Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 18

Memuat...

---oo0dw0oo---

Demikianlah Yalut Sang menceritakan kepada Jendral Tuli pengalamannya salama sepekan dan menyusul mana dikeluarkannya pula senjata Kin-cu Lui-seng.

Jendral Tuli memeriksanya dengan seksama.

"Yalut Sang, kau mengatakan bahwa senjata-gelap ini hanya dipergunakan oleh Im Hiam Hong Kie-su saja, tapi kini mengapa kau katakan bahwa orang berbaju hitam bukannya dia" Masakan ada orang yang sedemikian sama rupanya?" "Dengarlah penjelasanku, Goan-swee," sahut Yalut Sang, sebagaimana diketahui pada duapuluh tahun yang lampau aku bersahabat dengan Im Hian Hong Kie-su.

Mana boleh jadi bahwa waktu kami saling kebentur ia tidak mengenali aku". Meskipun kami saling berpandangan mata, namun romannya tak memperlihatkan tanda pengenalan sedikitpun juga, maka hal itu membuktikan bahwa orang itu bukan Im Hian Hong Kie-su. Dialah orang lain yang telah menyamar sebagai dirinya!" Yalut Sang berhenti sebentar untuk meneguk secangkir arak yang tersedia diatas meja untuk kemudian meneruskan : "Hal ini tak dapat diragukan lagi. Sebaliknya orang itupun sangat cerdik. Dengan sengadia ia telah menolak aku dengan tenaga-dalamnya, untuk mengetahui apakah aku memiliki ilmu silat. Untung aku telah bersiaga terlebih dahulu,sehingga berhasil mengelabuinya." Setelah mendengar penjelasan gurunya. Pato bertanya pula : "Suhu, jika demikian halnya, maka sibaju hitam yang tempo hari dijumpai Gokhiol dan aku kiranya bukan Im Hiam Hong Kie-su. Namun, aku masih belum mengerti mengapa ia telah menolong kami berdua?" Atas pertanyaan muridnya ini Yalut Sang terdiam.

"Mengenai hal ini, aku belum dapat mengetahui apa yang menjadi alasannya. Yang mencurigakan adalah orang itu sangat mirip sekali dengan Im Hian Hong Kie-su, sehingga sepintas lalu sukar untuk orang membedakannya." Sang guru berpikir sebentar, lalu melanjutkan.

"Hanya ada sedikit perbedaan yang jarang dapat diketahui orang selain yang telah mengenalnya dari dekat, yaitu sinar mata Im Hiam Hong Kie-su bersinar terang dan menunjukkan sikap yang agung. Sebaliknya sibaju hitam romannya agak kejam, sedangkan sinar matanya menunjukkan sorotan hawa sesat! Mungkinkah dia pandai menyamar dan mengubah wajahnya" Aku belum dapat memastikan!" Mendengar keterangan Yalut Sang tentang ilmu penyamaran muka, Jendral Tuli merasa tertarik.

"Yalut Sang, mendengar keteranganmu mengenai ilmu penyamaran, kini teringat aku pada masa ayahku Jenghis Khan masih hidup, pernah aku mendengar dari seorang perutusan kerajaan Song, bahwa ada seorang pendeta kalangan kaum agama Too-kauw yang memiliki kepandaian terscbut. Seorang ksatrya diutus untuk mencari pendeta itu, tapi hingga kini belum mendengar kabar ceritanya lagi." Yalut Sang tersenyum. "Untuk mendapat gambaran yang se-jelas2nya mengenai teka-teki ini, aku mohon untuk diijinkan pergi ke Puncak Gunung Maut." "Apakah kau ingin pergi menemui Im Hiam Hong Kiesu" Kami merasa kuatir kau akan mendapat kesukaran diperjalanan," demikian Jendral Tuli menjawab.

"Apa yang Goan-swee katakan memanglah benar," jawab Yalut Sang, "sebagaimana diketahui Puntiak Gurung Maut terletak dipegunungan Ji-Long San. Disekitarnya banyak binatang2 buas dan ular berbisa, sehingga berbahaya untuk orang mengunjungi tempat itu. Namun demikian waktu dulu, tatkala aku berpisahan dengan Im Hian Hong Kie-su, ia pernah memberikan kepadaku sebuah peluru yang dapat bersuara. Dikatakannya apabila kelak aku ingin bertemu kepadanya, supaya peluru itu dilontarkan diangkasa. Itulah sebagai tanda pengenal. Oleh karena itulah aku tak merasa kuatir, meskipun perjalanan kegunung Ji-Long San sangat jauh dan berbahaya. Dan apabila dapat berjumpa dengannya, aku dapat menerima petunjuk untuk mencari jejak Gokhiol." Akhirnya Jenderal Tuli menyetujuinya juga dan Pato pun merasa bergembira dan segera minta untuk ikut serta dengan sang guru. Tapi Yalut Sang menjawab seraya memandang kepada Jenderal Tuli.

"Pato, kau adalah anak Panglima Perang. Bagaimana kau dapat berpergian kesembarang tempat?" "Su-hu! Bukankah Gokhiol juga merantau dengan seorang diri" Jika suhu memperkenankan aku ikut, maka ayah pun pasti akan mengijinkannya aku pergi guna memperluas pengalaman," demikian Pato berkata dengan sikap yang gagah.

Sambil berlutut dihadapan ayahnya, Pato memohon : "Ayah mempunyai enam anak, mengapa tidak memberi kesempatan untuk mengutus salah seorang puteranya untuk mencari pengalaman dikalangan rimba persilatan dan mempertinggi ilmu kepandaiannya?" Melihat sikap puteranya yang gagah dan bersungguhsungguh, Tuli merasa terharu bercampur bangga.

"Pato, anakku, nan tercinta." Jendral Tuli berkata, "permohonanmu akan kululuskan, namun demikian tunjukkanlah kesanggupanmu agar kau dapat memperoleh kembali pedang pusaka Ang-liong-kiam peninggalan mantan ayahnya Gokhiol. Janganlah sampai kau mengecewakan tugasmu, bertindaklah sebagai ksatrya Monggol sejati!"

---oo0dw0oo---

Adapun gunung Ji-Long San itu merupakan barisan pegunungan yang liar didaerah Patang. Diantaranya terdapat sebuah puncak menjulang tinggi keangkasa, yang diselubungi lapisan mega. Puncak itu sepanjang tahun tertutup dengan tumpukan salju iu, sehingga udaranya sangat dingin. Pada lampingnya banyak sekali tebing2 nan curam dan tinggi2 letaknya, sehingga hampir tidak ada jalan sama sekali untuk melewatinya. Sedang dikaki pegunungan tumbuh hutan-rimba yang lebat, dimana pohon2 berdaun rindang menutupi sinar matahari yang ingin menembusinya. Didalamnya berkeliaran binatang2 yang buas, hingga seorang pemburupun tidak berani datang. Kembali pada Yalut Sang dan Pato yang tengah menempuh perjalanan kedaerah tersebut, setelah lewat belasan hari tiba didataran tinggi Siauw Pa San. Adapun Siauw Pa San terdiri dari gunung2 yang tinggi dan berdinding curam mengerikan. Dibagian pinggir gunung ada jalanan Canto, yang sangat sempit sehingga orang yang melewatinya harus meninggalkan kudanya untuk meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Setelah guru dan murid menempuh jarak setengah harian, maka kelihatan tidak jauh dihadapan mereka sebuah gubuk kecil. Diatap gubuk terpancang sebuah bendera menunjukkan tempat orang menjual minuman arak. "Mari kita melepaskan lelah sebentar untuk minum arak," ujar Yalut Sang. "Selesai minum kita akan teruskan perjalanan." Setibanya didepan gubuk tempat penjualan minuman arak, mereka melihat bahwa pemiliknya adalah seorang nenek yang sudah putih ubanan. Selain itu dibawah gubuk terdapat sebuah batu berwarna hijau dan besar bentuknya, Diatasnya terletak sebuah belanga terbikin dari tanah liat dan tempat dadu. Melihat keadaan yang ganjil tersebut, Pato membisik kepada gurunya.

"Suhu, mengapa dihadapan nenek penjual arak ini terdapat alat permainan dadu?" "Nanti akan kutanyakan kepada nenek itu," jawab Yalut Sang seraya berjalan menghampir. "Lo Twanio, apa kau masih ada persediaan arak?" Adapun sinenek usianya kira2 tujuh puluh tahun.

Perawakannya tinggi besar, sedangkan rambutnya putih seperti salju. la mengenakan pakaian serba hitam. Demi mendengar Yalut Sang menegur kepadanya, ia menengadah seraya menjawab.

"Disini ada arak, tapi biasanya tidak dijual dengan menerima uang." Tatkala pandangan mata Yalut Sang berbentrok dengan mata nenek tua itu, bercekatlah hatinya. Sementara itu, Pato yang mendengar orang berkata bahwa arak itu tidak dijual dengan uang, merasa heran bercampur gembira.

"Eh, nenek! Sungguh kau baik sekali, didunia ini memang sukar untuk mendapatkan orang yang kedua seperti kau. Apakah orang boleh minum tanpa bayar?" Tapi sinenek berkata dengan dingin : "Kau ingin minum arak, lebih dahulu harus bermain dadu denganku." Yalut Sang sadar bahwa dibalik peristiwa ini tentunya ada sebab musababnya, maka lekas2 ditariknya tangan Pato seraya berkata kepada sinenek : "Lau Twanio, coba kau berikan keterangan yang lebih jelas, bocah kecil ini tidak mengetahui aturannya!" "Ah, mudah saja," jawab sinenek, "adapun arakku tidak untuk disuguhkan dengan cuma2. Keluarkanlah uang perakmu untuk bertaruh main dadu denganku. Bilamana kau menang, aku akan menyuguhkan arak dengan cuma2." "Dan apabila kami kalah ?" tanya Yalut Sang dengan hati berdebar-debar.

"Marilah kita bermain dadu, kalau aku kalah, kamu orang boleh minum arakku sepuas-puasnya2" berseru sinenek penjual arak kepada Yalut Sang dan Pangeran Pato.

"Jika kau kalah, maka keluarkan lagi uangmu, demikian seterusnya sampai kau dapat menang dan kalau aku kalah terus maka aku akan menyuguhkan kau minuman arak sampai se-kenyang2nya!" Mendengar perkataan sinenek, Pato menjadi timbul isengnya. Segera dikeluarkannya sebungkusan kecil berisikan uang perak kira2 sepuluh tail beratnya.

Dilemparkannya kantong itu diatas batu seraya berseru : "Cobalah aku bermain dahulu sekali dan itu uang taruhannya!" "Hi-hi-hi ! Aku kuatir kau belum dapat menaadingi permainanku. Hi-hi-hi! Lihatlah aku akan menangkan uang perakmu!" ujar sinenek sambil tertawa kegirangan.

Menyusul mana dibukanya sebuah tutupan guci arak.

Tampak bahwa didalam guci itu tidak terisi arak, melainkan penuh dengan uang perak.

Uang perak hancuran dituang sinenek berkeresekan diatas tanah. Melihat kejadian itu, Yalut Sang mendorong Pato kesamping.

"Muridku, biarlah aku yang bermain dahulu. Setelah itu baru kau." "Benar! Tuan ini rupanya ada pandai sedikit untuk membuat dadu bergerak-gerak," sahut nenek sambil menyerahkan keenam biji dadu kepada Yalut Sang. "Tuan boleh melemparkannya terlebih dahulu. "Silahkan!" Yalut Sang berpikir didalam hatinya, "Hm, ingin aku mengetahui cara bagaimana kau mempermainkan orang!" Guru silat itu bersiul meniup dadu2 ditangannya. Diam2 dadu yang bermata enam semuanya diarahkan keatas, dan dengan mengerahkan tenaga-dalamnya dadu2 itu melekat satu. Setelah itu dilemparkannya kedalam belanga sambil berteriak : "Liok Liok! Enam semua!" Sesaat kemudian keenam dadu itu menggelitir kedalam belanga dan setelah berputar sebentar, kesemua mata enam berjejer didalam belanga! Pato, menyaksikan kelihayan suhunya berseru kegirangan, "Semuanya bermata enam, sekarang kita dapat sepuasnya minum arak! Ha-ha-ha! Sinenek kalah, sinenek kalah!" "Tunggu dulu! Aku belum mengambil giliran, jika aku dapat Boan Tong Hong, kalian akan terkalahkan," ujar nenek itu agak gusar.

Adapun yang disebut Boan Tong Hong ialah keenam dadu yang semua bermata empat.

"Mana ada hal yang demikian!" ujar Pato, "Lekas kau keluarkan arakmu saja. Tenggorokanku sudah kering." Sinenek tak menghiraukannya dan sekaligus diambilnya keenam dadu itu lalu dilemparkannya keatas. Keenam dadu berputar-putar diudara sebentar untuk kemudian turun kebawah dan menggelinding didalam belanga. Nenek itu menunjuk dengan jarinya.

Post a Comment