memiliki tubuh yang lebih kuat dari pada kawan-kawannya, maka kalau semua anak buahnya mati seketika terkena hantaman lawan, dia roboh dan masih dapat bertahan.
Setelah tiga orang sakti itu memeriksanya sejenak, tahulah mereka bahwa orang ini tidak mungkin dapat diselamatkan pula.
Ciu-sian Tong Kui menotok jalan darah di tengkuk dan kedua pundak, mengurut dada dan kepala pengawal itu mengeluh lirih, membuka kedua matanya dan memandang tiga wajah di atasnya itu dengan mata kuyu.
"Apa yang terjadi ?
Siapa yang membunuh kalian?" tanya Dewa Pedang.
Si kepala pengawal memejamkan mata, mengerahkan tenaga terakhir, membuka matanya lagi dan dengan sukar mulutnya bergerak mengeluarkan suara yang parau setelah dia muntah darah menghitam.
"Si ......
Tangan .......
Api ....." Dia terkulai dan matanya terpejam.
Tiga orang itu terbelalak dan kelihatan bersemangat ketika mendengar disebutnya nama Si Tangan Api.
Melihat keadaan orang yang terluka parah itu, Dewa Rambut Putih segera mengerahkan kekuatan batinnya, mengusap muka dan dada orang itu.
Dan, sungguh aneh, kepala pengawal yang tadi kelihatan sudah putus napasnya itu membuka matanya yang sudah kosong sinar, seperti orang mimpi saja.
"Cepat katakan, di mana Si Tangan Api?" kata Dewa Rambut Putih, suaranya tidak wajar, melengking dan penuh getaran yang berwibawa.
Kiranya orang sakti ini sedang mempergunakan seluruh tenaga dan kekuatan sihirnya untuk memberi dorongan semangat sehingga pada saat terakhir orang yang sudah sekarat itu masih akan dapat memberi keterangan yang diinginkannya.
".........
di .....
Yin-ning ....
Yi-li ......" Hanya sekian orang itu dapat bicara.
Dia terkulai dan tewas.
Akan tetapi, disebutnya Yin-ning dan Yi-li itu saja sudah cukup bagi Tiga Dewa.
Sudah berbulan-bulan mereka berkeliaran di daerah barat ini, bahkan menjelajahi Tibet dan Sin-kiang untuk mencari satu orang saja, yaitu Si Tangan Api!
Mereka tahu bahwa Yin-ning adalah sebuah kota yang terdapat di daerah Yi-li, daerah yang menjadi pusat tempat tinggal orang-orang Kasak.
Siapakah Tiga Dewa dan apa hubungan mereka dengan Si Tangan Api?
Seperti telah kita ketahui, Tiga Dewa adalah tiga orang tokoh persilatan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Akan tetapi sebetulnya sejak belasan tahun yang lalu, mereka telah menarik diri dari dunia persilatan, tekun bertapa untuk memajukan perkembangan jiwa mereka.
Akan tetapi, akhirnya mereka keluar juga ketika mereka mendengar bahwa di dunia persilatan terjadi kegemparan.
Di dunia persilatan muncullah seorang jagoan, seorang datuk kaum sesat yang berjuluk Si Tangan Api.
Bukan saja datuk ini menguasai dunia kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan), akan tetapi juga dia menggunakan ilmu kepandaiannya yang hebat untuk menalukkan para pimpinan perguruan perguruan silat besar seperti Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong-pai, bahkan berani menghina pimpinan Siauw-lim-pai!
Mendengar akan hal ini, Tiga Dewa terpaksa keluar dart tempat pertapaan mereka dan memenuhi permintaan para pimpinan perguruan-perguruan silat itu untuk menghadapi Si Tangan Api!
Akan tetapi, mereka terlambat.
Si Tangan Api telah melarikan diri setelah melakukan hal yang amat menggemparkan, yaitu dia telah memasuki gudang pusaka dari istana kaisar dan mencuri belasan buah benda pusaka!
