Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 20

Memuat...

Pato serempak bangkit berdiri.

"Itulah keliru! Coba Cian-pwee dengarkan dulu keteranganku. Adapun Hek Sia Mo-lie yang kujumpai pada bulan yang Ialu usianya kira2 enam belas tahun. Biarpun boleh dikata ilmu pedangnya tinggi, tapi mana boleh jadi ia itu puteri Wanyen Hong?" Karena pembicaraannya diputus ditengah jalan, Im Hian Hong Kie-su menjadi agak gusar.

"Tunggu! tunggu dulu! Gadis yang kau jumpai itu bukannya Wanyen Hong. Coba biarkanlah aku ceritakan rahasia yang menyelubungi dalam hal ini! Hampir semua keterangan dapat dikumpulkarn berkat kecerdikan Liu Bie sigadis cilik itu. Adapun pada duapuluh tahun yang lampau Tiang Pek Loni Sin-Ciang Taysu memperoleh sebuah kitab rahasia. Kitab itu diperolehnya dari penggalian disebuah makam purba, dan didalamnya terdapat pelajaran mantera dari latihan sakti ilmu Sam Bie Tay-hoat." Im Hian Hong Kie-su minum airnya, lalu meneruskan.

"Jika orang berhasil menyelami ilmu tersebut, niscaya ia akan memperoleh raga-sukma yang sempurna. Sama halnya dengan ilmu Thian Gan Tong dari ajaran Buddha, iimu itu, dapat mengetahui hal2 yang belum terjadi! Kecuali mantera, masih terdapat sebuah peta penyimpan benda2 pusaka. Disebutkan dalam peta itu terpandam dua macam benda mustika yang tiada bandingannya dikolong langit ini.

Pusaka yang pertama ialah pedang Mo-hweekiam atau Pedang Api Setan, peninggalkan kaum Buddha bekas milik Kong Ciak Tay Beng Ong didiaman purba. Sedang pusaka yang kedua adalah sebuah mustika peninggalan kaum agama To-Kauw, yaitu obat pengawet muda buatan Lo Hu Cian Jin berikut obat aneh untuk merubah rupa. Begitu Sin Ciang Taysu mempereleh kitab ini, maka tersiar meluaslah keselruh penjuru. Banyak Pendekar2 yang tinggi kepandaiannya datang untuk merebutnya. "Tak segan2 mereka menggunakan segala tipu-daya keji untuk memperoleh kitab tersebut, namun semuanya dapat dipunahkan oleh Sin Ciang Taysu." Pato terbuka mulutnya bahna asiknya mendengar.

"Tatkala Wanyen Hong menyelesaikan pelajaran, dan pulang kenegeri Kim, suhunya Sin Ciang Taysu telah memberikannya secara diam2 peta penyimpanan benda mustika itu kepadanya. Sedangkan kitab mantera latihan Sam Bie Tay-hoat itu tetap disimpannya sendiri untuk dipurgunakan dikemudian hari" Yalut Sang mengerutkan keningnya.

"Lewat berapa tahun kamudian, Wanyen Hong pergi ke Monggolia untuk merundingkan soal perdamaian. Kebetulan sekali tempat penyimpanan benda mustika itu terletak pada sebuah goa batu Moh Ko Ciuk Khu digunung See-Beng San. Nah, kejadian berikutnya dapat diketahui berkat jerih payahnya Liu Bie yang menunaikan tugasnia dengan baik." Im Hian Hong Kie-su berhenti untuk membasahkan tenggorokannya. "Lewat tembok perbatasan Giok-bun-koan, maha iring2an diperintahkan untuk beristirahat selama tiga hari. Pada malam harinya Wanyen Hong seorang diri pergi kegoa Cian Hut Tong. Tio Hoan sebagai pengawal yang disayanginya pun tak diberitahukannya. Ketika Wanyen Hong, sampai digoa Cian Hut Tong itu, maka dengan pertolongan peta ia berhasil membuka kamar batu rahasia.

Benar saja! Didalamnya menggeletak pedang musrika Mo-hwee-kiam.

Kemudian dibukanya sebuah kotak. Didalamnya terdapat obat pengawet muda dan obat pengubah rupa." lm Hian Hong Kie-su mengawasi kedua pendengarnya untuk mengetahui dapatkah mereka mengikuti penuturannya. "Tanpa diketahui, sejak Wanyen Hong memasuki goa itu diam2 ia dikuntit oleh seorang iang bertopeng. Wanven Hong terkejut! Entah siapa gerangan orang bertopeng itu" Maksudnya tak lain ialah untuk merampas benda2 pusaka yang telah ditemukan oleh Wanyen Hong. Maka sekejap saja terjadilah pertempuran hebat antara kedua orang itu." "Tatkala Wanyen Hong membuka serangan, lebih dahulu ia telah menelan obat pengawet muda kedalam mulutnya. Rupanya sierang bertopeng lebih tinggi kepandaiannya, maka bukan kepalang gelisahnya Wanyen Hong pada waktu itu. Namun apa daya ilmu pedangnya masih berada dibawah angin. Dalam keadaan yang gawat Wanyen Hong ingat akan pedang mustika Mo-hwee-kiam yang baru diperolehnya. Tanpa ayal lagi ia cabut pedang tersebut dan membacok pedang lawannya, yang lantas kutung dua dan jatuh ketanah." Pato mengambil pula buah Toh.

"Orang bertopeng itu sangat lihay! Ketika mengundurkan diri, ia masih sempat menyerang dengan tangan kosong. Walaupun demikian dia sudah berada dibawah angin dan pukulan2-nya dengan mudah dapat ditangkis oleh Wanyen Hong. Tiba2 orang berkedok itu berteriak mengguntur dan mengangkat telapak-tangannya, untuk memukul! Itulah Lok-Mo-Ciang atau Telapax Tangan Maut Hijau! Dengan nekad Wanyen Hong membacok tangan lawannya yang sudah berkelebat depan matanya, berbareng ia lompat kebelakang. Orang berkedok itu menjerit kesakitan tatkala telundiuk tangannya terpapas kutung oleh Mo-Hwee-Kiam! Tapi tak urung telapak-tangannya membentur dinding hingga berlubang, hijau warnanya." "Kie-su cianpwee," Pato bertanya terperanjat. "Ilmu silat apakah Lok-Mo-Ciang itu" Bagaimana telapaktangan orang itu dapat bersinar hijau?" "Pato," jawab pendekar itu, "sebagaimana kau ketahui, bagian bawah perut kunang2 dan pada tubuh binatang Ya-Kong-Tang mengeluarkan sinar hijau. Adapun kaum rimba persilatan menyebutkan ilmu itu dengan nama Lok-Mo-Ciang. Biasania orang yang berlatih ilmu dahsyat ini.

menelan zat hijau dengan cara istimewa. Zat tersebut sangat beracun sekali. Dengan melewati waktu yang tiukup lama dan latihan iang berat dan sukar, maka apabila telah berhasil, akibatnyapun sangat hebat sekali." "Begitu kedua belah telapak-tangan digosok, maka keluarlah sinar kehijauan. Siapa yang kena pukulan tersebut, sesaat itu juga kepalanya akan terasa pening, sedangkan penglihatannya menjadi kabur dan matanya ber-kunang2. Selain itu menyusul mana napasnya sesak. Zat hijau menembus kulit badan dan dalam waktu singkat saja orang itu akan binasa!" demikian Im Hian Hong Kie-su menerangkan secara panjang lebar.

"Alangkah hebatnya!" ujar Pato, "lalu bagaimana selanjutnya dengan Wanyen Hong?" Maka dilanjutkannya pula penuturan itu.

"Begitu Wanyen Hong melihat musuhnya melarikan diri, keringat dingin mengucur disekujur badannya, mengingat jiwanya hampir saja melayang.

Setelah keluar dari goa batu, sang puteripun mainkan pedang pusaka itu. la menyalurkang tenaga-dalamnya, maka tampaklah pada ujung pedang keluar hawa panas dan asap putih yang mengepul-ngepul! Rupanya pedang siorang bertopeng tadi kena panas yang luar biasa, maka menjadi rapuh. Rasa terkejut dan gembira bercampur didalam hati Wanyen Hong. Tapi sebaliknya ia berpikir, apabila ia harus pergi ke Monggolia sebaiknya Mo-Hwee-Kiam tidak dibawa-bawa. Maka kembalilah ia kedalam goa, lalu ditiarinya sebuah sela batu dan pedang pusaka itupun disembunyikannya.

Sekonyong-konyong terjadi sesuatu yang, mengejutkan! Tatkala Wanyen Hong ingin berlalu, tiba2 ia merasakan badannya lemas dan matanya terasa berat sekali. la menguap berkali-kali diserang rasa kantuk Yang tak terhingga. Ia mencoba mengerahkan tenaganya, tapi sia2 belaka. Baru saja ia melangkah beberapa tindak, atau badannia jatuh terkulai diatas tanah ...

