Malahan ia telah memberi petunjuk kepadaku untuk berguru dengan Wan Hwi Sian" Setelah berjalan beberapa hari, kembali Gokhiol sampai didaerah dataran rendah. Pemilik kedai suku Hui mengenali sipemuda, ia berlari untuk menuntun kudanya.
"Saudara, kau benar2 mujur. Sejak kau pergi kegoa Tung-hong, sampai sekarang ini sudah ada beberapa orang yang biasa. Tadi pagi ada pula seorang terhuyung-huyung datang kemari, katanya ia dapat bertemu dengan Ang-Lui Cun kemudian baru saja menyebut "bahaya wanita, bahaya wanita" atau dia mendadak mati!" Sipemilik kedai membasahi bibirnya sebentar, lalu meneruskan : "Coba kau lihat sendiri. Tuh, disana dimana orang2 sedang berdiri dibawah pohon." "Apakah yang kau maksud Hek Sia Mo-lie dari kota Hitam?" tanya Gokhiol dengan pura2 terkejut.
Yang ditanya menganggukkan kepalanya.
"Bukan! Kali ini yang muncul adalah seorang gadis muda cantik-jelita yang biasa dipanggil orang Wie Mo Yauw-lie ." Wie Mo Yauw-lie! Ah, terlalu banyak siluman perempuan disini, berkata Gokhiol dalam hatinya. Ia tak berkata pula dan berjalan menuju tempat kelompok orang2 yang sedang berdiri dibawah pohon. Tampak olehnya seorang laki2 berbadan tegap menggeletak diatas tanah, pada pinggangnya tergantung sebilah parang. Orang itu mengenakan seragam tentara See-Hek dan dia sudah menjadi mayat. Gokhiol mendesak masuk, diperiksanya tubuh mayat itu dengan seksama dan ... benar saja! Pada kepala orang itu menancap sebuah benda, dan benda itu tidak lain adalah sebuah Kiu-cu Liu-seng! Senjata rahasia yang telah merenggut pula jiwa Tiang Jun! Perasaan dingin menjalar disekujur tubuh Gokhiol, mengetahui ia berada pada jejak yang benar, untuk membalas kematian Tiang Jun.
Tanpa bercakap apa2 lagi pemuda kita menaiki kudanya dan mengambil jalan yang mengarah kepadang pasir! Orang yang menyaksikannya hanya berdiri melongo saja.
Kudanya berlari dengan pesat, bagaikan terbang diatas dataran yang gersang. Pada hari senja sampailah ia dirumah keluarga Hay. Tampak pada air danau yang jernih bayangan terballik dari pemandangan disekelilingnya dan asap mengepul dari selubung rumah.
Hati sipemuda teringat pula akan senyuman manis Hay Yan yang cantik-jelita itu. Entah sebab apa, hatinya memukul lebih keras jika ingat pada gadis itu, yang bersenyum seperti bidadari. Wajahnya senantiasa terbayang2 dan meresap kelubuk hatinya. Sepasang matanya yang bersinar bening, bibirnya yang merah delima mengiringi kerlingan yang menawan hati, pipinya yang samar2 tampak sujennya. Semua ini berkumpul dilamunan sipemuda.
Keadaan dikampung itu tetap sunyi dan tenang, tak ubahnya seperti dahulu ia datang. Angsa2 bermain diatas air dengan lincahnya. Beberapa pohon liu didepan pintu pagar melambai-lambai mengikuti siliran angin yang membisikkan keluhan asmara. Dahulu dari baIik pohon itulah muncul Hay Yan...... Dengan penuh harapan Gokhiol mengawasi ketempat tadi. Diam2 ia tertawa seorang diri, benar2 ia seperti orang gila basah saja.
Gokhiol menambatkan kudanya. Fiatu rumah terbuka dan seorang gadis keluar dari rumah sambil berseru dengan suara riang.
"Tio Kongcu! Apakah kau datang lagi untuk melihat aku?" Gokhiol mcnjadi kecewa, demi dilihatnya gadis yang keluar itu bukan lain dari ... Tai-tai! Pemuda kita tertawa.
"Tai-tai, kau cantik sekali nampaknya ini hari. Apa Siociamu ada dirumah?" Tai-tai yang bersolek medok dan rambutnya dikepang, bukan kepalang senangnya. la maju berjalan penuh gayar dan berkata.
"Tio Kongcu, setiap hari aku rmeng-hitung2 jariku.
Kongcu sudah berlalu selama satu bulan dan lima hari Tiap2 hari aku selalu me-nanti2kan kedatanganmu didepan pintu ini." Begitu melihat tingkah-laku Tai-tai yang tengik, Gokhiol sebetulnya ingin mencemplak kudanya saja. Tapi mengingat kedatangannya adalah untuk menemui nona Hay Yan, yang telah menarik hatinya, maka ia menahan sabar.
"Tai-tai yang manis. Tolong sampaikan kepada Siociamu bahwa aku ingin bertemu dengannya." Tai-tai melototkan matanya.
"Apa kau datang kemari bukannya untuk melihat aku?" Gokhiol tertawa. "Benar, aku datang kemari juga untuk berjumpa dengan kau, tapi aku juga perlu untuk bicara dengan siociamu.
Nanti aku akan kembali bercakap2 dengan kau Tai-tai." Tai-tai tertawa girang, matanya bersinar-sinar. "Kongcu, kau tunggu sebentar. Nanti kusampaikan dahulu." Tergesa-gesa Tai-tai berlari masuk kedalam rumah.
Selang beberapa saat, ia keluar lagi dengan air muka lesu.
"Tio Kongcu, kau tidak-beruntung. Siociaku tidak ada dirumah." "Tai-tai, janganlah kau justa," kata Gokhiol dengan mesem, "tadi kau katakan bahwa kau ingin beritahukan dahulu pada siociamu." "Hai, kenapa kau begitu melit2. Dengan jelas siociaku mengajari aku untuk mengatakan bahwa ia tidak ada dirumah dan supaya kau datang dilain waktu saja.
Bagaimana kau biIang aku berjusta?" jawab Tai-tai dengan gusar.
"Siociamu mengajari kau berkata ....." Tai-tai menyadari ketelepasan omongannya dan cepat2 memungkirinya. "Oh, tidak, tidak!" Gokhiol menjadi geli sekali, ia mengetahui bahwa sang majikan adalah gagu, bagaimana ia dapat mengajarinya untuk berkata demikian" lapun berkata pula : "Tai-tai, bukankah majikanmu tak dapat berbicara?" Tai-tai kembali kesandung batunya, maka ia menjadi malu dan demi menutupinya, iapun mendamprat dengan suara lantang. "Kalau majikanku tidak bisa bicara, kau mau apa lagi" Biar bagaimana juga siociaku tidak ada dirumah Habis perkara!" Selesai berkata gadis itu meleletkan lidahnya mengejek, lalu berjalan masuk dan menggebrakkan pintu.
Gokhiol mencelos hatinya. la tahu bahwa Hay yan dengan sengaja ingin mengelakkan dirinya, maka tiada guna lagi baginya untuk menunggu lebih lama. la menuntun kudanya kedanau untuk diberi minum. Mengingat hari sudah malam, Gokhiol berpikir mungkin didekat tempat itu masih ada penghuni rumah lain yang mau memberikannya naungan untuk bermalam.
Setelah melewati rumah sigadis, betul saja dibelakangnya terdapat beberapa rumah lainnya. Tapi setelah meminta kepada beberapa orang penghuni, ternyata semuanya pada menolak dengan alasan bahwa sudah peraturannya perkampungan keluarga Hay bahwa mereka tak boleh menerima tamu dari luar! Dengan perasaan masgul, Gokhiol meninggalkan perkampungan itu. Setelah berjalan satu lie lebih, tampak pada sebuah lereng tanah tinggi dua buah rumah tua.
Didepan pintu berdiri sebuah istal kuda dan didekatnya berdiri papan yang bertuliskan kata2 sebagai berikut : Dari sini kedusun Ang-Liu-Cun jaraknya duapuluh lie, diharap umum jangan melewatinya pada malam hari....
Kiranya tempat itu dahulu adalah sebuah tempat pangkalan, didalam rumah terdapat tempat pembaringan dari batu. Tapi rupanya sudah lama sekali tidak dipergunakan orang lagi. Gokhiol beristirahat ditempat itu sambil membuka bekalannya. Ia makan dengan perlahan, kemudian dibersihkannya pembaringan. la menggeliatkan tubuhnya lalu berbaring diatasnya.
Keadaan sunyi-senyap. Teringatlah Gokhiol akan sikap Hay Yan, dahulu ia telah menerima dengan ramah-tamah sekali, tapi kali ini mengapa sigadis menampiknya" Perbuatan itu tentunya mempunyai latar belakang. Tiba2 ia mengingat sesuatu! Daerah sekitarnya tempat beroperasinya Hek Sia Mo-Iie! Jika benar ia seringkali mencelakakan orang lain, mengapa orang2 perkampungan keluarga Hay itu bisa tinggal dengan aman" Karena pikirannya berputar terus, maka pemuda kita tak dapat memejamkan matanya.
Sang rembulan memancarkan sinarnya yang terangbenderang. Gokhiol bangkit dari tempat pembaringannya dan melangkah keluar untuk menghirup udara yang segar. la mengawasi pemandangan disekitarnya. Dihadapannya terbentang lebar padang pasir yang tiada batasnya.
Dikejauhan samar2 terlihat perkampungan keluarga Hay ... Pemuda kita berjalan mundar-mandir dan kembali matanya tertuju pada papan pengumuman. Tiba2 ia teringat akan cerita sipemilik kedai dari pangkalan, katanya didalam hutan Ang-Liu-Cun terdapat sebuah kota tua yang telah runtuh dan terpendam didalam tanah. Orang2 padang pasir menamakannya Kota Hitam. Menurut cerita Hek Sia Molie menyemburiikan diri disana hingga tidak seorangpun yang berani memasuki pohon Liu Merah itu. Kini dihadapannya terdapat sebuah papan yang memberitahukan letak Ang-Liu-Cun itu, hanya sejarak duapuluh lie. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh dalam waktu setengah jampun akan sampai ketempat tersebut.
Berpikir demikian, hati pemuda kita menjadi ber-debar2.
la bersalin pakaian malam yang berwarna putih abu2 dan membekal kantong senjata-rahasianya. Setelah itu pemuda kita melangkahkan kakinya.
Gokhiol mengenakan pakaian putih abu2, adalah untuk menyesuaikan keadaan dipadang pasir agar tak mudah dapat dilihat orang dari jarak jauh. Setelah berjalan sepuluh lie jauhnya, pemuda kita mempercepat larinya. Akhirnya sampailah ia ditempat tujuan.