"Pato, lekas kalian berdua melarikan diri! Aku akan menyusul belakangan." Kiranya suara itu disalurkan melalui tenaga-dalam yaag tinggi sekali ketelinga putera2 Jendral Tuli. Pato segera menarik lengan Gokhiol dan diajaknya berlari meninggalkan tempat itu. Ditengah jalan Gokhiol masih sempat bertanya kepada saudara angkatnya : "Adikku, apa kau juga mengenal Im Hian Hong kie-su" "Pst! Jangan berisik! Nanti saja kalau kita sudah jauh, baru akan kuterangkan kepadamu," jawab Pato seraya percepat larinya.
Kiranya sebelum Pato tiba dibenteng Hek Sia untuk menolong Gokhiol, segala rencana telah diatur terlebih dahulu oleh Im Hian Hong Kie-su.
Adapun Im Hian Hong Kie-su telah menyanggupi permohonan dari sahabatnya Tiang Pek Loni guna mencari musuh yang telah mencemarkan Wanyen Hong, puteri dari kerajaan Kim. Terlebih dahulu ia datang menolong Gokhiol. Dan maksudnya ialah tak lain agar pemuda kita dapat digunakan sebagai umpan uncuk memancing keluar sibaju hitam yang tak mau memperlihatkan siapa sebenanya dia itu.
Barusan Im Hian Hong Kie-su telah sengaja memancing keluar Hay Yan meninggalkan rimba. Setelah mengetahui bahwa Gokhiol dan Pato berada dalam keadaan yang aman, iapun melarikan diri...
Sayang! Hay Yan tak mengetahui bahwa lawannya itu Im Hian Hong Kie-Su yang asli, yang sejati. Sebaliknya dikiranya adalah si iblis baju hitam! Angin malam menampar-nampar muka si gadis yang berdiri sendirian dengan pedang Mophwee-kiam ditangan....
Gokhiol mengikuti Pato keluar dari rimba Ang-Liu-Wi.
Begitu sampai diluar atau nampak olehnya dua ckor kuda.
Serera. kedua pemuda itu menaiki masing2 seekor kuda dan kemudian melarikannya bagaikan terbang dimalam hari meninggalkan Kota Hitm.
Ketika melewati Hay-Kee-Chun, Gokhiol merasa hatinya tak keruan, berat sekali untuk meninggalkan tempat itu.
"Hay Yan amat aneh kelakuannya. Aku dikurungnya dibawah tanah, tapi setiap hari tak lupa dihantarkannya aku makanan. Maka sudah jelas hahwa ia tidak mempunyai maksud untuk membunuh aku." Kuda mereka sudah lama melewati Hay-Kee-Chun, namun pikiran Gokhiol masih tak terlepas dari kenangan yang baru saja dialaminya, peristiwa dengan si jelita Hay Yan. lapun terus melamun.
"Waktu ia mengunjungi aku pada malam hari, ia menyatakan rasa penyesalannya. Rupanya ada sesuatu yang sukar untuk di utarakan kepadaku. Apakah Hay Yan dikuasai oleh Hek Sia Mo-lie, hingga ia tak bebas dalam tindak-tanduknya?" Sambil melamun memikirkan nasib gadis idamannya, tangan Gokhiol per-lahan2 masuk kedalam saku celana.
Dikeluarkannya sehelai sapu tangan yang bersulam, yang telah ditinggalkan oleh Hay Yan. Kemudian diciumnya saputangan yang harum baunya itu dengan penuh kasih sayang. Ia menarik napas panjang seraya berkata seorang diri : "Jika kelak aku dapat berjumpa pula dengannya, pasti aku akan....." Tiba2 Pato menoleh kebelakang dan tangannya mengeprak kuda Gokhiol seraya berseru : "Apa yang tengah kau pikirkan, Gokhiol" Satu rintasan lagi kita akan keluar dari daerah gurun pasir ini. Hayo, lekaslah larikan kudamu!" Seketika itu juga semangat pemuda kita bangun pula.
Sambil berteriak dikempitnya pinggang kudanya dan bagaikan mengendarai angin, ia menyusul Pato.
Diufuk timur tampak cahaya merah. Fajar telah menyingsing. Mereka tiba pada sebuah pos perjalanan ditapal batas gurun pasir. Merekapun turun dari kuda untuk beristirahat. Setelah mengambil tempat duduk dibawah atap rumah. Pato mulai berkata : "Gokhiol, adapun orang yang berpakaian hitam tadi adalah lm Hian Hong Kie-su. Tadi malam ia telah mengantar aku ke Hek Sia untuk menolong kau keluar dari kurungan dibawah tanah itu." Gokhiol sangat terharu mengingat akan jasa adik angkatnya yang telah dua kali menolong jiwanya.
"Adikku, tak kusangka Im Hian Hong Kie-su datang bersamamu!. Baiklah akan kuberitahukan juga kepadamu, bahwa akupun sudah kenal tokoh rimba persilatan yang tinggi ilmunya itu. Entah cara bagaimana kau sampai dapat bertemu dengannya?" Mendengar pertanyaan Gokhiol ini mau tak mau Pato harus memutar otak bagaimana sebaiknya harus menjawabnya, agar rahasianya tidak sampai bocor.
"Kalau harus kuceritakan perihal lni, maka peristiwanya amat panjang. Semenjak kita berpisah dilembah Ban-Coa-Kok waktu itu, lama juga aku tidak mendengar kabar berita tentang dirimu. Sedangkan ibumu setiap hari bertambah kuatir akan keselamatanmu. Pada suatu hari diberikannya kepadaku sepucuk surat dan minta agar aku pergi kegunung Jie-Liong-San untuk menemui lm Hian Hong Kie-Su yang merupakan sahabat karib mendiang ayahmu." "Lalu bagaimana?" tanya pemuda kita.
"Dan kemungkinan besar Im Hian Hong Kie-su dapat mengetahui dimana kau berada. Setelah susah-payah, tibalah aku dipuncak gunung Ji-Long-San," "Oh, kiranya beliau adalah sahabat karib dari mendiang ayahku! Tidaklah heran apabila ia setiap kali secara diam2 menolong aku. Sebagai mana kau ketahui aku bertemu dengannya digurun pasir. Disana ia memberi beberapa patunjuk kepadaku untuk mencari seorang tokoh aneh dikolong langit ini yang bernama Wan Hwi To-tiang." Pato mendengarkan penuturan Gokhiol dengan hati2 namun ia tak mau menyingkap rahasia bahwa sebaju hitam yang dimaksud Gokhiol itu bukanlah Im Hian Hong Kie-su yang sejati.
"Gi-koko," ujar Pato, "itulah suatu kesempatan bagus untuk membalas sakit hatimu. Wan Hwi To-tiang kepandaiannya tersohor sangat hebat sekali, tidak ada keduanya dikolong langit ini. Apabila ia menerima kau sebagai muridnya, itu menandakan jodohmu bagus. Biarlah nanti apabila aku kembali ke Ho-lim, akan kulaporkan kepada ayah dan ibundamu agar mereka tidak merasa kuatir lagi. Sebaliknya kau akan menuntut ilmu yang tinggi sekali dengan pikiran yang tenteram." Pemuda kita merasa lega hatinya dan gembira. Katanya kepada Pato : "Aku harap kau memelihara dan merawat ibuku baik2.
Kelak apabila aku berhasil menemukan Wan Hwi To tiang, pasti aku akan mernberitahukannya kepadamu." Kedua pemuda itu memesan minuman arak dan masakan daging. "Gi-koko, berhubung dengan perpisahan kita ini, marilah kita mengangkat carngkir dan keringkan minuman arak ini! Setelah itu aku ada sebuah permohonan yang kuharap kau sudi melakukannya. Adapun hal itu erat sekali hubunganya dengan keselamatan jiwamu sendiri. Harap kan sudi memperhatikannya!" Gokhiol menyambuti tawaran arak adiknya yang lalu diminunnya habis sekaligus dalam satu tegukan saja, Setelah itu dipersilahkannya Pato menguraikan permohonannya. "Jika nanti kau benar2 telah dapat bertemu dengan Wan Hwi To-tiang, janganlah sekali2 kan beritahukan kepadanya persoalan pelepasan-dirimu olehku dan Im Hian Hong Kiesu. Katakan saja bahwa Wie Mo Yauw-lie yang telah melepaskan kau, tanpa kau ketahui sebabnya. Apabila kau membocorkan rahasia tersebut, pasti kau akan binasa!" "Apakah sebabnya?" tanya GokhioI dengan berani.
"Sebaiknya soal ini untuk sementara tak kujelaskan dahulu. Aku hanya minta agar kau menutup mulut.
Lagipula kelak kau akan mengetahui sendiri jawabannya," jawab Pato dengan sungguh2.
Gokhiol mengangkat bahunya, tapi ia berjanji akan menepatinya. "Nah, sudah saatnya aku harus kembali ke Ho-lim.
Sebagai kata perpisahan, aku mendoakan agar cita2 mu menuntut balas tercapai. Tapi janganlah lupa memberi kabar kepadaku." Kedua saudara itu saling berpelukan dan masingg2 merasa berat untuk berpisahan. Kemudian Pato mencemplak kudanya dan meninggaIkan tempat itu, menuju istana Ho-lim. Teringat akan Gokhiol, bahwa sibaju hitam pada waktu itu telah mengatakan kepadanya agar terlebih dahulu ia harus berkunjung kegunung Hwa-San sambil berpesiar.
Dengan harapan disana akan dapat bersua dengan tokoh persilatan aneh bernama Wan Hwi Sian, maka segera pada waktu itu juga pemuda kita mulai berangkat.
---oo0dw0oo---