Rupania obat pengawet muda yang ditelan oleh sang puteri tadi kini mulai bekerja didalam tubuhnya. Tatkala ia terbangun pula, entah berapa lama ia telah tidur disana" Dan selain itu hatinya heran sekali mendapatkan dirinya terbaring diatas sebuah pembaringan yang empuk. Didalam ruang kamar ada lilin yang menyala dengan terangnya.

Setelah diperiksanya lebih teliti, ternyata ruangan itu bukan lain daripada goa tadi dimana ia menyimpan pedang Mo-Hwee-kiam! Dengan perasaan heran, Wanyen Kongcu berfikir seorang diri : "Bagaimana aku bisa berada disini?" Tiba2 olehnya terdengar suara lemah-lembut disampingnya : "Oh, rupanya kongcu sudah bangun?" Bagaikan Kilat Wanyeng Hong membalikkan tubuhnya untuk menatap kearah orang yang bersuara itu. Dialah Tio-Hoan, pengawal yang disayanginya, yang kini sedang berdiri menanti dibawah cahaya lilin. Pakaiannya seperti untuk berpergian dimalam hari, serba hitam. Dikepalanya ia memakai sebuah topi, sedangkan dipinggangnya terselip sebuah pedang yang panjang.

Wanyen Hong Kongcu merasa heran sekali, bercampur girang. "Tio Hoan, bagaimana kau dapat mengikuti jejakku?" Sambil membungkukkan dirinya, Tio Hoan menjawab : "Setelah Kongcu menghilang selama dua hari Iamanya.

maka aku menemukan jejak Kongcu, dan mengikutinya sampai didalam goa Buddha ini. Tak disangka olehku mendapatkan Kong-cu tergeletak dilantai. MuIa2, hatiku amtat terkejut, tapi setelah mengetahui Kong-cu hanya sedang tidur, barulah aku merasa lega. Aku telah memindahkan Kong-cu kekamar ini agar dapat beristirahat dengan lebin baik dan enak." Wanyen Hong melihat bahwa pintu kamar batu tertutup semuanya. Perlahan-lahan ia menarik Tio Hoan untuk duduk disampingnya dan bertanya dengan suara merayu.

"Hoanko. Apakah kau hanya seorang diri saja mencari aku" Sudah jam berapa sekarang?" Mengambil kesernpatan baik ini, Tio Hoan dengan hati berdebar memegang bahu sang puteri yang halus. Bau harum semerbak menyambar masuk kedalam hidungnya.

Pada malam kemarin dulu Kongcu telah meninggalkan Kong-cu telah meninggalkan perkemahan dan kini sudah menjelang petang hari yang ketiga. Kini-diluar sudah gelap.

Untung aku telah membawa sedikit arak dan daging untuk Kong-cu makan." Setelah mana dikeluarkannya dari kantong kulitnya sebotol susu kuda dan daging yang sudah dimasak serta sepoci arak, semuanya itu ditaruh diatas meja dekat pembaringan. Kedua muda-mudi itu sejak mula memang sudah saling menaruh hati, dengan muka bersemu merah mereka saling melirik mata. Melihat Tio Hoan datang membawa daging dan arak, diwaktu perutnya tengah keruyukan, bukan kepalang rasa gembiranya Wanyen Hong.

"Hoanko. Mengapa kau begitu baik sekali terhadapku" Sekarang kita hanya berdua saja, baiklah kau lepaskan pedangmu dan mari kita minum bersama. Sesudah itu baru kita kembali keperkemahan." Tio Hoan mengambil dua buah cangkir perak dan dituangkannya arak secangkir penuh untuk sang puteri.

Seraya tersenyum diangsurkannya.

"Hoanko, mengapa kau berlaku sangat kaku terhadapku" Disini toh bukannya diistana. Aku ingin agar kau bertindak seolah-olah tiada orang lain selain kita berdua dan kau memanggil aku. . ." Tia Hoan tersenyum. "Hong-moay. Minumlah secangkir lagi. Setelah itu ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu." Wanyen Hong membalas dengan kerlingan yang menawan. "Janganlah kau suruh aku minum seorang diri. Hoanko.

Harap keringkan juga cangkirmu." Begitulah kedua muda-mudi itu minum arak sepuaspuasnya. Akhirnya Wanyen Hong mengawasi Tio Hoan dengan pandangan yang menggetarkan sukma.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment