlepas dan dia meloncat ke belakang, memegangi lengan kanan dengan tangan kiri karena lengan kanan yang tercium tangan kiri Kiam-sian tadi terluka dan berdarah seperti ditusuk pedang!

Ternyata dengan tangan kirinya si Dewa Pedang mempergunakan ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang) dan kalau dia menggunakan ilmu itu, tangan kirinya seperti pedang saja, dapat melukai lawan!

Empat orang pengeroyok lain maju serentak, namun Dewa Pedang sudah menghindarkan diri dengan gerakannya yang amat cepat, meloncat ke samping, lalu meloncat ke atas membuat salto tiga kali dan ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah menyerang orang yang berada di paling ujung!

Bagaikan seekor garuda menerkam dari atas, pedangnya meluncur dan orang yang diserangnya cepat mengangkat golok menangkis.

Akan tetapi, pada saat golok bertemu pedang, orang itu berteriak dan roboh, pundaknya berdarah terkena tusukan tangan kiri Kiam-sian Louw Sun.

Berturut-turut Dewa Pedang melukai lima orang lawannya, bukan luka berat, akan tetapi cukup untuk membuat mereka jerih karena yang terluka adalah tangan, lengan atau pundak kanan mereka.

Mengertilah Hek I Ngo-liong bahwa mereka berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya.

Tentu saja mereka merasa kecewa dan menyesal bu.

tan main.

Peti terisi pusaka-pusaka istana telah terjatuh ke tangan mereka dengan mudah dapat mereka curi dari rumah Si Tangan Api selagi pemilik rumah tidak berada di rumah.

Mereka lari ketakutan, takut kalau sampai Iblis Tangan Api dapat menyusul mereka.

Kiranya bahkan tiga orang pertapa ini yang mengalahkan mereka dan yang akan merampas pusaka-pusaka itu.

Baru melawan seorang saja dari tiga pertapa itu, mereka tidak mampu menang.

Apa lagi kalau mereka bertiga itu maju semua!

Si kumis melintang mewakili teman-temannya, membungkuk ke arah tiga orang itu dan berkata.

"Kami Hek I Ngo-liong mengaku kalah.

Harap sam-wi (anda bertiga) suka memperkenalkan nama agar kami tahu oleh siapa kami dikalahkan." "Ho ..

ho ..

ho, kami tidak perlu memperkenal diri, tidak ingin dikenal.

Hanya ketahuilah bahwa kami yang berhak atas pusaka-pusaka itu, maka kami melarang kalian mencurinya," kata Dewa Arak.

"Lo-cianpwe (orang tua gagah), berlakulah adil antara sesama orang kang-ouw.

Pusaka itu cukup banyak dan kami akan berterima kasih sekali kalau lo-cianpwe memberi kepada kami seorang sebuah saja." "Hemm, tidak boleh, tidak boleh """ "Kalau begitu empat buah saja "..

atau tiga buah """ Melihat Dewa Arak masih menggeleng kepala, si kumis melintang menurunkan permintaannya.

"Sudahlah, dua buah saja, lo-cianpwe ....

atau sebuah saja untuk kami berlima!" Dewa arak menghentikan tawanya dan memandang dengan mata melotot.

"Kami adalah utusan Sribaginda Kaisar untuk mendapatkan kembali pusaka pusaka itu!

Semestinya kalian kami tangkap dan kami seret ke kota raja agar dihukum.

Sekarang kalian masih berani rewel minta bagian?" Mendengar ucapan itu, Hek I Ngo-liong terkejut dan ketakutan.

Tanpa banyak cakap lagi mereka mengambil golok masing-masing dan hendak berloncatan ke kereta mereka.

Akan tetapi Dewa Arak berseru.

"Berhenti!

Kami telah memaafkan kalian dan tidak menangkap kalian, dan untuk itu kalian harus dihukum sebagai penggantinya.

Kereta dan kuda itu kami butuhkan.

Nah, kalian pergilah......, eh, nanti dulu.

Kami harus memeriksa dulu apakah pusaka itu masih lengkap!" Dewa Arak lalu sekali berkelebat meloncat ke dalam kereta dari jarak yang cukup jauh sehingga mengejutkan lima orang itu.

Peti itu berada di dalam kereta dan setelah membuka tutup peti dan melihat bahwa isinya masih lengkap, dia menjenguk keluar.

"Kalian berlima boleh pergi sekarang dan sekali lagi bertemu dengan kami, tentu kalian akan kami tangkap dan seret ke kota raja agar dihukum." Lima orang itu saling pandang, dalam batin menyumpah-nyumpah, akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu, merekapun segera lari meninggalkan tempat itu.

Sam Sian mengajak Sin Wan naik kereta rampasan itu lalu mereka kembali ke rumah anak itu.

Para pelayan yang terluka oleh Hek.

I Ngo-liong mendapat pengobatan dari Sam Sian.

Untung mereka tidak terluka parah dan setelah mendapat pengobatan, mereka tidak menderita lagi.

Sam Sian selalu membawa bekal obat-obat luka yang amat manjur.

Malam itu, Sam Sian mengajak Sin Wan bercakap-cakap di ruangan tamu.

Mereka merasa suka dan juga kasihan kepada anak itu yang kini sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.

Ayah kandungnya telah lama tewas oleh Se Jit Kong, ibunya dan ayah tirinya juga tewas.

Tidak ada sanak kadang, tidak ada handai taulan, hidup sebatang kara di dunia dalam usia sepuluh tahun!

Mereka sudah sepakat untuk menolong anak itu.

"Sin Wan, besok kami akan pergi mengantar pusaka ke kota raja.

Kami ingin sekali mengetahui, apa rencanamu sekarang?" tanya Pek-mau-sian Thio Ki dengan suara lembut.

Pertanyaan ini seperti menyeret Sin Wan kembali kepada kenyataan hidup yang pahit, menyadarkannya dari lamunan.

Sejak tadi dia.

memang sedang memikirkan keadaan dirinya.

Besok tiga orang kakek ini meninggalkannya, lalu apa yang harus dia lakukan?

Tetap tinggal di rumah besar peninggalan Se Jit Kong dengan segala harta kekayaaanya itu?

Bagaimana dia akan mampu mengurus rumah tangga seorang diri saja, mengepalai tujuh orang pelayan itu?

Dan dia tahu betapa di dunia ini lebih banyak terdapat orang jahat dari pada yang baik.

Pengalamannya dalam beberapa hari ini saja sudah membuka matanya betapa orang-orang yang kelihatannya baik, ternyata adalah orang yang amat jahat.

Seperti ayah tirinya itu!

Seperti Bu-tek Cap-sha-kwi, tigabelas orang yang mencoba untuk merampas pusaka, kemudian Hek I Ngo-liong.

Pertanyaan Dewa Rambut Putih itu justeru merupakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.

"Lo-cianpwe, saya .....

saya tidak tahu.

Kalau sam-wi lo-cianpwe mengijinkan, saya ingin ikut saja dengan sam-wi (anda bertiga) ." Tiga orang pertapa itu saling lirik.

"Kami bertiga hanyalah orang-orang yang tidak biasa berada di tempat ramai, kami hanya pertapa-pertapa Mau apa engkau ikut kami, Sin Wan?" Dewa Arak memancing.

"Kalau sam-wi sudi menerima saya, saya akan bekerja sebagai apa saja, sebagai bujang, kacung atau apa saja.

Sam-wi lo-cianpwe adalah orang-orang yang sakti, pandai dan budiman.

Saya akan dapat memetik banyak pelajaran kalau menghambakan diri kepada sam-wi.

Hanya sam-wi yang saya percaya di dunia ini " Senang hati tiga orang kakek itu mendengar ucapan anak itu.

Seperti yang telah mereka duga, anak ini selain memiliki bakat yang baik untuk belajar silat juga mempunyai budi pekerti yang baik menurut didikan mendiang ibunya, sama sekali tidak mirip ayah tirinya, Iblis Tangan Api yang kejam dan jahat itu.

"Siancai ".!" kata Kiam-sian.

"Agaknya sudah dikehendaki Tuhan engkau berjodoh dengan kami, Sin Wan.

Bagaimana kalau engkau ikut kami sebagai murid kami?" Anak itu tertegun, matanya terbelalak, lalu wajahnya menjadi cerah gembira dan dengan gugup dan gemetar dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap tiga orang itu.

"Terima kasih kalau suhu bertiga sudi menerima teecu (murid) sebagai murid.

Sebetulnya, tidak ada yang lebih teecu inginkan daripada menjadi murid sam-wi suhu (guru bertiga), akan tetapi teecu tentu saja tidak berani minta menjadi murid "...

" "Hemm, kenapa tidak berani, Sin Wan?

Kukira engkau bukan seorang anak penakut!" cela Dewa Arak.

"Maaf, suhu, bagainanapun juga, sam-wi mengetahui bahwa teecu adalah anak tiri mendiang Se Jit Kong dan semenjak bayi teecu telah dididik olehnya.

Teecu khawatir kalau sam-wi suhu menganggap teecu bukan anak yang terdidik baik-baik.

Akan tetapi siapa kira, sam-wi suhu yang mengambil teecu sebagai murid.

Terima kasih kepada Allah Yang Maha Kasih ....." Tiga orang pertapa itu mengangguk-angguk.

Anak ini tidak berani minta dijadikan murid bukan karena merasa takut, melainkan karena merasa rendah diri sebagai putera seorang datuk besar yang kejam seperti iblis "Bangkit dan duduklah, Sin Wan.

Kalau engkau ikut dengan kami, lalu bagaimana dengan rumah dan harta peningga

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment