Halo!

Si Pedang Tumpul Chapter 11

Memuat...

a aku!

Lihatlah baik-baik, aku adalah Naga Api yang datang untuk membasmi kalian semua!!" Dia memekik, suara pekikannya melengking nyaring menggetarkan seluruh orang yang berada di situ.

Sin Wan yang belum pernah melihat ayahnya bersikap seperti itu, terkejut dan ketika dia memandang dengan penuh perhatian, dia terbelalak.

Ayahnya telah lenyap dan di tempat dia berdiri tadi nampak seekor naga yang mengeluarkan api dari mulutnya.

Naga itu sebesar orang dewasa, dan panjangnya puluhan kaki!

Matanya mencorong, lidahnya yang terjulur keluar itu seperti api membara dan dari mulutnya keluar api bernyala-nyala bercampur asap, juga dari hidungnya keluar api.

Sungguh merupakan mahluk yang mengerikan sekali.

Naga Api!

Ketika dia menoleh kepada ibunya, agaknya ibunya juga melihatnya, akan tetapi ibunya tidak nampak heran, hanya ngeri dan takut.

Melihat ibunya ketakutan, Sin Wan lalu memegang tangan ibunya dan merasa betapa jari-jari tangan ibunya mencengkeram tangannya dan tangan ibunya itu amat dingin.

Dewa Arak dan Dewa Pedang sudah duduk bersila dan memejamkan mata seperti orang melakukan samadhi.

Mereka mengerahkan tenaga dan batin agar tidak terpengaruh dan terseret oleh ilmu sihir yang kuat itu, dan dengan memejamkan mata mereka melawan getaran sihir.

Akan tetapi, Dewa Rambut Putih berdiri berhadapan dengan Se Jit Kong yang sudah "berubah" menjadi naga api itu.

"Ha-ha-ha, Se Jit Kong, permainan kanak-kanak ini tidak ada artinya bagiku!" Dewa Rambut Putih lalu mengeluarkan sulingnya dan dia meniup sulingnya.

Terdengar lengking suara yang turun naik, terdengar aneh dan mengandung getaran kuat sekali.

Sin Wan memandang dengan mata terbelalak, dan biarpun hatinya tegang, namun dia ingin tahu kelanjutannya bagaimana terjadinya pertandlngan adu ilmu sihir yang aneh ini.

Naga Api itu menggereng-gereng dan suara suling melengking-lengking.

Akan tetapi, gerengan naga api itu semakin lemah dan akhirnya, nampak asap mengepul dan lenyaplah naga jadi-jadian itu, dan nampak tubuh Se Jit Kong.

Suara sulingpun terhenti dan muka Se Jit Kong menjadi merah sekali saking marahnya.

"Pek-mau-sian, aku atau engkau yang mampus!" bentaknya dan dia mengangkat pedangnya tlnggi-tinggi di atas kepala, mulutnya berkemak kemik dan dia berseru lantang.

"Pek-mau-sian, nagaku ini akan membunuhmu!" Dan dia melontarkan pedang itu ke atas.

Terdengar suara keras seperti ledakan dan pedang itu lenyap, berubah menjadi seekor naga lagi, walaupun tidak begitu menyeramkan seperti naga api tadi, namun naga ini bergerak dengan lincahnya seperti burung terbang dan berputaran di atas, seperti sedang mengintai korban.

Melihat ini, Pek-mau-sian Thio Ki tertawa lagi.

"Udara jernih menjadi keruh, langit terang menjadi gelap, munculnya naga jadi-jadian yang jahat perlu diberantas!" Ucapannya terdengar seperti bernyanyi dan diapun melontarkan serulingnya ke atas.

Terdengar lengkingan suara meninggi dan suling itupun berubah bentuknya menjadi seekor naga putih kekuningan seperti warna suling bambu itu.

Kedua naga itu bertemu di udara dan terjadilah pertandingan dan pergulatan yang hebat.

Namun, tidak lama, karena terdengar suara Pek-mau-sian lantang.

"Pedang curian harus kembali ke pemiliknya!" Dan kedua "naga" itupun meluncur ke bawah, ke arah Dewa Rambut Putih dan lenyap berubah menjadi suling dan pedang yang kini berada di kedua tangan tosu itu.

Wajah Se Jit Kong menjadi pucat.

Dia maklum bahwa dalam ilmu sihirpun dia tidak mampu menandingi Pek-mau-sian Thio Ki.

Dalam ilmu pedang dia kewalahan melawan Kiam-sian Louw Sun, dan dalam ilmu silat tangan kosong dan tenaga sin-kang, diapun terdesak oleh Ciu-sian Tong Kui.

Tiga orang lawan itu memang tangguh sekali dan kalau dilanjutkanpun akhirnya dia akan mendapat malu dan akan roboh.

Dia mencabut sebatang pisau dari pinggangnya.

Melihat ini, tiga orang tosu yang kesemuanya sudah bangkit berdiri itu siap siaga, mengira bahwa Se Jit Kong akan mengamuk dan melawan mati-matian.

Akan tetapi Se Jit Kong memandang kepada mereka penuh kebencian dan suaranya terdengar kaku penuh kemarahan.

"Sam Sian (Tiga Dewa), kalian sudah mampu menandingi dan mengalahkan aku, akan tetapi jangan harap aku akan sudi mengembalikan benda-benda pusaka itu dan menyerah untuk kalian tangkap.

Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang boleh membuat aku menyerah dan memaksaku!

Ha ..

ha ...

ha ..

ha!" Sambil tertawa bergelak, Hwe-ciang-kwi Se Jit Kong lalu menggerakkan pisau itu.

Tiga orang tosu terbelalak keget.

Mereka tidak mengira sama sekall bahwa Tangan Api itu akan mengambil keputusan demikian nekad.

Pisau itu, di tangan ahli Se Jit Kong, telah menyelinap di bawah tulang iga dan langsung menembus jantungnya sendiri!

Dia masih tertawa bergelak ketika roboh dengan mata terbelalak dan begitu suara tawanya terhenti, diapun sudah menghembuskan napas terakhir!!

"Ayaaaahhhh .......!" Sin Wan menjerit dan lari menghampiri tubuh ayahnya yang menggeletak telentang tak bernyawa lagi itu.

"Ayah ........!

Ayah .....!" Dia menubruk dan merangkul tubuh yang sudah menjadi mayat akan tetapi masih hangat itu.

Dia tidak perduli tangan dan bajunya terkena darah yang bercucuran keluar dari lambung ayahnya.

Setelah mengguncang-guncang tubuh ayahnya dan memanggil-manggil akan tetapi ayahnya tetap tak bergerak, mati dengan mata melotot, Sin Wan maklum bahwa ayahnya telah tewas.

Dengan terisak dia lalu menggunakan jari-jari tangannya untuk menutup kedua pelupuk mata yang terbelalak itu sehingga sepasang mata itu kini terpejam.

Lalu, perlahan-lahan dia bangkit berdiri, memutar tubuh menghadapi tiga orang tosu yang memandang dengan sikap tenang.

"Kalian ....

tiga orang pendeta yang kelihatannya saja alim dan baik, akan tetapi kalian telah membunuh ayahku!

Aku bersumpah kelak aku akan ......." "Sin Wan, diam kau .......!!" Tiba-tiba ibunya membentak dan ternyata ibunya telah berada di sisinya.

Sin Wan tidak melanjutkan ucapan sumpahnya yang hendak membalas dendam, dan dia menoleh kepada ibunya, lalu merangkul pinggang ibunya.

"Ibuuuu.......

ayah telah tewas .....!" isaknya.

"Aku tahu, anakku." "Ayah telah dibunuh oleh tiga orang jahat itu ......." ''Hushh, diam kau, Sin Wan.

Bukan mereka yang membunuh.

Ayahmu bunuh diri, kita juga melihatnya tadi." "Tapi, dia bunuh diri karena tersudut oleh mereka, ibu.

Kenapa ibu tidak menyalahkan mereka, dan tidak membela ayah?" "Sin Wan, ayahmu tewas karena ulahnya sendiri ......" Wanita itu lalu berlutut dan menggunakan kedua tangan untuk mencabut pisau yang masih menancap di lambung suaminya.

Pisau itu berlumuran darah, akan tetapi kini tidak banyak lagi darah mengucur keluar dari luka di lambung.

"Ibuuu ........!" Sin Wan berseru kaget melihat ibunya mencabut pisau yang berlumuran darah, dan dia melihat ibunya bercucuran air mata, menangis.

Diapun merasa terharu dan sedih, mengira ibunya menangisi kematian ayahnya.

"Ibu, ayah mati karena mereka, bagaimana kita tidak menjadi sakit hati?

Ibu, jangan menangis, kelak anakmu yang akan ...." "Husssh, Sin Wan, jangan blcara sembarangan," kata ibunya sambil menghentikan tangis dan menghapus air matanya.

"Ibumu bukan menangisi kematian ayahmu." Sepasang mata anak itu terbelalak.

"Ibu .....

Apa maksudmu, ibu?

Bagaimana mungkin ibu berkata demikian?

Ayah amat mencinta ibu dan menyayangku, dan ibupun mencinta ayah.

Kenapa ibu mengatakan bukan menangisi kematian ayahku?" "Sin Wan, dia ini bukan ayahmu." "Heeeii .....!

Ibu ....!

Apa .......

apa maksudmu?" Wajah anak itu berubah pucat dan dia memandang ibunya dengan mata terbelalak.

Tiga orang tosu itupun saling pandang dan mereka diam saja, hanya kini mereka duduk bersila, untuk memulihkan tenaga dan juga, untuk tidak mengganggu ibu dan anak itu.

"Sin Wan, anakku, sekaranglah saatnya ibumu membuka semua rahasia ini, di depan jenazah Se Jit Kong ini.

Dengarkan baik-baik dan ingat semua kata-kataku, anakku.

Sepuluh tahun lebih yang lalu, ketika itu usiaku baru delapanbelas tahun, namaku Jubaidah dan aku hidup berbahagia di samping suamiku yang baru setahun lebih menjadi suamiku.

Suamiku.

bernama Abdullah dan dia putera seorang kepala dusun di perkampungan bangsa kita, yaitu bangsa Uighur.

Ketika itu, engkau telah berada di dalam kandunganku, Sin Wan, berumur tiga empat bulan." "Aahhhhh ....., jadi ayahku .....

ayah kandungku, yang bernama Abduilah itu .......?" Suara Sin Wan berbisik lirih dan dia menoleh ke arah wajah Se Jit Kong, orang yang selama ini dianggap ayahnya, "Mendiang Abdullah, anakku.

Pada suatu hari, Se Jit Kong ini datang ke dusun kami dan dia ....

dia menginginkan diriku, dia membunuh ayah kandungmu, mendiang Abdullah suamiku itu ........." "Ya Tuhan .......!!" Sin Wan menjadi lemas, wajahnya semakin pucat dan matanya seperti tidak bersinar lagi mengamati wajah Se Jit Kong.

Orang yang menyayangnya dan disayangnya seperti ayah ini kiranya bahkan pembunuh ayah kandungnya!

"Tenanglah Sin Wan.

Engkau harus mendengarkan penuh perhatian dan ingat baik-baik semua keteranganku ini.

Suamiku, Abdullah dibunuh oleh Se Jit Kong ini, dan aku diculiknya.

Aku adalah seorang wanita beragama yang taat.

Aku sudah bersuami dan biarpun suamiku tewas, aku tidak akan sudi menyerahkan diri kepada pria lain, apalagi kalau pria itu pembunuh suamiku.

Menurut suara hatiku, semestinya aku membunuh diri pada saat suamiku dibunuh itu.

Akan tetapi, semoga Tuhan mengampuni aku, aku ....

aku tidak tega karena engkau berada di dalam perutku, anakku.

Kalau aku bunuh diri, berarti .aku membunuhmu pula.

Aku ingin engkau terlahir dan hidup, anakku.

Aku ingin engkau menjadi saksi tunggal bahwa aku sama sekali bukan wanita yang begitu saja mudah melupakan suami dan menyeleweng dengan penyerahan diri kepada pria lain ......" Wanita itu memejamkan mata dan menahan agar tangisnya tidak datang lagi.

Sin Wan tidak mengeluarkan suara, hanya memegang tangan ibunya, menggenggam tangan itu seolah memberi kekuatan kepada ibunya.

Tangan kiri ibunya dingin sekali, sedangkan tangan ka

Post a Comment