"Hoanko, apakah yang ingin kaukatakan kepadaku?" Tio Hoan mesem, lalu mendekatkan mulutnya pada telinga sang puteri. "Hong-moay, hari sudah jauh malam dan kitapun tidak mempunyai kuda, bagaimana kita dapat pulang" Bukankah lebih baik kita bermalam disini sadia..." Waktu itu Wanyen Hong sudah dipengaruhi arak dan hatinya berdenyutan, namun ia masih berkata : "Tidak! Kecuali jika kau tidur diluar !" Suara tertawa Tio Hoan memecahkan kesunyian goa tatkala ia memeluk tubuh sang puteri yang padat menggairahkan. "Kongcu, aku cinta padamu. Marilah kita menikmati kemanisannya cinta dimalam sunyi ini. Kongcu, kau membikin aku gila," bisiknya dengan napas memburu.
"Hoanko, lepaskan aku! Lepaskan aku!" menjerit Wanyen Hong seraya meronta-ronta. Tapi apa daya" Tubuhnya sudah lemas, tak berdaya dalam dekapan Tio Hoan yang makin erat. Akhirnya Wanyen Hong, puteri dari negeri Kim, diam saja ... Demikianlah akhirnya kisah sang puteri ... dan bagaikan setangkai bunga yang indah, kini telah runtuh tercemar badai topan asmara yang menggelora ... lilinpun melumer setetes demi setetes diatas meja, ibarat turut berduka dan menangis melihat nasib sang puteri bangsawan Kim yang malang, hilang kesuciannya ...
Ketika cahaya Sang Surya menusuk kedalam goa dengan garangnya. Wanyen Hong terbangun dari impian yang bahagia, tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Lilin sudah hahis terbakar dan pintu kamar kini sudah terbuka pula, namun dimanalah gerangan adanya Tio Hoan" Dipanggilnya beberapa kali, tapi tiada yang menyahut.
Wanyen Hong mulai cemas, buru2 ia turun dari tempat pembaringannya. Begitu melihat goresan kalimat diatas meja, sekujur tubuhnya merasakan seperti diguyur dengan es yang dingin! Adapun kalimat itu berbunyi : "Selamanya kau takkan mengetahui siapa aku ini, anggaplah peristiwa malam tadi sebagai suatu pembalasan sakit hatiku karena kau telah mengutungkan telunjuk tanganku!" Wanyen Hong menjadi pucat pias, menggigil ia dengan hati hancur-l1uh. Namun harapan tipis masih menolak kenyataan malapetaka itu.
"Terang kulihat ia Tio Hoan," ia menghibur dirinya.
Tergesa-gesa ia mengenakan pakaiannya yang tergeletak dilantai dan diambilnya pedang yang disembunyikannya pada selipan dinding batu. Tampak keadaan kamar kalang-kabut, rupanya orang telah membongkar untuk mencari sesuatu. Tahulah Wanyen Hong bahwa orang itu telah mencari pedang Mo-Hwee-Kiam! Untung sekali orang itu tidak berhasil menemukannya.
Tak lama kemudian Wanyen Hong meninggalkan goa ketigabelas itu. Dari jauh terdengar suara ramai-ramai, sambil mendekam dibalik sebuah batu besar ia mengintai.
Tak berapa lama kemudian kelihatan beberapa orang mendatang, diantaranya Tio Hoan yang mengenakan pakaian seragam perwira Busu. Mereka berteriak-teriak memanggil namanya.
"Wanyen Hong Kongcu! Dimana kau " Wanyen..." Melihat gerak-gerik Tio Hoan, tersesaklah napas Wanyen Hong. Gelagatnya semalam itu Tio Hoan belum pernah datang kedalam kegoa! Kepalanya sakit bagaikan dipalu tatkala ia menarik diri kembali kedalam goa. Dengan airmata mengalir deras dihapuskannya tulisan maut diatas meja, untuk kemudian dicabutnya tusukan gelungnya dan mencoret sebagai gantinya kata2 sebagai berikut : "Selama hidupku ini, aku tak mempunyai muka lagi untuk bertemu denganmu. Kuminta agar kau jangan mencari aku lagi.
Dari Hong sebagai kata terakhir, untuk Tio Hoan." Selesai menulis, ditancapkannya tusukan gelung itu diatas meja dan ia sendiri diam2 menyelinap keluar. Pada saat itu juga terdengar tindakan-tindakan kaki orang berlari dari kejauhan. Mau tak mau Wanyen Hong terpaksa masuk kembali kedalam goa dan bersembunyi dibalik sebuah patung Buddha dari batu. Baru saja ia bersembunyi dibalik patung, atau Tio Hoan berserta rombongannya sudah sampai ditempat persembunyiannya. Terdengar salah seorang pengikutnya berseru : "Tio Siwi, kita sudah mencari sejak kemarin malam, sampai kini bayangannyapun tak kelihatan.
Mungkin juga Kong-cu tidak kesini." "Aku dapat memahami bahwa cuwi sudah sangat lelah, tapi aku bersumpah selama masih bernapas untuk mencari dan mendapatkan Kong-cu. Setelah itu barulah aku akan kembali. Maka ada baiknya kalian pulang dahulu keperkemahan." Itulah suara Tio Hoan! Wanyen Hong memejamkan matanya, tapi tak urung air mata keluar menbasahi matanya juga.
"Setelah kita mencari sekitar gunung Beng-See San, barulah kita tinggalkan tenapat ini," demikian salah seorarg pengikut lainnya berseru.
Tiba2 mata Tio Hoan melihat dibalik sebuah patung batu terdapat ... pintu rahasia! Sambil berseru kegirangan ia menyuruh kawan2nya untuk mengikutnya masuk kedalam kamar rahasia itu. Tak henti2-nya mereka memanggilmanggil nama Wanyen Hong beberapa kali, tapi mendadak berhenti suara2 itu! Wanyen Hong mengetahui bahwa Tio Hoan telah melihat tulisannya diatas meja, bukan kepalang rasa pedihnya. Bagaikan tersayat pisau, hatinya duka sekali sehingga ahirnya tak dapat menahan diri lagi dan jatuh pingsan. Sayang seribu sayang. Tio Hoan tidak mengetahui bahwa sang puteri yang sedang, dicarinya sedang pingsan dibelakang patung. Yang dilihatnya adalah tanda bekas telapak tangan yang berwarna hijau diatas dinding tembok.
Diselidikinya lebih lanjut disekitar ruangan kamar itu, dan tak beberapa lama ditemukan pula sebuah telunjuk tangan manusia menggeletak dilantai.
Celaka! Dengan tak disengaja waktu berada diluar Tio Hoan menyentuh sebuah patung Buddha dan... terdengarlah suara menggelegar tatkala pintu kamar rahasia tertutup pula. Ber-putar2 mengelilingi goa, mereka tak dapat menemukan pintu tadi lagi. Akhirnya Tio Hoan mengajak kawan2nya meninggalkan Beng-See San untuk kembali keperkemahan.... Hari sudah mulai gelap tapi Yalut Sang dan Pato tak memperhatikannya, mereka asyik mendengarkan cerita yang hebat itu. Im Hian Hong Kie-su pun melanjutkan kisahnya. Setelah Wanyen Hong siuman kembali dari pingsannya, ia menangis ter-sedu2. la bersumpah akan mencari jahanam yang bertopeng itu, yang telah menyamar sebagai Tio Hoan. la. telah membacok kutung telunjuk jari tangan jahanam itu. Maka kelak tak susah untuk mencari Iblis itu! Pada hari itu juga, dengan diam2 Wanyen Hong meninggalkan goa Cian Hut Tong dan pergi kearah utara.
Beberapa hari kemudian, tibalah ia diperbatasan kota Giok-bun-koan. Disana ia menginap disebuah tempat penginapan dan pada malam harinya ia mengenakan pakaian hitam dan tutup muka. Adapun maksudnya ialah untuk mencegat setiap orang yang lewat disana dan memeriksa apakah ada yang telunjuknya hilang. Akhir2-nya sampai ditengah hari bolongpun ia mencari musuh jahanamnya, begitu hebat kebenciannya. Namun dibalik kekejaman wajahnya, diterang cahaya mata tersembunyi .... yang menggambarkan kelesuan dan kelelahan yang dalam dan mencekam.
Banyak orang biasa yang menjadi korban, dibunuh daiam kebencian yang memuncak terhadap setiap laki2.
Banyak pula diantaranya pendekar2 yang memberikan perlawanan dan mati terbunuh ditangan Wanyen Hong, yang seolah-olah menjadi gila.
---oo0dw0oo---
Demikian setengah tahun telah lewat, namun Wanyen Hong belum berhasil juga menemukan musuhnya. Dan sementara itu, ia merasakan perubahan pada tubuhnya ... ia telah hamil! Perasaan gusar, benci dan cemas menyerang jiwanya, terpaksa kini ia menyingkir dahulu ketempat sepi, digurun pasir. Dicarilah sebuah lembah yang penuh pohon untuk menyembunyikan diri, untuk... menantikan kelahiran sang bayi.
Sungguh Kismet (Nasib) sedang mencoba diri Wanyen Hong. Obat pengawet muda yang ditelannya sekaligus satu botol, kini mulai memperlihatkan khasiatnya. Obat yang dibuat oleh Kat Hong, yang terdiri dari ramuan2 ajaib dipogunungan Lohu-san, memperpanjang juga waktu tidur dan waktu melek! BegituIah sekali orang tidur akan memakan waktu satu bulan lamanya, terus menerus tak bisa bangun. Sebaliknya begitu orang bangun dan mulai melek, ia takkan dapat tidur pula selama satu bulan lamanya! Pembaca biasa tidur diwaktu malam dan melek diwaktu siang, bukan" Tapi orang yang minum obat pengawet muda dari Kat Hong itu, boleh tidur siang malam terus menerus selama satu bulan lamanya dan melek siang malam satu, bulan lamanya pula! Sebab itulah, karena satu bulan sama dengan satu hari dan satu bulan sama dengan satu malam, maka daya ketuaan tidak menyerang tubuh sang puteri.
Dan puteri itu akan tetap muda-belia, tetap ... cantik-jelita.
Wanyen Hong belum mengetahui khasiat obat tersebut dan apa yang telah menimpah dirinya. Ketika ia pertama kali tidur dirimba Ang Liu Wi ditengah-tengah gurun pasir, tidurlah ia selama satu bulan! Tapi sangat kebetulan sekali, tidak jauh dari rimba Ang Liu Wi ada seorang bernama Hay An Peng. la gemar sekali menangkap unggas yang aneh untuk dipeliharanya. Setiap hari ia berburu dirimba Ang Liu Wi.
Ketika itu Hay An Peng sedang berjalan seraya bersiul-siul. Tiba2 tampak olehnya Wanyen Hong yang sedang tidur itu. "Dasar malas perempuan ini, kalau aku suaminya, kuceraikan dia!" comelnya seorang diri.
Dikiranya mula2 wanita itu adalah isteri orang dari desa dekat yang datang kerimba untuk mencari kayu bakar, tapi malahan tidur. Maka iapun tak mau mengusiknya.
Tetapi keesokan harinya tatkala ia datang pula ketempat itu, dilihatnya wanita itu masih tertidur juga Demikian beruntun beberapa hari, Hay An Peng merasa heran sekali.
Dihampirinya wanita itu untuk melihat lebih jelas. Ia menjadi terkejut, tatkala yang dilihatnya itu adalah .., puteri raja dari negara Kim, Wanyen Hong! Adapun Hay An Peng adalah bangsa Kim juga. Dulu ia menjadi tukang kebun di istana negeri Kim, maka segera dikenalinya puteri Wanyen Hong.
la masih ingat, tatkala menjadi tukang kebun, puteri itu masih kecil dan baru belajar ilmu silat kegunung Tiang Pek San. Tak lama kemudian tentera Monggolia menyerang negeri Kim. Karena mengalami kekalahan, raja Kim memindahkan kota kerajaannya dari Yan Keng, (sekarang Peking), ke Pian King.
Sedangkan ia sendiri ditawan perang, untuk dibawa pergi Monggolia. Tatkala lewat diperbatasan Giok-bun-koan, ia berhasil meloloskan diri.
Hay An Peng yang menjadi tawar hatinya akan keramaian dunia, maka iapun memasuki daerah gurun pasir untuk mencari sebidang tanah padang rumput. Bersama kawan2 lainnya yang dapat meloloskan diri, ia membangun sebuah desa.
Melihat Wanyen Hong yang tidur terlentang deng perutnya yang sudah besar, Hay An Peng gemetar kepucatan. Tentu ada sebab-musababnya yang belum diketahui pikirnya dalam hati. Terharu diangkatnya sang puteri kepunggung kudanya, dan diletakkannya dengan hati2 sekali. Setelah itu dibawanya sang puteri pulang kerumahnya.
Ketika itu isterinya baru melahirkan seorang anak perempuan yang romannya jelek sekali. Anaknya itu diberi nama Tai-tai. Bersama isterinya, Hay An Feng menunggu siumannya Wanyen Hong dengan penuh rasa kuatir. Dua hari lewat. Dua minggu! Wanyen Hong tak berhenti tidur sampai genap satu bulan lamanya. Melihat orang mulai mendusin, Hay Ay Peng girang sekali, lalu menghampiri untuk memberikan hormat. Ditanyakannya sampai bagaimana sang puteri dapat tidur dalam rumah dan mengapa sampai sekian lamanya tidak bangun. Mendengar pertanyaan orang2 itu.