Tentu saja Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama Dinasti Beng menjadi amat marah dan melalui para jagoan-jagoan istana dan penasihatnya, Kaisar Thai-cu juga minta bantuan Tiga Dewa untuk menangkap Si Tangan Api dan merampas kembali benda-benda pusaka itu.
Demikianlah, Tiga Dewa lalu melakukan penyelidikan dan mereka mengikuti jejak Si Tangan Api yang memboyong keluarganya ke barat.
Akan tetapi, di barat, mereka kehilangan jejak.
Mereka mencari-cari sampai berbulan-bulan lamanya, namun belum juga berhasil menemukan datuk sesat yang mereka cari itu.
Kalau di timur, dunia persilatan mengenal Si Tangan Api sehingga akan mudah mencari jejaknya.
Akan tetapi di daerah barat ini, agaknya tak seorangpun mengenal namanya.
Akhirnya, tibalah mereka di Turfan, dan secara kebetulan saja mereka melihat korban keganasan tangan Si Tangan Api dan kebetulan pula seorang di antara para korban itu masih sempat memberi keterangan kepada mereka sebelum mati.
Setelah mendengar keterangan dari kepala pengawal itu, tiga orang sakti saling pandang, kemudian Ciu-sian Tong Kui tertawa bergelak-gelak.
"Ha ha ha ha, akhirnya Tuhan berkenan mengulurkan bantuan kepada kita!" "Hwe-siang-kwi (Iblis Tangan Api), sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!" kata pula Kiam-sian Louw Sun sambil meraba gagang pedang yang tak pernah meninggalkan pinggangnya.
Tidak nampak dari luar dia membawa pedang, namun sesungguhnya, sebatang pedang yang aneh, pedang yang lentur tipis, melilit pinggang dalam sarung pedang dari kulit ular.
Pek-mou-sian Thio Ki tersenyum lebar dan menengadah memandang langit.
"Pohon yang buruk, cepat atau lambat, pasti akan menghasilkan buah yang buruk pula.
Setiap kejahatan membawa hukumannya sendiri, seperti setiap kebaikan membawa pahalanya sendiri.
Tuhan Maha Adil dan Maha Kuasa." "Bagaimana dengan mayat-mayat ini?
Kita tidak mungkin dapat meninggalkan mereka begini saja," kata Dewa Arak.
"Engkau benar, Ciu-sian.
Akupun tidak tega membiarkan mereka seperti itu," Dewa Pedang membenarkan.
" Entah bagaimana pendapat Pek-mou-sian," "Tentu saja kita harus mengubur mayat-mayat itu lebih dulu." jawab Dewa Rambut Putih.
"Kenapa tidak dibakar saja, Pek-mou-sian?" tanya Ciu-sian Si Dewa Arak.
"Sama saja.
Jasmani kita terdiri dari empat unsur, api, air, tanah, dan udara.
Setelah jasmani ditinggalkan jiwa, dia kembali ke asalnya, empat unsur Air kembali kepada sumbernya.
Dalam keadaan seperti ini, paling mudah dan tepat kalau kita mengubur mereka.
Untuk membakar mereka, kita kekurangan bahan bakar dan akan makan waktu, sedangkan kita perlu segera mencari Si Tangan Api ke daerah Yi-li." Dua orang yang lain mengangguk setuju.
Di antara mereka bertiga, memang Dewa Rambut Putih yang paling pandai mengeluarkan pendapat dan mengambil keputusan.
Tiga orang sakti itu lalu bekerja dengan cepat menggali lubang yang besar, menggunakan golok-golok yang berserakan di situ.
Sebelum senja tiba, mereka sudah selesai mengubur tujuh belas mayat itu ke dalam sebuah lubang yang besar dan menimbuni lubang itu.
Kemudian merekapun meninggalkan tempat itu untuk melakukan pengejaran terhadap Si Tangan Api.
Dewa Arak tidak lupa untuk mengambil beberapa meter sutera putih dan kuning untuk pengganti pakaian mereka kelak kalau ada kesempatan untuk membuatnya.
Daerah Yi-li adalah nama yang diberikan kepada daerah subur di lembah Sungai Yi-li yang letaknya di perbatasan Cina bagian barat laut.
Lembah itu amat subur.
Terbentang luas padang yang hijau dan subur, indah permai.
Padang inilah yang disebut daerah Yi-li, termasuk daerah Sin-kiang dan di daerah ini menjadi pusat tempat tinggal Suku Bangsa Uighur dan Kasak.
Dua suku bangsa ini merupakan penghuni yang paling besar jumlahnya dan yang sudah turun-temurun tinggal di daerah itu.
Masih banyak lagi terdapat suku-suku bangsa yang kecil-kecil jumlahnya, seperti Suku Mongol, Hui, Mancu, Usbek, Tatar, Sipo, dan lain-lain.
Bahkan ada pula Suku Han yang merupakan suku terbesar dan mengaku sebagai pribumi di Cina.
Namun di daerah Yi-li, Bangsa Han merupakan kelompok kecil saja walaupun tentu saja mereka terpandang karena setelah kekuasaan Mongol jatuh, kini Cina kembali dikuasai oleh kerajaan baru yang disebut Dinasti Beng (Terang), dipimpin oleh orang-orang Han.
Pada hal, kalau ditelusur benar-benar silsilah seseorang, sukarlah dipastikan bahwa seseorang itu benar-benar aseli!
Pernikahan antar suku sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, apa lagi dalam sebuah negara yang daerahnya luas dan memiliki suku yang puluhan banyaknya.
Akan tetapi, rupa-rupanya kaum peranakan, keturunan dari hasil kawin campuran itu tetap mempertahankan kelas mereka dan mengaku sebagai Suku Han, karena agaknya cap pribumi mendatangkan semacam perasaan unggul dan bangga.
Mereka lupa atau sengaja lupa bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah bermacam suku, hasil pernikahan nenek moyang mereka dengan suku-suku lain, baik dari pihak nenek moyang ayah maupun ibu.
Di daerah Yi-li, yang paling kuat karena terbanyak jumlahnya adalah Suku Kasak dan Suku Uighur.
Mereka hidup berkelompok dan berpisah, namun dalam kehidupan sehari-hari.
karena kebutuhan, mereka bergaul.
Di dalam pasar mereka bersatu, juga warung-warung teh dan rumah-rumah makan menjadi tempat pertemuan dan pergaulan antar suku yang tidak membeda-bedakan.
Kota Yin-ning adalah sebuah kota di daerah Yi-li yang dihuni sebagian besar oleh orang-orang Kasak.
Namun di kota inipun tinggal banyak orang dari suku bangsa lain, terutama Suku Bangsa Uighur yang sebagian besar beragama Islam.
Biarpun ada kemiripan pada wajah dan kulit mereka, namun mudah membedakan mereka dari pakaian mereka, terutama pelindung kepala.
Orang-orang Uighur yang beragama Islam yang pria hampir semua mengenakan semacam peci berwarna putih atau hitam atau juga belang-belang seperti kulit harimau, sedangkan wanitanya sebagian besar berkerudung dengan warna-warni indah.
Suku Kasak ada pula yang berpeci, akan tetapi banyak yang memakai kain pembungkus kepala.
juga pakaian mereka berbeda, dan topi para wanitanya terbuat dari bulu.
Para prianya, banyak pula yang mengenakan topi bulu domba, dan Suku Kasak ini terkenal tangkas dan pandai menunggang kuda.
Sebaliknya Suku Uighur lebih ahli memelihara ternak domba dan bertani.
Selain kota Yin-ning, di daerah Yi-li terdapat banyak kota lain seperti Cau-su, Capu-cai, Sui-ting dan lain-lain.
Akan tetapi kota Yin-ning terletak di lereng bukit yang indah pemandangan alamnya dan sejuk hawanya.
Pegunungan di sana menghasilkan rumput yang baik dan padang-padang rumput terbentang luas di lereng-lereng bukit, di antara pohon-pohon cemara yang rimbun dan menjulang tinggi.
Sungguh merupakan tempat